Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
  • visibility 546
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang di sekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang di sekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah KH Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu.

Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin.

Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, KH Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Kiai Qoribun dan ibunya, Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip.

Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugan-nya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya.

Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga.

Aktif di Medan Tempur

Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.

Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone(daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing.

Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH Abdurrahman Yahya.

Demikian pula  ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten  Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia. 

Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas. 

Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun. Ada yang berpendapat ia meninggal pada usia 68 tahun karena Kiai Yahya lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun. Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun. 

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang.  

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ajak Teladani KH Yasin Yusuf, KH Achmad Chalwani Ajak Ansor Utamakan Khidmah di Atas Jabatan

    Ajak Teladani KH Yasin Yusuf, KH Achmad Chalwani Ajak Ansor Utamakan Khidmah di Atas Jabatan

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 97
    • 2Komentar

    PURWOREJO – Rais ‘Ali Jam’iyyah Ahlith Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN), KH Achmad Chalwani Nawawi, memberikan pesan mendalam dalam acara pelantikan Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Purworejo masa khidmat 2025–2029 yang digelar di Ganeca Convention Hall, Minggu (21/12/2025). Dalam tausiahnya, KH Chalwani menekankan pentingnya menempatkan khidmah di atas jabatan. Menurutnya, jabatan hanyalah mandat, sedangkan pengabdian […]

  • Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama Purworejo Distribusikan Sembako

    Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama Purworejo Distribusikan Sembako

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2020
    • account_circle admin
    • visibility 567
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Purworejo terjun lingkungan kemasyarakat untuk memberikan bantuan paket sembako, demi meringankan beban masyarakat di tengah pandemi covid-19. Bantuan ini diberikan pada Minggu, 10/05/2020, di beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Purworejo. Informasi yang dihimpun Tim Media Ansor Purworejo bahwa LPBI NU ini […]

  • Pengurus PAC GP Ansor Pituruh Masa Khidmat 2022/2024 Resmi Dilantik

    Pengurus PAC GP Ansor Pituruh Masa Khidmat 2022/2024 Resmi Dilantik

    • calendar_month Sabtu, 11 Jun 2022
    • account_circle admin
    • visibility 487
    • 2Komentar

    PITURUH, ansorpurworejo.org – Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Pituruh Masa Khidmat 2022-2024 resmi dilantik. Pelantikan ini dibawakan oleh Pengurus Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Purworejo. Pada rangkaian pelantikan sekaligus bersamaan dengan pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Pituruh di Komplek MA Ma’arif NU Pituruh, Jum’at […]

  • Ansor Banser Fokus Gerakan Sosial

    Ansor Banser Fokus Gerakan Sosial

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2020
    • account_circle admin
    • visibility 679
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Ansor dan Banser Purworejo melalui Progam Peduli Sahabar memberikan santunan kepada anak yatim di Bulan Muharam pada Jumat (26/8/2020) di Desa Gebang Kecamatan Gebang Purworejo. Santunan anak yatim hasil donasi penggalan dana. Sekretaris PC GP Ansor Purworejo Tashilul Manasik mengatakan santunan anak yatim ini merupakan kegiatan sosial yang dapat dilaksanakan dikala musim […]

  • Ansor Bersholawat bersama Maulana Al Habib Luthfi Bin Yahya dan Habib Umar Muthohar

    Ansor Bersholawat bersama Maulana Al Habib Luthfi Bin Yahya dan Habib Umar Muthohar

    • calendar_month Senin, 24 Jul 2017
    • account_circle admin
    • visibility 1.330
    • 0Komentar
  • PC GP Ansor Purworejo Dilantik, Gus Ahil Tekankan Sinergi Lintas Elemen

    PC GP Ansor Purworejo Dilantik, Gus Ahil Tekankan Sinergi Lintas Elemen

    • calendar_month Minggu, 21 Des 2025
    • account_circle admin
    • visibility 161
    • 4Komentar

    PURWOREJO – Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Purworejo, M. Tashilul Manasik, menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran tamu undangan dalam acara pelantikan PC GP Ansor Purworejo masa khidmat 2025–2029 yang digelar di Ganeca Convention Hall, Minggu (21/12/2025). “Atas nama pimpinan cabang GP Ansor Purworejo, kami mengucapkan terima kasih atas kehadiran panjenengan semua. […]

expand_less