Breaking News
light_mode
Trending Tags

Agar Puasa Tak Hanya Menghasilkan Lapar dan Dahaga

  • account_circle admin
  • calendar_month Minggu, 4 Jun 2017
  • visibility 513
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dalam keseharian, setiap orang diharuskan untuk selalu menambah kebaikan dan selalu bertambah baik setiap harinya. Seperti kata pepatah: hari ini harus lebih baik dari hari kemarin.  Ketika seseorang berhenti dan merasa sudah cukup dengan apa yang sudah dilakukan, maka itu adalah hal yang kurang bisa dibenarkan.
Begitu pun dalam sikap beragama kita. Sedari mula kita diajarkan untuk menempuh satu persatu ajaran Islam, melaksanakan kewajiban dan kesunnahan yang telah diajarkan oleh Rasulullah dan ulama yang bisa diteladani. Tentunya tidak bisa berhenti di situ. Banyak ilmu Allah yang belum diketahui. Pemahaman dan perilaku beragama kita tidak boleh dirasa puas dengan capaian-capaian tertentu.
Puasa Ramadan, adalah bagian dari syariat Islam, bahkan dikenal sebagai rukun Islam. Allah memerintahkan umatnya yang beriman untuk menunaikan puasa, dengan tujuan menjadi orang yang bertakwa. Ketakwaan ini akan menghantarkan pelaku puasa menjadi hamba yang dikasihinya, karena sebagaimana disebut dalam banyak ayat Al Quran: “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa.”
Bagaimana ketakwaan seorang hamba sehingga bisa mendekatkan seseorang kepada Allah? Kitab Kifayatul Atqiya’wa Minhajul Ashfiya’ karya Sayyid Al Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad Dimyathi menjelaskan bahwa takwa adalah pusat segala sumber kebahagiaan. Takwa diartikan sebagai sikap melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, baik yang bersifat lahir maupun bersifat batin karena mengenal kuasa dan keagungan Allah.
Kitab yang menjadi syarah dari kitab Hidayatul Adzkiya’ila Thariqil Awliya’ karya Syekh Zainuddin Al Malibari ini menyebutkan bahwa menjaga ketakwaan dan menjauhi hawa nafsu itu ditempuh dengan mengamalkan syariat, thariqat, dan hakikat.
Disebutkan dalam syair:
فَشَرِيْعَةٌ كَسَفِيْنَةٍ وَ طَرِيْقَةٍ # كَالْبَحْرِ ثُمَّ حَقِيْقَةٍ دُرٌّ غَلَا
Syariat itu seperti kapal, dan thariqat itu seperti lautan. Dan Hakikat adalah mutiara (di lautan) yang bernilai mahal.
Lebih lanjut disebutkan, bahwa seseorang yang hendak mencapai derajat muttaqin dan dekat dengan Allah, harus menempuh laku syariat. Ia harus mau “naik kapal” yang telah ditetapkan oleh Allah, menekuninya dengan konsisten. Tidak mungkin seseorang akan mampu mengarungi lautan yang luas, tanpa naik kapal terlebih dahulu. Ia pun jadi tak kenal lautan, tak tahu keadaan. Demikian kurang lebih dalam Kifayatul Atqiya’.
Thariqat sebagai proses suluk dimaknai sebagai sikap untuk menahan diri, konsisten dalam beramal, serta menjaga dari hal-hal yang merusak kebaikan suatu amal. Jika syariat menekankan pada memenuhi rukun dan menjauhi hal-hal yang dapat membatalkan keabsahan ibadah, maka thariqat sebagai proses menuju derajat muttaqin ini adalah menjaga diri dari hal-hal yang mengurangi nilai ibadah tersebut. Jadi bagaimana bisa mencapai derajat yang lebih tinggi tanpa mengenal syariat secara mencalam terlebih dahulu?
Setelah menaiki kapal syariat, lalu ngelangi, mengarungi lautan proses thariqat, maka diharapkan seorang hamba bisa menjaga ketakwaan, menjaga diri dari menuruti hawa nafsu dan godaan setan, lantas menemukan mutiara-mutiara hakikat ibadah sehingga bisa dekat dengan Allah. Semoga syariat puasa yang kita amalkan ini tidak berhenti pada taraf yang dikatakan Rasulullah: “Banyak orang puasa yang tidak mendapat apa pun kecuali lapar dan dahaga”, serta semakin bisa mendekatkan diri kepada Allah sebagai orang yang bertakwa. Wallahu a’lam. (NU Online, Muhammad Iqbal Syauqi)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

  • Skapa personligt konto

    Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.

    Balas19 Juni 2026 11:28 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sepenggal Cerita Dibalik Nama GP Ansor

    Sepenggal Cerita Dibalik Nama GP Ansor

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 775
    • 0Komentar

    Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pra dan pasca Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Nahdlatul Wathan, Taswirul Afkar, Syubbanul Wathan, Persatuan Pemuda NU, ANO, Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser […]

  • Grup Hadroh Az Zumar Peringati Harlah Yang Ke 3 Dengan Baledono Bersholawat

    Grup Hadroh Az Zumar Peringati Harlah Yang Ke 3 Dengan Baledono Bersholawat

    • calendar_month Selasa, 31 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 1.550
    • 0Komentar

    Purworejo – Grup Hadroh Az Zumar dari Baledono yang telah menginjak usia ke 3 tahun menyelenggarkan tasyakuran dengan tajuk “Baledono Bersholawat”, Selasa 31 Desember 2019. Acara Baledono Bersholawat ini diselenggarakan bekerjasama dengan berbagai elemen masyarakat diantaranya NU dan Ansor Kelurahan Baledono. Mas zam selaku ketua panitia ketika dihubungi Ansor Media menyampaikan bahwa kegiatan ini diselenggarakan […]

  • KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

    KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

    • calendar_month Senin, 30 Mei 2016
    • account_circle admin
    • visibility 521
    • 1Komentar

    Revolusi kemerdekaan Indonesia ditopang oleh perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri. Sayangnya, kisah perjuangan para kiai dan santri, tenggelam dalam narasi sejarah Indonesia. Salah satunya, Kiai Subchi Parakan, yang dikenal dengan “Kiai Bambu Runcing”. Bagaimana kisah hidup dan perjuangan Kiai Subchi? Kiai Subchi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. […]

  • Rawat Sungai, Rawat Kehidupan: Ansor Pituruh Tebar 1.600 Benih Ikan Demi Masa Depan

    Rawat Sungai, Rawat Kehidupan: Ansor Pituruh Tebar 1.600 Benih Ikan Demi Masa Depan

    • calendar_month Minggu, 29 Jun 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 127
    • 0Komentar

    PITURUH, ansorpurworejo.org – Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pituruh menebar 1.600 benih ikan di tiga lokasi. Lokasinya Embung Desa Megulunglor, Bendungan Kalimeneng Desa Girigondo, Sungai Desa Tunjungtejo untuk memulihkan ekosistem air dan mendukung kesejahteraan warga. Aksi ini dilakukan dalam Ansor Peduli Lingkungan dan salah satu program yang mendukung program pemerintah dalam hal ketahanan […]

  • Ansor Peduli Siapkan Laporan Real-Time Untuk Masyarakat

    Ansor Peduli Siapkan Laporan Real-Time Untuk Masyarakat

    • calendar_month Jumat, 11 Sep 2020
    • account_circle admin
    • visibility 531
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Pada tanggal 11 September 2020, Dalam menjaga keterbukaan publik PC GP Ansor Purworejo merilis data laporan Ambulan, bertempat di Desa Lugosobo Purworejo dala rapat koordinasi bersama Tim Ansor Peduli berkumpul untuk melaporkan dan mengevaluasi gerakan ambulan Ansor peduli Purworejo Miftahudin sebagai koordinator relawan memaparkan “Sejak serah terima ambulan sinegi DRW – Ansor […]

  • Dalam Rangka HUT RI KE-78: GP Ansor Loano Gelar Doa Bersama Untuk Pahlawan Kemerdekaan

    Dalam Rangka HUT RI KE-78: GP Ansor Loano Gelar Doa Bersama Untuk Pahlawan Kemerdekaan

    • calendar_month Sabtu, 19 Agt 2023
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 54
    • 0Komentar

    LOANO, ansorpurworejo.org – Pimpinan Anak Cabang ( PAC ) Gerakan Pemuda ( GP ) Ansor Kecamatan Loano Gelar acara Doa Bersama dan Sholawatan dalam rangka perayaan HUT RI ke-78 di Pendopo KH. Hasan Munadi, yang lebih dikenal sebagai Mbah Lakir, Desa Solotiyang Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo, Pada Jumat (18/8/2023) 20.30 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh […]

expand_less