Breaking News
light_mode
Trending Tags

Maksud Istilah Islam Nusantara

  • account_circle admin
  • calendar_month Kamis, 16 Jul 2015
  • visibility 633
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh KH Afifuddin Muhajir
Istilah Islam Nusantara akhir-akhir ini mengundang banyak perdebatan sejumlah pakar ilmu-ilmu keislaman. Sebagian menerima dan sebagian menolak. Alasan penolakan mungkin adalah karena istilah itu tidak sejalan dengan dengan keyakinan bahwa Islam itu satu dan merujuk pada yang satu (sama) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunah.

Kadang suatu perdebatan terjadi tidak karena perbedaan pandangan semata, tetapi lebih karena apa yang dipandang itu berbeda. Tulisan singkat ini mungkin menjadi jawaban bagi mereka yang menolak “Islam Nusantara” menurut apa yang saya pahami dan saya maksudkan dengan istilah tersebut.

Seperti jamak diketahui, Al-Quran sebagai sumber utama Agama Islam memuat tiga ajaran. Pertama, ajaran akidah, yaitu sejumlah ajaran yang berkaitan dengan apa yang wajib diyakini oleh mukallaf menyangkut eksistensi Allah, malaikat, para utusan, kitab-kitab Allah, dan hari pembalasan. Kedua, ajaran akhlak/tasawuf, yaitu ajaran yang berintikan takhalli dan tahalli, yakni membersihkan jiwa dan hati dari sifat-sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat terpuji. Ketiga, ajaran syariat, yaitu aturan-aturan praktis (al-ahkam al-‘amaliyah) yang mengatur perilaku dan tingkah laku mukallaf, mulai dari peribadatan, pernikahan, transaksi, dan seterusnya.

Yang pertama dan kedua sifatnya universal dan statis, tidak mengalami perubahan di manapun dan kapanpun. Tentang keimanan kepada Allah dan hari akhir tidak berbeda antara orang dahulu dan sekarang, antara orang-orang benua Amerika dengan benua Asia. Demikian juga, bahwa keikhlasan dan kejujuran adalah prinsip yang harus dipertahankan, tidak berbeda antara orang Indonesia dengan orang Nigeria. Penipuan selalu buruk, di manapun dan kapanpun. Dalam segmen keyakinan dan tuntunan moral ini, Islam tidak bisa di-embel-embeli dengan nama tempat, nama waktu, maupun nama tokoh.

Sementara yang ketiga, yaitu ajaran syari’at, masih harus dipilah antara yang tsawabith/qath’iyyat dan ijtihadiyyat. Hukum-hukum qath’iyyat seperti kewajiban shalat lima kali sehari semalam, kewajiban puasa, keharaman berzina, tata cara ritual haji, belum dan tidak akan mengalami perubahan (statis) walaupun waktu dan tempatnya berubah. Shalatnya orang Eropa tidak berbeda dengan salatnya orang Afrika. Puasa, dari dahulu hingga Kiamat dan di negeri manapun, dimulai semenjak Subuh dan berakhir saat kumandang azan Maghrib. Penjelasan Al-Quran dan As-Sunah dalam hukum qath’iyyat ini cukup rinci, detil, dan sempurna demi menutup peluang kreasi akal. Akal pada umumnya tidak menjangkau alasan mengapa, misalnya, berlari bolak-balik tujuh kali antara Shafa dan Marwa saat haji. Oleh karena itu akal dituntut tunduk dan pasrah dalam hukum-hukum qath’iyyat tersebut.

Sementara itu, hukum-hukum ijtihadiyyat bersifat dinamis, berpotensi untuk berubah seiring dengan kemaslahatan yang mengisi ruang, waktu, dan kondisi tertentu. Hukum kasus tertentu dahulu boleh jadi haram, tapi sekarang atau kelak bisa jadi boleh. Al-Quran dan As-Sunah menjelaskan hukum-hukum jenis ini secara umum, dengan mengemukakan prinsip-prinsipnya, meski sesekali merinci. Hukum ini memerlukan kreasi ijtihad supaya sejalan dengan tuntutan kemaslahatan lingkungan sosial.

Para tabi’in berpendapat bahwa boleh menetapkan harga (tas’ir), padahal Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam melarangnya. Tentu saja mereka tidak menyalahi As-Sunah. Perbedaan putusan itu karena kondisi pasar yang berubah, yaitu bahwa pada masa Nabi SAW harga melambung naik karena kelangkaan barang dan meningkatnya permintaan, sedangkan pada masa tabi’in disebabkan keserakahan pedagang. (Nailul Authar, V, 220) Di sini, para tabi’in membedakan antara-apa yang disebut ekonomi modern dengan-pasar persaingan sempurna dari pasar monopoli atau oligopoli misalnya.

Para tabi’in juga memfatwakan larangan keluar menuju masjid untuk perempuan muda karena melihat zaman demikian rusak, banyak laki-laki berandal yang sering usil hingga berbuat jahil, (Al-Muntaqa Syarḥul Muhadzdzab, I, 342) padahal Nabi sendiri bersabda-seperti dalam riwayat Abu Daud (لا تمنعوا اماء الله مساجد الله، ولكن ليخرجن تفلات. رواه أبو داود عن أبي هريرة.)-supaya jangan sampai perempuan dilarang keluar menuju masjid.

Dalam pengertian hukum yang terakhir ini kita sah dan wajar menambahkan pada ‘Islam’ kata deiksis, seperti Islam Nusantara, Islam Amerika, Islam Mesir, dan seterusnya. Makna Islam Nusantara tak lain adalah pemahaman, pengamalan, dan penerapan Islam dalam segmen fiqih mu’amalah sebagai hasil dialektika antara nash, syari’at, dan ‘urf, budaya, dan realita di bumi Nusantara. Dalam istilah “Islam Nusantara”, tidak ada sentimen benci terhadap bangsa dan budaya negara manapun, apalagi negara Arab, khususnya Saudi sebagai tempat kelahiran Islam dan bahasanya menjadi bahasa Al-Qur’an. Ini persis sama dengan nama FPI misalnya, saya benar-benar yakin kalau anggota FPI tidak bermaksud bahwa selain mereka bukan pembela Islam.

*) KH Afifuddin Muhajir, Katib Syuriyah PBNU. Guru utama fiqih dan ushul fiqih di Ma’had Aly Pesantren Salafiyah As-Syafi’iyyah, Sukorejo, Situbondo. Tulisan ini dikutip dari situs jejaring Ma’had Aly setempat. Ia baru saja meluncurkan karya Fathul Mujib sebagai syarah kitab Taqrib.

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Muslimat NU Purworejo Perkuat Konsolidasi Lewat Turba di Kemiri Kidul

    Muslimat NU Purworejo Perkuat Konsolidasi Lewat Turba di Kemiri Kidul

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 43
    • 0Komentar

    PURWOREJO – Pimpinan Cabang (PC) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Purworejo menggelar kegiatan turun ke bawah (turba) sekaligus pertemuan rutin dua bulanan sebagai upaya memperkuat konsolidasi organisasi. Agenda ini menjadi forum silaturahmi dan koordinasi antara pengurus tingkat kabupaten bersama pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting guna menyelaraskan program kerja serta memperkokoh peran organisasi […]

  • Amaliah Sejak Lahir Hingga Meninggalnya Muslim di Tanah Air

    Amaliah Sejak Lahir Hingga Meninggalnya Muslim di Tanah Air

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Bermula dari hajatan dan kemudian berakhir dengan hajatan. Begitulah perjalanan seorang Muslim di Tanah Air. Bahkan, sebelum dia lahir pun sudah ada hajatan, yaitu apa yang disebut dengan Mapati (ketika usia kandungan empat bulan) atau Mitoni (ketika usia kandungan tujuh bulan). Begitu juga ketika meninggal, penuh dengan hajatan seperti prosesi kematian dan penguburan. Setelah bersangkutan […]

  • Ansor Peduli

    Ansor Peduli

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 75
    • 0Komentar

    PC Gp Ansor Purworejo terus menebar manfaat bagi masyarakat. Yang teranyar, Bidang Sosial PC GP Ansor Purworejo memberikan santunan untuk 25 anak yatim. Penyerahan santunan itu dilakukan di Masjid Al Ma’arif Winong Kemiri Purworejo Jum’at (6/3). Menurut wakil Ketua Bidang Sosial GP Ansor Purworejo, Alfin Zidni, mengungpkan pemberian santunan itu merupakan bentuk kepedulian Gerakan Pemuda […]

  • Sejarah Banser Dari Ensiklopedi NU

    Sejarah Banser Dari Ensiklopedi NU

    • calendar_month Kamis, 9 Jan 2020
    • account_circle admin
    • visibility 1.712
    • 0Komentar

    Banser NU Akronim dari Barisan Serba Guna NU. Merupakan lembaga semi-otonom dari GP Ansor, organisasi pemuda NU, yang berdiri pada 1930 atau empat tahun setelah NU didirikan. Menurut catatan, Banser sendiri berdiri pada 1962, atau 32 tahun setelah pendirian GP Ansor. Tujuan pendiriannya adalah untuk memberikan pengamanan pada kegiatan-kegiatan yang digelar oleh Partai NU. Namun, diyakini […]

  • MWC NU Kecamatan Bagelen Gelar Musyawarah Kerja Bersama Seluruh Ranting di Joglo Clapar

    MWC NU Kecamatan Bagelen Gelar Musyawarah Kerja Bersama Seluruh Ranting di Joglo Clapar

    • calendar_month Senin, 2 Jun 2025
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 62
    • 0Komentar

    Bagelen, 29 Mei 2025 — Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Bagelen menggelar kegiatan Musyawarah Kerja (Musker) yang melibatkan seluruh Ranting NU se-Kecamatan Bagelen. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 29 Mei 2025, bertempat di Joglo Clapar, Bagelen, dan berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 12.00 WIB. Musker ini dihadiri oleh seluruh Pengurus MWC NU […]

  • PC Fatayat Purworejo Adakan LKD Zona 4 di Pituruh

    PC Fatayat Purworejo Adakan LKD Zona 4 di Pituruh

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 716
    • 0Komentar

    MEGULUNGKIDUL, – Sebanyak 162 peserta kader Fatayat Nahdlatul ‘Ulama, mengikuti kegiatan Latihan Kader Dasar (LKD) Fatayat NU se-Kabupaten Purworejo yang digelar secara serentak pada tanggal 28 Desember sampai 29 Desember 2019. Pimpinan Anak Cabang Fatayat Nahdlatul ‘Ulama Kecamatan Pituruh menjadi tuan rumah Latihan Kader Dasar Fatayat NU Zona 4 yang diikuti perwakilan peserta dari PAC […]

expand_less