Breaking News
light_mode
Trending Tags

Riyadloh Badaniyah Melalui Banser

  • account_circle Muhammad Hidayatullah
  • calendar_month Minggu, 24 Apr 2022
  • visibility 674
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sore tadi diajak diskusi bersama Ansor Kota dan diminta untuk me-refleksikan sedikit sejarah Ansor. Mengutip terminologinya Gus Gendoel Phothol , tak ubahnya pijat refleksi, halaqoh ini juga bentuk ikhtiar memijat kepala, hati dan semua anggota tubuh, yang mungkin capek, lelah dan sudah kaku semua, agar kembali fresh dan prima untuk kembali bergerak dalam perjuangan.

Menemani ndan Muhajir Namung Astri saya diminta berbicara sedikit soal sejarah Ansor. Menurut saya, mengetahui sejarah Ansor sangat penting untuk bisa mengambil posisi dan menentukan sikap pergerakan pada masa ini dan yang akan datang. Misalnya saja ketika kita membahas dua semi otonom Ansor, MDSRA dan BANSER. Yang pertama, MDSRA atau lebih dikenal sebagai Rijaalul Ansor. Seperti saya tulis sebelumnya, RA bukanlah nafas baru dalam Ansor. Menganggap RA hal yang baru bisa menyebabkan gerakan RA landai-landai saja. Padahal RA adalah bagian mandat sejarah dalam bidang keagamaan dalam tubuh GP Ansor. Ia cita-cita lama dan tidak terpisahkan dari sejarah Ansor itu sendiri. Sebagaimana GP Ansor yang mewarisi genetika Syubbanul Wathon dan Nahdlatul Wathon (1916), MDSRA juga tak lepas dari cita-cita Da’watus Syubban dan Tashwirul Afkar (1918).

Yang kedua, Barisan Ansor Serbaguna yang kita kenal sebagai Banser. Mungkin tidak banyak yang tahu jika gerakan baris berbaris dan kepanduan Banser ini dulu dikenal sebagai ‘Riyadhoh Badaniyah’. Banser adalah metamorofsa dari BANOE dan Ahlul Wathon. Pendirian BANOE bukanlah hal yang mudah karena juga mendapat pertentangan dari dalam NU sendiri. Penggunaan alat musik Drumband misalnya, sempat mendapat respon yang keras dari ulama-ulama NU. Padahal maksud GP Ansor adalah untuk syiar agama. Sama halnya ketika Ansor berpenampilan dengan memakai celana, sebagian ulama memberikan tanggapan yang keras karena dianggap menyerupai kaum penjajah. Padahal maksud Ansor adalah untuk menunjukan bahwa kaum pribumi setara dengan Belanda. Dalam penolakan-penolakan itulah Mbah Hasyim berfatwa, bahwa Riyadloh Badaniyah diperbolehkan selama mendatangkan manfaat. ‘An takuna ar riyadlotu syar’an mubahatan mufidatan ghoiro mudhorotin.’

Jadi, sejatinya bergabung dengan Banser, mengikuti diklatsar adalah pintu riyadloh. Catatanya: selama mendatangkan manfaat. Dengan memahami sejarah ini, kita jadi tahu bahwa ruh perjuangan Banser adalah ruh perjuangan yang luhur. Baris berbaris itu bukanlah sebatas bergaya, tapi bagian dari riyadloh, latihan, dan upaya yang keras untuk menopang gerakan Ansor dan Nahdlatul Ulama. Maka, menggunakan Banser untuk hal-hal yang jauh daripada itu, bukan saja berarti memunggungi organisasi, tapi juga perlawanan terhadap mandat sejarah NU sekaligus perlawanan terhadap perlindungan yang telah diberikan oleh Mbah Hasyim Asyary saat pendirian BANOE.

Kadang kita malas menarik diri kebelakang untuk memahami sejarah. Lahir di Ansor dan NU yang terlanjur besar memang sebuah kenikmatan. Di sisi lain juga bisa menjadi malapetaka, sebab kebesaran itu yang akhirnya menina bobokkan kita dari mandat dan cita-cita yang mesti terus di perjuangkan. Momen harlah selalu sebatas hal-hal formil belaka. Tidak ada refleksi yang serius untuk lebih memahami organisasi yang kita cintai ini. Kita tak peduli lagi dengan ‘siapa’ pendiri-pendiri organisasi ini dan ‘bagaimana’ organisasi ini dilahirkan. Lalu sebenarnya kepada siapa kita mencontoh dan mengkiblatkan diri? Atau malah memang sebenarnya kita tidak mau peduli dan memilih untuk terus berlindung di bawah ketiak NU, demi kepentingan diri sendiri.

Selamat Harlah GP Ansor ke 88, Khidmat tanpa batas!

  • Penulis: Muhammad Hidayatullah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Generasi Muda NU Purworejo Dilatih Menulis Kebaikan di Workshop NU Online

    Generasi Muda NU Purworejo Dilatih Menulis Kebaikan di Workshop NU Online

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 221
    • 1Komentar

    Dalam upaya meningkatkan kapasitas kader di bidang jurnalistik, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purworejo mengirimkan tiga kader mudanya untuk mengikuti Workshop Jurnalistik Filantropi yang diselenggarakan oleh NU Online Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat hingga Ahad, 23–25 Mei 2025, bertempat di Pesantren Miftahul Huda, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Workshop bertajuk “Menulis Kebaikan, Menyuarakan Kepedulian” […]

  • Ayo Mondok: Beberapa Alasan Pentingnya Belajar di Pesantren

    Ayo Mondok: Beberapa Alasan Pentingnya Belajar di Pesantren

    • calendar_month Rabu, 10 Jun 2015
    • account_circle admin
    • visibility 1.385
    • 0Komentar

    Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama (baca; Islam), semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya […]

  • Tahlil Perkuat Ukuwah Warga Buntit

    Tahlil Perkuat Ukuwah Warga Buntit

    • calendar_month Kamis, 10 Nov 2016
    • account_circle admin
    • visibility 588
    • 1Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.org Di era kemajuan yang berkembang semakin pesat, seringkali membuat manusia lupa dengan kodratnya sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan orang lain. Lalu apa solusinya? Salah satunya ialah tahlil.  “Tanpa silaturahmi atau interaksi sosial, sifat individualisme semakin merasuk dalam diri seseorang sehingga rasa kebersamaan, kepedulian dan toleransi semakin memprihatinkan. Tidak hanya masyarakat kota, melainkan […]

  • Dalam Semalam 2.781 Kader Baru Ansor Jateng Dibaiat, Purworejo diantaranya

    Dalam Semalam 2.781 Kader Baru Ansor Jateng Dibaiat, Purworejo diantaranya

    • calendar_month Selasa, 20 Mar 2018
    • account_circle admin
    • visibility 1.873
    • 0Komentar

    Kepengurusan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah, terbilang paling gencar melakukan rekrutmen anggota baru dan menggelar kaderisasi. Kegiatan berupa Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) maupun Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) untuk Banser. Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah H Sholahuddin Aly atau Gus Sholah mengatakan, saat ini di Jateng kegiatan kaderisasi semakin deras. Makin banyak […]

  • Lawan Radikalisme dengan Ngaji Jurnalistik

    Lawan Radikalisme dengan Ngaji Jurnalistik

    • calendar_month Rabu, 17 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 571
    • 1Komentar

    Kemiri, ansorpurworejo.orgGP ANSOR Kemiri menyelenggarakan pelatihan jurnalistik dan kesekretariatan di aula mushola Baiturridwan desa Jatiwangsan mulai pukul 08.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh delegasi dari ranting-ranting se-Kecamatan Kemiri. “Saat ini banyak sekali orang NU yang gagal faham dengan adanya informasi yang menyerang media masa di negeri ini. Maka dari itu kita bangun kader ansor yang […]

  • Setitik Kebaikan Yang Kita Lakukan, Akan Dicatat Oleh Allah SWT

    Setitik Kebaikan Yang Kita Lakukan, Akan Dicatat Oleh Allah SWT

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2020
    • account_circle admin
    • visibility 685
    • 0Komentar

    “Berjuang di Nahdlatul Ulama membutuhkan kesungguhan dari kita semua, karena pasti akan banyak tantangan yang menanti di depan”, begitulah nasihat yang disampaikan oleh Rais Suriah NU Purworejo, K.H.R. Abdul Chakim Chamid saat memberikan sambutan pada rapat final checking jelang pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Purworejo di SMP Takhassus Nuril Anwar Maron, Loano, Purworejo. Ada […]

expand_less