Breaking News
light_mode
Trending Tags

Meneladani Mbah Imam Puro, Guru Besar Tarekat di Abad 19

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 17 Mei 2022
  • visibility 909
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

PURWOREJO, ansorpurworejo.org –

Kanawi atau Khasan Banawi atau Kyai Imam Puro adalah salah satu ulama besar Purworejo yang di kenal luas di eks Karesidenan Bagelen dan Kedu, bahkan wilayah lainnya. Setiap tahunnya makam Kyai Imam Puro yang terletak di Baledono ini didatangi banyak peziarah dari berbagai wilayah di Indonesia. Karena itulah, untuk merawat kisah perjuangan Mbah Imam Puro sekaligus meneladaninya, Pimpinan Ranting GP Ansor Kelurahan Baledono mengadakan sarasehan bedah sejarah Mbah Imam Puro dengan mengangkat tema “Meneladani Mbah Imam Poero” pada Minggu (30/5) di Aula Al Arifin, Langgar Ndek, Baledono Krajan.

Dr Ahmad Athoilah,M A., sejarawan UGM dan Penulis Buku Sejarah dan Perkembangan NU di Kulonprogo yang hadir sebagai narasumber utama menyebut dalam pengantar diskusinya dengan label ‘Bintang Purworejo Ini Zaman’ untuk menyinggung kiprah Mbah Imam Puro. Pasalnya pada abad 19 Mbah Imam Puro memang sangat masyhur di Purworejo dan bahkan telah memiliki ribuan santri dari seantero Jawa untuk berguru Tarekat Syathariyah kepadanya di Ngemplak, Purworejo.

“Sebelum tahun 1885, dapat dipastikan Kiai Imam Pura telah kembali ke Jawa dan mulai mengajarkan Tarekat Syathariyah-nya yang terkenal di seantero Jawa. Dalam keterangan Michael Laffan berdasar Lor 7931,227 disebutkan bahwa Kiai Imam Pura memiliki metode pengajaran yang unik dan khas. Dengan itu, maka Kiai Imam Pura kemudian mendapat kunjungan ribuan santri untuk belajar tarekat”, terang Dr Athoilah.

Masih menurut Dr Athoillah, Mbah Imam Puro mampu mempertahankan ciri khas Bagelen dan Tarekat Syathariyah-nya ketika banyak tarekat lain mulai berkembang.

“Kiai Imam Pura sangat sadar betul bahwa tarekat Syathariyah pada akhir abad ke-19 telah bergeser berganti dengan hadirnya tarekat Qadiriyah dan Naqsabandiyah yang mulai menjamur di Jawa. Namun begitu, Kiai Imam Pura tetap mempertahankan identitas ‘khas’ Bagelennya yang sejak abad ke-18 merupakan basis dari pengajaran tarekat Syathariyah, bahkan paling awal di Jawa Tengah dan Jawa Timur.”, terangnya.

“Kiai Imam Pura berhasil memainkan pola sosial budaya yang telah terbentuk selama hampir satu setengah abad di Bagelan, yang memiliki Islam model agraris pedalaman yang santri-priayi yang tidak lepas dari identitas pesantren dan tarekat”, tambah Dr Athoillah.

Masih menurut Dr Athoillah, setidaknya ada tiga hal yang bisa digaris bawahi dari kiprah perjuangan Mbah Imam Puro.

“Yang pertama, Mbah Imam Puro ini memahami kearifan lokal, singkatnya Mbah Imam Puro tahu apa yang dibutuhkan dan digemari masyarakat pada waktu itu. Kemudian yang kedua, Mbah Imam Puro memahami bahwa di daerah Bagelen ini priyayi-santri masih memiliki tempat yang tinggi. Artinya Mbah Imam Puro memahami geneologi di Purworejo”, terangnya.

Narasumber kedua, KH Ahmad Hamid AK, yang merupakan Ketua Bani Imam Puro menyampaikan bahwa Mbah Imam Puro termasuk kyai yang kuat tirakat.

“Di keluarga kami, selalu disampaikan keturunannya simbah jangan sampai berbuat yang tercela. Ini untuk menekankan betapa dulu Mbah Imam Puro sudah memberikan kiprahnya yang luar biasa, ya jangan sampai keturunannya malah melakukan sesuatu yang mencederai kiprah itu”, terang Kyai Hamid AK

“Kalau ikut tirakatnya memang berat, salah satunya mbah yai Imam Puro itu mulai wirid sebelum Shubuh, dan nanti selesai atau keluar masjid itu setelah Dhuha. Hal seperti ini susah ditiru generasi hari ini. Dan satu hal lagi, beliau adalah orang yang sendiko dawuh sama gurunya, salah satunya ketika disuruh angon sampai 313 bebek oleh Mbah Rofingi Loning”, tambah beliau.

Sarasehan yang berlangsung sekitar satu setengah jam ini menjadi langkah awal untuk pemuda Ansor lebih peduli dan mau mengangkat sejarah alim ulama di daerahnya.

Kegiatan sarasehan ini sendiri merupakan acara puncak dari rangkaian Gebyar Syawalan yang diadakan Pimpinan Ranting GP Ansor Baledono sejak Hari Jum’at yang lalu.

Kontributor: Huda

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ranting Nahdlatul Ulama Bedono Pageron Bersama GP Ansor dan Masyarakat Santuni Anak Yatim Piatu pada 10 Muharram

    Ranting Nahdlatul Ulama Bedono Pageron Bersama GP Ansor dan Masyarakat Santuni Anak Yatim Piatu pada 10 Muharram

    • calendar_month Kamis, 19 Agt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 637
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Tradisi 10 Muharram merupakan tradisi rutin yang dilaksanakan oleh Ranting Nahdlatul ulama Bedono Pageron Bersama Muslimat, Fatayat, GP Ansor, Banser, IPNU IPPNU l, Warga Masyarakat dengan menyantuni anak yatim dan piatu. Karena pada 10 Muharram banyak sekali keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT untuk memulyakan anak yatim. Di antaranya adalah pelipat gandaan […]

  • Nu Vis-a-Vis Negara, Siasat NU dalam Menjaga Negara

    Nu Vis-a-Vis Negara, Siasat NU dalam Menjaga Negara

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 549
    • 0Komentar

    Membahas masalah politik, sama halnya membahas masalah Negara. Sebab, salah satu yang menyebabkan Negara itu maju adalah partai politik. Namun, terkadang partai politik juga dapat merugikan Negara, karena ketidak sesuaian tindakan-tindakan yang dilakukan oleh partai politik itu sendiri. Pada saat Orde Baru itu lahir, NU memainkan peran kunci dalam peralihan kekuasaan secara bertahap setelah dalam […]

  • Kyai Haji (KH) Abdurrahman Wahid

    Kyai Haji (KH) Abdurrahman Wahid

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2015
    • account_circle admin
    • visibility 844
    • 0Komentar

    Kyai Haji (KH) Abdurrahman Wahid atau terkenal sebagai Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari keluarga yang sangat terhormat […]

  • Bahas Fiqih Thaharah, MAMAS PAC GP Ansor Pituruh Disambut Antusias Sahabat Ansor

    Bahas Fiqih Thaharah, MAMAS PAC GP Ansor Pituruh Disambut Antusias Sahabat Ansor

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Fatkhan Anis
    • visibility 182
    • 0Komentar

    Pituruh –  PAC GP Ansor Pituruh kembali menggelar kegiatan rutin MAMAS (Mutola’ah Malam Sabtu) yang bertempat di rumah Sahabat Fatkhan Anis, Krajan RT/RW 03/01, Krajan, Prapagkidul, Pituruh, Purworejo, Jumat 22 Mei 2026. Kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap malam Sabtu yang diisi dengan kajian kitab Fathul Mu’in secara berkesinambungan sebagai sarana memperdalam ilmu keagamaan bagi kader […]

  • PC GP Ansor Purworejo Siapkan Posko Mudik Lebaran 2025 untuk Pemudik

    PC GP Ansor Purworejo Siapkan Posko Mudik Lebaran 2025 untuk Pemudik

    • calendar_month Minggu, 30 Mar 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 45
    • 0Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.org – Dalam rangka mensukseskan Hari Raya Idul Fitri 1446 H, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Purworejo mendirikan Posko Mudik Lebaran 2025 yang beroperasi sejak 27 Maret hingga 6 April 2025. Posko ini didirikan untuk memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pemudik yang melintasi wilayah Purworejo. Pembukaan posko mudik ini secara […]

  • Pimpin GP Ansor Purworejo, H. Muhammad Haekal S.Pd.I Minta Dukungan Semua Pihak

    Pimpin GP Ansor Purworejo, H. Muhammad Haekal S.Pd.I Minta Dukungan Semua Pihak

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2015
    • account_circle admin
    • visibility 447
    • 1Komentar

    Forum konferensi GP Ansor Purworejo di pesantren Al-Anwar Maron, Ahad (21/12), mengamanahkan H. Muhammad Haekal S.Pd.I untuk menggerakkan pemuda NU ini untuk masa bakti 2014-2018. Kepada peserta forum dan banom NU lainnya, Haikal meminta kerja sama dalam mengimplementasikan program NU. “Tentu ini merupakan amanah yang tidak ringan mengingat tantangan organisasi ke depan yang semakin berat. […]

expand_less