Breaking News
light_mode
Trending Tags

Amaliah Sejak Lahir Hingga Meninggalnya Muslim di Tanah Air

  • account_circle admin
  • calendar_month Senin, 19 Okt 2015
  • visibility 421
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bermula dari hajatan dan kemudian berakhir dengan hajatan. Begitulah perjalanan seorang Muslim di Tanah Air. Bahkan, sebelum dia lahir pun sudah ada hajatan, yaitu apa yang disebut dengan Mapati (ketika usia kandungan empat bulan) atau Mitoni (ketika usia kandungan tujuh bulan). Begitu juga ketika meninggal, penuh dengan hajatan seperti prosesi kematian dan penguburan. Setelah bersangkutan meninggal jauh hari, masih ada hajatan, yaitu apa yang disebut haul (ulang tahun kematian). Haul para ulama bisa berlangsung sepanjang masa, tergantung kepada perhatian para pengikutnya.

Itulah inti dari pada buku “Panduan Prosesi dan Tata Cara Mengelola Lahir, Khitan, Menikah, Meninggal” yang dikarang oleh KH Munawir Abdul Fattah, seorang kiai di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Sesuai dengan judul bukunya, buku yang diterbitkan oleh Layar Creativa Mediatama, Yogyakarta ini mengupas tentang “manajemen” hajatan ketika kelahiran, khitan, menikah, dan meninggal. Dalam buku setebal (xvi +) 176 halaman  ini pengarang menguraikan tidak hanya sekadar upacara (hajatan), tetapi juga dalil-dalil yang menjadi dasar acara tersebut, kemudian disusul dengan doa-doa, serta cara mempersiapkannya, seperti pembentukan panitia beserta dengan diskripsi kerjanya. Bahkan, memberikan ancar-ancar waktu yang diperlukan dalam perhelatan itu, sehingga efetif dan efesien.

Di sini sebagai contoh, tentang hajatan kelahiran, dalam buku ini mengupas tentang Aqiqah. Dimulai dengan menyembelih kambing. Diuraikan tentang dasar pemilihan kambing yang disembelih serta ketentuan yang berbeda untuk lelaki dan perempuan. Kemudian penentuan hari, doa, serta pilihan cara membagi daging kambing. Afdhalnya di antar kepada tetangga, tetapi bisa juga dipakai cara diundang dan selanjutnya dimakan bersama. Atau kalau tidak ingin repot diserahkan kepada jasa penyedia aqiqah.  Pembahasan selanjutnya tentang prosesi kelahiran, dan sebelumnya diingatkan tradisi Nusantara tentang mapati dan mitoni, serta bacaan doa bagi ibu hamil. Bab ini diakhiri dengan cara pembentukan panitia dan pembagian tugasnya serta urutan acaranya. Di sini diselipkan juga tradisi Muslim di Tanah Air, yaitu upacara berokohan dan walimatut-tasmiyah (pemberian nama). Dalam walimatut-tasmiyah sering kali dibacakan qasidah maulid, seperti ad-Diba’i, Barzanji, Burdah atau sekarang yang sedang “ngetren” Maulid Simthud Durar atau Dhiya’ulami.

Menariknya, dalam buku yang pertama kali dicetak pada bulan Agustus 2015 ini, pengarang menyertakan doa-doa dalam setiap prosesi. Doa itu ditulis dalam huruf Arab dan didampingi tranliterasinya dalam huruf latin, sehingga pembaca awam bisa membacanya dengan lancar. Di samping itu ada beberapa keterangan dalam tradisi Muslim di Tanah Air, sehingga buku ini cocok tidak hanya dibaca oleh pembaca muslim, tetapi juga untuk para peneliti antropologi atau sosiologi tentang adat masyarakat Nusantara yang biasanya tidak dipahami oleh para pelaku budaya itu sendiri secara literasi. Seperti mengapa diadakan hajatan Mapati (ketika ibu hamil empat bulan), karena hal itu untuk menyambut datangnya roh ke dalam jasad si cabang bayi yang dipercayai kaum Muslimin ketika berumur 4 bulan kandungan.

Pengarang terlihat sangatlah piawai menguraikan semua masalah dan ini menunjukkan memang yang bersangkutan memang akrab mengerjakan hajatan semacam ini dalam kehidupan sehari-harinya. Dan inilah bukti bahwa seorang kiai memang sangatlah menyatu dengan umatnya, sehingga tahu betul apa keperluan yang harus segera dihadirkan segera dalam masa perkembangan ini. Jadi dapat disimpulkan membaca buku ini sungguh sangat berguna kaum muslimin. Apalagi bagi calon modin, calon mubaligh, serta para santri dan santriwati dalam persiapan terjun ke masyarakat. Bahkan buku ini patut dipelajari bagi kalangan ilmiawan yang ingin meneliti adat istiadat keluarga Muslim di Tanah Air.

Data buku
Judul : Panduan Prosesi dan Tata Cara Mengelola Lahir, Khitan, Menikah, Meninggal
Pengarang : KH Munawir Abdul Fattah
Editor  : Muhsin Basyaiban
Penerbit : Layar Creativa Mediatama, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Agustus 2015
Tebal : xvi + 176 halaman
Peresensi oleh: Saiful Bahri, Bloger dan Writer

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Silaturrahim Keluarga Besar NU Pituruh dalam rangka Halal Bihalal dan Tasyakuran Pembangunan Gedung Lantai II

    Silaturrahim Keluarga Besar NU Pituruh dalam rangka Halal Bihalal dan Tasyakuran Pembangunan Gedung Lantai II

    • calendar_month Sabtu, 27 Apr 2024
    • account_circle PAC Pituruh
    • visibility 77
    • 0Komentar

    Pituruh, 26 April 2024 – Hari Jumat menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Pituruh, yang telah menyelenggarakan acara Silaturrahmi dalam rangka Halal Bihalal dan Tasyakuran Pembangunan Gedung MWC NU lantai II. Kegiatan yang berlangsung pukul 13.30 WIB ini menjadi momen kebersamaan dan syukur atas berkah yang dianugerahkan Allah […]

  • INSTRUKSI PC GP Ansor Purworejo Terkait COVID-19

    INSTRUKSI PC GP Ansor Purworejo Terkait COVID-19

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2020
    • account_circle admin
    • visibility 2.099
    • 0Komentar

    Kepada Yth: -Pimpinan Anak Cabang GP ANSOR Se-Kab. Purworejo -Pimpinan Ranting GP ANSOR se-Kab. Purworejo Assalamu’alaikum Wr. Wb. Berdasarkan surat edaran resmi dari Pimpinan Pusat GP ANSOR Perihal : “Intruksi Pencegahan Penyebaran Virus Corona (Covid 19)”, nomer : 2364/PP/SR-01/III/2020, kami atas nama Pimpinan Cabang GP ANSOR Kab. Purworejo mengintruksikan : Taat pada intruksi Pimpinan Pusat […]

  • Fatayat Lampung Ajak Masyarakat Terlibat Cegah KDRT

    Fatayat Lampung Ajak Masyarakat Terlibat Cegah KDRT

    • calendar_month Sabtu, 2 Jul 2016
    • account_circle admin
    • visibility 367
    • 1Komentar

    Bandar Lampung, NU Online Visi Fatayat NU adalah penghapusan kekerasan, ketidakadilan dan kemiskinan dalam masyarakat dengan mengembangkan wacana kehidupan sosial yang konstruktif serta berkeadilan gender. Pasca Kongres Fatayat NU di Jawa Timur, langkah kongkrit dilakukan dalam mengimplementasikan salah satu visi dimaksud adalah dengan langsung mengadakan penyuluhan hukum tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) terhadap perempuan. […]

  • Ansor Bener Kumpulkan Ranting Untuk Gass E-KTA

    Ansor Bener Kumpulkan Ranting Untuk Gass E-KTA

    • calendar_month Senin, 26 Jun 2023
    • account_circle PAC Bener
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Bener, 26 Juni 2023 – Pengurus Anak Cabang (PAC) Ansor Bener mengadakan Rapat Koordinasi dengan Ranting Ansor se-Kecamatan Bener pada tanggal 26 Juni 2023. Acara tersebut berlangsung di rumah sekretaris Ansor PAC Bener, sahabat Damanhuri. Rapat ini dilaksanakan sebagai tindak lanjut instruksi dari PAC untuk melakukan perapian dan penginputan data kader di tingkat kecamatan dan […]

  • Saiful Anam Nahkodai Ansor Kemiri 2020 – 2022

    Saiful Anam Nahkodai Ansor Kemiri 2020 – 2022

    • calendar_month Jumat, 17 Mei 2019
    • account_circle admin
    • visibility 806
    • 0Komentar

    Kemiri, Purworejo – PAC GP Ansor Kemiri baru saja menyelenggarakan Konferensi Anak Cabang di SMK Maarif NU Winong, Minggu, 5-01-2019. Hasil dari musyawarah tertinggi Ansor Kecamatan Kemiri tersebut akhirnya mendaulat Sahabat Saiful Anam menjadi Ketua PAC GP Ansor Kemiri Priode 2020 – 2022. Menurut Alfin Zidni, Plt Ketua Ansor PAC Kemiri menyatakan bahwa kegiatan konferancab […]

  • 4 Karakter Yang Harus Dimiliki Banser

    4 Karakter Yang Harus Dimiliki Banser

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 935
    • 0Komentar

    Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) pernah berpesan akan 4 hal karakter yang harus dimiliki Banser. Hal ini Gus Yaqut sampaikan ketika menjadi inspektur Apel Kebangsaan bertema “Merawat Tradisi, Mengawal NKRI, Menyejahterakan Negeri” yang digelar GP Ansor Magetan, Jawa Timur, Ahad (14/1) di alun-alun Magetan. Gus Yaqut mengapresiapi kegiatan apel kebangsaan […]

expand_less