Breaking News
light_mode
Trending Tags

Sufisme Syekh Yusuf al-Makassari

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 12 Jun 2016
  • visibility 561
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh Munawir Aziz
Dalam catatan Lontara yang diwariskan kerajaan Gowa-Tallo, disarikan data bahwa Syekh Yusuf lahir pada 3 Juli 1628 M, tepat pada 8 Syawal 1036 H. Dengan demikian, Syekh Yusuf lahir setelah dua dekade pengisalaman kerajaan kembar Gowa-Tallo oleh ulama Minangkabau, yakni Syekh Abdul Makmur, disebut Datuk Ri Bandang.
Catatan Lontara Riwayat Tuanta Salamaka ri Gowa, menyatakan bahwa ayah Syekh Yusuf  bernama Gallarang Moncongloe, yang merupakan saudara dari Raja Gowa Sultan Alauddin Imang’rang’ Daeng Marabbia, Raja Gowa yang beragama Islam. Sultan Alauddin menetapkan Islam sebagai agama resmi kerajaan pada 1603 M. Ibu kandung Syaikh Yusuf, tak lain adalah Aminah binti Dampang Ko’mara, keturunan bangsawan kerajaan Tallo, kerajaan kembar yang berdampingan dengan kerajaan Tallo.
Kisah perjuangan Syekh Yusuf dalam mempertahankan kedaulatan di bumi Nusantara menjadikan dirinya diasingkan di Ceylon (Srilangka) dan Afrika Selatan. Syekh Yusuf tidak hanya milik masyarakat Bugis, namun juga warga muslim Nusantara, Ceylon dan Afrika. Presiden Afrika Selatan, pada 1994, menetapkan Syaikh Yusuf sebagai pejuang kemanusiaan. Sementara, di negeri ini, Syekh Yusuf dianggap sebagai waliyullah yang menyambungkan sanad keilmuan, menggerakkan perjuangan melawan kolonialisme hingga mewariskan jejaring tarekat yang dianut keluarga dan muridnya hingga kini.
Pada masa hidupnya, Syaikh Yusuf membawa perubahan penting dalam perjuangan dakwah yang diembannya. Syaikh Yusuf dikenal di Kesultanan Banten, Tanah Bugis (Sulawesi Selatan), Ceylon (Sri Langka), dan Cape Town (Afrika Selatan). Dalam pengasingan di Ceylon dan Capetown, Syaikh Yusuf mengembangkan Islam dengan mengajar warga, hingga menjadi komunitas muslim di negeri tersebut. Jejak komunitas muslim dan keturunan Syaikh Yusuf di Ceylon dan Capetown masih dapat dilacak hingga kini.
Pada 2009, Syaikh Yusuf mendapatkan penghargaan Oliver Thambo, penghargaan sebagai Pahlawan Nasional Afrika Selatan. Penghargaan ini penting untuk mengenang sosok Syaikh Yusuf di dataran Afrika, atas jasa besarnya dan menjadi inspirasi warga. Presiden Afrika Selatan, Thabo Mbeki, menyerahkan penghargaan langsung kepada tiga ahli warisnya, di antaranya Andi Makmun dan Syachib Sulton. Wapres Jusuf Kalla menyaksikan langsung prosesi penyerahan penghargaan ini, di Union Building, Pretoria, Afrika Utara.
Dari bumi Bugis
Lahir di tanah Bugis, Syaikh Yusuf mendapat tempaan pendidikan Islam dari keluarga dan ulama di kampungnya. Beliau mengaji al-Qur’an kepada Daeng ri Tamassang. Setelah itu, ia berkelana ke pesantren Bontoala untuk mengaji ilmu-ilmu bahasa, semisal Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan mantiq. Pada waktu itu, Syaikh Yusuf mengaji kepada ulama asal Yaman, Syed Ba’alawi bin Abdullah, yang dikenal sebagai al-allamah Tahir, pengasuh pesantren Bontoala. Setelah menamatkan belajar di Bontoala, Syaikh Yusuf melanjutkan mengaji kepada Syekh Jalaluddin Aidit, ulama asal Aceh yang mengembara ke Bugis. Di bawah asuhan Syekh Jalaluddin, di pesantren Cikoang, belajar selama beberapa tahun. Syekh Jalaluddin kemudian mengutus Syekh Yusuf untuk belajar ke tanah Hijaz, untuk mengaji lebih intens kepada ulama-ulama Haramain.
Tak lama berselang, pada 22 September 1644, Syaikh Yusuf berangkat menuju Hijaz, dengan menggunakan kapal penumpang. Pada waktu itu, transportasi laut dari kawasan timur Nusantara melalui Banten untuk menyusuri selat Malaka, hingga menembus ke kawasan pesisir Arab. Ketika singgah di Banten, Syaikh Yusuf berkenalan dengan putra mahkota kerajaan Banten, Abdul Fattah, yang merupakan putra Sultan Abu al-Mafakhir Abdul Kadir (1598-1650), penguasa kerajaan Banten.
Selain Banten, dalam perjalanannya, Syaikh Yusuf singgah di Aceh. Di kawasan Serambi Makkah ini, Syaikh Yusuf melakukan komunikasi dengan ulama dan pemimpin thariqah al-Qadiriyah di Aceh, Syaikh Muhammad Jilani bin Hasan bin Muhammad Hamid al-Raniry. Ketika singgah di Banten dan Aceh, Syaikh Yusuf menghabiskan waktu selama sekitar 5 tahun, untuk melakukan interaksi dengan ulama setempat.
Dalam perjalanan panjangnya, Syaikh Yusuf singgah di Yaman, atas saran dari gurunya selama di Acceh, Syaikh Muhammad Jilani. Di Yaman, Syaikh Yusuf berguru kepada Syaikh Abu Abdillah Muhammad Abdul Baqi (w. 1664), ulama terkenal di Yaman, khalifah tarekat an-Naqsyabandiyah. Syaikh Yusuf tidak berhenti di satu titik, di satu guru. Ia terus berupaya menyegarkan dahaga spritual, dahaga pengetahuannya. Dalam pengembaraannya, Syaikh Yusuf meneruskan perjalanan ke Bandara al-Zubaid, berguru ke Syed Ali al-Zubaidy (w. 1084), seorang muhaddits dan sufi. Dengan Syed Ali, Syaikh Yusuf mendapatkan ijazah thariqah dari silsilah keluarga al-Sadah al-Ba’alawiyah.
Perjalanan panjang di Yaman, diteruskan menembus Makkah untuk menunaikan ibadah Haji. Kemudian, Syaikh Yusuf menuju Madinah untuk ziarah ke makam Rasulullah Saw. Di kota ini, Syaikh Yusuf berguru kepada Syaikh Ahmad al-Qusysyi (w. 1661), Mullah Ibrahim al-Kawrany (w. 1690), dan Hassan al-Ajamy (w. 1701). Tiga ulama inilah, yang menjadi referensi keilmuan dan tradisi tasawuf yang menyambungkan jaringan ulama Nusantara dengan ulama Haramain.
Syaikh Yusuf masih belum puas dengan dahaga pengetahuan, dan kehausan akan guru yang mencerahkan. Ia terus berjalan menuju Syam (Damaskus) dan Turki. Di Syam, Syaikh Yusuf memperdalam pengetahuan, dan mengasah kepekaan bathin, kepada beberapa guru. Di antaranya, Syaikh Abu al-Barakat Ayyub bin Ahmad al-Khalwaty al-Quraishi. Setelah berkelana Syam dan Turki, Syaikh Yusuf kembali ke Makkah, untuk mengaji dan mengajar. Ketika musim haji tiba, Syaikh Yusuf mengajar santri-santri Nusantara, terutama yang berasal dari kawasan Bugis. Di antara murid-muridnya, ialah Syaih Abu al-Fath Abdul Basir al-Darir (Tuan Rappang), Abdul Hamid Karaeng Karunrung dan Abdul Kadir Majeneng, merekalah yang kemudian meneruskan ajaran tarekat Khalwatiyyah Syaikh Yusuf di tanah Bugis. 
Sufisme Syekh Yusuf
Bagaimana sufisme Syekh Yusuf, yang diwariskan kepada keturunan dan pengikutnya? Dalam pandangan Syaikh Yusuf, Allah tidak ada yang menyerupai, tidak ada yang menandingi.
إ نه تعالى هو المو صوف بأ ية : ليس كمثله شى ء وسورة الأ خلاص
“Sesungguhnya, Allah Ta’ala disifati dengan ayat al-Qur’an al-Shura ayat II, yang bermaksud: Tiada Tuhan apapun yang menyerupai-Nya”.
Konsep tauhid Syekh Yusuf tidak lepas dari konsep tauhid ahl as-sunnah wal-jama’ah yang menetapkan zat dan sifat bagi Allah, sebagaimana yang terkandung dalam al-Qur’an. Syaikh Yusuf menyebutnya sebagai um al-i’tiqad, induk dari keimanan. Baginya, ayat tersebut menegaskan bahwa dasar Tauhid yang sebenarnya mesti dipegangi dan diyakini. Bahwa, unsur-unsur ketauhidan yang mesti diyakini orang yang menjalani suluk (pendekatan), di antaranya:
(1) Tauhid al-Ahad, meyakini bahwa sesungguhnya Allah adalah wujud Qadim (tidak berpemulaan), qadim bi-nafsih (berdiri sendiri), muqawwim lighairih (mengadakan selain-Nya). Allah Maha Tunggal, tidak bermula wujud-Nya, tiada ujung-Nya, dan tiada serupa-Nya.
(2) Tauhid al-Af’al, meyakini bahwa sesungguhnya Allah, pencipta segala sesuatu. Dialah yang memberi daya dan kekuatan dalam melaksanakan segala urusan. Allah berkehendak, dan semua kehendak manusia berada dalam kehendak Allah.
(3) Tauhid al-Ma’iyyah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah bersama hamba-Nya, di manapun berada.
(4) Tauhid al-Ihatah, meyakini bahwa sesungguhnya Allah meliputi segala sesuatu.
Dimensi tasawuf Syaikh Yusuf bergerak dalam konsep keyakinan terhadap Allah, mengelaborasi konsep tauhid sebagai pintu masuk untuk mengenal dzat yang Maha Besar, Allah Maha Agung. Inilah jalan pembuka, yang disadari Syaikh Yusuf sebagai pelajaran awal bagi pengikutnya untuk mengenal Allah, mengenal Sang Pencipta.
Dalam risalah al-Futuhah al-Ilahiyyah, Syaikh Yusuf merinci rukun tasawuf dalam sepuluh perkara. Bagi Syaikh Yusuf rukun tasawuf ini, menjadi penting bagi salik untuk berada dalam garis perjalanan mendekat menuju-Nya. Sepuluh rukun tasawuf, yakni:
Pertama, Tahrid al-Tauhid, memurnikan ketauhidan kepada Allah, dengan memahami makna keesaan Allah, yang disarikan dari kandungan surat al-Ikhlas. Selain itu, meyakini Allah dengan menjauhi sifat tasybih dan tajsim.
Kedua, faham al-Sima’i, bermaksud memahami tata cara menyimak petunjuk dan bimbingan Syekh Mursyid dalam menjalani pendekatan diri, kepada Allah. Ketiga, Husn al-Ishra, bermaksud memperbaiki hubungan silaturahmi dan pergaulan. Keempat, Ithar al-Ithar, bermaksud mendahulukan kepentingan orang lain daripada kepentingan diri sendiri demi mewujudkan persaudaraan yang kukuh.
Kelima, tark al-ikhtiyar, bermaksud berserah diri kepada Allah tanpa i’timad kepada ikhtiar sendiri. Keenam, surat al-wujd, memahami secara jernih hati nurani yang seiring kehendak al-Haq. Ketujuh, al-kahf an al-khawatir, bermaksud membedakan yang benar dan salah.
Kedelapan, khatrat al-safar, bermaksud melalukan perjalanan untuk mengambil i’tibar dan melatih ketahanan jiwa. Kesembilan, tark al-iktisab, bermaksud mengandalkan usaha sendiri, akan tetapi lebih bertawakkal kepada Allah setelah berusaha. Kesepuluh, tahrim al-iddihar, bermaksud tidak mengandalkan pada amal yang telah dilakukan, melainkan tumpuan harapannya kepada Allah.
Bagi Syaikh Yusuf, manusia yang sempurna (al-insan al-kamil) merupakan manusia yang sampai ke makam ma’rifat. Bukan hanya manusia biasa yang berislam secara dangkal. Syaikh Yusuf memberi penekanan tentang hakikat ma’rifat dalam kekhususan tingkatan manusia sebagai al-insan al-kamil. Manusia sempurna akan ingat Allah dalam segala urusan, kapanpun dan di manapun berada.
Syaikh Yusuf lahir pada 3 Juli 1628 M, di Gowa Sulawesi Selatan, dan wafat pada 23 Mei 1699 di Capetown, Afrika Selatan. Beliau sebagai pejuang, jembatan Ulama Nusantara dan Timur Tengah, serta sufi yang mengajarkan lautan ilmu kepada murid-muridnya. Alfaatihah.***
Penulis adalah esais dan peneliti, menulis beberapa buku tentang Islam Nusantara, aktif di Gerakan Islam Cinta, Twitter: @MunawirAziz

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tarling Putaran IV dan Penyerahan Al Quran

    Tarling Putaran IV dan Penyerahan Al Quran

    • calendar_month Minggu, 3 Jul 2016
    • account_circle admin
    • visibility 490
    • 2Komentar

    ansorpurworejo.org Tarawih keliling (Tarling) yang diadakan pada malam minggu tanggal 2 Juli 2016 di Mushola Nur Iman desa Kliwonan Kec. Banyuurip Purworejo merupakan Tarling putaran ke IV yang di prakarsai oleh Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Purworejo. Tarling putaran I Sabtu 11 Juni di Grabag, Putaran II Sabtu 18 Juni di Bener […]

  • MWC NU Bruno Memulai Pembangunan Gedung NU Centre dengan Selamatan dan Peletakan Batu Pertama

    MWC NU Bruno Memulai Pembangunan Gedung NU Centre dengan Selamatan dan Peletakan Batu Pertama

    • calendar_month Kamis, 29 Jun 2023
    • account_circle PAC Bruno
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Bruno, 29 Juni 2023 – Tahapan pembangunan Gedung NU Centre di Kecamatan Bruno akhirnya dimulai hari ini, Kamis, 29 Juni 2023. Acara kick-off ditandai dengan upacara selamatan dan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Pengurus MWC NU Bruno. Upacara ini menjadi momen bersejarah bagi Komunitas Nahdlatul Ulama di Kecamatan yang dijuluki lantai duanya Purworejo ini. […]

  • Mayoret Mungil Nan Imut Ramaikan Pawai Ta’aruf Santri

    Mayoret Mungil Nan Imut Ramaikan Pawai Ta’aruf Santri

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
    • account_circle admin
    • visibility 1.042
    • 1Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.org Pawai ta’aruf santri yang di gelar oleh yayasan dan pondok pesantren Ash Shidiqiyyah yang star dari masjid  HM ( Kyai Mahrus Matori) Winong Kulon Kemiri Purworejo dan finish di pondok pesantren Ash Shidiqiyyah kampus 1 Berjan Purworejo jum’at sore (20/1/2017). Acara diikuti dari elemen masyarakat dan pihak yayasan  dari Ra, Tk, Mi, SD, […]

  • PBNU Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026, Idul Adha 27 Mei 2026

    PBNU Tetapkan 1 Dzulhijjah 1447 H Jatuh pada 18 Mei 2026, Idul Adha 27 Mei 2026

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 328
    • 3Komentar

    JAKARTA – Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi mengumumkan awal bulan Dzulhijjah 1447 Hijriah. Berdasarkan hasil pemantauan hilal (rukyatul hilal), PBNU menetapkan bahwa 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin Kliwon, 18 Mei 2026 M. Dengan keputusan tersebut, Hari Raya Idul Adha (10 Dzulhijjah 1447 H) akan jatuh pada Rabu Wage, 27 Mei 2026 […]

  • Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU

    Muslimat Luncurkan Buku 70 Tahun Kiprah dan Karya Perempuan NU

    • calendar_month Sabtu, 26 Nov 2016
    • account_circle admin
    • visibility 640
    • 0Komentar

    Jakarta, NU Online Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) Hj Khofifah Indar Parawansa meluncurkan buku “70 Tahun Muslimat NU: Kiprah dan Karya Perempuan NU” menjelang penutupan Kongres Muslimat, Sabtu (26/11) di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Buku yang ditulis oleh Dr Hj Sri Mulyati ini berisi perjalanan organisasi permpuan terbesar di […]

  • Sholat Tanggal 10 Muharram

    Sholat Tanggal 10 Muharram

    • calendar_month Kamis, 27 Jul 2023
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 67
    • 0Komentar

      Dianjurkan shalat dilakukan pada malam tgl 10 muharram (malam jumat depan ini), dimulai setelah isyak sampai subuh. Sumber: Kitab Ianah At Thalibin juz 2 hal 267. Sholat empat rakaat seperti shalat duhur, dengan duduk tahiyat akhir saja. Niat Shalat Sunnah Mutlaq: أُصَلِّي سُنَّةً للهِ تَعَالَى Ushalli sunnatan Lillahi ta’ala Setiap rakaat yg dibaca Fatihah […]

expand_less