Breaking News
light_mode
Trending Tags

Membongkar Kerancuan Islam dan Islamisme

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 25 Des 2016
  • visibility 603
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Islam dan Islamisme sampai saat ini terus menerus menjadi perhatian publik dunia, sehingga memicu lahirnya terminologi saintifik tentang studi ‘islamologi’. Yakni sebuah kajian Islam dengan kerangka ilmu sosial berbasis penelitian yang mengaitkan realitas keislaman dengan konflik internasional di dunia politik, seperti halnya Sovietologi era awal abad XX (Prakata, VII). Dengan demikian, Bassam Tibi mencoba membeberkan alas an-alasan argumentative-ilmiah dalam bingkai sains sosial tentang “Islam” dan “Islamisme” yang tidak boleh gebyah-uyah. Sebab menurutnya, ada suatu kontradiksi dalam peristilahan (contraditio in terminis) antara Islam dan Islamisme. Islam sebagai keyakinan dan Islamisme sebagai politik keagamaan; yang menggunakan simbol agama untuk tujuan politik.

Dalam buku setebal 302 halaman tersebut, Bassam Tibi mengajak pembaca merefleksikan krisis Timur Tengah (meski tidak semua) yang gagal dalam membangun sebuah Negara atau tatanan paska kolonialisme yang melanda negeri para bangsa arab tersebut, sehingga merancukan term “Islam” dan “Islamisme”. Istilah ‘arab’ bermaksud membatasi dan sekaligus menghubungkan pesimisme yang terkoneksi dengan peristiwa perang  enam hari bangsa arab (Mesir, Yordania, dan Suriyah) dengan Israel (1967). Kekalahan tersebut menciptakan krisis legitimasi di dunia Arab, menandai awal runtuhnya sekulerisme dan bersamaan dengan munculnya politik yang diagamaisasikan dari islamisme (halaman 56-57).

Paham Islamisme kemudian diproduksi, dikembangkan, dipropagandakan dan disistematiskan pertama kali dengan istilah “harbu al-afkar”. Istilah harbu al-afkar atau perang pemikiran merupakan perwujudan konsep jihad yang dikobarkan oleh Sayyid Qutb dan Hasan al Bana dalam perseteruan kosmik iman/islam (muslim atau dia dan kelompoknya) denga kufr (Yahudi dan semua yang tidak sejalan dengan Qutb kawan-kawanya). Perang abadi antara mu’min dan kaafir oleh Qutb, kata Bassam Tibi, dalam kitab Hasan Al Bana Risalatul Jihad dan Sayyid Qutb Ma’rakatuna Ma’al Yahud (pertarungan kita dengan kaum yahudi). Sikap ini selain atas nama agama (diagamakan), juga bagian dari adanya dugaan pengecohan ummat muslim dalam keadaan dunia-politik dengan penctraan “islam yang dikepung”.

Kerangka perang (anti semitisme dalam studi barat) ini diperkuat oleh gagasan tentang ghozwul fikr (invasi intelektual) atas dunia Islam, diduga dihasut oleh orang-orang Yahudi (dalam konsep terbaru Yahudi mendompleng Barat dan juga kaum Salibiyun) halaman 80, 76, 85. Agenda penting (utama atau inti) dari gerakan-gerakan Islamisme yang disampaikan dalam buku tersebut, hemat penulis, ada enam.

Pertama, ialah Hakimiyyat Allah (pemerintahan tuhan). Asumsi utama ideologi islamis (islamisme) adalah bahwa hanya Allah, bukan manusia yang berhak memerintah dunia (halaman 137). Lawan dari ide ini adalah ide demokrasi yang dikembangkan (dipromosiskan) oleh Barat, yang menekankan “kedaulatan rakyat”, sebagaimana dalam konstitusi UUD 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sebab, menurut Islamisme, apa yang sekarang dikenal dengan azmat aldemokratiyyah (krisis demokrasi di dunia arab) dikarenakan para penduduknya tidak menggunakan hukum Allah.

Kedua, Din Wa Daulah (kesatuan antara agama dan Negara). Artinya, ketika para islamisme berbicara tentang din wa daulah agama bersatu dengan tatanan Negara, mereka menerapkan suatu ide al hall al-islam (solusi islam) bukan dalam arti demokrasi melainkan memperbarui tatanan politik yang ada dalam mengupayakan berdirinya negara syariah. Dan inilah ide utamanya, bukan kekerasan, yang merupakan cirri khas dan condition sine quo non dari Islamisme (halaman43). Hal ini sebagai sebuah bentuk perlawanan dan perang (konspirasi Yahudi dan Salibiyun) atau bentuk legitimasi kekerasan, tetapi juga untuk mengubah format jihad klasik: dari perang regular yang dilakoni oleh Negara Islam menjadi terror yang dilancarkan oleh para aktor islamis non- Negara (halaman 27, 291).

Ketiga, Nizom Islami (sistem/tatanan baru Islam). Nizom islam dimaksudkan untuk menjadi langkah pertama dalam proses bertahap. Hal yang membuat Islamisme menjadi isu global adalah bagian kedua dari visi ini: perluasan Negara islam untuk menciptakan sebuah tatanan dunia. Revolusi dunia yang diproklamasikan oleh islamis tidak hanya bertujuan untuk membuat tatanan politik dari Negara territorial, tetapi juga diarahkan menuju pembaharuan dunia. Islamisme mengubah mengubah universalisme Islam menjadi internasionalisme politik yang berusaha menggantikan tatanan sekuler yang ada dari Negara-bangsa yang berdaulat dengan satu ‘islam’(halaman, 44).

Keempat, ummah (komunitas). Inveted ummah (umat bentukan) atau meminjam istilah dari Benedict Anderson sebagai “kommunitas yang dibayangkan” (imagined community) bukanlah ummah seperti islam tradisional atau komunitas iman, tetapi gerakan politik yang anggotanya mendukung pemberlakuan hukum syariah secara ketat oleh Negara (halaman, 44). Kelima, Siyyadatul Islam (kepemimpinan islam). Bagian ini ditegaskan oleh Qutb dalam bukunya al-salam al-‘alami wa al-islam, kutib Bassam Tibi, “bahwa hanya dominasi islam yang dapat menjamin perdamaian dunia; untuk mencapainya, ia menganjurkan agar menafsirkan jihad sebagai “sebuah revolusi dunia komprehensif (internasionalisme politik islam) yang permanen dalam rangka membangun pemerintahan Allah demi menyelamatkan seluruh umat manusiai” (halaman 214).

Keenam, autentisistas islam (kemurnian Islam). ialah upaya prufikasi kontemporer yang merepresentasikan suatu reaksi balik terhadap proses (westernisasi), halaman 29. Sebagimana Daniel Bell katakana, the return of the sacred (kembalinya yang suci). The return of the sacred adalah kebangkitan program tertentu berdasarkan agama. Menurut Bassam Tibi, meski ada penampakan artifisial dari kebangkitan kembali agama, “kembalinya yang suci” bukanlah sebentuk “renaisans agama”, melainkan agama menerima suatu bentuk politis (halaman 2).

Keenam hal yang penulis ambil dari buku Bassam Tibi tersebut, merupakan manifesto politik Islamisme yang berbeda dengan Islam atau bisa dikatakan conditio sine quo non (syarat mutlak) identitas Islamisme. Bahkan, beliau berpendapat bahwa mereka (islamisme) itu paling tepat dipahami sebagai ideologi totalitarianisme religius, tidak seperti totalitarianisme pendahulunya, yaitu fasisme, komunisme yang sekuler. Disana juga banyak istilah-istilah penting yang menjadi bahasa-bahasa komunikasi Islamimisme, seperti tsaurah al ‘alamiyah (revolusi dunia), iIham (tipu daya), tadhhiyah (kurban) al-hulul al-mustauradah (solusi -solusi impor) dan lain sebagainya.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, pada bagian-bagian tertentu, Bassan Tibi agaknya mengeneralisir anasir-anasir islamisme di belahan Timur Tengah, seperti gerakan Hamas dan Fatah Palestine terhadap kolonialisme Israel, coup de etat di Ikhwanul Muslimin/ Hizbut Tahrir Mesir dan Libiya terhadap pemerintah tangan besi, ISIS di Suriyah dan Iraq, AKP di Turkey, Wahabi Arab Saudi dan lain-lainya. Ambisi neo-kapitalisme global kurang dilibatkan dalam analisis buku tersebut. Kesanya, Krisis Timur Tengan bersih dari campur tangan asing soal politik ekonomi, sebagaimana yang terjadi di Iraq, Libya.

Meski begitu, hemat penulis, buku hasil penelitian tiga dekade tersebut sangat membantu membuka cara pandang bahkan memperkuat pemahaman kita -sebagai warga NKRI mengutip istilah  Bassam Tibi buat Islam Indoensia (Nusantara) ialah Islam kewargaan (civil Islam) halaman135- tentang berbagai aksi teror, takfiri, khilafah, bid’ah dan key word yang selama ini kita kenal. Pada prakteknya, bentuk mereka ada yang institusionalisme (partai/parlemen) yang bermain dengan demokrasi seperti, amun ada pula yang jihadiisme dengan menggunakan jalur-jalur di luar intsitusional (non parlemen). Wallahu ‘alam

Identitas Buku:
Judul: Islam dan Islamisme
Penulis: Bassam Tibi
Penerjemah: Alfathri Adlin
Penerbit: Mizan Pustaka Bandung
Cetakan: I, Agustus 2016-12-23
Tebal: 302 halaman
Peresensi: Ali Makhrus, Kader GP Ansor-Banser Kabupaten Madiun.

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pelatihan seni gambar Henna

    Pelatihan seni gambar Henna

    • calendar_month Senin, 15 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 446
    • 0Komentar

    Grabag, ansorpurworejo.org Tampak ramai suasana gemuruh ibu-ibu muda dan para remaja putri yang memadati balai pertemuan kantor kepala desa kalirejo kec. Grabag. ada apakah? Ya ternyata ada pelatihan seni gambar Henna yang digelar oleh para mahasiswa KKN Stainu Purworejo. Minggu 14/5/2017Seni gambar  yang berasal dari negara Hindustan ini sedang ngetrend dikalangan muda putri saat ini […]

  • Sinergi Dengan Ansor, DRW Raih Rekor MURI

    Sinergi Dengan Ansor, DRW Raih Rekor MURI

    • calendar_month Minggu, 24 Apr 2022
    • account_circle admin
    • visibility 556
    • 0Komentar

    DRW Skincare Indonesia berhasil meraih penghargaan MURI (Museum Rekor Dunia-Indonesia) dengan rekor pembagian paket sembako terbanyak di seluruh wilayah Indonesia secara serentak dalam satu hari. Penghargaan diserahterimakan oleh perwakilan MURI, Sri Widayati, kepada dr Wahyu Triasmara, founder DRW Skincare, Sabtu (23/04) di Ganesha Convention Hall, Purworejo. Pada momen ramadhan kali ini Drw skincare membagikan sebanyak […]

  • Ketua Ansor Purworejo Jelaskan Tiga Komitmen Ansor

    Ketua Ansor Purworejo Jelaskan Tiga Komitmen Ansor

    • calendar_month Senin, 19 Nov 2018
    • account_circle admin
    • visibility 877
    • 0Komentar

    Purworejo, NU Online Ketua Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Purworejo Jawa Tengah H Muhammad Haekal menjelaskan tiga komitmen yang mesti dipegang oleh seluruh kader Ansor. Ketiga komitmen itu adalah komitmen keagamaan,  komitmen keumatan dan komitmen kebangsaan. Hal tersebut disampaikan Haekal pada Acara Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Bagelen di […]

  • 5 Pedoman Sukses Bagi Kader NU

    5 Pedoman Sukses Bagi Kader NU

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 1.033
    • 0Komentar

    Oleh: KH. Ali Maksum Krapyak Bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi, Bekal itu adalah: 1. Ats-Tsiqatu bi Nahdlatul Ulama. Maksudnya, setiap warga NU harus yaqin dan percaya penuh terhadap NU sebagai satu-satunya tuntunan hidup yang benar. Sebagai satu keyaqinan yang timbul dari sikap batin, tentulah sekaligus menuntut adanya realisasi yg bersifat lahiriyah. Jadi bukan […]

  • Ambulan NU Purworejo untuk Sesama

    Ambulan NU Purworejo untuk Sesama

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2015
    • account_circle admin
    • visibility 778
    • 0Komentar

    Salah satu program andalan bagi Pengurus PCNU Kabupaten Purworejo masa khidmah 2014-2019 adalah keinginannya untuk menyentuh masyarakat luas khususnya warga NU di Purworejo, oleh karenanya perwujudan dari program itu telah menjadi komitmen pengurus untuk segera mewujudkan sarana yang bisa digunakan oleh masyarakat ialah pengadaan sarana ambulan. Berkat kemauan yang keras dari pengurus maka saat ini […]

  • PBNU Lepas 37 Rombongan Bus Mudik Gratis

    PBNU Lepas 37 Rombongan Bus Mudik Gratis

    • calendar_month Sabtu, 2 Jul 2016
    • account_circle admin
    • visibility 467
    • 0Komentar

    Jakarta, NU OnlineLembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) mengajak ribuan peserta mudik bareng NU berdoa sebelum keberangkatan 37 bus yang mengantarkan mereka ke pelbagai kota di Jawa. Mereka berdoa bersama agar perjalanan berlangsung lancar tanpa kendala. Sementara sambutan disampaikan oleh Ketua PBNU KH Abdul Mannan Ghani, Ketua LTM PBNU H Mansur Syairozi, […]

expand_less