Breaking News
light_mode
Trending Tags

Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 5 Nov 2015
  • visibility 499
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Politik hanyalah alat bukan tujuan. Kaidah ini yang dijadikan tongkat oleh Kiai Wahab Chasbullah dalam meneguhkan percaturan politik bangsa kita pada tahun 1914-an hingga 1970-an. Masa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Dengan gigih ia menghadapi pancaroba politik yang penuh tantangan dan tekanan. Haluan politisi yang lahir dari rahim pesantren ini untuk kemaslahatan rakyat (mashâlihur ra’iyah) bukan kepentingan golongan. Gagasan berliannya terkuak dalam bukunya, “Kaidah Berpolitik dan Bernegara”.

Buku edisi khusus Muktamar ke-33 NU ini berusaha mengumpulkan karya tulisnya yang tersebar di pelbagai media massa, buku, catatan muktamar, serta sidang konstituante. Penetapannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 2014 menunjukkan kepiawaiannya dalam berpolitik dan bernegara. Di antara seni politiknya tampak pada ungkapannya, di zaman ini kita harus pandai berdiplomasi dalam menghadapi Nippon. Sama-sama bersuara Hu tetapi artinya bisa berbeda. Ada Hu yang artinya huntalen (telanlah) dan ada yang Hu artinya hucolono (lepaslah), (hal. 115). Nah, bagaimana hubungan Indonesia dengan negara lain (misal, Cina) di periode Kabinet Kerja sekarang ini?

Kaidah kenegaraannya tegak kokoh dan menjadi telekan dalam pengabdiannya pada negara dan bangsa. Ia menyebutkan dalam bukunya yang cover merah itu, kita berperan dan membela negeri ini, serta mampu menempatkan diri secara benar. Terlibat dalam setiap urusan. Bahkan harus berani menjadi pelopor dalam bidang yang pihak lain tidak bisa mejalankan, (hal. 69). Namun ironis bila melihat kancah politisi dan negarawan hari ini. Tipis. Atas nama rakyat ‘sejahtera’ namun ‘jerat’ rakyat.

Menyelami samudera perjuangannya untuk kebangkitan Indonesia kita menemukan mutiara kaidah, bahwa sang kreator inilah tokoh pertama yang memaknai nasionalisme yang meng-cover nilai Islam dan me-revere pada nilai sejarah budaya Nusantara. Nasionalisme Indonesia. Hal ini memudahkan penerimaan konsep Pancasila. Bung Karno menyebutkannya pada 1 Juni 1945. nasionalisme Indonesia berbeda dengan nasionalisme yang berkibar di Barat. Ide kiai tersebut mengakomodir hubungan simbiosis mutualistis antara agama dan negara. Proyek politik Nusantara ini telah terwujud dalam bentuk Nahdlatul Wathon (kebangkitan bangsa) (1914).

Realisasi politik Nusantaranya adalah dengan mengadakan kajian-kajian keagamaan dan politik, serta bersilat dalam diplomasinya. Ini sebagai penyebaran gagasan nasionalisme yang berwadahkan Tasywirul Afkar (gerakan pemikiran). Tujuan utamanya untuk membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia atau yang lebih kita kenal dengan istilah NKRI. Karena pada masa itu penjajahan Belanda masih membelenggu bangsa.

Sepak terjang politiknya meliputi: strategi politik, demokrasi, ekonomi dan kemandiriannya, penanggulangan pemberontakan, pertahanan nasional, gerakan kemandirian rakyat, diplomasi internasional, dan tentu saja tak lupa tentang agama. Salah satu bukti diplomasi internasionalnya, Kiai Wahab melayangkan surat ke Raja Abdul Aziz bin Sa`ud dengan lima poin permohonan, di antaranya, untuk meminta kemerdekaan bermazhab bagi rakyat Hejaz pada salah satu Imam yang empat, Hanafi, Hambali, Maliki, dan Syafi`ie, (hal. 104-106). Lima permohonan tersebut dikabulkan.

Pejuang ini mempunyai insting politik yang tinggi. Ia termasuk yang menyetujui perjanjian San Fransisco 8 September 1951. Alasannya sangat rasional dalam kebijakan politik luar negeri itu. Argumennya kuat, bahwa jika Jepang kelak bangkit dan Indonesia tidak ikut menandatangani maka Jepang akan balas dendam. Kalau suatu ketika Jepang hendak melakukan ekspansi militernya ke selatan maka Indonesia akan juga dilibas. Rakyat menjadi korban. Ada dua keuntungan bagi Indonesia yang diungkap oleh Kiai Wahab dalam penandatanganan San Fransisico, yaitu: harga diri yang bersifat mental politis dan keuntungan material yang berupa rampasan perang.

Gagasan sang kreator ini masih banyak yang tidak tersampul dalam buku suntingan Mun`im DZ. Melihat bukti perjuangannya bagi Indonesia, buku ini belum seberapa untuk mewakili penampungan ide-ide berliannya, khususnya dalam percaturan politik Nusantara. Bangsa Indonesia mengakui ketokohan Kiai Wahab. Figur yang intelek dan politisi yang titis dalam membidik langkah politiknya. Politisi ini termasuk pejuang `45 yang membawa kemerdekaan Indonesia dari cengkraman penjajah. Jasa perjuangannya tak cukup diakui sebagai tokoh Pahlawan Nasional bagi bangsa yang gemah ripah loh jinawi ini, namun juga, bangsa ini wajib mensyukuri kemerdekaan Indonesia dengan memerdekakan diri dari rantai kemalasan.

Kiai Wahab mewariskan semangat perjuangan. Dari bukunya terlihat keyword sosok yang lengkap, gabungan antara aktivisme, intelektualisme, dan spiritualisme. Perjuangan untuk melepas mudarat rakyat. Kiai Wahab mengisyaratkan, bahwa persatuan sebagai pondasi untuk membangkitkan kemajuan bangsa, (hal. 118). Senjata paling tajam dan ampuh untuk meraih mashâlihur ra`iyah adalah kesatuan dan persatuan.

Bangsa kita saat ini membutuhkan satu arah kesejahteraan bersama di setiap belahan tanahnya yang gembur subur. Oleh karenanya laik bagi kita membaca Indonesia dengan lebih komprehensif dan dalam. Kiai Wahab berjuang di setiap lini. Di antaranya di empat model politik demi kebangkitan bangsa dan negara, siyâsah tijâriyah (politik perdagangan), siyâsah najjâriyah (politik pertukangan), siyâsah falahiyah (politik pertanian), dan siyâsah hukûmiyah (politik pemerintahan). Ini konklusi berpolitik dan bernegara Kiai Wahab. Rumusan pemikiran sang pelopor ini mengeguhkan percaturan politik Nusantara yang arif dan bijaksana bagi semua!

Data buku

Judul : Kaidah Berpolitik dan Bernegara
Penulis : KH Abdul Wahab Chasbullah
Penerbit : Langgar Swadaya, Depok
Cetakan : II, Januari 2015
Tebal : 164 Halaman
Peresensi : Maghfut MR, staf peneliti ICRS UGM dan Adab UIN Su-Ka Jogja

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ISOMIL, Sarana Diplomasi untuk Damaikan Konflik di Dunia Islam

    ISOMIL, Sarana Diplomasi untuk Damaikan Konflik di Dunia Islam

    • calendar_month Jumat, 6 Mei 2016
    • account_circle admin
    • visibility 369
    • 0Komentar

    Jakarta, NU Online Konflik yang tak henti melanda sejumlah negara di Timur Tengah dan sejumlah negara Asia, seperti di Suriah, Palestina, Afghanistan dan Filipina, menjadi keprihatinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Sebagai ikhtiar mendamaikan berbagai konflik tersebut, PBNU menggelar International Summit of The Moderate Islamic Leader (ISOMIL) sebagai sarana diplomasi bagi negara Islam yang sedang […]

  • PC IPNU Purworejo Peringati Tahun Baru Tanpa Kembang Api & Terompet

    PC IPNU Purworejo Peringati Tahun Baru Tanpa Kembang Api & Terompet

    • calendar_month Rabu, 1 Jan 2020
    • account_circle Muhamad Ansori
    • visibility 460
    • 0Komentar

    PURWOREJO – Selamat tahun baru 2020, IPNU Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama memperingati hari pergantian tahun 2020. Perayaan malam pergantian tahun baru digelar di gedung DPD KNPI PURWOREJO. Acara yang mengusung tema “Dari Pelajar Agama Bangsa Negeri” dimeriahkan dengan Grub Akustik Band dan para pemuda dari kalangan Pemuda, Siswa hingga mahasiswa. Mereka menyambut malam pergantian tahun […]

  • Ansor Kaliwader Pererat Warga dengan Voli

    Ansor Kaliwader Pererat Warga dengan Voli

    • calendar_month Senin, 24 Okt 2016
    • account_circle admin
    • visibility 440
    • 1Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.org Santri sebagai bagian dari warga masyarakat, peran dan keberadaanya seringkali dibenturkan dengan dikotomi santri dan abangan, sebuah ironi yang secara tidak sengaja terpelihara dari warisan penjajahan. Momen peringatan HSN (Hari Santri Nasional) tahun 2016 ini dimanfaatkan betul oleh Ansor Ranting Kaliwader dengan mengadakan lomba bola voli sebagai media interaksi antara santri dan warga […]

  • Peduli Sahabat dan Ansor Purworejo Salurkan 13.323 Paket Sembako Selama Pandemi Covid-19

    Peduli Sahabat dan Ansor Purworejo Salurkan 13.323 Paket Sembako Selama Pandemi Covid-19

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2020
    • account_circle admin
    • visibility 1.578
    • 0Komentar

    Hingga kini, Ansor-Banser bersama Peduli Sahabat masih terus melakukan galang dana dan penyaluran bantuan.

  • Kafilah Kecamatan Kemiri Meriahkan Gebyar Muharram Sambut Tahun Baru Islam 1445 Hijriyah

    Kafilah Kecamatan Kemiri Meriahkan Gebyar Muharram Sambut Tahun Baru Islam 1445 Hijriyah

    • calendar_month Rabu, 19 Jul 2023
    • account_circle PAC Kemiri
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Purworejo, Selasa (18/07/2023) – Kabupaten Purworejo meriah dengan adanya acara Gebyar Muharram yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Purworejo. Acara ini menjadi ajang untuk menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1445 Hijriyah dan disambut antusias oleh seluruh warga masyarakat. Dalam rangkaian perayaan Tahun Baru Islam, Gebyar Muharram diadakan dengan berbagai kegiatan […]

  • MWC NU Kecamatan Kemiri Sambut Satu Abad NU Selenggarakan Sambang Ranting

    MWC NU Kecamatan Kemiri Sambut Satu Abad NU Selenggarakan Sambang Ranting

    • calendar_month Selasa, 10 Jan 2023
    • account_circle admin
    • visibility 135
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Sambang ranting merupakan program kerja Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Kemiri pada tahun 2023. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menguatkan tali silaturrahim dan komunikasi dengan ranting nahdlatul ulama. Hal ini juga merupakan dalam rangka menyambut satu abad nahdlatul ulama. Kegiatan ini diselenggarakan di Masjid Zaenal Mustofa Desa Bedono Kluwung, Kemiri, Purworejo, Senin […]

expand_less