Breaking News
light_mode
Trending Tags

Nu Vis-a-Vis Negara, Siasat NU dalam Menjaga Negara

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
  • visibility 582
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Membahas masalah politik, sama halnya membahas masalah Negara. Sebab, salah satu yang menyebabkan Negara itu maju adalah partai politik. Namun, terkadang partai politik juga dapat merugikan Negara, karena ketidak sesuaian tindakan-tindakan yang dilakukan oleh partai politik itu sendiri.

Pada saat Orde Baru itu lahir, NU memainkan peran kunci dalam peralihan kekuasaan secara bertahap setelah dalam waktu beberapa hari saja Jenderal Sueharto berhasil menumpas “Gerakan 30 September”. Di samping keikutsertaan para aktivis radikalnya dalam demonstrasi-demunstrasi mashasiswa di tahun 1966, NU juga memainkan peran yang sangat penting dalam pengambilalihan kekuasaan secara konstitusional oleh jenderal Sueharto.

Bagi jenderal yang menekankan keabsahan peralihan kekuasaan, NU merupakan satu-satunya pasangan yang dapat dijadikan tumpuan harapan: Partai Nasional terlalu dekat hubungannya dengan Suekarno, Masyumi sudah dilarang Tahun 1960 dan sangat dicurigai, sementara partai-partai lainnya terlalu kecil untuk berperan. Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat, yang mengalami perombakan tidak lama setelah peralihan kekuasaan kepada Sueharto tanggal 11 Maret 1966, sebagian diserahkan ketangan NU.

Sejalan dengan itu, maka terjalin satu kerja sama antara ABRI dan gerakan tradisionalis, persekutuan yang diibaratkan oleh Sjaichu, Wakil Ketua II Nahdhatul Ulama, sebagai hubungan antara “saudara sekandung”. Satu solidaritas timbal-balik lahir dari hubungan tersebut. Pernyataan-pernyataan yang muncul pun sangat hiperbolis: Angkatan bersenjata “mempercayakan” tentaranya pada NU begitupun sebaliknya. (hal. 87).

Namun, ada beberapa peristiwa yang membuat NU terkucilkan. Sejak Tahun 1965, NU tidak menduduki peran penting dalam pemerintahan, perannya sangat ditentukan. Sebab, mempermudah reshuffle yang dilakukan dengan berturut-turut. Apalagi, Wakil Rakyat berhaluan terhadap komunis demi keuntungan kelompok politik yang dekat dengan Orde Baru.

Sehingga kemudian, NU mulai lesu terhadap politik yang berkepanjangan. Sehingga, NU mempunyai rencana untuk kembali ke khittah. Namun, Pada tahun 80-an, NU memilih keluar dari Partai Persatuan Pembangunan, karena untuk sebagian kecewa terhadap adanya kelompok modernis yang ada di PPP. Sejalan dengan itu, NU tidak masuk di perpolitikan lagi, hanya saja ia menitip namanya di Partai Kebangkitan Bangsa. Partai ini, di fasilitasi oleh PBNU.

NU semakin terpecah belah pada saat terjadi pluralisme sikap politik di kalangan NU sendiri, karena ada beberapa partai yang menaungi NU. dalam muktamar 1994, H. Abdurrahman Wahid mendirikan Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia (SUNI). Sedangkan pamannya Gus Dur, mendirikan Partai Kebangkitan Umat (PKU). Dan, salah satu ulama besar pada dekade Orde Baru yang dekat dengan Jenderal Sueharto yaitu, KH. Syukron Makmun juga mendirikan Partai Nahdhatul Ummah (PNU).

Pemilu 1982, di tandai oleh putusnya hubungan antara para ulama dengan PPP yang dipimpin oleh John Naro. Menjelang pemilihan umum, Naro mengusulkan agar pembagian kursi di hitung berdasarkan hasil pemilu 1955. Hal ini yang membuat MI, mewakili Parmusi, menjadi pewaris sah Masyumi, dan secara tidak langsung Muhammadiyah, dua organisasi Islam pembaru, meskipun keduanya telah menjauhkan diri dari Parmusi sejak tahun1968.

Nahdhatul Ulama minta agar pembagian kursi didasarkan pada hasil Pemilihan Umum tahun 1971, saat Parmusi tampak sangat lemah dibanding Masyumi. Pertikaian menjadi lebih seru ketika, tanggal 27 Oktober 1981, Naro menyerahkan daftar caleg PPP pada pemerintah: 29 caleg NU di tempatkan pada urutan terbawah sehingga kemungkinan untuk terpilih bisa tidak ada. Para anggota DPR yang disingkirkan itu hampir semuanyaberada dalam barisan oposisi terhadap pemerintah yang tidak menyembnyikan campur tangan-nya dalam penyusunan daftar caleg ini.

Menteri dalam Negeri, Jenderal Amir Machmud menjelaskan bahwa NU telah “menyakiti pemerintah”. Bagi Naro, pembersihan partai ini merupakan usaha yang wajar untuk meletakkan dasar bagi sebuah partai modern yang mempunyai kader-kader bebas dari unsur-unsur partai Islam, baik dari NU, MI, Perti, maupun PSII. Menurut Naro, dalam suatu wawancara: “Bila orang mau masuk partai, dia harus masuk NU dulu, atau Perti dulu, baru ke PPP. Undang-undang partai menyatakan tidak bisa begitu lagi. Saya ingin aktivis masuk langsung, ingin mereka menjadi ‘intellectuals’”. (hal. 201-202)

Buku NU vis-à-vis Negara ini menerangkan berbagai laporan yang kuat dan terbukti, tentang relasi NU terhadap Negara. Perpolitikan yang terjadi, dan bagaimana pertikaian antara golongan NU sendiri pada saat Orde Baru. Buku ini akan memberikan pemahaman kepada kita tentang pentingnya sejarah, agar kita tidak hanya menjadi penikmatnya saja, setidaknya ikut merasakan pahitnya mempertahankan persatuan Negara. Selain bahasanya yang sistematis, buku ini akan mempermudah kita untuk berlama-lama ketika membaca.

Judul               : NU Vis-a-Vis Negara

Penulis             : Andree Feillard

Penerbit           : Basabasi

Cetakan           : Pertama, Agustus 2017

Tebal               : 467 halaman

ISBN               : 9786026651174

Peresensi: Faiqur Rahman, tinggal di Garawiksa Institute Yogyakarta.

Artikel sumber: https://harakatuna.com/siasat-nu-dalam-menjaga-negara.html

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PAC Ansor Kemiri Gulung Ansor Banser Se-Purworejo

    PAC Ansor Kemiri Gulung Ansor Banser Se-Purworejo

    • calendar_month Sabtu, 29 Okt 2016
    • account_circle admin
    • visibility 545
    • 0Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.orgDalam rangka memperingati Hari Santri Nasional dan Sumpah Pemuda, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Purworejo menggelar Futsal Competition Piala Kapolres Purworejo, Sabtu (29/10/2016) di lapangan futsal Waka-waka. Sebanyak 31 tim yang terbagi dalam dua segmen, Ansor dan Banser se-Kabupaten Purworejo saling bertanding memperagakan skil terbaiknya memperebutkan Piala Kapolres Purworejo dan piala bergilir Ansor. “Jadi […]

  • Lirik Mars Ansor Banser, Kader Militan Wajib Hafal!

    Lirik Mars Ansor Banser, Kader Militan Wajib Hafal!

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 918
    • 0Komentar

    Mars GP Ansor Darah dan nyawa telah kuberikanSyuhada rebah Allahu AkbarKini bebas rantai ikatanNegara jaya Islam yang benar Berkibar tinggi panji gerakanIman di dada patriot perkasaAnsor maju satu barisanSeribu rintangan patah semua Tegakkan yang adil hancurkan yang dzalimMakmur semua lenyap yang nistaAllahu Akbar – Allahu AkbarPajar baja gerakan kita Bangkitlah bangkit putra pertiwiTiada gentar dada […]

  • Ansor Peduli Purworejo Gencarkan Gerakan Peduli Sahabat

    Ansor Peduli Purworejo Gencarkan Gerakan Peduli Sahabat

    • calendar_month Selasa, 2 Mar 2021
    • account_circle Muhamad Ansori
    • visibility 745
    • 0Komentar

    PC GP Ansor Kabupaten Purworejo baru saja mengadakan Rapat Kerja Tahunan pada hari Ahad (28/2) di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Kalimiru, Bayan, Purworejo. Dalam rapat kerja cabang tersebut di bahas berbagai macam program kerja Ansor selama satu tahun kedepan, salah satunya adalah program-program dari Lembaga Sosial. Sidang komisi lembaga sosial sendiri menghasilkan beberapa program strategis […]

  • Mutiara Hikmah #2

    Mutiara Hikmah #2

    • calendar_month Sabtu, 4 Jan 2020
    • account_circle H.M. Haekal
    • visibility 462
    • 0Komentar

    Pertama, Berorganisasi Ansor Banser itu menyenangkan, pembelajaran sekaligus jalan perjuangan yang bernilai Ibadah. Jika belum sampai ” ke titik itu “ padahal sudah didalam gerbongnya, mungkin kita baru sampai di titiknya koma. Atau bisa jadi memang belum ada waktu untuk merasakanya. Jika belum bisa merasakanya, mungkin kita sendiri yang belum benar – benar nyambung denganya, […]

  • Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara

    Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara

    • calendar_month Kamis, 5 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 535
    • 0Komentar

    Politik hanyalah alat bukan tujuan. Kaidah ini yang dijadikan tongkat oleh Kiai Wahab Chasbullah dalam meneguhkan percaturan politik bangsa kita pada tahun 1914-an hingga 1970-an. Masa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Dengan gigih ia menghadapi pancaroba politik yang penuh tantangan dan tekanan. Haluan politisi yang lahir dari rahim pesantren ini untuk kemaslahatan rakyat (mashâlihur ra’iyah) bukan […]

  • Cek Fakta: Tidak Benar Artikel Berjudul Jual Miras Hukumnya Boleh untuk Membantu Kas Negara

    Cek Fakta: Tidak Benar Artikel Berjudul Jual Miras Hukumnya Boleh untuk Membantu Kas Negara

    • calendar_month Senin, 1 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 1.688
    • 3Komentar

    Ditengah polemik soal Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, beredar pesan berantai yang cukup meresahkan di grup-grup whatsapp berupa tangkapan layar artikel berjudul: Jual Miras Boleh Untuk Membantu Kas Negara dengan gambar utama wakil presiden K.H. Ma’ruf Amin. Tangkapan layar dengan judul “Jual Minuman Keras Hukumnya Boleh Untuk Membantu Kas Negara” tersebut dimuat […]

expand_less