MWCNU Kutoarjo Bersholawat: Menyemai Spirit Keulamaan, Merawat Tradisi Keilmuan

Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kutoarjo menggelar kegiatan MWCNU Kutoarjo Bersholawat yang berlangsung khidmat dan penuh nilai spiritual di Aula Kantor MWCNU Kutoarjo, Jalan Tentara Pelajar Km1, Katerban, Kutoarjo. Kegiatan ini dihadiri jajaran pengurus MWCNU Kutoarjo, pengurus ranting se-Kecamatan Kutoarjo, serta ratusan warga Nahdliyin dari berbagai penjuru Kutoarjo.

Menggandeng Majelis Sholawat asuhan Habib Utsman Baraqbah, acara dimulai sejak pukul 20.00 WIB dengan lantunan sholawat dan pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Suasana semakin syahdu ketika pembacaan kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratus Syekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari.

Dalam kajiannya, Habib Utsman mengawali dengan menjelaskan silsilah nasab dan perjalanan nyantri sang muallif kitab. Hadratus Syekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari disebut berasal dari garis keturunan mulia:
Muhammad Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim (Pangeran Benawa) bin Abdurrahman (Jaka Tingkir, Sultan Hadiwijaya) bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishaq, putra dari Raden Ainul Yaqin yang masyhur dengan sebutan Sunan Giri.

Habib Utsman juga mengupas perjalanan pendidikan Hadratus Syekh yang dimulai di bawah bimbingan langsung sang ayah, KH. Asy’ari. Selanjutnya, beliau menimba ilmu di sejumlah pesantren ternama, antara lain Pondok Pesantren Sono dan Siwalan di Kediri, Langitan Tuban, serta Bangkalan di bawah asuhan Syaikhona Kholil. Tak berhenti di tanah air, beliau melanjutkan studi ke Mekah dan berguru kepada para ulama besar, seperti Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Khatib al-Minangkabawi, Syekh Syu’aib bin Abdurrahman, Syekh Mahfudz Termas, serta Sayyid Abbas al-Maliki al-Hasani. Setelah pulang ke tanah air, Hadratus Syekh mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, yang kelak dikemudian hari menjadi mercusuar pendidikan Islam Nusantara.

Rais Syuriah MWCNU Kutoarjo, Kyai Fauzi Ahmad Sahin, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kegiatan seperti ini untuk menjaga spirit keulamaan dan semangat keilmuan di tengah arus zaman. “Sholawat dan pengajian kitab bukan hanya bentuk ritual, melainkan manifestasi dari jati diri Nahdlatul Ulama sebagai penjaga tradisi dan pemelihara sanad keilmuan,” ujarnya.

Ratusan warga tampak antusias mengikuti rangkaian acara hingga larut malam. Suasana kekeluargaan dan semangat ukhuwah islamiyah begitu terasa sepanjang kegiatan berlangsung. MWCNU Kutoarjo Bersholawat diharapkan menjadi agenda rutin MWCNU Kutoarjo, tidak hanya sebagai sarana spiritual, namun juga sebagai wahana kaderisasi ideologis dan penguatan tradisi pesantren di tengah masyarakat. (HR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Generasi Muda NU Purworejo Dilatih Menulis Kebaikan di Workshop NU Online
MWC NU Kemiri Gelar Rapat Pleno PAW Usai Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Dilantik sebagai Pengurus PCNU Purworejo

Cabang

Ancab

Kabar NU

Mungkin Kamu Suka