Breaking News
light_mode
Trending Tags

Alhamdulillah Saya ber NU

  • account_circle Muhammad Hidayatullah
  • calendar_month Sabtu, 9 Des 2023
  • visibility 83
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah wa syukurillah wa shalatu wasallamu ‘alaa Rasulillah, sayyidina wa maulana Muhammad ibni Abdillah, wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man walah, amma ba’d.

Sahabat-sahabat nahdliyyin yang sangat saya hormati, sebelum kita berdiskusi banyak hal dan berbusa-busa menyusun cita-cita dan agenda kegiatan kita, paling pertama saya ingin mengajak sahabat-sahabat untuk menghangatkan kembali rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah menempatkan kita di tengah -tengah organisasi yang sangat besar dan diliputi doa-doa para kyai, yakni Nahdlatul Ulama.

Sebab saya menyimpan kekhawatiran, jangan-jangan dengan segala lambang NU yang terpampang di atribut-atribut kita, sejatinya NU tidak meresap jauh sampai ke tulang-tulang kita, tapi hanya menjadi kebanggaan semu di permukaan saja. Saya curiga kita tidak pernah benar-benar mampu menghadirkan rasa syukur yang dalam karena kita telah diberikan anugerah yang bernama Nahdlatul Ulama. Sebab, sesuatu yang terlalu mudah didapat biasanya akan lupa disyukuri. Dalam kehidupan romantis, seorang laki-laki yang terlalu mudah mendapatkan wanita incarannya, cenderung abai dan kurang perhatian di kemudian hari. Sebaliknya, proses yang sulit dan pelik ketika mendapatkan sang pujaan hati, akan menjadi pengingat dan bertahan pada situasi-situasi sulit. Dapatnya saja sulit, pasti di bela mati-matian.

Dalam kehidupan nyata banyak hal yang sangat mudah kita dapatkan, bahkan seolah-olah tanpa di ikhtiari pun otomatis sudah jadi milik kita. Contohnya adalah oksigen. Dengan mudah dan gratis kita bisa menyedot udara sebanyak yang kita mau. Saking mudahnya, kita tidak pernah memperbarui rasa syukur kita, Alhamdulillah ya Allah, kau berikan kepadaku udara yang keren di pagi hari ini . Padahal menikmati udara atau oksigen jauh lebih primer dari banyak hal yang berkali-kali kami terima kasih, seperti rumah dan mobil. Begitupun dengan udara. Di daerah kita airnya melimpah sehingga tidak pernah kita bersyukur. Berbeda dengan daerah yang mengalami krisis udara. Tentu masyarakat dengan kondisi seperti itu akan lebih bersyukur terhadap kenikmatan udara. Ini adalah situasi batiniyah yang salah. Padahal situasi batiniyah ini akan sangat mempengaruhi kerja-kerja kerja lahiriyah kita.

NU bagi kebanyakan dari kita adalah sesuatu yang sangat mudah didapat. Tidak heran kalau banyak dari kita yang mengatakan bahwa kita sudah NU sejak lahir. Mbah saya NU, bapak-ibu saya NU, keluarga saya NU . Saking mudahnya memahaminya, kami tidak pernah benar-benar menginternalisasi rasa terima kasih kami sebagai bagian dari NU. Untuk itu dalam menit-menit awal ini saya ingin mengajak sahabat-sahabat semuanya untuk kembali mensyukuri bahwa kita telah menjadi bagian dari Nahdlatul Ulama. Penerimaan dan rasa syukur ini yang kita ingat akan menimbulkan ghirroh dan kesadaran yang kuat dalam perjuangan-perjuangan di masa yang akan datang.

Yang kedua, ada dua mahkota yang disandang seseorang dalam kehidupan ini. Mahklota pertama adalah nasab , atau jalur keluarga. Si Fulan bin Kyai A bin pejuang A dan seterusnya. Padahal, belum tentu mbahnya pejuang, cucunya juga akan jadi pejuang. Tapi kita semua tahu nasab ini menjadi salah satu mahkota yang dibanggakan di tengah-tengah kehidupan kita. Bahkan tidak kita pungkiri nasab ini menjadi pertimbangan yang serius dalam penataan struktur sosial di masyarakat kita. Catatannya, kita tidak bisa memilih dilahirkan dari rahim siapa. Mahkota yang kedua adalah sanad , atau jalur keilmuan. Yang ini kita bisa mengusahakannya. Kita bisa memilih ngaji dengan kyai NU atau dengan kyai google. Tidak semua orang punya kesempatan untuk ngaji jauh-jauh di Jawa Timur, sebagian juga memang malas saja untuk ngaji di Tebu Ireng. Kita tidak dilahirkan di zaman yang sama dengan hadratus syaikh, tapi haratus syaikh ngendiko siapa yang berjuang untuk NU aku anggap sebagai santriku, siapa yang jadi santriku aku doakan khusnul khotimah . Jalur kilat NU ini sungguh luar biasa berkahnya. Melalui NU kita bisa tersambung keilmuannya dengan hadratussyaikh.

Yang ketiga, ber NU juga berarti mempersempit kemungkinan bagi kita untuk melakukan hal-hal yang tidak berfaedah. Kalau kita tidak disibukkan dengan NU bisa jadi kita akan sibuk dengan hal-hal yang kurang bermanfaat. Otak manusia bukan ruang hampa, ia akan terus mencari permasalahan-permasalahan. Ketika tidak diisi dengan masalah yang penting dan bermartabat, ia cenderung mencari-cari masalah yang kurang penting dan tidak bermartabat. Sebuah mobil, dipakai atau tidak dipakai pasti akan rusak. Yang digunakan juga akan rusak karena mobil digunakan untuk bekerja keras, yang hanya didiamkan juga alam-lama akan karatan. Pertanyaanya, lebih terhormat yang mana rusak karena digunakan untuk bekerja keras atau rusak karena dirinya sendiri ndongkrok karatan di pojokan. Manusia yang tidak mau bergaul dan keluar dari rumah akan dipenuhi dengan masalah-masalah domestik di dalam rumah. Bermasalah dengan orang tuanya, anaknya, keluarganya. Ya, karena masalah memang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Dalam pergaulan yang luas, masalah kita akan berubah dan meningkat, begitu juga dengan pengalaman kita dalam menyelesaikannya. Akhirnya kita terlatih dan seharusnya kita dapat dengan mudah meminimalisir masalah-masalah yang ada disekitar kita. Masalah-masalah domestik di dalam rumah akan menjadi kecil karena ada masalah-masalah yang lebih besar seputar keumatan dan kebangsaan. Ber NU membuat kita terus berproses dan berdialektika dengan banyak hal, outputnya kita makin canggih dan makin tangguh dalam menjalani kehidupan.

Yang keempat, ber NU juga mendorong kita untuk berada di dalam circle yang baik dan penuh berkah. Lewat NU lah kita jadi dekat dengan para ulama. Tidak peduli apapun latar belakang kita, kultur NU mendorong orang yang terlibat dalam nafas pergerakannya untuk dekat dengan para ulama. Bahkan, seorang pedagang balon yang datang ke acara dangdutan dan acara muslimatan sudah tentu akan mendapatkan asupan gizi yang berbeda. Setidaknya dari kejauhan kita dapat mendengarkan lantunan sholawat dan nasihat dari para kyai. Apalagi bagi mereka yang mau berkecimpung berjuang dalam kegiatan-kegiatan NU, sebagai panitia, pemasang bendera, petugas keamanan, penjaga sendal kyai, tukang sound, seksi konsumsi dan lain sebagainya. Berkahnya luar biasa. Sesuatu yang tidak bisa diukur, namun bisa kita rasakan. Secara matematis berjuang di NU kadang malah mengeluarkan banyak biaya. Kalau pegangan kita adalah kalkulator materialisme, mungkin saja akan terjadi minus besar-besaran. Kenyataannya? setiap mengkuti acara NU rasanya hati adem, pikiran tenang, tambah saudara, tambah jaringan dan berbagai bonus plus-plus yang lain yang tidak bisa kita hitung secara matematis tapi bisa kita rasakan manfaatnya. Ini yang dinamakan berkahnya Nahdlatul Ulama.

Oiya… ternyata kitalah yang selama ini membutuhkan NU, bukan NU yang membutuhkan kita. Dengan penerimaan dan rasa terima kasih besar terhadap organisasi ini, kami akan hadir di dalam organisasi dengan kesadaran penuh. Kesadaran penuh ini akan mendorong kita untuk berjuang dengan penuh kebanggaan. Aamiin.

Wallohul muwaffiq ilaa aqwamith thoriq.
Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh.

Tulisan ini terbit setelah ngopi panjang membelah malam bersama sahabat Himawan Rifa’i.

  • Penulis: Muhammad Hidayatullah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Taman Surga di Makam Keramat

    Taman Surga di Makam Keramat

    • calendar_month Rabu, 17 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 562
    • 0Komentar

    Tidak ada yang bisa penulis ucapkan setelah membaca sebuah buku karya Tuan Guru Abdul Aziz Sukarnawadi ini selain dengan dahsyat dan luar biasa. Kata-kata tersebut memang tidak berlebihan dilekatkan pada buku tersebut sebab ketika membacanya dari halaman ke halaman seakan-akan kita diperintah untuk membuang seluruh akal sehat (common sense) dengan berbagai keistimewaan serta kalam-kalam ulama […]

  • 5 Pedoman Sukses Bagi Kader NU

    5 Pedoman Sukses Bagi Kader NU

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 1.009
    • 0Komentar

    Oleh: KH. Ali Maksum Krapyak Bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi, Bekal itu adalah: 1. Ats-Tsiqatu bi Nahdlatul Ulama. Maksudnya, setiap warga NU harus yaqin dan percaya penuh terhadap NU sebagai satu-satunya tuntunan hidup yang benar. Sebagai satu keyaqinan yang timbul dari sikap batin, tentulah sekaligus menuntut adanya realisasi yg bersifat lahiriyah. Jadi bukan […]

  • Pengurus PC Muslimat NU Purworejo Periode 2021-2026 Dilantik

    Pengurus PC Muslimat NU Purworejo Periode 2021-2026 Dilantik

    • calendar_month Sabtu, 4 Jun 2022
    • account_circle Muhamad Ansori
    • visibility 441
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Pimpinan Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Purworejo, menggelar pengajian akbar dengan mengundang Wakil Gubernur Jawa Tengah, H. Taj Yasin Maimoen, sebagai penceramah atau pengisi pengajian di Gedung Olah Raga (GOR) Sarwo Edhie Wibowo Purworejo, Rabu (01/06/2022). Pengajian akbar itu digelar dalam rangka memperingati Hari Lahir Muslimat NU ke-76 dan pelantikan […]

  • Takbir Keliling desa Winong Kemiri Purworejo

    Takbir Keliling desa Winong Kemiri Purworejo

    • calendar_month Selasa, 5 Jul 2016
    • account_circle admin
    • visibility 674
    • 0Komentar

    FORMAT (Forum Majlis Ta’lim) se desa Winong Kemiri Purworejo Jawa Tengah bersama ANSOR NU Ranting winong meriahkan malam ‘Idul Fitri dengan takbir keliling desa jalan kaki, mobil hias lampu tradisional / colok/ oncor. start dari MTs Ma’arif Winong dan finis di lapangan SDN Winong diisi dengan lomba takbiran dari masing-masing Majlis Ta’lim di ambil juara […]

  • Pemuda Ansor Purworejo Perangi Narkoba dan Pergaulan Bebas

    Pemuda Ansor Purworejo Perangi Narkoba dan Pergaulan Bebas

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2015
    • account_circle admin
    • visibility 370
    • 1Komentar

    Kader GP Ansor Purworejo diharapkan menjadi pelopor dalam melakukan perubahan sosial. Guna menyikapi arus globalisasi, Ansor juga diharapkan menjaga moral anak bangsa. mereka perlu berupaya lebih keras untuk mencegah peredaran narkoba dan pergaulan bebas yang mendera generasi muda saat ini. Menurut Ketua GP Ansor Purworejo KH Muhamad Haekal pada pelantikan GP Ansor Pituruh di desa […]

  • Membongkar Kerancuan Islam dan Islamisme

    Membongkar Kerancuan Islam dan Islamisme

    • calendar_month Minggu, 25 Des 2016
    • account_circle admin
    • visibility 585
    • 0Komentar

    Islam dan Islamisme sampai saat ini terus menerus menjadi perhatian publik dunia, sehingga memicu lahirnya terminologi saintifik tentang studi ‘islamologi’. Yakni sebuah kajian Islam dengan kerangka ilmu sosial berbasis penelitian yang mengaitkan realitas keislaman dengan konflik internasional di dunia politik, seperti halnya Sovietologi era awal abad XX (Prakata, VII). Dengan demikian, Bassam Tibi mencoba membeberkan […]

expand_less