PURWOREJO, – Peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-92 Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) di Kabupaten Purworejo menjadi momentum penting bagi kader Gerakan Pemuda Ansor untuk memperkuat soliditas, konsolidasi, serta arah gerakan ke depan.
Ketua PC GP Ansor Purworejo, Tashilul Manasik, menegaskan bahwa kegiatan yang dirangkai dengan halal bihalal dan musyawarah kerja cabang tersebut bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan ajang refleksi perjalanan panjang organisasi.
“Usia ke-92 ini bukan usia yang muda. Ini adalah bukti kematangan Ansor dalam menjaga nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan,” ujarnya dalam sambutan kegiatan di Auditorium STAIU Purworejo, Minggu (26/4/2026).
Menurutnya, selama lebih dari sembilan dekade, Ansor telah teruji menjadi perekat di tengah keberagaman serta benteng dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dari berbagai ideologi yang berpotensi merusak.
Ia juga menekankan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat ukhuwah atau persaudaraan antar kader, sekaligus menyatukan gagasan dan langkah dalam menjalankan program organisasi.
“Ini bukan hanya silaturahmi, tapi juga konsolidasi dari tingkat cabang sampai ranting. Kita ingin semua kader bergerak dalam satu visi yang sama,” katanya.
Lebih lanjut, Tasilul menyebutkan bahwa setelah pelantikan pengurus beberapa bulan lalu, pihaknya telah melakukan safari silaturahmi ke berbagai Pimpinan Anak Cabang (PAC) guna menyerap aspirasi kader di tingkat bawah.
Hasil dari rangkaian tersebut kemudian dirumuskan menjadi program kerja yang akan dijalankan dalam satu periode ke depan.
“Tentunya saya tidak bisa berjalan sendiri. Perlu sinergi dari seluruh pengurus, mulai dari cabang hingga ranting,” tegasnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan tiga poin utama yang menjadi fokus gerakan Ansor ke depan.
Pertama, kader diminta terus belajar dan meningkatkan kualitas diri. Ia mengingatkan agar para anggota tidak pernah lelah mencintai Indonesia serta terus mengasah kapasitas personal.
Kedua, menjaga konsistensi dalam memperkuat akidah Ahlussunnah Wal Jamaah. Ia menegaskan pentingnya kehadiran Ansor, Banser, dan Rijalul Ansor dalam setiap kegiatan keagamaan maupun sosial di tengah masyarakat.
“Ketika Banser hadir, itu bukan hanya soal pengamanan atau mengatur lalu lintas, tetapi simbol bahwa nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah hidup di tengah masyarakat,” jelasnya.
Ketiga, kemandirian organisasi. Ia menilai pentingnya pemberdayaan kader serta penguatan ekonomi organisasi agar Ansor dapat memberi manfaat lebih luas.
“Kita harus mandiri, tidak hanya secara gerakan, tapi juga secara ekonomi organisasi,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan ini juga diisi dengan tausiyah serta sarasehan yang menghadirkan sejumlah tokoh, termasuk unsur ulama dan pemerintah daerah. Hal ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Pria yang akrab dipanggil Gus Ahil ini berharap, melalui momentum Harlah ke-92 ini, seluruh kader Ansor di Purworejo dapat semakin solid dan terus berkontribusi nyata bagi masyarakat.
“Mari kita jadikan ini sebagai titik tolak untuk meningkatkan semangat pengabdian kepada agama, bangsa, dan negara,” pungkasnya.
Sementara itu Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung penguatan organisasi kepemudaan, khususnya Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor).
Dukungan tersebut diwujudkan melalui dorongan agar kader-kader Ansor mampu berperan aktif dan mengisi berbagai lini strategis di tengah masyarakat.
“Organisasi bisa berjalan dan berkembang ketika kita mampu menempatkan kader-kader terbaik di berbagai lini kehidupan. Baik di sektor keagamaan, pemerintahan, maupun sektor lainnya,” ujar Dion.
Menurutnya, GP Ansor memiliki potensi besar sebagai organisasi kader yang mampu melahirkan pemimpin masa depan. Oleh karena itu, pemerintah daerah memandang penting untuk menjalin sinergi yang kuat guna memastikan kader-kader tersebut mendapatkan ruang dan kesempatan untuk berkembang.
Dion juga mengaku optimistis bahwa dengan pembinaan yang tepat dari para pembina dan pimpinan organisasi, kader Ansor dapat mengambil peran strategis, khususnya di Kabupaten Purworejo. Ia menyebut, keterlibatan kader dalam pemerintahan menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.
“Saya optimistis, dengan bimbingan dari para dewan penasihat dan pimpinan organisasi, kader-kader Ansor mampu berkontribusi lebih luas, termasuk dalam pemerintahan. Ini penting agar kebijakan yang dihasilkan juga berpihak pada masyarakat,” jelasnya.
















