Breaking News
light_mode
Trending Tags

NU dan Kebangkitan Pemuda

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 17 Mei 2017
  • visibility 561
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Imam Nahrawi

Nahdlatul Ulama telah memasuki umur ke-91 pada 31 Januari 2017. Sebuah usia yang cukup sepuh dan tentu menyimpan banyak pengalaman dalam bentang perjuangan bangsa Indonesia selama ini. Sebagai ormas terbesar NU terbukti sudah memainkan peran-peran penting dalam usaha mewujudkan kedaulatan dan keutuhan negeri ini.

Jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1916, KH Abdul Wahab Chasbullah bersama kiai-kiai lain mempelopori berdirinya Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air). Kala itu, salah satu pendiri NU yang dua tahun pulang dari Makkah ini tak tega menyaksikan bangsanya dijajah.

Pergerakan tersebut lalu ia topang dengan hadirnya organisasi baru bernama Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para saudagar) pada tahun 1918, yang menjadi basis gerakan perekonomian rakyat. Kiai Wahab menjadi sekretaris sekaligus bendaharanya. KH Hasyim Asy’ari memimpin gerakan ini dengan salah satu anggotanya KH Bisri Syansuri. Menyusul kemudian terbentuk Taswirul Afkar (konseptualisasi pemikiran), sebuah forum kajian keagamaan dan kebangsaan yang menyoroti isu-isu krusial dalam konteks itu.

Melalui organisasi-organisasi tersebut para ulama Nusantara mengupayakan berbagai pemecahan masalah bangsanya yang tengah dicengkeram kolonialisme. Dalam suasana penjajahan yang menyengsarakan, langkah-langkah ini tergolong berani dan visioner. Para kiai bergerak dengan risiko akan berhadapan dengan para penjajah.

Yang kerap terlupakan adalah para kiai itu berjuang dalam usia yang relatif sangat muda. Kiai Wahab yang lahir pada 31 Maret 1888 membentuk Nahdlatul Wathan saat masih berumur 26 tahun. Ketika itu Kiai Bisri menginjak usia 27 tahun, sedangkan Kiai Hasyim 41 tahun. Nahdlatul Wathan pun menjadi wahana penggembelengan kesadaraan cinta tanah air yang digerakkan para pemuda dan diperuntukkan bagi para pemuda pula.

Fakta tersebut sekadar contoh betapa atmosfir perjuangan bangsa Indonesia sangat diwarnai oleh jiwa-jiwa muda. Tampilnya para kiai muda pendiri Nahdlatul Ulama itu membantah bahwa NU selalu identik dengan kaum tua, sebagaimana persepsi masyarakat yang jamak kita temui. Kita mendapati mereka sebagai kiai sepuh yang mengendalikan NU ketika organisasi keagamaan terbesar ini sudah mapan belakangan.

Spirit Kaum Muda

Kaum muda sering dipandang spesial setidaknya karena dua hal. Pertama, kekuatan. Pemuda dinilai memiliki energi lebih dibanding kaum tua yang secara alami pasti mengalami penurunan kondisi fisik. Pemuda kerap diasosiasikan dengan kelincahan, kesegaran, dan semangat yang menyalah-nyala.

Kedua, progresivitas. Jiwa perubahan umumnya mengalir dalam darah muda. Karenanya tak heran jika mereka kerap diandaikan mampu menjadi agen sosial yang bisa diandalkan untuk melakukan transformasi ke arah yang lebih baik.

Keistimewaan para pendahulu kita adalah mampu mengaktualisasikan potensi kepemudaan mereka untuk kepentingan publik. Mereka bukan orang-orang picik. Kemampuan untuk membaca persoalan dan momobilisasi masa tidak mereka gunakan untuk kepentingan diri sendiri maupun golongan, melainkan bangsa dan negara secara umum.

Kiprah kiai muda Abdul Wahid Hasyim juga bisa menjadi contoh. Beliau tak hanya menyumbangkan pikiran-pikiran penting saat mewakili umat Islam pada sidang BPUPKI dan PPKI, tapi juga sanggup menahan egoismenya dalam forum perumusan dasar negara itu. Di tengah derasnya aspirasi untuk menegakkan negara teokrasi, Kiai Wahid secara ikhlas menerima Pancasila sebagai ideologi final Republik Indonesia.

Andai saja Kiai Wahid ketika itu ngotot menuruti kemauan mendirikan negara berideologi Islam, mungkin hingga kini bangsa kita yang bineka ini masih terpecah-pecah. Kiai Wahid adalah tokoh kharismatik dan sangat representatif bagi umat Islam. Sejak usia 24 tahun ia aktif di MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam pada zaman Belanda. Dan mengetuai organisasi ini ketika berubah nama menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada masa pendudukan Jepang.

Pada titik ini, terang sekali bahwa darah muda para kiai NU memberi kontribusi dominan bagi kelahiran dan pertumbuhan negara ini. Kita bisa menyebutnya semangat nahdlatus subban (kebangkitan kaum muda) selain juga nahdlatul ‘ulama (kebangkitan ulama). Teladan positif inilah yang seyogianya dihayati para generasi muda sekarang. Bentuk perjuangan era kini bisa sangat lain, tapi spiritnya tentu tetap sama: membangun kemaslahatan bersama.

Penulis adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul al-Fiqh

    Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul al-Fiqh

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
    • account_circle admin
    • visibility 458
    • 0Komentar

    Sebelum mengeluakan fatwa, para ulama harus terlebih dahulu mengetahui kaidah yang dapat digunakan untuk menggali hukum amaliah dari dalil yang terperinci. Pengetahuan ini bersumber dari disiplin ilmu klasik, yaitu Ushul al-Fiqh. Tiada fiqh tanpa melalui Ushul al-Fiqh. Kalau ilmu fiqh bicara soal halal-haram, maka ilmu Ushul al-Fiqh bicara proses yang mendasari halal-haram tersebut.Imam Syafi’i (w. […]

  • Berita Duka : Mustasyar PBNU KH Dimyati Rois Wafat

    Berita Duka : Mustasyar PBNU KH Dimyati Rois Wafat

    • calendar_month Jumat, 10 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 301
    • 0Komentar

    JAKARTA, ansorpurworejo.org – Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Dimyati Rois dikabarkan wafat di Rumah Sakit Tlogorejo, Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (10/6/2022) Pukul 01.13 WIB. Kabar duka ini disiarkan akun media sosial Pondok Pesantren APIK Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah pada Jumat (10/6/2022) dini hari. Kiai Dimyati merupakan […]

  • Baity Jannaty, Membangun Keluarga Sakinah

    Baity Jannaty, Membangun Keluarga Sakinah

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2015
    • account_circle admin
    • visibility 566
    • 0Komentar

    Judul: Baity Jannaty, Membangun Keluarga SakinahOleh: Gus Yusuf ChudloriPenerbit: KhalistaHarga: Rp. 32.000,- Keluarga adalah komunitas terkecil di masyarakat namun sangat menentukan nasib bangsa ini ke depan, Mahligai yang sakinah, mawaddah wa rahmah menjadi idaman setiap keluarga, namun jalan menuju ke sana tentu tidak mudah dan berliku. Penulis bersama keluarga Fast FM di acara Baity Jannaty […]

  • SINERGI UNTUK SESAMA, KEPEDULIAN ADALAH KEWAJIBAN

    SINERGI UNTUK SESAMA, KEPEDULIAN ADALAH KEWAJIBAN

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2020
    • account_circle admin
    • visibility 690
    • 1Komentar

    SIDOMULYO, ansorpurworejo.org – Dampak dari Pandemi Covid-19 di Kabupaten Purworejo masih membutuhkan perhatian, khususnya di Wilayah Kecamatan Purworejo. Maka dari itu, seluruh elemen masyarakat harus saling bahu membahu bersinergi dalam pencegahan penyebaran virus corona dengan senantiasa melaksanakan protokol kesehatan, tidak lupa juga ikut berperan serta membantu meringankan beban korban terdampak khususnya bagi keluarga yang melakukan […]

  • Sinergi Ansor dan Fatayat, Kawal Karakter Generasi Z Lewat Pesantren Kilat di SMAN 10 Purworejo

    Sinergi Ansor dan Fatayat, Kawal Karakter Generasi Z Lewat Pesantren Kilat di SMAN 10 Purworejo

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle admin
    • visibility 73
    • 0Komentar

    PURWOREJO – Mengisi kemuliaan bulan suci Ramadhan, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor dan PAC Fatayat NU Kecamatan Pituruh bersinergi menyelenggarakan kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan di SMAN 10 Purworejo. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari, mulai 2 hingga 9 Maret 2026, dengan peserta seluruh siswa kelas X dan XI yang terbagi dalam tujuh rombongan […]

  • MWC NU Kemiri Gelar Rapat Pleno PAW Usai Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Dilantik sebagai Pengurus PCNU Purworejo

    MWC NU Kemiri Gelar Rapat Pleno PAW Usai Rois Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah Dilantik sebagai Pengurus PCNU Purworejo

    • calendar_month Minggu, 18 Mei 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Kemiri menggelar Rapat Pleno Pergantian Antar Waktu (PAW) di Sanggar Ngelmu Elkaropi, Desa Kerep, Kecamatan Kemiri, pada Jumat (16/05/2025). Agenda ini diselenggarakan sebagai tindak lanjut dari perubahan struktur kepengurusan akibat adanya rangkap jabatan dan salah satu pengurus untuk melaksanakan ibadah haji. Pelaksanaan PAW mengacu pada Peraturan Perkumpulan […]

expand_less