Breaking News
light_mode
Trending Tags

Mengenang Usmar Ismail, Sineas NU Pembuat Film Nasional Pertama

  • account_circle Muhammad Hidayatullah
  • calendar_month Kamis, 2 Jan 2020
  • visibility 559
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tanggal 2 januari bertepatan dengan wafatnya salah seorang sineas Nahdlatul Ulama yang disebut membuat Film Indonesia Pertama, Usmar Ismail. Film yang disutradarainya, Darah dan Doa, disebut sebagai film Indonesia pertama karena digarap sepenuhnya oleh orang Indonesia. Film itu diproduksi Perusahan Film Nasional Indonesia (Perfini), perusahaan yang didirikannya. Ia juga merupakan ketua Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi), sebuah lembaga yang didirikan Nahdlatul Ulama di Bandung pada tanggal 28 Maret 1962 .

Seperti dikutip NU Online, Choirotun Chisaan dalam bukunya, “Lesbumi; Strategi Politik Kebudayaan” mengatakan, pandangan kebudayaan Lesbumi adalah humanisme relijius, yaitu berlandaskan kepada ketauhidan dan kemanusiaan. Lebih tegasnya adalah, hablum minallah wa hablum minan nas, yaitu mencintai Allah dan mencintai manusia. Menurut Chisaan, pandangan Lesbumi semacam itu, merupakan gejala baru di Indonesia di antara pandangan-pandangan kesenian lain yang muncul di tahun 50 hingga 60-an. Pandangan itu sesuai dengan pandangan tokoh utamanya, Usmar Ismail, yang religius humanis. Hal itu tampak dalam tulisan-tulisannya mengenai konsep kesenian dan kebudayaan, terutama dalam tulisan Usmar Ismail “Seniman Indonesia dan Karyanya”. Tulisan itu, menurut Ensiklopedi NU, dipandang oleh teman-temannya sebagai manifesto atau surat kepercayaan kesenimanan Usmar. 

Film yang rilis pada 1950 itu sebenarnya bukan film pertama Usmar Ismail. Sebelumnya, ia mengarahkan film Harta Karun dan Tjitra. Selain film-film ini, ia juga dikenal lewat karya-karyanya seperti Lewat Djam Malam, Enam Djam di Djogdja, Tiga Dara, dan lainnya. Tiap akhir Maret, tepatnya tanggal 30 Maret lantas diperingati sebagai Hari Film Nasional. Penetapannya diambil dari hari pertama pengambilan gambar film Darah & Doa atau Long March of Siliwangi. Film itu dimulai dibuat pada 30 Maret 1950.

Dalam tulisan lain, Usmar menegasakan bahwa tugas seniman dan budayawan adalah untuk mengabdi kepada Allah. Karenanya para seniman dan para kiai harus bergandengan tangan untuk mengembangkan syiar Islam. Pandangannya itu semakin kentara ketika berhadapan dengan Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra). Sebagai Ketua Umum Lesbumi, ia menempati ujung tombak front A dalam Nasakom. A mewakil kalangan agamis dalam unsur-unsur Nasakom itu yang terdiri dari Nas (nasionalis) yang diwakili LKN, A (agamis) diwakili Lesbumi, dan kom (komunis) diwakili Lekra. Bagi Usmar, masuknya Lesbumi ke dalam Nasakom itu menjadi penting karena sebagai saluran para seniman Muslim. Sebab, saat itu, tak ada partai Islam yang kuat selain NU, setelah Masyumi dibubarkan Presiden Soekarno.

Perjalanan panjangnya sebagai seniman sekaligus tokoh Nahdliyyin menyimpan banyak cerita. Dikutip dari FilmIndonesia.or.id, semasa Perang Kemerdekaan, Usmar Ismail aktif sebagai jurnalis di sejumlah media. Hal ini sempat membuatnya mendapat pengalaman tak enak. Pada 1948, ia pernah ditawan Belanda atas tuduhan melakukan subversi. Kala itu, ia datang ke Jakarta sebagai wartawan politik Kantor Berita Antara. Usmar Ismail juga mengantongi berbagai penghargaan. Ia mendapatkan perhatian dari Presiden Soekarno. Pada 1962, ia menerima penghargaan di bidang kebudayaan, Piagam Wijayakusuma. Bahkan Usmar Ismail pernah diabadikan dalam Doodle dihalaman utama Google saat Hari Film Nasional. Nama Usmar Ismail juga diabadikan sebagai tajuk penghargaan perfilman dari jurnalis film, yang malam puncaknya digelar saat Hari Film, pada 30 Maret. Selain itu namanya juga diabadikan sebagai monumen dalam sejumlah hal mulai dari ruas jalan hingga Gedung Perfilman yang berada di Rasuna Said, Jakarta Selatan.

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, 20 Maret 1921 dan meninggal di Jakarta, 2 Januari 1971 pada umur yang ke 49 tahun. Ia menjadi pengurus Besar Nahdlatul Ulama 1964 – 1069 dan pernah menjadi Anggota DPR – Gotong Royong 1966 – 1969.

  • Penulis: Muhammad Hidayatullah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih

    Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2016
    • account_circle admin
    • visibility 667
    • 0Komentar

    HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2016, besok pagi. Terkait HUT RI, ada satu hal yang menjadi momen “suci” bangsa Indonesia khususnya di saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yakni pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka. Sang Saka Merah Putih sebagai bendera pusaka ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup […]

  • PCNU Purworejo Bangun Gedung di Lugosobo

    PCNU Purworejo Bangun Gedung di Lugosobo

    • calendar_month Kamis, 19 Agt 2021
    • account_circle Muhamad Ansori
    • visibility 666
    • 3Komentar

    GEBANG, ansorpurworejo.org – Bupati Purworejo RH Agus Bastian SE MM melakukan peletakan batu pertama pembangunan Gedung PCNU Kabupaten Purworejo, yang berlokasi di Lugosobo, Kamis (19/08/2021). Hadir dalam acara ini Ketua DPRD Dion Agasi Setyabudi SIKom MSi, Pengurus NU Kabupaten Purworejo, dan sejumlah ulama dan kyai setempat . Dalam sambutannya, Bupati mengatakan bahwa Nahdlatul Ulama telah […]

  • Aku Bangga Jadi Kader GP Ansor

    Aku Bangga Jadi Kader GP Ansor

    • calendar_month Selasa, 15 Feb 2022
    • account_circle admin
    • visibility 484
    • 0Komentar

    JAWATENGAH, ansorpurworejo.org – Akreditasi merupakan ikhtiar bersama meningkatkan kedisiplinan, mengukur dan mengevaluasi kinerja secara periodik sekaligus sebagai sarana meningkatkan soliditas organisasi. Sehingga, GP Ansor sebagai organisasi kepemudaan-keagamaan terbesar di dunia ini, dituntut untuk professional menjalankan roda organisasi, tidak hanya unggul dalam konsolidasi namun juga mampu melaksanakan seluruh program yang direncanakan secara baik, rapi dan tuntas. […]

  • Semarak Jelang Harlah ke-79, PC Muslimat NU Purworejo Gelar Aneka Lomba Edukatif, Meriahkan Semangat Perjuangan Perempuan Nahdliyyin

    Semarak Jelang Harlah ke-79, PC Muslimat NU Purworejo Gelar Aneka Lomba Edukatif, Meriahkan Semangat Perjuangan Perempuan Nahdliyyin

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 167
    • 2Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Menjelang peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-79 Muslimat Nahdlatul Ulama, Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Purworejo menggelar serangkaian kegiatan yang bertujuan tidak hanya untuk merayakan usia organisasi, namun juga menumbuhkan semangat kebersamaan, kemandirian, serta kreativitas di kalangan anggotanya. Puncak harlah sendiri dijadwalkan akan berlangsung pada Sabtu, 20 Juli 2025 di Alun-Alun Purworejo. […]

  • Setelah Di lantik PC IPNU IPPNU Kabupaten Purworejo Masa Khidmah 2022-2024 Siap Bertugas dan Tancap Gas

    Setelah Di lantik PC IPNU IPPNU Kabupaten Purworejo Masa Khidmah 2022-2024 Siap Bertugas dan Tancap Gas

    • calendar_month Minggu, 7 Agt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 248
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – PC IPNU IPPNU Kabupaten Purworejo telah resmi dilantik oleh PW IPNU IPPNU Jawa tengah, Lokasi tempat pelantikan tersebut berada di Auditorium STAINU Purworejo. Pelantikan ini diselenggarakan pada hari Ahad, Tanggal : 7 Agustus 2022. Kegiatan ini selain untuk Mengesahkan kepengurusan PC IPNU IPPNU Kabupaten Purworejo Masa Khidmah 2022-2024 juga dilanjutkan kegiatan rencana […]

  • Kader Ansor Purworejo Korban Longsor telah Teridentifikasi dan Dimakamkan

    Kader Ansor Purworejo Korban Longsor telah Teridentifikasi dan Dimakamkan

    • calendar_month Rabu, 22 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 516
    • 0Komentar

    Dalam bencana longsor di Dusun Caok, Desa Karangrejo, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo yang terjadi Sabtu(18/06) malam lalu terdapat salah satu korban tewas yang merupakan kader Ansor Purworejo. Ia adalah Syarif Marsahid (45) yang terkubur longsor bersama istrinya Syarifah (43) saat perjalanan pulang menuju Desa Telogorejo, Kecamatan Kaligesing.Jenazah sang istri telah ditemukan dan diidentifikasi pada hari […]

expand_less