5 Pelajaran Penting dari Savic Ali tentang Demokratisasi Pengetahuan
- account_circle admin
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 17
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
1. Pendahuluan: Harga Sebuah Halaman
Di era sebelum internet, akses terhadap ilmu pengetahuan bukan hanya dibatasi oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh kondisi ekonomi. Bagi seorang santri dari desa pesisir di Pati seperti Savic Ali—yang kini dikenal sebagai Direktur NU Online dan salah satu tokoh Islam moderat digital—mencari ilmu membutuhkan perjuangan yang nyata.
Pada masa itu, uang saku bulanannya sekitar 50 ribu rupiah hanya cukup untuk kebutuhan dasar.
Sementara satu buku bisa berharga 7 ribu rupiah, hampir 15% dari total uang sakunya.
2. Pelajaran Pertama: Paradoks “Menulis untuk Membaca”
Pendidikan awal Savic Ali di Pesantren Mathali’ul Falah di bawah asuhan Kiai Sahal Mahfudz dibentuk oleh tradisi kitab kuning, hafalan, dan disiplin intelektual pesantren.
“Saya harus bisa menulis di koran supaya dapat honorarium, baru kemudian bisa membeli buku.”
Hari ini situasinya terbalik. Hambatan terbesar bukan lagi harga buku, melainkan kemampuan untuk tetap disiplin di tengah banjir informasi.
3. Pelajaran Kedua: Strategi “Ibtidaiyah” untuk Merebut Ruang Digital
NU Online akhirnya membangun “pintu masuk” dakwah digital melalui konten dasar keislaman. Dengan menguasai pencarian-pencarian populer itu, NU berhasil mencegah banyak orang jatuh ke ekosistem ekstremisme digital.
4. Pelajaran Ketiga: Internet sebagai Penyama Kesempatan
Internet telah mengubah ilmu dari barang eksklusif menjadi sumber daya publik.
5. Pelajaran Keempat: Model Gus Dur dan Dualitas Intelektual
Gus Dur tidak hanya hidup dalam tradisi, tetapi juga mampu menerjemahkan dunia pesantren kepada masyarakat global melalui perspektif sosiologi dan sejarah.
6. Pelajaran Kelima: Dakwah Saja Tidak Cukup
Generasi muda harus menguasai teknologi, ilmu terapan, dan manajemen organisasi agar potensi besar umat bisa menjadi kekuatan nyata.
7. Penutup: Tanggung Jawab Generasi Terkoneksi
“Di zaman ketika ilmu pengetahuan lebih murah dari secangkir kopi, apa alasan kita untuk tetap berhenti berkembang?”
Sumber: https://youtu.be/NBm-UmJ3CHg?si=kMQrT1mWFJABaMQH
Kontributor: Naim

Saat ini belum ada komentar