Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tashwirul Afkar, Kelompok Diskusi Pemuda NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
  • visibility 702
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tashwirul Afkar adalah kelompok diskusi yang bermetamorfosis menjadi madrasah dan kursus, dibentuk oieh K.H. Abdul Wahab hasbullah setelah beliau pulang dari Makkah pada tahun 1914. Markasnya ada di Surabaya.

Setelah pulang dari Makkah itu, mbah Wahab tinggal di Kertopaten, dan memulai rintisan mengadakan diskusi kecil-kecilan dengan para koleganya. Tujuannya untuk mencerdaskan kalangan santri dan kiai-kiai dengan cara melakukan diskusi dan perdebatan. Diskusi ini membesar sampai diperlukan madrasah untuk mendidik para kader.

Mbah Wahab menghubungi koleganya, K.H. Ahmad Dahlan Kebondalem untuk bergiat dalam kelompok diskusi ini, dan meningkatkan statusnya menjadi Madrasah Tashwirul Afkar (MTA) pada tahun 1919. Madrasah ini bertempat di Ampel, dengan merekrut para murid di Surabaya bagian utara, sambil kegiatan-kegiatan diskusi terus berjalan.

Kelompok diskusi ini anggotanya terdiri dari para kiai dan kiai-kiai muda. Ketuanya dipegang oleh K.H. Achmad Dahlan Kebondalem. Menurut Choirul Anam dalam buku Perkembangan dan Pertumbuhan Nahdlatul Ulama, Madrasah TA hingga kini masih ada, tetapi tempatnya berpindah ke pinggiran Surabaya.Situasi di tanah air yang mendorong dibentuknya TA adalah adanya perdebatan masalah-masalah khilafiyah dan serangan kalangan yang terpengaruh Wahabi terhadap ulama bermadzhab Ahlussunah wal Jama’ah, yang harus dihadapi kalangan pesantren; dan adanya penjajahan yang membuat rakyat semakin miskin dan terbelakang.

Dengan adanya TA, kiai-kiai muda di daerahnya masing-masing sudah bisa dan sanggup meladeni perdebatan dan diskusi yang menantang mereka, dan siap maju dalam gerakan kebangsaan.Tentu saja, K.H. Abdul Wahab Hasbullah tidak bisa menghadapi serangan-serangan kaum anti-madzhab Ahlussunnah wal jama’ah secara sendirian. Sebab itu, pada tahun 1924, TA ditingkatkan lagi kegiatannya dengan membuka kursus persoalan-persoalan keagamaan guna memberdayakan pengetahuan para kiai muda untuk mempertahankan madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah, bukan hanya diskusi dan membuat madrasah.

Kegiatan ini dipusatkan di Madrasah Nahdlatul Wathan, yang juga didirikan K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan para koleganya, yang diselenggarakan 3 kali seminggu. Pesertanya tak terbatas dari Jawa Timur, tetapi juga dari Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Madura. Jumlah peserta kursus sebanyak 65 orang. Karena pesertanya banyak, K.H. Abdul Wahab Hasbullah meminta teman-temannya untuk ikut membantu, diantaranya K.H. Bisri Syansuri, K.H. Mas Alwi, K.H. Abdul Halim Leuwimunding Majalengka, K.H. Ridwan Abdullah dari Surabaya, K.H. Maksum Lasem, dan K.H. Khalil Lasem.

Mereka yang membantu dari kalangan muda adalah Abdullah Ubaid, Thahir Bakri, Abdul Hakim Petukangan Surabaya, Hasan, dan Nawawi dari Surabaya. Dengan dibuatnya kursus-kursus ini, K.H. Abdul Wahab hasbullah telah mempersiapkan pertahanan ampuh bagi kiai-kiai muda di daerah untuk langsung bisa berhadapan dan meladeni perdebatan yang dilancarkan kaum anti madzhab Ahlussunah wal Jama’ah sekaligus ikut memikirkan nasib bangsa yang sedang terjajah.

Meski begitu, K.H. Abdul Wahab Hasbullah masih belum yakin usaha tersebut bisa massif membentengi kaum Ahlussunah wal Jama’ah dan melibatkannya dalam gerakan kebangsaan. Untuk itu, ia meminta restu pada Hadratusy Syekh Hasim Asy’ari untuk boleh mendirikan jam’iyah. Sampai akhirnya tahun 1926 jam’iyah ini bisa dibentuk dengan nama Nahdlatul Ulama.Sumber: Ensiklopedia Nahdlatul Ulama

Referensi: www.writravelicious.com

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • IT dan Santri di Era ‘Cyber Culture’

    IT dan Santri di Era ‘Cyber Culture’

    • calendar_month Jumat, 17 Mei 2024
    • account_circle admin
    • visibility 487
    • 1Komentar

    Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara meluncurkan Program National Born to Control di Ruang Roeslan Abdul Gani Kementerian Kominfo, Jakarta, Senin (30/01/2017). Program ini diluncurkan, karena pemerintah melihat permasalahan utama dalam mengatasi ancaman di dunia siber, adalah kurangnya sumber daya manusia (SDM), padahal ancaman serangan siber sangat tinggi. Langkah antisipastif terkait dunia siber itu, adalah hal […]

  • KH. R Dawud Masykuri dan H. Muhammad Haekal Pimpin PCNU Purworejo Masa Khidmah 2025-2030

    KH. R Dawud Masykuri dan H. Muhammad Haekal Pimpin PCNU Purworejo Masa Khidmah 2025-2030

    • calendar_month Rabu, 12 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Konferensi Cabang (Konfercab) ke-12 Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Purworejo yang berlangsung di kantor PCNU Purworejo pada Minggu (12/1/2025) telah menetapkan KH. R Dawud Masykuri dan H. Muhammad Haekal sebagai pimpinan baru untuk masa khidmah 2025-2030. KH. R Dawud Masykuri, Pengasuh Pondok Pesantren Al Maunah Plaosan, Baledono, terpilih sebagai Rois Suriyah menggantikan KH. Abdul Hadi. Sementara […]

  • Sambut Ramadhan 1447 H, PCNU Purworejo Tebar 5.000 Jadwal Imsakiyah dan Siapkan Serial Ngaji Online

    Sambut Ramadhan 1447 H, PCNU Purworejo Tebar 5.000 Jadwal Imsakiyah dan Siapkan Serial Ngaji Online

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Akhmad Najeh
    • visibility 79
    • 0Komentar

    PURWOREJO – Memastikan kenyamanan dan kekhusyukan umat Islam dalam menjalankan ibadah di bulan suci, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Purworejo melalui Lembaga Falakiyah (LFNU) resmi menerbitkan jadwal Imsakiyah Ramadhan 1447 H. Langkah ini merupakan bagian dari khidmah jam’iyyah dalam membantu warga Nahdliyin mendapatkan panduan waktu ibadah yang akurat. Ketua Tanfidziyah PCNU Purworejo, KH. Muhammad Haekal, […]

  • Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara

    Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara

    • calendar_month Kamis, 5 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 494
    • 0Komentar

    Politik hanyalah alat bukan tujuan. Kaidah ini yang dijadikan tongkat oleh Kiai Wahab Chasbullah dalam meneguhkan percaturan politik bangsa kita pada tahun 1914-an hingga 1970-an. Masa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Dengan gigih ia menghadapi pancaroba politik yang penuh tantangan dan tekanan. Haluan politisi yang lahir dari rahim pesantren ini untuk kemaslahatan rakyat (mashâlihur ra’iyah) bukan […]

  • GP Ansor Serukan Seluruh Kader Bantu Korban Gempa di Aceh

    GP Ansor Serukan Seluruh Kader Bantu Korban Gempa di Aceh

    • calendar_month Kamis, 8 Des 2016
    • account_circle admin
    • visibility 377
    • 0Komentar

    Jakarta, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor menyampaikan duka mendalam terhadap musibah gempa tektonik 6,4 Skala Richter (SR) yang berpusat di Pidie Jaya, Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh, yang menelan banyak korban. “Kami berdoa semoga korban gempa yang wafat diterima di sisi Allah SWT,  dan keluarga serta saudara-saudara kita di wilayah terdampak gempa diberikan kesabaran,” tutur […]

  • Bazar Sembako Murah NU Care LAZISNU Winong, Wujud Kepedulian Menjelang Ramadhan

    Bazar Sembako Murah NU Care LAZISNU Winong, Wujud Kepedulian Menjelang Ramadhan

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Akhmad Najeh
    • visibility 60
    • 0Komentar

    KEMIRI – Menjelang datangnya Bulan Suci Ramadhan, NU Care LAZISNU Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Winong, Kecamatan Kemiri, kembali menghadirkan kegiatan Bazar Amal Sembako Murah bagi masyarakat. Kegiatan ini digelar di Gedung Serbaguna Desa Winong, Minggu (18/01/2026), dan mendapat sambutan hangat dari warga. Melalui bazar ini, warga Desa Winong yang memiliki kaleng Koin NU dapat […]

expand_less