Breaking News
light_mode
Trending Tags

Saya Hanya Ingin Jadi Warga NU yang Sederhana

  • account_circle Muhammad Hidayatullah
  • calendar_month Selasa, 2 Mar 2021
  • visibility 623
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Assalamualaikum wr wb.

Perkenalkan, nama saya Bramantyo dan Alhamdulillah saya termasuk warga NU. Walaupun ‘NU Abangan’, wong Iqra saja belum khatam.

Tapi saya sangat bangga jadi warga NU, walaupun saya tidak tahu, apakah NU bangga punya warga seperti saya. Dan sebagai bukti kebanggaan saya menjadi warga NU, saya tidak terpancing untuk ikut-ikutan ganti nama menjadi ‘Bram Al-Khotot,’ agar dilihat orang sebagai orang yang shaleh. Karena bagi saya yang orang NU Abangan, kadar keshalehan orang itu tidak dilihat dari nama, tapi dari cara pandang dan sikap kita dalam melihat, menyikapi dan memperlakukan semua makhluk ciptaan Allah SWT.

Dan, walaupun latar belakang saya sebagai pelukis, saya juga tidak terpancing untuk ikut-ikutan melukis lingkaran hitam di jidat saya, agar terlihat sebagai orang beriman. Karena bagi saya sebagai orang NU Abangan, kadar keimanan seseorang itu tidak sesederhana dilihat dari stempel atau tanda hitam di jidat, atau terlihat dari celana kulot di atas mata kaki, dari grup pecel lele (persatuan celana lebar). Tapi dari cara kita mensyukuri dan ridho atas segala takdir dan ketetapan-Nya.

Saya hanya ingin jadi warga NU yang sederhana, yang apa adanya, bukan ada apanya. Yang percaya bahwa sebaik-baiknya orang adalah yang berguna bagi sesamanya, bermanfaat bagi lingkungannya.

Saya hanya ingin jadi warga NU yang sederhana, yang akan mengucap takbir “Allahu Akbar” karena menyaksikan kebesaran Tuhan. Bukan “Allahu Akbar” untuk memprovokasi, membakar atau mencaci-maki sesama makhluk Allah SWT.

Alhamdulillah, saya dilahirkan di lingkungan NU. Suatu lingkungan yang masih memegang erat dakwah dan budaya NU. Masih teringat dalam ingatan saya, saat saya masih kecil—yah, SD lah—kalau ada tetangga meninggal, perasaan ini campur aduk: antara sedih dan senang. Sedih karena ditinggal tetangga untuk selamanya. Senang karena sudah membayangkan: selama tujuh hari pasti dapat berkat.

NU itu ibarat pepatah, diam-diam menghanyutkan. Dihina pasti memaafkan. Dicaci-maki, malah balas mendoakan yang baik-baik. Disenggol malah ngajak silaturrahmi. Selalu menjadi air, saat lainnya jadi api yang membakar sekitarnya. Sangat meneduhkan.

NU itu santai. NU itu slow man. Sampai karena sangat slow-nya, pernah saya pameran lukisan bareng teman-teman NU, pembukaan pameran jam delapan malam, undangan disebar jam enam sore. Tapi karena iman dan percaya bahwa semua sudah diatur sama Tuhan, akhirnya terlaksana juga pembukaan pamerannya, sukses dan lancar. Slow man. Semua pasrahkan pada Tuhan, yang penting kita sudah usaha.

NU itu bagai karang yang kokoh diterjang ombak peradaban moral yang semakin kusut. NU itu berani berlapar-lapar dan berjuang (tapi takut salid), pissss.

Mengidentifikasi orang NU itu mudah: orangnya tidak spaneng, suka guyon, bisa memaklumi orang, lucu, imut, penuh rasa toleransi, (mangane akeh, salidtan), piss maneh. Tidak suka teriak-teriak “Allahu Akbar” sambil membakar. Tidak suka shalat bareng-bareng di pinggir jalan sehabis teriak-teriak memaki dan mencaci orang. Pokoke jooooooooosss….

Orang itu kalau melihat keajaiban alam, langsung menunduk dan ingat Tuhan. Bukan malah gumunan, lalu sibuk bilang amin dan menyuruh untuk disebarkan lewat WA.

Karena ingat…. Akan tiba suatu masa, mulut ini dikunci dan jari-jari bersaksi bahwa setiap hari, ia dipakai untuk mencaci, dan sebarkan intoleransi tiap hari.

NU adalah mata air para pencari ilahi. Samudera bagi pantai-pantai budaya. NU adalah tiang-tiang peradaban. NU adalah matahari, penerang bagi siang-siangku. Dan rembulan, penerang bagi malam-malamku.

Terima kasih.
Wassalamualaikum wr wb.

Penulis adalah pekerja seni lukis, tinggal di Purworejo, Jawa Tengah. Penulis juga merupakan anggota jaringan Gusdurian Kabupaten Purworejo. Pernah ikut pameran lukisan bertemakan ulama dan tokoh NU pada Haul Gus Dur di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, 2018 silam. Tulisan ini dibacakan penulis pada Peringatan Harlah NU ke-98 16 Rajab 1442 H oleh forum diskusi ‘Kopi Panas’ di Rumah Juang, Purworejo.

Dimuat pertama kali di NU Online dengan judul yang sama.

https://www.nu.or.id/post/read/126986/saya-hanya-ingin-jadi-warga-nu-yang-sederhana

  • Penulis: Muhammad Hidayatullah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PBNU Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026, Idul Adha 27 Mei 2026

    PBNU Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026, Idul Adha 27 Mei 2026

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 183
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi mengumumkan awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah. Berdasarkan hasil pemantauan hilal (rukyatul hilal), PBNU menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026 M. Dengan keputusan tersebut, Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah 1447 H) akan jatuh pada Rabu Wage, 27 Mei 2026 […]

  • Ansor Peduli Siapkan Laporan Real-Time Untuk Masyarakat

    Ansor Peduli Siapkan Laporan Real-Time Untuk Masyarakat

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2020
    • account_circle admin
    • visibility 468
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Pada tanggal 11 September 2020, Dalam menjaga keterbukaan publik PC GP Ansor Purworejo merilis data laporan Ambulan, bertempat di Desa Lugosobo Purworejo dala rapat koordinasi bersama Tim Ansor Peduli berkumpul untuk melaporkan dan mengevaluasi gerakan ambulan Ansor peduli Purworejo Miftahudin sebagai koordinator relawan memaparkan “Sejak serah terima ambulan sinegi DRW – Ansor […]

  • 6 Aktivitas Utama Di Hari Jum’at

    6 Aktivitas Utama Di Hari Jum’at

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Hari Jumat merupakan hari yang sangat spesial bagi umat Islam. Dalam beberapa referensi disebutkan bahwa hari Jumat merupakan hari yang paling utama dalam satu minggu dan malamnya merupakan malam yang paling utama setelah malam lailatul qadar. Pada hari itu Allah subhanahu wata’ala telah menciptakan Nabi Adam ‘alaihis salam dan pada hari itu pula Allah telah […]

  • Membangun Soliditas & Militansi Kader, PAC GP Ansor Purworejo Gelar Rakercab

    Membangun Soliditas & Militansi Kader, PAC GP Ansor Purworejo Gelar Rakercab

    • calendar_month Jumat, 9 Jul 2021
    • account_circle admin
    • visibility 493
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – PAC GP Ansor Purworejo Selenggarakan Silaturahim dan Rakerancab dengan mengusung tema ” Membangun Soliditas & Militansi Kader”. Silaturahim dan rakerancab ini merupakan momen silaturahim antar sahabat ansor dan penyusunan program kerja yang belum terealisasi. Kegiatan ini bertempat di Graha Siola Convention Hall RM. H. Dargo Pangenrejo. Ahad (04/06) Hadir pada kesempatan ini, […]

  • Perkuat Semangat Kader, Ranting Ansor Wonosuko gelar Selapanan

    Perkuat Semangat Kader, Ranting Ansor Wonosuko gelar Selapanan

    • calendar_month Selasa, 30 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 147
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda Ansor Desa Wonosuko gelar Selapanan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor. Selapanan ini bertujuan untuk memperkuat konsolidasi dan semangat kader ansor dalam upaya berkhidmah. Kegiatan ini dilaksanakan di Masjid Al Hikmah Desa Wonosuko, Kemiri, Ahad (28/05/2023) Pada kesempatan ini hadir Pemerintah Desa, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama, Para […]

  • Toleransi dalam Perspektif Fikih

    Toleransi dalam Perspektif Fikih

    • calendar_month Sabtu, 24 Sep 2016
    • account_circle admin
    • visibility 399
    • 0Komentar

    Toleransi menjadi penting dideskripsikan guna mengawal kerukunan di tengah masyarakat majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah negara unik dan beda. Sebab Indonesia bukan negara sekuler dan bukan pula negara agama, tapi berlandaskan Pancasila.Sebuah konsep lain yang tetap berlandaskan agama berpadu dengan norma pribumi. Sebagai mayoritas, umat Muslim memiliki tanggung jawab memandu toleransi di negeri ini. Di […]

expand_less