Breaking News
light_mode
Trending Tags

Membongkar Jaringan Radikal ISIS

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 6 Mei 2016
  • visibility 427
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Indonesia saat ini telah hampir memasuki fase darurat radikalisme. Fenomena kekerasan atas nama agama, peristiwa bom bunuh diri yang menyeret korban, serta merasuknya jaringan teroris-radikal di beberapa daerah menjadi ancaman nyata. Terlebih, jaringan radikal dari Islamic State of Irak and Syiria (ISIS) telah masuk ke beberapa kawasan di Indonesia. Selain itu, fenomena Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) juga layak direnungkan dalam pertanyaan tentang bagaimana menangkal radikalisme di negeri ini.

Buku karya Reno Muhammad, “ISIS: Mengungkap Fakta Terorisme Berlabel Islam” mencoba membongkar pemahaman kaum salafi yang menginginkan khilafah serta getol meneriakkan pengkafiran. Dalam buku ini, Reno Muhammad menggunakan fenomena ISIS sebagai pintu masuk. Buku ini, diharapkan oleh penulisnya, menjadi menjadi salah satu elemen mata air yang menginspirasi. Reno Muhammad dengan jeli menggali latar belakang munculnya ISIS, kemudian menganalisa kekeliruan takfir, serta  kepentingan ekonomi di baliknya munculnya ISIS di beberapa negara timur tengah. Buku ini juga menawarkan perspektif deradikalisasi dengan menyampaikan gagasan Islam cinta, untuk kedamaian antar umat agama di negeri ini.

Dalam buku ini, Reno Muhammad membongkar kesalahan berpikir kelompok yang menginginkan tegaknya khilafah. Ada dua argumentasi mendasar, yang disampaikan dalam buku ini: (1) Jika mendasarkan sistem khalifah pada kepemimpinan Nabi Muhammad, tentu saja hal ini salah besar. Nabi Muhammad tidak menetapkan diri sebagai khalifah (dalam artian pemimpin politik), akan tetapi menggerakkan tata nilai berdasar wahyu dan intuisi; (2) Nabi Muhammad tidak pernah mengabarkan bahwa agama Islam menjadi agama politik yang mengatur sistem kenegaraan berbasis agama. Ajaran Islam yang diwartakan oleh Sang Rasul, menjadi rahmat bagi semesta alam (hal. 127).

ISIS: Jaringan Radikal  

Reno Muhammad melacak bagaimana radikalisme berkembang sebagai kekuatan politik yang bertemu dengan kepentingan ekonomi. Semangat untuk tajdid dan melakukan pembaruan, telah dikobarkan oleh barisan Hasan al-Banna, seorang pembaru asal Mesir. “Pemuda belia itu bernama Hasan al-Banna (1906-1949). Ia sangat mengesankan, berpikiran kuat,kharismatik dan dapat menyakinkan orang untuk mengikutinya. Pada sebuah petang bulan Maret 1928—nyaris berbarengan dengan lahirnya Sumpah Pemuda di Indonesia—enam pemuda di Ismailiyah, Mesir, datang untuk meminta Hasan al-Banna bertindak: Kami tidak tahu cara praktis mencapai kemuliaan Islam dan kesejahteraan kaum muslim. Kami bosan dengan kehidupan yang dihina dan dikekang ini. Kami melihat orang-orang Arab dan Muslim tidak memiliki status atau martabat. Mereka tidak lebih dari orang upahan yang dimiliki orang asing (hal. 7). Dengan demikian, semangat untuk menegakkan khilafah yang dipahami, sebagai usaha untuk menegakkan martabat kaum muslim.

Apa yang dicitakan oleh Hasan al-Banna kemudian bergeser menjadi aksi-aksi kekerasan. Inilah yang menjadi penyebab bergesernya semangat pembaruan, menjadi aksi kekerasan, kepentingan kekuasaan dan akses ekonomi berupa monopoli minyak. Hadirnya ISIS di Timur Tengah, tidak lepas dari latar belakang ini. Rezim Bashar al-Assad menjadi bagian penting dari tegaknya Suriah, meski digempur oleh jaringan radikal ISIS dan revolusi Timur Tengah, yang disebut sebagai musim semi jazirah Arab.

Dalam buku ini, Reno Muhammad menulis, “Sejak berkuasa pada 2000, Bashar al-Assad menjadi kekuatan absolut yang tidak bisa digoyahkan oleh para oposisi. Pada mulanya, ia diharapkan mampu membawa angin perubahan bagi modernisasi ekonomi dan reformasi politik di Suriah. Akan tetapi, struktur dan kultur politik telah menyebabkan rezim Bashar al-Assad hanya melanjutkan kepemimpinan orang tuanya yang dikenal otoriter” (hal. 17).

Mengapa Bashar al-Assad tidak tergoyahkan? Reno Muhammad, menyajikan dalam tiga analisis tentang kuatnya Rezim al-Assad ini. Pertama, klan al-Assad menguasai sektor militer dan bisnis, yang menjadi tulang punggung kekuatan politik. Dengan demikian, klan ini menjadi penyangga solidnya kekuatan politik, militer dan ekonomi di panggung kekuasaan. Bashar al-Assad didukung oleh orang-orang kuat yang loyak dengan jaringan keluarga, yang menjadikan posisi pemimpin menjadi tidak tergoyahkan.

Kedua, Bashar al-Assad dengan jeli merangkul faksi Syiah Alawi. Kelompok ini, meski hanya 11 persen dari total penduduk Suriyah, dikenal sangat solid dan memiliki hubungan emosional kuat antar anggota. Kedekatan Syiah Alawi dengan Bashar al-Assad ini turut menjadi penguat kekuatan rezim al-Assad di Suriyah. Juga, jaringan Suriyah dan Iran menjadi kokoh, karena dukungan kelompok Syiah di belakang Assad.

Ketiga, al-Assad dengan piawai menggunakan kekuatan militer dan intelijen untuk mengukuhkan kekuatan politiknya. Status sebagi darurat militer, telah memberi kewenangan bagi operasi intelijen untuk menghabisi kelompok oposisi sampai ke akar-akarnya. Inilah yang menjadi sistem militer yang menguatkan kepemimpinan Bashar al-Assad. Keempat, al-Assad memegang posisi kunci dalam mengendalikan Partai Baath. Di Suriyah, partai ini mendapat legitimasi yang kuat, bahkan dapat merekrut orang-orang penting dari kelompok Sunni dengan menempatkannya di posisi-posisi strategis. Tentu saja, ini adalah salah satu jaminan kekuatan politik Bashar al-Assad di negerinya.

Jaringan ISIS yang menghalalkan  kekerasan tentu saja tidak boleh didukung dengan kesepakatan. Harus ada upaya untuk melawan jaringan ISIS, dengan sistem deradikalisasi yang integratif. ISIS juga ditolak oleh beberapa tokoh agama, “Apa yang dilakukan oleh ISIS, tidak diridhai oleh Allah dan tidak mencerminkan spirit al-Qur’an. Perilaku kekerasan jelas sama sekali tidak dibenarkan oleh Islam. Muslim yang baru mengangkat pisau saja sudah mendapat laknat Allah. ISIS juga sudah ditolak oleh ulama-ulama besar di seantero dunia. Atas dasar tersebut, NU mengajak masyarakat agar ikut menolak ISIS karena akan mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ungkap KH. Said Aqil Siroj dalam buku ini (hal. 148).

Melalui buku ini, Reno Muhammad ingin mengajak pembaca untuk memahami jaringan teroris-radikal, serta kemudian mengupayakan deradikalisasi. Ia mencatat, bahwa kekerasan bukanlah cara untuk menegakkan syariat Islam. Sejarah mencatat, masuknya Islam dan penyebarannya ke seluruh penjuru Tanah Air Indonesia, tidak melalui pertumpahan darah, apalagi ledakan bom. Para Wali, menyiarkan Islam melalui pendekatan kebudayaan yang sarat kedamaian. Buku ini mengungkapkan analisis alternatif untuk memahami jaringan teroris-radikal, serta memberi tawaran bagaimana menghadirkan Islam cinta, yang penuh kasih sayang dan perdamaian [].

Data Buku:
Penulis           : Reno Muhammad
Judul Buku     : ISIS: Mengungkap Fakta Terorisme Berlabel Islam|
Penerbit          : Noura Book
Edisi                : Desember 2015
ISBN                : 978-602-385-055-6
Perensi           : Munawir Aziz, pembaca buku (@MunawirAziz)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sholat Tanggal 10 Muharram

    Sholat Tanggal 10 Muharram

    • calendar_month Kamis, 27 Jul 2023
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 5
    • 0Komentar

      Dianjurkan shalat dilakukan pada malam tgl 10 muharram (malam jumat depan ini), dimulai setelah isyak sampai subuh. Sumber: Kitab Ianah At Thalibin juz 2 hal 267. Sholat empat rakaat seperti shalat duhur, dengan duduk tahiyat akhir saja. Niat Shalat Sunnah Mutlaq: أُصَلِّي سُنَّةً للهِ تَعَالَى Ushalli sunnatan Lillahi ta’ala Setiap rakaat yg dibaca Fatihah […]

  • Asal-Usul Islam di Nusantara

    Asal-Usul Islam di Nusantara

    • calendar_month Jumat, 11 Mar 2016
    • account_circle admin
    • visibility 409
    • 0Komentar

    Narasi besar Islam yang merentang selama ratusan tahun di bumi Nusantara harus diletakkan sebagai endapan ganjil dari pelbagai unsur yang hiruk. Islam yang kita saksikan sekarang merupakan hasil kloning sempurna dari kultur hibrida, dari lanskap budaya yang berbeda-beda. Maka, ketika belakangan ini mencuat diskursus ‘Islam Nusantara’ yang diwedarkan sebagai bentuk capture identitas dalam konteks sosio-antropologis, […]

  • Urgensi Media Sosial dan Penyusunan Database

    Urgensi Media Sosial dan Penyusunan Database

    • calendar_month Rabu, 17 Jun 2020
    • account_circle Muhammad Hidayatullah
    • visibility 836
    • 0Komentar

    “Berapa sih sebenarnya jumlah kader Ansor?”, pertanyaan seperti ini jamak ditanyakan oleh berbagai pihak dan tak pernah mampu kita jawab dengan lugas. Sebabnya, karena kita memang belum memiliki datanya secara pasti. Diakui atau tidak. Menyusun database telah lama menjadi ‘angan-angan’ organisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Rescue Ministries menulis artikel tentang topik ini di situsnya. Urusan […]

  • Amaliah Sejak Lahir Hingga Meninggalnya Muslim di Tanah Air

    Amaliah Sejak Lahir Hingga Meninggalnya Muslim di Tanah Air

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 375
    • 0Komentar

    Bermula dari hajatan dan kemudian berakhir dengan hajatan. Begitulah perjalanan seorang Muslim di Tanah Air. Bahkan, sebelum dia lahir pun sudah ada hajatan, yaitu apa yang disebut dengan Mapati (ketika usia kandungan empat bulan) atau Mitoni (ketika usia kandungan tujuh bulan). Begitu juga ketika meninggal, penuh dengan hajatan seperti prosesi kematian dan penguburan. Setelah bersangkutan […]

  • Bupati Purworejo: NU Selalu Berdiri Paling Depan Menjadi Benteng Masyarakat Dan Negara

    Bupati Purworejo: NU Selalu Berdiri Paling Depan Menjadi Benteng Masyarakat Dan Negara

    • calendar_month Minggu, 19 Jan 2020
    • account_circle admin
    • visibility 596
    • 0Komentar

    Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Purworejo Periode 2019 – 2024 menyelenggarakan acara Pelantikan dan Muskercab, Ahad 19 Januari 2020 di Komplek Pondok Pesantren Nuril Anwar, Maron, Loano, Purworejo. Bupati Purworejo, Agus Bastian, S.E., M.M. yang hadir dalam pelantikan tersebut menuturkan bahwa NU terus berperan untuk masyarakat dan negara sejak dahulu hingga sekarang. “NU mempunyai andil […]

  • PAC GP Ansor Bruno Ikut Hadir dalam Acara Bimbingan Teknis dan Peluncuran Website 16 PAC Gerakan Pemuda Ansor

    PAC GP Ansor Bruno Ikut Hadir dalam Acara Bimbingan Teknis dan Peluncuran Website 16 PAC Gerakan Pemuda Ansor

    • calendar_month Senin, 26 Jun 2023
    • account_circle PAC Bruno
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Purworejo, 25 Juni 2023 – Dalam acara bimbingan teknis (bimtek) dan peluncuran website 16 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor di gedung PCNU Kabupaten Purworejo, Muhamad Hidayatullah, selaku Wakil Ketua Bidang Media, memberikan pelatihan terkait teknologi informasi (IT) dan media kepada para peserta. Ketua PAC Ansor Bruno Nur Arifin, A.md.Ak, Wakil Ketua Muhamad Irfan Romadhon, S.Sos, […]

expand_less