Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
  • visibility 517
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang di sekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang di sekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah KH Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu.

Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin.

Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, KH Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Kiai Qoribun dan ibunya, Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip.

Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugan-nya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya.

Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga.

Aktif di Medan Tempur

Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.

Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone(daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing.

Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH Abdurrahman Yahya.

Demikian pula  ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten  Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia. 

Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas. 

Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun. Ada yang berpendapat ia meninggal pada usia 68 tahun karena Kiai Yahya lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun. Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun. 

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang.  

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • LAKUT 2026 di Purworejo Resmi Dibuka, Ukir Sejarah Baru Kaderisasi IPNU-IPPNU

    LAKUT 2026 di Purworejo Resmi Dibuka, Ukir Sejarah Baru Kaderisasi IPNU-IPPNU

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 98
    • 1Komentar

    PURWOREJO – Sejarah baru kaderisasi pelajar Nahdlatul Ulama di Kabupaten Purworejo resmi tercatat. Kamis (15/01/2026), Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Purworejo menggelar Latihan Kader Utama (LAKUT) perdana di Yayasan Khasanah Nusantara, Kecamatan Bayan, Purworejo. Opening ceremony dihadiri puluhan peserta dan tamu undangan. Ketua PC IPPNU Purworejo, Debi Saktiyani, dalam sambutannya menegaskan bahwa LAKUT kali ini merupakan […]

  • Berkas Pendampingan Lokal Desa 2015

    Berkas Pendampingan Lokal Desa 2015

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 358
    • 0Komentar

    Download

  • 4 Karakter Yang Harus Dimiliki Banser

    4 Karakter Yang Harus Dimiliki Banser

    • calendar_month Sabtu, 13 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 929
    • 0Komentar

    Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) pernah berpesan akan 4 hal karakter yang harus dimiliki Banser. Hal ini Gus Yaqut sampaikan ketika menjadi inspektur Apel Kebangsaan bertema “Merawat Tradisi, Mengawal NKRI, Menyejahterakan Negeri” yang digelar GP Ansor Magetan, Jawa Timur, Ahad (14/1) di alun-alun Magetan. Gus Yaqut mengapresiapi kegiatan apel kebangsaan […]

  • Kegiatan Pembacaan Al-Barjanji oleh Ansor Kecamatan Bagelen dalam Rangka Maulid Nabi 1446 H

    Kegiatan Pembacaan Al-Barjanji oleh Ansor Kecamatan Bagelen dalam Rangka Maulid Nabi 1446 H

    • calendar_month Jumat, 6 Sep 2024
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Bagelen, 6 September 2024 – Dalam rangka memperingati bulan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun 1446 H, Ansor Kecamatan Bagelen, Purworejo, mengadakan kegiatan pembacaan Al-Barjanji secara rutin. Acara ini menjadi salah satu tradisi yang sangat dihargai oleh masyarakat setempat sebagai bentuk kecintaan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW. Pembacaan Al-Barjanji: Tradisi dan Makna Al-Barjanji adalah salah […]

  • NU Bener Gelar Apel Kebangsaan Sebagai Bukti Cinta Tanah Air

    NU Bener Gelar Apel Kebangsaan Sebagai Bukti Cinta Tanah Air

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 238
    • 0Komentar

    BENER, ansorpurworejo.org – Banser Bener berbaju loreng dan berbaris rapi dilapangan layaknya pasukan tempur yang siap ke medan perang, sejumlah prajurit Banser NU mengikuti upacara Apel Kebangsaan yang diselenggarakan oleh MWC NU Kecamatan Bener Kabupaten Purworejo dalam rangka menyemarakkan Harlah NU ke 99 Sabtu, 19 Februari 2022 dihalaman SMK Maarif NU Bener. Hadir dalam acara […]

  • Sinergi Taktis GP Ansor dan LTN PCNU Purworejo, Ketua PC GP Ansor Gus Ahil: Saatnya Kebaikan Dipertontonkan di Ruang Digital

    Sinergi Taktis GP Ansor dan LTN PCNU Purworejo, Ketua PC GP Ansor Gus Ahil: Saatnya Kebaikan Dipertontonkan di Ruang Digital

    • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Purworejo – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Purworejo resmi bersinergi dengan Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN PCNU) Purworejo melalui Workshop Jurnalistik bertema “Menuliskan Kebaikan, Menyebarkan Kemanfaatan” di Aula Ponpes Al Faham, Ahad (24/5/2026). Sebanyak 62 delegasi dari lembaga, banom, dan MWC NU se-Purworejo hadir untuk mengasah keterampilan menulis, memperkuat literasi, […]

expand_less