Artikel

Embrio Rijaalul Ansor

Memang sangat ‘pas’ kalau Ansor beberapa tahun terakhir ini menggeber pengkaderan ‘langit’ melalui Rijaalul Ansor. Yang pertama tentu karena banyak sekali manfaatnya. Rijaalul Ansor bak pasukan langit yang menjaga agar kader-kader Ansor ini tidak hanya cakap baris-berbaris, tapi juga tidak kehilangan dimensi keagamannya. Apalagi Rijaalul Ansor ini banyak dipunggawai para gus-gus muda, ber Ansor pun makin terasa berkahnya.

Tapi disamping itu, sejarah mencatat bahwa para pendiri Ansor sudah sejak jauh-jauh hari mencita-citakan keseimbangan dalam perjuangan. Sebelum memiliki nama GP Ansor, organisasi yang kita cintai ini telah beberapa kali berganti nama. Jika kita tarik ke belakang, ada ANO, PNU, PPNU hingga Nahdlatus Syubban (NS) di tahun 1930. NS ini peleburan dari dua organisasi yang sama-sama didirikan santri mbah wahab, yakni Syubbanul Wathon (SW) dan Da’watus Syubban (DS). SW lebih fokus kepada gerakan kebangsaan, sementara DS dibentuk untuk gerakan keagamaan. Uniknya nama DS ini juga sempat diusulkan oleh kaum tradisionalis ketika Nahdlatul Wathonnya (1916) Mbah Wahab dan KH Mas Mansur mentok di persimpangan. Waktu itu, kaum modernis mengusulkan nama Mardisantoso.

Maka, pengkaderan Rijaalul Ansor yang masif hari ini, selain sebagai kebutuhan tentu juga sebagai sebuah panggilan sejarah. Dari dulu santrinya mbah wahab itu ya pandai baris-berbaris, ya pandai berdoa. Ini mandat sejarah yang harus selalu digalakkan Ansor di semua tingkatan. Ber Ansor yang kaffah berarti senantiasa menyeimbangkan gerakan, baik yang bersifat umum, maupun yang bersifat keagamaan.

Tags:
Riyadloh Badaniyah Melalui Banser
PAC GP Ansor Kemiri Semarakkan Ramadhan Dengan Tarling

Cabang

Ancab

Kabar NU

Mungkin Kamu Suka