Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
  • visibility 521
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang di sekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang di sekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah KH Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu.

Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin.

Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, KH Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Kiai Qoribun dan ibunya, Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip.

Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugan-nya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya.

Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga.

Aktif di Medan Tempur

Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i.

Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone(daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing.

Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH Abdurrahman Yahya.

Demikian pula  ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten  Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia. 

Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas. 

Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun. Ada yang berpendapat ia meninggal pada usia 68 tahun karena Kiai Yahya lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun. Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun. 

Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang.  

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Beda dari Tahun Sebelum, SMK VIP Ma’arif NU Kemiri Peringati HSN dengan Resiki Masjid

    Beda dari Tahun Sebelum, SMK VIP Ma’arif NU Kemiri Peringati HSN dengan Resiki Masjid

    • calendar_month Jumat, 22 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 456
    • 1Komentar

    KEMIRI, – Tanggal 22 Oktober merupakan Peringatan Hari Santri Nasional, pada tahun ini, Hari Santri jatuh pada hari Jumat (22/10/2021). Dalam rangka memperingati hari santri nasional, SMK VIP Ma’arif NU 1 KEMIRI menggelar kegiatan sosial yaitu dengan mendatang masjid disekitar sekolah dan melaksanakan pembersih di dalam maupun luar masjid, kegiatan sosial ini merupakan salah kepedulian […]

  • PRNU Donorati: Kami Akan Meneruskan Perjuangan fii Sabilillah para Ulama

    PRNU Donorati: Kami Akan Meneruskan Perjuangan fii Sabilillah para Ulama

    • calendar_month Kamis, 2 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 326
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org- Semangat 1 Abad NU juga tampak dari ujung Kecamatan Purworejo, PRNU Donorati yang turut serta mengikuti lomba fragmen yang diselenggarakan MWCNU Purworejo di sesi ke 4 pada Rabu (1/2/23) malam di komplek Musholla darussurur Dusun Panggulan Donorati dengan tema “Resolusi Jihad NU”. Pertunjukan ini dioerankan oleh kolaborasi para sesepuh dan kaum muda. Sinopsis […]

  • Kyai Haji (KH) Abdurrahman Wahid

    Kyai Haji (KH) Abdurrahman Wahid

    • calendar_month Minggu, 5 Apr 2015
    • account_circle admin
    • visibility 849
    • 0Komentar

    Kyai Haji (KH) Abdurrahman Wahid atau terkenal sebagai Gus Dur lahir di Jombang, Jawa Timur, pada 7 September 1940 dari pasangan Wahid Hasyim dan Solichah. Ia lahir dengan nama Abdurrahman Addakhil atau “Sang Penakluk”, dan kemudian lebih dikenal dengan panggilan Gus Dur. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara dari keluarga yang sangat terhormat […]

  • Pimpinan Ranting GP Ansor Wonosuko Mengadakan Selapanan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor

    Pimpinan Ranting GP Ansor Wonosuko Mengadakan Selapanan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor

    • calendar_month Senin, 3 Jul 2023
    • account_circle PAC Kemiri
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Wonosuko, 2 Juli 2023 – Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Wonosuko mengadakan acara Selapanan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor di Mushola Al-Wasilah. Acara ini bertujuan untuk mempererat ukhuwah Islamiyah, meningkatkan keimanan, serta menghimpun kebersamaan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai kader GP Ansor. Acara Selapanan Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor […]

  • Kembali Lagi, Safari Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Gelar Tarling Bulan Suci Ramadhan

    Kembali Lagi, Safari Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Gelar Tarling Bulan Suci Ramadhan

    • calendar_month Sabtu, 1 Mei 2021
    • account_circle Akhmad Nasukhan
    • visibility 668
    • 0Komentar

    BENER, ansorpurworejo.org – Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Limbangan, Kecamatan Bener selenggarakan Traweh Keliling (Tarling). Tarling ini bertujuan untuk media syi’ar Ranting Gerakan Pemuda ansor Limbangan pada bulan ramadhan, Sabtu (30/04/2021) malam. Kegiatan ini bertempat di Mushola Darul Muttaqin, Dusun Biman Rt. 01 Rw. 03 Desa Limbangan, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo. Hadir pada kesempatan ini, […]

  • Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih

    Habib Muhammad Husein Muthahar, Penyelamat Bendera Pusaka Sang Saka Merah Putih

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2016
    • account_circle admin
    • visibility 635
    • 0Komentar

    HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2016, besok pagi. Terkait HUT RI, ada satu hal yang menjadi momen “suci” bangsa Indonesia khususnya di saat detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI, yakni pengibaran bendera pusaka Sang Saka Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka atau Paskibraka. Sang Saka Merah Putih sebagai bendera pusaka ternyata mempunyai catatan sejarah yang cukup […]

expand_less