Breaking News
light_mode
Trending Tags

Ayo Mondok: Beberapa Alasan Pentingnya Belajar di Pesantren

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 10 Jun 2015
  • visibility 1.375
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pondok pesantren pada awalnya di-setting sebagai lembaga pendidikan non-formal. Surau, Masjid dan pemondokan santri menjadi ruang aktifitas sentral para santri belajar ilmu. Ilmu yang dipelajari secara umum berkutat pada persoalan disiplin ilmu agama (baca; Islam), semisal fiqh, tasawwuf, nahwu, shorof, tauhid, tajwid dan semacamnya. Teks-teks yang jadi rujukan juga seputar kitab kuning klasik, sebuah karya cendikiawan Islam (Ulama) yang rata-rata ditulis pada abad pertengahan. Hal semacam itu membuat beberapa kalangan menjuluki kaum pesantren sebagai kaum tradisionalis.

Seiring berjalannya waktu, tuntutan zaman kian kompleks. Pesatnya keilmuan yang semakin spesifik serta perkembangan teknologi terus menuntut pesantren tetap bisa menjadi lembaga pendidikan yang selalu survive. Alhasil, pesantren juga membuka pendidikan umum mulai dari SD-MI, SLTP-MTs, SMA-SMK-MA-MAK, bahkan Perguruan Tinggi. Sungguh ini capaian yang luar biasa. Selain menjadi lembaga pendidikan agama, pesantren juga membuka ruang untuk siapa saja yang ingin memperdalami ilmu umum.

Keberadaan itu ternyata tidak membuat pesantren aman dalam memuluskan ajarannya. Munculnya pesantren-pesantren baru yang sebenarnya berada dalam naungan aliran Islam transnasional menjadi tantangan pesantren yang sudah lama ada. Pesantren baru muncul dengan mengedapankan ilmu umum semata, pengetahuan bahasa Inggris dan bahasa Arab menjadi tawaran untuk menarik animo para orang tua agar memondokkan anaknya di pesantrennya.

Gerakan “Ayo Mondok” yang dipelopori oleh Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PBNU menjadi signal bahwa lembaga pendidikan pesantren bukan lembaga alternatif. Akan tetapi, pesantren dengan segala bentuknya merupakan lembaga unggulan. Memang, jika dilihat dari redaksi bahasa, gerakan tersebut seakan-akan hanya ajakan untuk orang tua agar memondokkan anaknya di pesantren. Ajakan tersebut diperuntukkan agar orang tua tidak memondokkan anaknya di pesantren yang salah. Karena, meskipun menempuh pendidikan di pesantren bukan jaminan mereka sudah berada di tempat yang benar. Jika pesantren yang ditempati berideologi Islam garis keras, maka sejatinya mereka tidak nyantri. Akan tetapi, mereka dididik untuk menjadi para “teroris” dengan alasan “jihad”. Setelah keluar sebagai alumni mereka malah mencoreng nama Islam itu sendiri. Untuk itulah, gerakan “Ayo Mondok” menjadi sebuah kampanye penting agar orang tua tidak salah menitipkan anaknya untuk belajar di pesantren.

Pentingnya Mondok

Banyak hal kenapa orang tua penting memondokkan anaknya di pesantren yang benar. Menurut pengalaman penulis sendiri, ada beberapa hal kenapa penting menempuh pendidikan di pesantren, tentunya pesantren yang berada di bawah asuhan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya pertama, pesantren NU memiliki  sanad keilmuan yang jelas. Segala yang dipelajari di pesantren NU bisa dipertanggungjawabkan. Jika kita runtut, ilmu yang dikonsumsi alurnya jelas sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karenanya, kita tak perlu khawatir atas kebenaran ilmu yang dipelajari di pesantren NU. Karena itu sudah sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW yang besok bertanggung jawab dihadapan Allah Yang Maha Esa.

Kedua, pesantren mengajarkan kita untuk tidak berpikir oposisi-binner. Sebuah gaya berpikir yang selalu mempertentangkan setiap perbedaan. Tak heran, jika gerakan feminisme menjadi kekuatan matriarki yang menindas kaum lelaki, semisal. Atau sosialisme menentang otoriterianisme, lalu menjadi otoriterianisme dengan bentuk baru. Nah, di pesantren kita diajarkan bahwa perbedaan itu adalah sunnatullah. Perbedaan tidak perlu dipertentangkan, akan tetapi disikapi secara arif agar bisa berjalan beriringan.

Pelajaran sejarah yang bisa kita petik adalah saat terjadi perang sesama sahabat Rasulullah. Ketika beberapa kelompok memberi dukungan kepada salah satu sahabat, bahkan ada yang memilih menyalahkan keduanya. Ulama Ahlussunnah memilih tidak berkomentar. Diamnya Ahlussunnah bukan tanpa alasan, sikap diam tanpa komentar merupakan pernyataan tersirat bahwa keduanya sama-sama mempunyai dasar alasan atas perang yang mereka kobarkan. Keduanya sama-sama sahabat Rasulullah dan perbedaan pandangan itu hal yang biasa terjadi, tak terkecuali sahabat Nabi sendiri.

Ketiga, kita dikenalkan tentang konsep barokah. Dalam kehidupan pesantren, barokah menjadi hal penting yang dijadikan pegangan santri. Sering kali kita mendengar,  setinggi apapun ilmu yang didapatkan jika tidak mendapatkan barokah Kiainya, maka ilmu yang didapat akan sia-sia. Dalam pandangan pesantren tabarrukan atau biasa disebut barokah mempunyai makna penambahan kebagusan dari Allah, ziyadatul khair. Artinya, setiap waktu semakin bertambah baik. Barokah merupakan sebuah kekuatan rasa yang dimiliki oleh Kiai dan dipercaya mampu melegitimasi ilmu yang diperoleh santri, manfaat atau tidak. Barokah tidak semata-mata bisa hadir dari seorang Kiai. Artinya, untuk mendapatkan titel bahwa seorang Kiai memiliki kekuatan barokah biasanya terletak pada sejauhmana Kiai tersebut memilki karomah.

Karomah sendiri merupakan sebuah pengetahuan yang telah mengkristal pada diri seorang Kiai. Tentunya, ilmu yang pernah dipelajarinya telah menyatu dengan dirinya.  Nah, Kiai seperti ini akan terlihat begitu karismatik di depan santri-santrinya dan masyarakat pada umumnya. Ternyata, hal semacam ini tidak hanya diakui oleh kalangan pesantren. Seorang tokoh sosiologi, Max Weber juga mengakui akan kebenaran ini. Dalam menjelaskan rasionalisasi, Weber mengakui bahwa ilmu-ilmu sosial harus berkaitan dengan fenomena spiritual atau ideal. Alasannya, sebagai ciri-ciri khas dari manusia yang tidak berada dalam jangkauan bidang ilmu-ilmu alam. Nah, yang semacam ini dalam pesantren biasa disebut dengan barokah dan karomah. Sesuatu yang selama ini kita anggap mistis, ternyata hanya persoalan rasio akal belum mampu menjangkaunya. Sebenarnya ini adalah hal yang rasional, suatu saat bisa dibuktikan.

Keempat, dari pesantren kita akan diajarkan bagaimana bersosial. Tanpa disadari, dalam kehidupan santri menyimpan segudang pelajaran hidup. Hal sederhana, semisal bagaimana santri makan bersama dengan menggunakan talam. Dari situ kita bisa lihat, bahwa kebersamaan dalam pesantren itu sangat diutamakan. Tanpa melihat dari mana asalnya, miskin, kaya bahkan keturunannya. Pesantren tak pernah mengenal kasta, semua diperlakukan sama, santri.

Kelima, selain persoalan di atas, hal paling penting yang bisa didapat dari pesantren adalah “Akhlak”. Akhlak yang dimaksud di sini bukan sekedar persoalan etika semata. Karena etika lebih kepada persoalan pola sikap dan pola ucap. Semisal, seorang koruptor yang sosialnya bagus tidak bisa dikatakan berakhlak. Karena apa yang ia lakukan tidak sesuai dengan kebenaran hatinya.

Akan tetapi, akhlak jauh melampaui itu. Seseorang yang berakhlak, baik tindakan, perkataan, pikiran maupun perasaannya akan berjalan secara beriringan. Keempatnya tidak mungkin bertentangan. Contoh yang bisa kita ambil, ketika Nabi Muhammad SAW mengutuk seseorang yang munafik. Seperti kita mafhum, munafik adalah seorang yang ucapan dan tindakan, pikiran serta hatinya tidak sesuai. Dari contoh itu bisa kita petik, bahwa akhlak meliputi persoalan pola sikap, pola ucap, pola pikir dan pola rasa (hati). Bagaimanapun juga, Nabi Muhammad SAW diutus ke dunia, tak lain dan tak bukan untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq.

Ini hanya sekelumit pengalaman dari penulis yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren. Tentu masih banyak hal lain yang bisa dijadikan alasan kenapa mondok (nyantri) itu penting. Ada segudang pelajaran dan pengalaman yang hanya bisa kita dapatkan dari pondok pesantren. Untuk itu, Ayo Mondok.

*) Abdul Rahman Wahid, Kader PMII Ashram Bangsa Yogyakarta, penulis juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum 1 Ganjaran Gondanglegi Malang, Yayasan KH. Yahya Syabrowi.

Sumber: http://nu.or.id

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari

    Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari

    • calendar_month Minggu, 12 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 559
    • 1Komentar

    Oleh Munawir Aziz Dalam catatan Lontara yang diwariskan kerajaan Gowa-Tallo, disarikan data bahwa Syekh Yusuf lahir pada 3 Juli 1628 M, tepat pada 8 Syawal 1036 H. Dengan demikian, Syekh Yusuf lahir setelah dua dekade pengisalaman kerajaan kembar Gowa-Tallo oleh ulama Minangkabau, yakni Syekh Abdul Makmur, disebut Datuk Ri Bandang. Catatan Lontara Riwayat Tuanta Salamaka […]

  • Sejarah di Balik Lahirnya Lagu ‘Kebangsaan’ Yaa Lal Wathan

    Sejarah di Balik Lahirnya Lagu ‘Kebangsaan’ Yaa Lal Wathan

    • calendar_month Sabtu, 10 Sep 2016
    • account_circle admin
    • visibility 416
    • 2Komentar

    Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mengusulkan lagu gubahan Pahlawan Nasional KH Abdul Wahab Chasbullah yang popluer berjudul Yaa Lal Wathan dijadikan sebagai lagu perjuangan nasional karena terbukti menyemayamkan cinta tanah air dan nasionalisme kuat di dada para pejuang terutama anak-anak muda saat itu. Peresmian lagu tersebut rencananya akan dilaksanakan pada momen Hari Pahlawan Nasional […]

  • SMK Ma’arif NU 1 Bener Melaksanakan Lounching Kelas Jepang

    SMK Ma’arif NU 1 Bener Melaksanakan Lounching Kelas Jepang

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2023
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 345
    • 0Komentar

    BENER, ansorpurworejo.org – Pada Sabtu, 28 Januari 2023, SMK Ma’arif NU 1 Bener melaksanakan lounching Kelas Jepang yang bertempat di Tandem Resto Desa Kaliurip Kecamatan Bener. Acara yang menghadirkan Kepala Dinas Perindustrian, tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Purworejo itu berlangsung sangat meriah. Dikemas dengan gambaran masadepan suasana Jepang namun juga tidak meninggalkan karakter agama dan […]

  • Munculkan Ketua Ranting Baru, Ranting Ansor Girijoyo siap Berkhidmah

    Munculkan Ketua Ranting Baru, Ranting Ansor Girijoyo siap Berkhidmah

    • calendar_month Sabtu, 13 Nov 2021
    • account_circle admin
    • visibility 303
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Rapat Anggota Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda Ansor Girijoyo. Rapat Anggota merupakan forum tertinggi di tingkatan Ranting Ansor. Rapat Anggota dilakukan untuk reorganisasi kepengurusan ranting Ansor. Bertempat di serambi Masjid Babul Muadhom Girijoyo, Sabtu (13/11/2021) malam Hadir dalam kesempatan ini Kepala Desa beserta jajarannya, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Girijoyo, dan Peserta Rapat […]

  • Tashwirul Afkar, Kelompok Diskusi Pemuda NU

    Tashwirul Afkar, Kelompok Diskusi Pemuda NU

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 894
    • 1Komentar

    Tashwirul Afkar adalah kelompok diskusi yang bermetamorfosis menjadi madrasah dan kursus, dibentuk oieh K.H. Abdul Wahab hasbullah setelah beliau pulang dari Makkah pada tahun 1914. Markasnya ada di Surabaya. Setelah pulang dari Makkah itu, mbah Wahab tinggal di Kertopaten, dan memulai rintisan mengadakan diskusi kecil-kecilan dengan para koleganya. Tujuannya untuk mencerdaskan kalangan santri dan kiai-kiai […]

  • Pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Purworejo Masa Khidmat 2025–2030 “Menguatkan Khidmat Jam’iyyah, Mewujudkan Kemandirian Berjamaah”

    Pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Purworejo Masa Khidmat 2025–2030 “Menguatkan Khidmat Jam’iyyah, Mewujudkan Kemandirian Berjamaah”

    • calendar_month Minggu, 11 Mei 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 293
    • 3Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.org — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo masa khidmat 2025–2030 resmi dilantik dalam prosesi yang berlangsung khidmat di Pendapa Agung Kabupaten Purworejo, Minggu (11/5/2025). Dalam pelantikan tersebut, KH R Dawud Maskuri dikukuhkan sebagai Rais Syuriah dan KH Muhammad Haekal sebagai Ketua Tanfidziyah. Acara pelantikan dilanjutkan dengan pelantikan lembaga-lembaga dan badan khusus di […]

expand_less