Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengenang Usmar Ismail, Sineas NU Pembuat Film Nasional Pertama

  • account_circle Muhammad Hidayatullah
  • calendar_month Kamis, 2 Jan 2020
  • visibility 560
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tanggal 2 januari bertepatan dengan wafatnya salah seorang sineas Nahdlatul Ulama yang disebut membuat Film Indonesia Pertama, Usmar Ismail. Film yang disutradarainya, Darah dan Doa, disebut sebagai film Indonesia pertama karena digarap sepenuhnya oleh orang Indonesia. Film itu diproduksi Perusahan Film Nasional Indonesia (Perfini), perusahaan yang didirikannya. Ia juga merupakan ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), sebuah lembaga yang didirikan Nahdlatul Ulama di Bandung pada tanggal 28 Maret 1962 .

Seperti dikutip NU Online, Choirotun Chisaan dalam bukunya, “Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan” mengatakan, pandangan kebudayaan Lesbumi adalah humanisme relijius, yaitu berlandaskan kepada ketauhidan dan kemanusiaan. Lebih tegasnya adalah, hablum minallah wa hablum minan nas, yaitu mencintai Allah dan mencintai manusia. Menurut Chisaan, pandangan Lesbumi semacam itu, merupakan gejala baru di Indonesia di antara pandangan-pandangan kesenian lain yang muncul di tahun 50 hingga 60-an. Pandangan itu sesuai dengan pandangan tokoh utamanya, Usmar Ismail, yang religius humanis. Hal itu tampak dalam tulisan-tulisannya mengenai konsep kesenian dan kebudayaan, terutama dalam tulisan Usmar Ismail “Seniman Indonesia dan Karyanya”. Tulisan itu, menurut Ensiklopedi NU, dipandang oleh teman-temannya sebagai manifesto atau surat kepercayaan kesenimanan Usmar. 

Film yang rilis pada 1950 itu sebenarnya bukan film pertama Usmar Ismail. Sebelumnya, ia mengarahkan film Harta Karun dan Tjitra. Selain film-film ini, ia juga dikenal lewat karya-karyanya seperti Lewat Djam Malam, Enam Djam di Djogdja, Tiga Dara, dan lainnya. Tiap akhir Maret, tepatnya tanggal 30 Maret lantas diperingati sebagai Hari Film Nasional. Penetapannya diambil dari hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi. Film itu dimulai dibuat pada 30 Maret 1950.

Dalam tulisan lain, Usmar menegasakan bahwa tugas seniman dan budayawan adalah untuk mengabdi kepada Allah. Karenanya para seniman dan para kiai harus bergandengan tangan untuk mengembangkan syiar Islam. Pandangannya itu semakin kentara ketika berhadapan dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Sebagai Ketua Umum Lesbumi, ia menempati ujung tombak front A dalam Nasakom. A mewakil kalangan agamis dalam unsur-unsur Nasakom itu yang terdiri dari Nas (nasionalis) yang diwakili LKN, A (agamis) diwakili Lesbumi, dan kom (komunis) diwakili Lekra. Bagi Usmar, masuknya Lesbumi ke dalam Nasakom itu menjadi penting karena sebagai saluran para seniman Muslim. Sebab, saat itu, tak ada partai Islam yang kuat selain NU, setelah Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno.

Perjalanan panjangnya sebagai seniman sekaligus tokoh Nahdliyyin menyimpan banyak cerita. Dikutip dari FilmIndonesia.or.id, semasa Perang Kemerdekaan, Usmar Ismail aktif sebagai jurnalis di sejumlah media. Hal ini sempat membuatnya mendapat pengalaman tak enak. Pada 1948, ia pernah ditawan Belanda atas tuduhan melakukan subversi. Kala itu, ia datang ke Jakarta sebagai wartawan politik Kantor Berita Antara. Usmar Ismail juga mengantongi berbagai penghargaan. Ia mendapatkan perhatian dari Presiden Soekarno. Pada 1962, ia menerima penghargaan di bidang kebudayaan, Piagam Wijayakusuma. Bahkan Usmar Ismail pernah diabadikan dalam Doodle dihalaman utama Google saat Hari Film Nasional. Nama Usmar Ismail juga diabadikan sebagai tajuk penghargaan perfilman dari jurnalis film, yang malam puncaknya digelar saat Hari Film, pada 30 Maret. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai monumen dalam sejumlah hal mulai dari ruas jalan hingga Gedung Perfilman yang berada di Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, 20 Maret 1921 dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1971 pada umur yang ke 49 tahun. Ia menjadi pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1964 – 1069 dan pernah menjadi Anggota DPR – Gotong Royong 1966 – 1969.

  • Penulis: Muhammad Hidayatullah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 11 Tokoh di Kecamatan Purworejo terima NU Award dari MWCNU Purworejo

    11 Tokoh di Kecamatan Purworejo terima NU Award dari MWCNU Purworejo

    • calendar_month Kamis, 16 Feb 2023
    • account_circle H.M. Haekal
    • visibility 486
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Kota Purworejo telah terbukti melahirkan tokoh agama , kemanusiaan dan pejuang yang menjadi suri tauladan , khususnya yang berjuang di Nahdhatul Ulama , bangsa dan negara. Hal itu tercermin dalam penelusuran sejarah yang di lakukan oleh panitia satu abad NU MWCNU Purworejo. Dari sekian banyak tokoh NU dan Badan Otonom NU diwilayah […]

  • RMI NU Purworejo Gelar Sarasehan Pesantren, Bahas Pengembangan Pesantren dan Implementasi Perda Pesantren

    RMI NU Purworejo Gelar Sarasehan Pesantren, Bahas Pengembangan Pesantren dan Implementasi Perda Pesantren

    • calendar_month Senin, 7 Agt 2023
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 83
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Rabithah Ma’ahid Al Islamiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (RMI PCNU) Kabupaten Purworejo menggelar Sarasehan Pondok Pesantren se-Kabupaten Purworejo. Kegiatan yang diselenggarakan pada Ahad (6/8/23) di Aula STAINU Purworejo ini menindaklajuti hasil dari Halaqoh Ulama Nasional RMI PBNU Tahun 2023. Ketua RMI NU Purworejo, KHR.Amir Kilal, menyebut bahwa Pengurus RMI NU Purworejo pada […]

  • KH Achmad Abdulchaq: Sabilul Muttaqin Pondoknya Ansor-Banser

    KH Achmad Abdulchaq: Sabilul Muttaqin Pondoknya Ansor-Banser

    • calendar_month Minggu, 28 Feb 2021
    • account_circle Surato
    • visibility 1.023
    • 0Komentar

    PC GP Ansor Kabupaten Purworejo mengadakan Rapat Kerja Tahunan pada Ahad (28/2) di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Kalimiru, Bayan, Purworejo. Pondok Pesantren ini diasuh oleh KH Achmad Abdulchaq. Dalam penutupan Rapat Kerja Cabang KH Achmad Abdulchaq menyatakan rasa bangganya terhadap kader GP Ansor yang memiliki loyalitas dan semangat luar biasa dalam berorganisasi. “Saya mengucapkan terima […]

  • Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama

    Radikalisme Sasar Mahasiswa Awam Pengetahuan Agama

    • calendar_month Rabu, 30 Mar 2016
    • account_circle admin
    • visibility 405
    • 0Komentar

    Bandung, NU Online Penyebaran radikalisme agama semakin berkembang ke berbagai lapisan masyarakat, khususnya di kalangan mahasiswa. Kelompok garis keras sengaja merekrut anak muda yang cerdas, mempunyai emosionalnya tinggi, tetapi awam pengetahuan agamanya alias tidak berbasis pesantren. Demikian muncul dalam seminar bertajuk “Mencegah Kekerasan Atas Nama Agama” yang digelar Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Tarbiyyah dan Keguruan, […]

  • Pesan Rais Syuriyah MWCNU Purworejo kepada Pengurus NU : Teladani Nabi Syuaib AS ketika Khidmah di NU

    Pesan Rais Syuriyah MWCNU Purworejo kepada Pengurus NU : Teladani Nabi Syuaib AS ketika Khidmah di NU

    • calendar_month Kamis, 16 Feb 2023
    • account_circle H.M. Haekal
    • visibility 371
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Dalam Khutbah Iftitah Puncak Resepsi peringatan Satu Abad NU MWCNU Purworejo Rabu 15/2 /2023 di Aula PP Al Fahham Baledono , Rais Syuriyah MWCNU Purworejo KH.R. Chamid Bakri berpesan tentang tujuan NU didirikan dan tugas pengurusnya. Tujuan dan tugasnya antara lain untuk menggerakan dan mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik secara agama […]

  • SOLUSI PROBLEMATIKAN AKTUAL HUKUM ISLAM

    SOLUSI PROBLEMATIKAN AKTUAL HUKUM ISLAM

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2015
    • account_circle admin
    • visibility 429
    • 0Komentar

    Pengarang : Nahdlatul Ulama Penerbit : Khalista Harga         : Rp 150.000,- Keputusan Muktamar, Munas, dan Konbes NAHDLATUL ULAMA (1926 – 2010 M) Bahtsul Masail al-Diniyah adalah salah satu forum diskusi keagamaan dalam organisasi NU untuk merepon dan memberikan solusi atas problematika aktual yang muncul dalam kehidupan masyarakat yang tidak saja meliputi persoalan hukum halal-haram melainkan […]

expand_less