Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ayo Mondok: Beberapa Alasan Pentingnya Belajar di Pesantren

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 10 Jun 2015
  • visibility 1.376
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama (baca; Islam), semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam (Ulama) yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum tradisionalis.

Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu umum.

Keberadaan itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di pesantrennya.

Gerakan “Ayo Mondok” yang dipelopori oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para “teroris” dengan alasan “jihad”. Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan “Ayo Mondok” menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di pesantren.

Pentingnya Mondok

Banyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki  sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha Esa.

Kedua, pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan beriringan.

Pelajaran sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi sendiri.

Ketiga, kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar,  setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki karomah.

Karomah sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya.  Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dibuktikan.

Keempat, dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, santri.

Kelima, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah “Akhlak”. Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran hatinya.

Akan tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa (hati). Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.

Ini hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, Ayo Mondok.

*) Abdul Rahman Wahid, Kader PMII Ashram Bangsa Yogyakarta, penulis juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran Gondanglegi Malang, Yayasan KH. Yahya Syabrowi.

Sumber: http://nu.or.id

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Munculkan Ketua Ranting Baru, Ranting Ansor Girijoyo siap Berkhidmah

    Munculkan Ketua Ranting Baru, Ranting Ansor Girijoyo siap Berkhidmah

    • calendar_month Sabtu, 13 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 303
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Rapat Anggota Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda Ansor Girijoyo. Rapat Anggota merupakan forum tertinggi di tingkatan Ranting Ansor. Rapat Anggota dilakukan untuk reorganisasi kepengurusan ranting Ansor. Bertempat di serambi Masjid Babul Muadhom Girijoyo, Sabtu (13/11/2021) malam Hadir dalam kesempatan ini Kepala Desa beserta jajarannya, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Girijoyo, dan Peserta Rapat […]

  • Siap Dakwah! PC Ansor Purworejo Luncurkan Website 16 Kecamatan

    Siap Dakwah! PC Ansor Purworejo Luncurkan Website 16 Kecamatan

    • calendar_month Minggu, 25 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 69
    • 0Komentar

    Purworejo, 25 Juni 2023 – Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PC GP Ansor) Purworejo hari ini mengadakan acara peluncuran website untuk 16 kecamatan di daerah tersebut. Acara yang berlangsung di Gedung Nahdlatul Ulama (NU) ini dihadiri oleh berbagai kader GP Ansor dan tokoh masyarakat setempat. Ketua PC GP Ansor, KH. Khabib Anwar, dengan tegas menyampaikan […]

  • Download Buku Aswaja An Nahdliyah (pdf) LTN NU Jawa Timur

    Download Buku Aswaja An Nahdliyah (pdf) LTN NU Jawa Timur

    • calendar_month Selasa, 10 Mei 2022
    • account_circle admin
    • visibility 937
    • 0Komentar

    Buku saku dan buku putih ini sangat penting dibaca kader Ansor dan NU untuk lebih memperdalam wawasan Aswaja An Nahdliyah

  • Satkoryon Banser Kemiri, gelar kegiatan Selapanan Rutin Malam Kamis Kliwon

    Satkoryon Banser Kemiri, gelar kegiatan Selapanan Rutin Malam Kamis Kliwon

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2020
    • account_circle admin
    • visibility 166
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Satkoryon Banser Kemiri gelar kegiatan selapanan rutin malam kamis kliwon, dirumah sahabat Banser Syarifudin Desa Girijoyo, Rabu,26/08/2020. Hadir dalam kesempatan ini Pimpinan Anak Cabang, Anggota Ranting, Anggota Satkoryon Banser Kemiri. Sahabat Saiful A Ketua PAC Gp Ansor kemiri menyampaikan bahwa Barisan Ansor Serbaguna (Banser) ini merupakan badan otonom dari Gerakan Pemuda Ansor, […]

  • Riyadloh Badaniyah Melalui Banser

    Riyadloh Badaniyah Melalui Banser

    • calendar_month Minggu, 24 Apr 2022
    • account_circle Muhammad Hidayatullah
    • visibility 660
    • 0Komentar

    Sore tadi diajak diskusi bersama Ansor Kota dan diminta untuk me-refleksikan sedikit sejarah Ansor. Mengutip terminologinya Gus Gendoel Phothol , tak ubahnya pijat refleksi, halaqoh ini juga bentuk ikhtiar memijat kepala, hati dan semua anggota tubuh, yang mungkin capek, lelah dan sudah kaku semua, agar kembali fresh dan prima untuk kembali bergerak dalam perjuangan. Menemani […]

  • Media Ansor Purworejo Gelar Pameran Kegiatan Ansor 1 Tahun Terakhir

    Media Ansor Purworejo Gelar Pameran Kegiatan Ansor 1 Tahun Terakhir

    • calendar_month Minggu, 28 Feb 2021
    • account_circle Muhamad Ansori
    • visibility 1.094
    • 1Komentar

    PC GP Ansor Kabupaten Purworejo mengadakan Rapat Kerja Tahunan pada Ahad (28/2) di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Kalimiru, Bayan, Purworejo. Yang menarik dalam acara Raker kali ini adalah adanya pojok galeri kegiatan Ansor Purworejo selama satu terakhir yang di gelar oleh Bidang IT dan Cyber PC GP Ansor Kabupaten Purworejo. Ketua Bidang Cyber dan IT […]

expand_less