Breaking News
light_mode
Trending Tags

Asal-Usul Islam di Nusantara

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 11 Mar 2016
  • visibility 415
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Narasi besar Islam yang merentang selama ratusan tahun di bumi Nusantara harus diletakkan sebagai endapan ganjil dari pelbagai unsur yang hiruk. Islam yang kita saksikan sekarang merupakan hasil kloning sempurna dari kultur hibrida, dari lanskap budaya yang berbeda-beda.
Maka, ketika belakangan ini mencuat diskursus ‘Islam Nusantara’ yang diwedarkan sebagai bentuk capture identitas dalam konteks sosio-antropologis, argumen-argumen penolakan yang bersifat ambisius dan dadakan perlu segera diluruskan. Mengapa? Lewat Sejarah Islam di Nusantara, Michael Laffan menyediakan jawabannya.
Hasil riset profesor sejarah dari Universitas Princeton ini mendedahkan secara eksplisit bahwa ‘Islam (di) Nusantara’ memiliki akar-akar sejarah yang menghunjam jauh ke masa silam. Dengan lain kata, apa yang disebut sebagai ‘Islam Nusantara’ tak lain adalah salinan pucat dari sejarah Islam di Nusantara itu sendiri.
Di titimangsa ini, yang gamang mulai tampak terang: bahwa ‘Islam Nusantara’ bukanlah aliran sempal (firqah) yang mencoba memekarkan diri dari kelopak keislaman yang sudah menangkai lebih dulu. ‘Islam Nusantara’, seperti yang akan kita lihat, adalah ejawantah langsung dari relasi-relasi subtil antarmanusia, juga antarbangsa.
Peran Ordo Sufi
Seperti halnya kebanyakan sejarawan, Michael Laffan percaya bahwa kesuksesan Islam menapak bumi Nusantara sangat ditentukan oleh peran penting ordo-ordo sufi yang memiliki reputasi baik sejak awal kedatangannya. Namun ia masih ragu mengenai faktor paling dominan dalam proses islamisasi yang mencengangkan tersebut.
Namun yang pasti, sufi-sufi yang berdatangan dari seberang seperti Persia, India dan Afrika Utara kadang-kadang merupakan pedagang yang sekaligus juru dakwah Islam. Di abad-abad pertama milineum kedua, mudah sekali kita temukan sosok sufi yang nyambi jadi petani, pedagang, hakim, dan “profesi duniawi” lainnya.
Para penyebar Islam yang umumnya multitalenta itu, telah mengejutkan dan membuat decak kagum orang-orang pribumi sehingga mereka cepat sekali beradaptasi. Uniknya, dalam temuan Michael Laffan, untaian kearifan-kearifan kaum sufi dengan mudah menjadi tren dan diadopsi oleh penguasa setempat (hal, 27).
Hal ini tidak lepas dari yang namanya—dalam istilah Michael Laffan—“gravitasi kecendekiaan” yang bersumber dari Mesir, Baghdad, Damaskus hingga Turki Utsmani. Terma-terma sufistik yang menjadi tren di Timur Tengah, lewat persilangan-persilangan mencengangkan, lalu dibawa dan akhirnya menjadi tren juga. Tren sufisme di abad-abad lampau sama pentingnya dengan tren mode zaman sekarang (hal, 253-254).
Antara abad 15 hingga 18, ordo-ordo sufi dengan leluasa keluar-masuk istana. Tampaknya, penetrasi lembut antara ajaran sufi dan politik kekuasaan menjadi penyokong utama langgengnya agama Islam di Nusantara. Pola-pola semacam itu lazim terjadi di Asia Tenggara, terutama di sekitar poros Patani-Malaka-Jawa.
Islam yang Terus Berubah
Abad-abad berikutnya semakin rumit dan musykil. Ketika pondasi Islam boleh dibilang sudah kukuh, sengkarut yang silang menyilang gencar terjadi. Ordo-ordo sufi mulai menarik diri dari istana. Sementara itu, gerakan-gerakan revivalisme Islam mulai tumbuh dan langsung mengambil jalur politik-kekuasaan.
Di sisi lain, katup kolonialisme yang kian menganga turut membawa dampak buruk bagi posisi Islam Nusantara. Sejak itu, polarisasi dalam Islam tidak dapat dihindari lagi. Muncullah Wahhabisme, Pan-Islamisme, dan seterusnya.
Sementara Islam bersusah payah menghadapi perpecahan yang menggerogoti tubuhnya sendiri, dari luar tengah mengarah serbuan getol dari misionaris Kristen yang dibonceng pemerintah Hindia Belanda. Bab 6 dan 7 secara khusus memotret perseteruan dan perebutan panggung yang dramitis itu.
Dalam konteks yang lebih serius dan rumit, Christiaan Snouck Hurgronje hadir sebagai eksemplar yang sangat menentukan terhadap narasi Islam di dunia yang lebih modern kelak. Michael Laffan mencurahkan perhatiannya pada segmentasi ini secara detail di bab 8, 9, dan 10. 
Pada bab-bab berikutnya, Michael Laffan menyoroti setiap perubahan di dalam sejarah ‘Islam Nusantara’ yang arkaik dan tumpang tindih dengan pelbagai dimensi kecil namun penting. Dengan tetap meyakini bahwa sejarah tidak pernah final, Michael Laffan juga berkesimpulan bahwa ‘Islam Nusantara’ juga bukan adonan yang persis bulat dan final.
Sejak awal Michael Laffan mengingatkan bahwa yang khas bagi ‘Islam Nusantara’ justru karena ia tidak benar-benar khas (sejauh khas diidentikkan dengan orisinal). Sebab, ‘Islam Nusantara’ merupakan hasil tungkus-lumus, persentuhan, perpaduan dari ajaran, perilaku, budaya dan citarasa yang aduhai jamaknya. Dan itu mustahil dikrop untuk menjadi satu warna.
Apa yang ditulis Michael Laffan dalam buku ini, pada dasarnya, sekadar patahan-patahan sumir, potongan-potongan kecil, atau celah-celah mungil yang terjadi di dalam lipatan-lipatan sejarah yang enggan dibahas oleh sejarawan lain.Pembaca tidak akan menemukan keutuhan, misalnya, sebagaimana buku-buku M.C. Ricklefs.
Tetapi justru di situ nilai plusnya. Dengan gaya penulisan yang tidak konvensional, Michael Laffan berhasil memetakan serpihan-serpihan penting sejarah ‘Islam Nusantara’ ke dalam narasi yang enak dibaca. Hanya, pembaca yang belum tahu secara persis anatomi sejarah Indonesia, jelas akan kesulitan mencerna konteksnya.
Buku ini, saya kira, unggul di satu sisi, tapi lemah di sisi yang lain. Sebagai buku sejarah, buku ini sangat berharga karena keunikan data-data di dalamnya. Namun keunikan itu tidak akan sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan penting yang bercorak antropologis. Di sinilah reputasi Michael Laffan sebagai sejarawan tulen patut ditepuktangani.
Data Buku
Judul : Sejarah Islam di Nusantara
Penulis : Michael Laffan
Penerjemah : Indi Aunullah & Rini Nurul Badariah
Penerbit  : Bentang Pustaka, Yogyakarta
Cetakan : September 2015
Tebal : xx + 328 halaman
ISBN : 978-602-291-058-9
Perensensi: Naufil Istikhari Kr, Aktif di Lingkaran Metalogi, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ansor Banser Pituruh Bantu Korban Bencana Alam Banjir

    Ansor Banser Pituruh Bantu Korban Bencana Alam Banjir

    • calendar_month Selasa, 27 Okt 2020
    • account_circle admin
    • visibility 1.482
    • 0Komentar

    PITURUH, ansorpurworejo.org – Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor dan Banser Pituruh bergerak membantu warga Dukuh Putihan Desa Brengkol yang terdampak Banjir, Senin dini hari, 26/10/2020. Ansor dan Banser telah mendistribusikan bantuan berdengan bantuan berupa, Air Mineral BAQNU 10 dus, Mie Instan 10 dus. Tidak hanya itu juga ditambah dari Mikat Al-Khidmah dan LPBI NU […]

  • Dakwah Melalui Media Sosial

    Dakwah Melalui Media Sosial

    • calendar_month Sabtu, 1 Jul 2023
    • account_circle Muhammad Irfan Ramadhan
    • visibility 15
    • 0Komentar

    Media sosial, seperti Instagram, menjadi platform yang menjangkau jutaan orang di seluruh dunia. Kita dapat memanfaatkannya dengan bijak untuk menyampaikan pesan-pesan Islami yang bermanfaat. Melalui postingan, story, atau IGTV, kita dapat menjangkau teman-teman dari berbagai latar belakang, baik Muslim maupun non-Muslim. Dakwah melalui media sosial bisa dilakukan dengan berbagai cara. Pertama, kita bisa membagikan kutipan […]

  • Resmi Dilantik, Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Winong Masa Khidmat 2026–2028 Siap Berkhidmat dan Bersinergi

    Resmi Dilantik, Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Winong Masa Khidmat 2026–2028 Siap Berkhidmat dan Bersinergi

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Akhmad Najeh
    • visibility 33
    • 0Komentar

    KEMIRI – Momentum Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-100 Nahdlatul Ulama dimanfaatkan sebagai ajang penguatan organisasi kepemudaan. Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda Ansor Desa Winong, Kecamatan Kemiri, resmi dilantik untuk Masa Khidmat 2026–2028 dalam sebuah acara yang digelar di Halaman Masjid Al-Ma’arif Desa Winong, Selasa (3/2/2026) malam. Pelantikan tersebut menjadi wujud kesiapan para pengurus PR GP […]

  • Pelantikan PAC ANSOR Ngombol di Ponpes Assunnah Joso

    Pelantikan PAC ANSOR Ngombol di Ponpes Assunnah Joso

    • calendar_month Selasa, 8 Mar 2016
    • account_circle admin
    • visibility 481
    • 0Komentar

    Ngombol, ansorpurworejo.org Sabtu, 27 Februari 2016 di Ponpes Assunnah Joso diadakan pelantikan PAC Ansor dan Banser Kecamatan Ngombol. Sebelumnya diawali dengan Pelantikan PAC IPNU-IPPNU Ngombol. Hadir Ketua PC GP Ansor Purworejo Sahabat H. Muhammad Haekal, S.Pd.I. beserta sahabat-sahabat PC. Pelantikan sengaja di Ponpes Assunnah Joso Ngombol atas permintaan KH. Baihaqi Pendiri Pondok untuk mendapatkan pondok […]

  • KAROMAH SYAKIHONA KHOLIL BANGKALAN

    KAROMAH SYAKIHONA KHOLIL BANGKALAN

    • calendar_month Selasa, 3 Sep 2024
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 7
    • 0Komentar

    Pada suatu hari, Kyai Kholil sedang melihat masjid yang sedang dibangun oleh menantu beliau yaitu Kyai Muntaha. Ketika melihat arah kiblat pada masjid tersebut, Kyai Kholil menegur sang menantu yang alim itu untuk membetulkan arah kiblat masjid yang sedang dibangunnya itu. Sebagai org yg alim, Kyai Muntaha mempunyai alasan dalam menentukan arah kiblat tersebut, beberapa […]

  • Perkuat Konsolidasi Organisasi, PC GP Ansor Purworejo Gelar Turba di PAC GP Ansor Kemiri

    Perkuat Konsolidasi Organisasi, PC GP Ansor Purworejo Gelar Turba di PAC GP Ansor Kemiri

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Akhmad Najeh
    • visibility 15
    • 0Komentar

    KEMIRI – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Purworejo menggelar kegiatan TURBA (Turun Bawah) sebagai bagian dari agenda konsolidasi organisasi. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Gedung MWC NU Kemiri, Purworejo, Jumat (13/02/2026) malam. TURBA merupakan agenda strategis organisasi di mana pengurus tingkat cabang mengunjungi jajaran pengurus di tingkat bawah, baik Pimpinan Anak Cabang (PAC) maupun […]

expand_less