Breaking News
light_mode
Trending Tags

Asal-Usul Islam di Nusantara

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 11 Mar 2016
  • visibility 485
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Narasi besar Islam yang merentang selama ratusan tahun di bumi Nusantara harus diletakkan sebagai endapan ganjil dari pelbagai unsur yang hiruk. Islam yang kita saksikan sekarang merupakan hasil kloning sempurna dari kultur hibrida, dari lanskap budaya yang berbeda-beda.
Maka, ketika belakangan ini mencuat diskursus ‘Islam Nusantara’ yang diwedarkan sebagai bentuk capture identitas dalam konteks sosio-antropologis, argumen-argumen penolakan yang bersifat ambisius dan dadakan perlu segera diluruskan. Mengapa? Lewat Sejarah Islam di Nusantara, Michael Laffan menyediakan jawabannya.
Hasil riset profesor sejarah dari Universitas Princeton ini mendedahkan secara eksplisit bahwa ‘Islam (di) Nusantara’ memiliki akar-akar sejarah yang menghunjam jauh ke masa silam. Dengan lain kata, apa yang disebut sebagai ‘Islam Nusantara’ tak lain adalah salinan pucat dari sejarah Islam di Nusantara itu sendiri.
Di titimangsa ini, yang gamang mulai tampak terang: bahwa ‘Islam Nusantara’ bukanlah aliran sempal (firqah) yang mencoba memekarkan diri dari kelopak keislaman yang sudah menangkai lebih dulu. ‘Islam Nusantara’, seperti yang akan kita lihat, adalah ejawantah langsung dari relasi-relasi subtil antarmanusia, juga antarbangsa.
Peran Ordo Sufi
Seperti halnya kebanyakan sejarawan, Michael Laffan percaya bahwa kesuksesan Islam menapak bumi Nusantara sangat ditentukan oleh peran penting ordo-ordo sufi yang memiliki reputasi baik sejak awal kedatangannya. Namun ia masih ragu mengenai faktor paling dominan dalam proses islamisasi yang mencengangkan tersebut.
Namun yang pasti, sufi-sufi yang berdatangan dari seberang seperti Persia, India dan Afrika Utara kadang-kadang merupakan pedagang yang sekaligus juru dakwah Islam. Di abad-abad pertama milineum kedua, mudah sekali kita temukan sosok sufi yang nyambi jadi petani, pedagang, hakim, dan “profesi duniawi” lainnya.
Para penyebar Islam yang umumnya multitalenta itu, telah mengejutkan dan membuat decak kagum orang-orang pribumi sehingga mereka cepat sekali beradaptasi. Uniknya, dalam temuan Michael Laffan, untaian kearifan-kearifan kaum sufi dengan mudah menjadi tren dan diadopsi oleh penguasa setempat (hal, 27).
Hal ini tidak lepas dari yang namanya—dalam istilah Michael Laffan—“gravitasi kecendekiaan” yang bersumber dari Mesir, Baghdad, Damaskus hingga Turki Utsmani. Terma-terma sufistik yang menjadi tren di Timur Tengah, lewat persilangan-persilangan mencengangkan, lalu dibawa dan akhirnya menjadi tren juga. Tren sufisme di abad-abad lampau sama pentingnya dengan tren mode zaman sekarang (hal, 253-254).
Antara abad 15 hingga 18, ordo-ordo sufi dengan leluasa keluar-masuk istana. Tampaknya, penetrasi lembut antara ajaran sufi dan politik kekuasaan menjadi penyokong utama langgengnya agama Islam di Nusantara. Pola-pola semacam itu lazim terjadi di Asia Tenggara, terutama di sekitar poros Patani-Malaka-Jawa.
Islam yang Terus Berubah
Abad-abad berikutnya semakin rumit dan musykil. Ketika pondasi Islam boleh dibilang sudah kukuh, sengkarut yang silang menyilang gencar terjadi. Ordo-ordo sufi mulai menarik diri dari istana. Sementara itu, gerakan-gerakan revivalisme Islam mulai tumbuh dan langsung mengambil jalur politik-kekuasaan.
Di sisi lain, katup kolonialisme yang kian menganga turut membawa dampak buruk bagi posisi Islam Nusantara. Sejak itu, polarisasi dalam Islam tidak dapat dihindari lagi. Muncullah Wahhabisme, Pan-Islamisme, dan seterusnya.
Sementara Islam bersusah payah menghadapi perpecahan yang menggerogoti tubuhnya sendiri, dari luar tengah mengarah serbuan getol dari misionaris Kristen yang dibonceng pemerintah Hindia Belanda. Bab 6 dan 7 secara khusus memotret perseteruan dan perebutan panggung yang dramitis itu.
Dalam konteks yang lebih serius dan rumit, Christiaan Snouck Hurgronje hadir sebagai eksemplar yang sangat menentukan terhadap narasi Islam di dunia yang lebih modern kelak. Michael Laffan mencurahkan perhatiannya pada segmentasi ini secara detail di bab 8, 9, dan 10. 
Pada bab-bab berikutnya, Michael Laffan menyoroti setiap perubahan di dalam sejarah ‘Islam Nusantara’ yang arkaik dan tumpang tindih dengan pelbagai dimensi kecil namun penting. Dengan tetap meyakini bahwa sejarah tidak pernah final, Michael Laffan juga berkesimpulan bahwa ‘Islam Nusantara’ juga bukan adonan yang persis bulat dan final.
Sejak awal Michael Laffan mengingatkan bahwa yang khas bagi ‘Islam Nusantara’ justru karena ia tidak benar-benar khas (sejauh khas diidentikkan dengan orisinal). Sebab, ‘Islam Nusantara’ merupakan hasil tungkus-lumus, persentuhan, perpaduan dari ajaran, perilaku, budaya dan citarasa yang aduhai jamaknya. Dan itu mustahil dikrop untuk menjadi satu warna.
Apa yang ditulis Michael Laffan dalam buku ini, pada dasarnya, sekadar patahan-patahan sumir, potongan-potongan kecil, atau celah-celah mungil yang terjadi di dalam lipatan-lipatan sejarah yang enggan dibahas oleh sejarawan lain.Pembaca tidak akan menemukan keutuhan, misalnya, sebagaimana buku-buku M.C. Ricklefs.
Tetapi justru di situ nilai plusnya. Dengan gaya penulisan yang tidak konvensional, Michael Laffan berhasil memetakan serpihan-serpihan penting sejarah ‘Islam Nusantara’ ke dalam narasi yang enak dibaca. Hanya, pembaca yang belum tahu secara persis anatomi sejarah Indonesia, jelas akan kesulitan mencerna konteksnya.
Buku ini, saya kira, unggul di satu sisi, tapi lemah di sisi yang lain. Sebagai buku sejarah, buku ini sangat berharga karena keunikan data-data di dalamnya. Namun keunikan itu tidak akan sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan penting yang bercorak antropologis. Di sinilah reputasi Michael Laffan sebagai sejarawan tulen patut ditepuktangani.
Data Buku
Judul : Sejarah Islam di Nusantara
Penulis : Michael Laffan
Penerjemah : Indi Aunullah & Rini Nurul Badariah
Penerbit  : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : September 2015
Tebal : xx + 328 halaman
ISBN : 978-602-291-058-9
Perensensi: Naufil Istikhari Kr, Aktif di Lingkaran Metalogi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ziarah Wali dan Muassis NU, MWC NU Loano Gelar Ziarah Muassis dan Khatamkan Al-Qur’an 21 Kali

    Ziarah Wali dan Muassis NU, MWC NU Loano Gelar Ziarah Muassis dan Khatamkan Al-Qur’an 21 Kali

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Akhmad Najeh
    • visibility 76
    • 2Komentar

    LOANO – Mengawali tahun 2026, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Loano kembali membuat gebrakan besar. Setelah pada Oktober 2025 sukses menggelar longmarch dari Loano ke Ngadiwongso Salaman, kali ini MWC NU Loano melaksanakan kegiatan Ziarah Wali dan Muassis NU ke Jawa Timur dan Batuampar, Sumenep, Kamis (16/01/2026).   Rute ziarah meliputi Maron, […]

  • Ansor Banser Bener Turun Ke Lapangan Lakukan Aksi Sosial

    Ansor Banser Bener Turun Ke Lapangan Lakukan Aksi Sosial

    • calendar_month Kamis, 10 Des 2020
    • account_circle admin
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Bener 06/12/2020 .Sebagai rasa bentuk kepedulian meringankan sesama warga, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Bener, membantu warganya yang tertimpa musibah kebakaran beberapa hari lalu. Inilah salah satu bentuk nyata komitmen kami dalam peduli kemanusiaan. Demikian disampaikan Ketua PLH Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Bener Ahmad Aziz.Arifin Zuhri selaku Wakasatkoryon Banser Bener […]

  • Sambut Ramadhan, MWCNU Kutoarjo Rencanakan Kegiatan Tarkhim

    Sambut Ramadhan, MWCNU Kutoarjo Rencanakan Kegiatan Tarkhim

    • calendar_month Kamis, 25 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 804
    • 0Komentar

    KUTOARJO, ansorpurworejo.org – Majlis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kutoarjo dalam menyambut bulan suci Ramadhan 1442 H menggelar musyawarah bersama dan sekaligus pertemuan rutin malam Kamis Kliwon, Rabu, 24/03/2021. Dalam rutinan ini dihadiri oleh pengurus MWC, pengurus ranting dan pengurus PAC GP Ansor Kutoarjo. Pertemuan ini merupakan pertama kalinya digelar sejak masa pandemi […]

  • PAC GP Ansor Gebang Resmi Luncurkan Rutinan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor

    PAC GP Ansor Gebang Resmi Luncurkan Rutinan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 116
    • 2Komentar

    PAC GP Ansor Gebang resmi membuka rutinan MDS RA di Desa Mlaran, perkuat spiritualitas dan konsolidasi organisasi.

  • Ngaji Aswaja, Program MDS Rijalul Ansor Purworejo untuk Perkuat Akidah dan Khidmah

    Ngaji Aswaja, Program MDS Rijalul Ansor Purworejo untuk Perkuat Akidah dan Khidmah

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle admin
    • visibility 103
    • 1Komentar

    PURWOREJO, – Ngaji Aswaja menjadi salah satu program Majelis Dzikir dan Sholawat (MDS) Rijalul Ansor PC GP Ansor Purworejo untuk memperkuat pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), membangun kaderisasi spiritual, serta meneguhkan semangat khidmah kepada ulama, Nahdlatul Ulama (NU), masyarakat, dan bangsa. Program tersebut kembali digelar bersama PAC GP Ansor Gebang melalui kegiatan Ngaji Aswaja dan […]

  • Pimpinan Ranting GP Ansor Sidomulyo dan Pemantapan Calon Pengurus Pimpinan Ranting Fatayat NU Sidomulyo

    Pimpinan Ranting GP Ansor Sidomulyo dan Pemantapan Calon Pengurus Pimpinan Ranting Fatayat NU Sidomulyo

    • calendar_month Senin, 5 Des 2022
    • account_circle admin
    • visibility 195
    • 1Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Ahad (4/12) ada pemandangan menarik di Desa Sidomulyo Kecamatan Purworejo. Pasalnya, riuh gemuruh ‘kaum hijau’ NU, Muslimat, Fatayat, Ansor berkumpul di Musholla Baitul Makmur Sidomulyo pimpinan KH. Pawit Abu Bakar dalam acara pengajian dhuha Muslimat NU sekaligus pelantikan Pimpinan Ranting GP Ansor Sidomulyo dan Pemantapan Calon Pengurus Pimpinan Ranting Fatayat NU Sidomulyo. […]

expand_less