Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengenang Usmar Ismail, Sineas NU Pembuat Film Nasional Pertama

  • account_circle Muhammad Hidayatullah
  • calendar_month Kamis, 2 Jan 2020
  • visibility 483
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tanggal 2 januari bertepatan dengan wafatnya salah seorang sineas Nahdlatul Ulama yang disebut membuat Film Indonesia Pertama, Usmar Ismail. Film yang disutradarainya, Darah dan Doa, disebut sebagai film Indonesia pertama karena digarap sepenuhnya oleh orang Indonesia. Film itu diproduksi Perusahan Film Nasional Indonesia (Perfini), perusahaan yang didirikannya. Ia juga merupakan ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), sebuah lembaga yang didirikan Nahdlatul Ulama di Bandung pada tanggal 28 Maret 1962 .

Seperti dikutip NU Online, Choirotun Chisaan dalam bukunya, “Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan” mengatakan, pandangan kebudayaan Lesbumi adalah humanisme relijius, yaitu berlandaskan kepada ketauhidan dan kemanusiaan. Lebih tegasnya adalah, hablum minallah wa hablum minan nas, yaitu mencintai Allah dan mencintai manusia. Menurut Chisaan, pandangan Lesbumi semacam itu, merupakan gejala baru di Indonesia di antara pandangan-pandangan kesenian lain yang muncul di tahun 50 hingga 60-an. Pandangan itu sesuai dengan pandangan tokoh utamanya, Usmar Ismail, yang religius humanis. Hal itu tampak dalam tulisan-tulisannya mengenai konsep kesenian dan kebudayaan, terutama dalam tulisan Usmar Ismail “Seniman Indonesia dan Karyanya”. Tulisan itu, menurut Ensiklopedi NU, dipandang oleh teman-temannya sebagai manifesto atau surat kepercayaan kesenimanan Usmar. 

Film yang rilis pada 1950 itu sebenarnya bukan film pertama Usmar Ismail. Sebelumnya, ia mengarahkan film Harta Karun dan Tjitra. Selain film-film ini, ia juga dikenal lewat karya-karyanya seperti Lewat Djam Malam, Enam Djam di Djogdja, Tiga Dara, dan lainnya. Tiap akhir Maret, tepatnya tanggal 30 Maret lantas diperingati sebagai Hari Film Nasional. Penetapannya diambil dari hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi. Film itu dimulai dibuat pada 30 Maret 1950.

Dalam tulisan lain, Usmar menegasakan bahwa tugas seniman dan budayawan adalah untuk mengabdi kepada Allah. Karenanya para seniman dan para kiai harus bergandengan tangan untuk mengembangkan syiar Islam. Pandangannya itu semakin kentara ketika berhadapan dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Sebagai Ketua Umum Lesbumi, ia menempati ujung tombak front A dalam Nasakom. A mewakil kalangan agamis dalam unsur-unsur Nasakom itu yang terdiri dari Nas (nasionalis) yang diwakili LKN, A (agamis) diwakili Lesbumi, dan kom (komunis) diwakili Lekra. Bagi Usmar, masuknya Lesbumi ke dalam Nasakom itu menjadi penting karena sebagai saluran para seniman Muslim. Sebab, saat itu, tak ada partai Islam yang kuat selain NU, setelah Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno.

Perjalanan panjangnya sebagai seniman sekaligus tokoh Nahdliyyin menyimpan banyak cerita. Dikutip dari FilmIndonesia.or.id, semasa Perang Kemerdekaan, Usmar Ismail aktif sebagai jurnalis di sejumlah media. Hal ini sempat membuatnya mendapat pengalaman tak enak. Pada 1948, ia pernah ditawan Belanda atas tuduhan melakukan subversi. Kala itu, ia datang ke Jakarta sebagai wartawan politik Kantor Berita Antara. Usmar Ismail juga mengantongi berbagai penghargaan. Ia mendapatkan perhatian dari Presiden Soekarno. Pada 1962, ia menerima penghargaan di bidang kebudayaan, Piagam Wijayakusuma. Bahkan Usmar Ismail pernah diabadikan dalam Doodle dihalaman utama Google saat Hari Film Nasional. Nama Usmar Ismail juga diabadikan sebagai tajuk penghargaan perfilman dari jurnalis film, yang malam puncaknya digelar saat Hari Film, pada 30 Maret. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai monumen dalam sejumlah hal mulai dari ruas jalan hingga Gedung Perfilman yang berada di Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, 20 Maret 1921 dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1971 pada umur yang ke 49 tahun. Ia menjadi pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1964 – 1069 dan pernah menjadi Anggota DPR – Gotong Royong 1966 – 1969.

  • Penulis: Muhammad Hidayatullah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kyai Dalhar

    Kyai Dalhar

    • calendar_month Kamis, 28 Jan 2016
    • account_circle admin
    • visibility 686
    • 1Komentar

    Berikut ini adalah ringkasan manaqib beliau yang penulis peroleh dari keterangan keluarga. Terutama kakek penulis yaitu KH Ahmad Abdul Haq dan beberapa petikan catatan yang penulis peroleh dari catatan – catatan Mbah Kyai Dalhar. Kelahiran & Nasabnya Mbah Kyai Dalhar lahir di komplek pesantren Darussalam, Watucongol, Muntilan, Magelang pada hari Rabu, 10 Syawal 1286 H […]

  • Mengenal Nabi dengan Maulid

    Mengenal Nabi dengan Maulid

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
    • account_circle admin
    • visibility 592
    • 0Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.orgPeringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di masjid Nurul Huda Buntit Gintungan Gebang Purworejo Selasa (13/12/2016). KH. Nu’man Berkata, “Mengapa dalam menyebut Nabi Muhammad dengan istilah Sayidina? Ya untuk mengagungkan nama Nabi Muhammad dengan akhlak yang baik”. “Dalam menyebut sayidina kepada Nabi Muhammad SAW bukan berarti menyetarakan kedudukan nabi dengan Allah tetapi semata mata menghormatinya”. […]

  • Selapanan Ranting NU Tegalsari Kenalkan Keistimewaan Nama Dusun Kalianggrung

    Selapanan Ranting NU Tegalsari Kenalkan Keistimewaan Nama Dusun Kalianggrung

    • calendar_month Selasa, 27 Jun 2023
    • account_circle PAC Bruno
    • visibility 11
    • 0Komentar

    Pada hari Selasa Wage, tepatnya tanggal 27 Juni 2023, acara Selapanan Ranting NU Desa Tegalsari sukses digelar di Dusun Kalianggrung, yang berlokasi di Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Acara yang dimulai pukul 8.00 pagi ini dihadiri oleh Jamaah NU Desa Tegalsari dan dipandu oleh Ky. Abdul Chamid M.Pd, ketua NU Ranting Tegalsari. Dalam tema ceramahnya, Ky. […]

  • Harlah ke-75 Fatayat NU Purworejo: Momentum Kaderisasi dan Kebangkitan Perempuan Nahdliyin

    Harlah ke-75 Fatayat NU Purworejo: Momentum Kaderisasi dan Kebangkitan Perempuan Nahdliyin

    • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 21
    • 0Komentar

    PURWOREJO – Harlah ke-75 Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Purworejo bukan sekadar peringatan seremonial. Di balik gegap gempita acara yang digelar di GOR Sarwo Edhie Wibowo, Kamis (1/5/2025), terselip pesan penting: penguatan kader perempuan muda NU dan konsolidasi organisasi sebagai kekuatan strategis dalam pembangunan bangsa dan daerah. Diikuti ribuan kader dari 16 Pimpinan Anak Cabang […]

  • STAINU Diharapkan Cetak Alumni Berdaya Saing

    STAINU Diharapkan Cetak Alumni Berdaya Saing

    • calendar_month Minggu, 22 Agt 2021
    • account_circle Muhamad Ansori
    • visibility 369
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Bupati Purworejo RH Agus Bastian SE MM menghadiri acara pelantikan Pengurus Badan Pelaksana Penyelenggara STAINU Purworejo dan serah terima STAINU Purworejo dari Yayasan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (YASPINU) kepada Badan Hukum Perkumpulan Nahdlatul Ulama Kabupaten Purworejo,Sabtu (21/08/2021). Turut hadir dalam kesempatan tersebut Wakil Ketua DPRD H Fran Suharmaji SE MM, Badan Hukum […]

  • NGERINYA BUNUH DIRI

    NGERINYA BUNUH DIRI

    • calendar_month Jumat, 13 Sep 2024
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Kisah Sahabat Nabi yang Masuk Neraka saat Perang Uhud Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah bercerita kepadanya, “Telah datang kepada kami seorang lelaki yang tak kami ketahui siapa ia, tetapi ada yang mengatakan bahwa namanya Quzman. Jika nama orang ini disebut, Rasulullah SAW bersabda: ‘Dia pasti termasuk penghuni neraka.’ Sewaktu meletusnya Perang […]

expand_less