Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Subchi Parakan: Kiai Bambu Runcing, Guru Jenderal Soedirman

  • account_circle admin
  • calendar_month Senin, 30 Mei 2016
  • visibility 557
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Revolusi kemerdekaan Indonesia ditopang oleh perjuangan kaum santri dan barisan Kiai yang menyelamatkan negeri. Sayangnya, kisah perjuangan para kiai dan santri, tenggelam dalam narasi sejarah Indonesia. Salah satunya, Kiai Subchi Parakan, yang dikenal dengan “Kiai Bambu Runcing”. Bagaimana kisah hidup dan perjuangan Kiai Subchi?
Kiai Subchi lahir di Parakan, Temanggung, Jawa Tengah, sekitar tahun 1850. Subchi, atau sering disebut dengan Subeki, merupakan putra sulung Kiai Harun Rasyid, penghulu masjid di kawasan ini. Subchi kecil bernama Muhammad Benjing, nama yang disandang ketika lahir. Setelah menikah, nama ini diganti menjadi Somowardojo,  kemudian nama ini diganti ketika naik haji, menjadi Subchi.
Kakek Kiai Subchi, Kiai Abdul Wahab merupakan keturunan seorang Tumenggung Bupati  Suroloyo Mlangi, Yogyakarta. Kiai Abdul Wahab inilah yang menjadi pengikut Pangeran Dipanegara, dalam periode Perang Jawa (1825-1830). Ketika laskar Dipanegara kalah, banyak pengikutnya yang menyembunyikan diri di kawasan pedesaan untuk mengajar santri. Jaringan laskar kiai kemudian bergerak dalam dakwah dan kaderisasi santri.
Kiai Wahab kemudian mengundurkan diri untuk menghindar dari kejaran Belanda. Ia menyusuri Kali Progo menuju kawasan Sentolo, Godean, Borobudur, Bandongan, Secang Temanggung, hingga singgah di kawasan Parakan. Kawasan Parakan merupakan titik penting arus transportasi kawasan Kedu, yakni sebagai persimpangan Banyumas, Kedu, Pekalongan dan Semarang. Keluarga Kiai Abdul Wahab kemudian menetap di Parakan, sebagai tempat bermukim untuk menggembleng santri dan menyiapkan perlawanan terhadap penjajah.
Pasukan Belanda henti-hentinya mengejar pengikut Dipanegara di berbagai pelosok Jawa, terutama Yogyakarata, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ketika Ibunda Kiai Subchi mengandung, Belanda masih sering mengejar keturunan Kiai Wahab, serta santri-santri yang diduga menjadi pengikut Dipanegara. Pada tahun 1885, Subchi kecil berada di gendongan ibundanya untuk mengungsi dari kejaran pasukan Belanda.
Subchi kecil dididik oleh orangtuanya, dengan tradisi pesantren yang kuat. Ia kemudian nyantri di pesantren Sumolangu, asuhan Syekh Abdurrahman Sumolangu (ayahanda Kiai Mahfudh Sumolangu, Kebumen). Dari ngaji di pesantren inilah, Kiai Subchi menjadi pribadi yang matang dalam ilmu agama hingga pergerakan kebangsaan.
Parakan: Simpul Perjuangan Laskar Santri
Parakan merupakan sebuah kota kecil di Kabupaten Temanggung. Kota ini, memiliki arti penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada awal abad 20, Temanggung menjadi basis pergerakan Sarekat Islam (SI). Kaum santri yang tinggal di Parakan, menjadi tulang punggung kaderisasi SI. Bahkan, di Parakan juga pernah diselenggarakan Kongres Sarekat Islam, yang dihadiri oleh HOS Tjokroaminoto. Pada 1913, anggota Sarekat Islam di Parakan, berjumlah 3.769 orang. Cabang SI Temanggung dibuka pada 1915, dengan jumlah anggota 4.507 (Thamrin, 2008).
Di Parakan, Temanggung, masa sebelum kemerdekaan sangat memprihatinkan bagi rakyat. Hal ini, karena kondisi ekonomi sangat sulit dan politik pemerintah Hindia Belanda yang memeras rakyat dengan tanam paksa, maupun sistem kerja paksa. Ketika Jepang menduduki Jawa, warga Temanggung juga menanggung beban yang sulit. Kewajiban Romusha menjadi beban yang sangat berat bagi rakyat Parakan di Temanggung. Pemberlakukan romusha menjadikan warga terlantar, hidup sengsara, lahan pertanian terbengkalai, hingga sebagian warga menderita busung lapar karena sulitnya memperoleh makanan. Bahkan, kain karung goni sebagai penutup tubuh, menjadi pemandangan biasa pada masa itu (Darban, 1988). Warga Parakan, Temanggung juga banyak yang direkrut sebagai romusha. Mereka dikirim ke Banten, serta ke wilayah Malaysia dan Myanmar.
Pada masa kemerdekaan, Parakan Temanggung menjadi simpul pergerakan untuk melawan penjajah. Ketika Pemerintah Hindia Belanda berusaha menggunakan strategi pemisahan wilayah, berupa garis demarkasi Van Mook, warga Temanggung juga bergerak untuk melawan diskriminasi politik yang dilancarkan Hindia Belanda. Pada saat itu, dibentuklah Barisan Muslimin Temanggung (BMT). Barisan ini dipelopori oleh kiai-santri, yang bertujuan untuk memobilisasi kekuatan rakyat melawan penjajah. BMT didirikan pada 30 Oktober 1945 di masjid Kauman Parakan.
Sebelum adanya BMT, warga Parakan Temanggung bergerak dalam jaringan Barisan Keamanan Rakyat (BKR). Warga Parakan yang tergabung dalam BKR sempat melakukan serangan terhadap sembilan bekas Tentara Jepang yang akan menuju Ngadirejo. Ketika melewati Parakan, pasukan Jepang diserbu oleh warga yang terkonsolidasi dalam BKR. Peristiwa penyerangan ini, dikenal sebagai Peristiwa Batuloyo (Gunardo, 1986).
Setelah adanya Barisan Muslimin Temanggung, operasi warga untuk melawan penjajah semakin gencar. Santri-santri yang tergabung dalam barisan ini, menjadi bertambah semangat dengan dukungan kiai, terutama Kiai Subchi Parakan. Beberapa kali, BMT berhasil menyerbu patroli militer Belanda yang lewat kawasan Parakan. Perjuangan heroik BMT dan dukungan Kiai Subchi, mengundang simpatik dari jaringan pejuang santri dan militer. Beberapa tokoh berkunjung ke Parakan, untuk bertemu Kiai Subchi dan pemuda BMT: Jendral Soedirman (1916-1950), Kiai Wahid Hasyim (1914-1953), Kiai Zaenal Arifin (Hizbullah), Kiai Masykur (Sabilillah), Kasman Singadimedja (Jaksa Agung), Mohammad Roem, Mr. Wangsanegara, Mr. Sujudi, Roeslan Abdul Gani dan beberapa tokoh lainnya.
Ketika pasukan Belanda menyerbu kembali Jawa pada Desember 1945, barisan santri dan kiai bergerak bersama warga untuk melawan. Pertempuran di Ambarawa pada Desember 1945 menjadi bukti nyata. Bahkan, Jendral Sudirman berkunjung ke kediaman Kiai Subchi untuk meminta doa berkah dan bantuan dari Kiai Subchi. Jendral Sudirman sering berperang dalam keadaan suci, untuk mengamalkan doa dari Kiai Subchi. Dari narasi ini, dapat diketahui bahwa Jenderal Sudirman merupakan santri Kiai Subchi.  
Kiai Bambu Runcing, Kiai Penggerak
Kiai Subchi dikenal sebagai seorang yang murah hati, suka membantu warga sekitar yang kekurangan. Jiwa bisnisnya tumbuh seiring dengan kesuburan tanah di lereng Sindoro – Sumbing. Pertanian menjadi andalan, dengan pelbagai macam tanaman yang menjadi ladang pencaharian warga. Saat ini, Parakan dikenal sebagai kawasan andalan dengan hasil tembakau terbaik di Jawa. Kiai Subchi, pada waktu itu, sering membagikan hasil pertanian, maupun menyumbangkan lahan kepada warga yang tidak memilikinya. Inilah kebaikan hati Kiai Subchi, hingga disegani warga dan memiliki kharisma kuat.
Ketika barisan Kiai mendirikan Nahdlatul Ulama pada 1926, Kiai Subchi turut serta dengan mendirikan NU Temanggung. Beliau menjadi Rais Syuriah NU Temanggung, didampingi Kiai Ali (Pesantren Zaidatul Maarif Parakan) dan Kiai Raden Sumomihardho, sebagai wakil dan sekretaris. Nama terakhir merupakan ayahanda Kiai Muhaiminan Gunardo, yang menjadi tokoh pesantren dan NU di kawasan Temanggung-Magelang. Kiai Subchi juga sangat mendukung anak-anak muda untuk berkiprah dalam organisasi. Pada 1941, Anshor Nahdlatul Oelama (ANO) mengadakan pengkaderan di Temanggung, yang langsung dipantau oleh Kiai Subchi.
Kiai Subchi dikenal sebagai kiai ‘alim dan pejuang yang menggelorakan semangat pemuda untuk bertempur melawan penjajah. Kiai ini, dikenal sebagai “Kiai Bambu Runcing”, karena pada masa revolusi meminta pemuda-pemuda untuk mengumpulkan bambu yang ujungnya dibuat runcing, kemudian diberi asma’ dan doa khusus. Dengan bekal bambu runcing, pemuda-pemuda berani tampil di garda depan bertarung dengan musuh. Bambu runcing inilah yang kemudian menjadi simbol perjuangan warga Indonesia untuk mengusir penjajah.
Dalam catatan Kiai Saifuddin Zuhri (1919-1986), Kiai Subchi menjadi rujukan askar-askar yang berjuang di garda depan revolusi kemerdekaan. “Berbondong-bondong barisan-barisan laskar dan TKR menuju Parakan, sebuah kota kawedanan di kaki dua gunung pengantin Sindoro dan Sumbing. Di antaranya yang terkenal adalah Hizbullah di bawah pimpinan Zainul Arifin, Barisan Sabilillah di bawah pimpinan Kiai Masykur”, Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia di bawah pimpinan Bung Tomo, “Barisan Banteng” di bawah pimpinan dr. Muwardi, Laskar Rakyat di bawah pimpinan Ir. Sakiman, Laskar Perindo di bawah pimpinan Krissubbanu dan masih banyak lagi. Sudah beberapa hari ini, baik TKR maupun badan-badan kelaskaran berbondong-bondong menuju Parakan”.
Kiai Subchi dikenal sebagai sosok sederhana, zuhud dan sangat tawadhu’. Ketika banyak pemuda pejuang yang sowan untuk minta doa dan asma’, Kiai Subchi justru menangis tersedu. “KH Wahid Hasyim, KH. Zainul Arifin, dan KH Masjkur pernah mengunjunginya. Dalam pertemuan itu, Kiai Subchi menangis karena banyak yang meminta doanya. Ia merasa tidak layak dengan maqam tersebut. Mendapati pernyataan ini, tergetarlah hati panglima Hizbullah, KH. Zainul Arifin, akan keikhlasan sang kiai. Tapi, Kiai Wahid Hasyim menguatkan hati Kiai Bamburuncing itu, dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukannya sudah benar”, catat Kiai Saifuddin Zuhri dalam memoarnya “Berangkat dari Pesantren”.
Kiai Subchi merupakan teladan dalam kedermawanan, pengetahuan dan perjuangan. Sosok Kiai Subchi menjadi panutan bangsa ini untuk mengawal negeri, mengawal NKRI. Selayaknya, negara mengakuinya sebagai Pahlawan Bangsa.
*Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, pengurus LTN PBNU (Twitter: @MunawirAziz)
 
Referensi:
Ahmad Adaby Darban, Sejarah Bambu Runcing, Laporan Penelitian: Fakultas Sastra UGM, 1988.
_________________________, Fragmenta Sejarah Islam di Indonesia, Surabaya: JP Books, 2008.
Ahmad Baso, Islam Nusantara, Jakarta: Pustaka Afid, 2015.
Amran Habibi, Sejarah Pencak Silat Indonesia: Studi Historis Perkembangan Persaudaraan Setia Hati Terate di Madiun Periode 1922-2000. Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2009
Husni Thamrin,dkk, Geger Doorstoot: Perjuangan Rakyat Temanggung1945-1950, Temanggung: Dewan Harian Cabang, 2008.
Muhaiminan Gunardo, Bambu Runcing Parakan, Yogyakarta: Kota Kembang,1986.
Nur Laela, Perjuangan Rakyat Parakan-Temanggung dalam Mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia (1945-1946), Skripsi UIN Yogyakarta, 2014.

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peringati Tahun Baru Islam: Ansor Butuh akan Selenggarakan Event Bersholawat

    Peringati Tahun Baru Islam: Ansor Butuh akan Selenggarakan Event Bersholawat

    • calendar_month Selasa, 27 Jun 2023
    • account_circle PAC Butuh
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Butuh, 27 Juni 2023 – Dalam rangka memperingati tahun baru Islam 1445 Hijriyah dan menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia yang ke-78, PAC GP Ansor Butuh dengan bangga mengumumkan bahwa mereka akan menyelenggarakan acara besar bertajuk “Ansor dan Fatayat Butuh Bersholawat” pada tanggal 7 Agustus 2023. Acara yang berkolaborasi dengan PAC Fatayat NU Kecamatan Butuh […]

  • Pimpinan Ranting GP Ansor Kaliwader Gelar Raker dan Buka Selapanan Rijalul Ansor, Perkuat Organisasi dan Spiritualitas Kader

    Pimpinan Ranting GP Ansor Kaliwader Gelar Raker dan Buka Selapanan Rijalul Ansor, Perkuat Organisasi dan Spiritualitas Kader

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Ircham
    • visibility 580
    • 1Komentar

    BENER – Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda (GP) Ansor Desa Kaliwader, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, menggelar Rapat Kerja (Raker) sekaligus pembukaan Selapanan Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor pada Sabtu malam (30/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gedung Serbaguna Desa Kaliwader tersebut dihadiri puluhan kader Ansor, jajaran pengurus NU, serta tokoh masyarakat setempat. Rapat kerja menjadi agenda […]

  • Kesigapan Banser Dusun Droko dalam Bencana Alam Purworejo

    Kesigapan Banser Dusun Droko dalam Bencana Alam Purworejo

    • calendar_month Rabu, 22 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 583
    • 1Komentar

    Di antara beberapa titik lokasi bencana akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Purworejo Sabtu lalu (18/06), Dusun Caok, Desa Karangrejo, Kecamatan Loano merupakan yang terparah. Tanah longsor telah mengakibatkan empat rumah terkubur dan belasan korban tewas. Tepat di sebelah barat Dusun Caok terletak sebuah dusun bernama Droko yang merupakan bagian dari Desa Wonotulus, Kecamatan Purworejo. […]

  • MDS RA PAC GP Ansor Purworejo Khatamkan Al Qur’an dan Pengukuhan PR GP Ansor Semawung

    MDS RA PAC GP Ansor Purworejo Khatamkan Al Qur’an dan Pengukuhan PR GP Ansor Semawung

    • calendar_month Minggu, 2 Mei 2021
    • account_circle admin
    • visibility 644
    • 1Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Pada sabtu Malam Ahaad 01 Mei 2021 diadakan Tadarus Keliling MDS RA PAC GP ANSOR Purworejo di Kediaman sahabat Muhammad Salim Al Murtadho desa Semawung, Kecamatan Purworejo. Tujuan acara ini adalah Mempererat ukhuwah antar kader kawula muda dan sesepuh serta dari setiap ranting GP Ansor di kecamatan Purworejo. Acara ini dihadiri oleh […]

  • SMK Ma’arif NU 1 Bener Melaksanakan Lounching Kelas Jepang

    SMK Ma’arif NU 1 Bener Melaksanakan Lounching Kelas Jepang

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2023
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 356
    • 0Komentar

    BENER, ansorpurworejo.org – Pada Sabtu, 28 Januari 2023, SMK Ma’arif NU 1 Bener melaksanakan lounching Kelas Jepang yang bertempat di Tandem Resto Desa Kaliurip Kecamatan Bener. Acara yang menghadirkan Kepala Dinas Perindustrian, tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Purworejo itu berlangsung sangat meriah. Dikemas dengan gambaran masadepan suasana Jepang namun juga tidak meninggalkan karakter agama dan […]

  • Pelantikan 9 Ranting GP Ansor di Kecamatan Gebang

    Pelantikan 9 Ranting GP Ansor di Kecamatan Gebang

    • calendar_month Rabu, 17 Mei 2017
    • account_circle admin
    • visibility 725
    • 0Komentar

    Gebang, ansorpurworejo.org PC GP ANSOR Kab Purworejo melantik sembilan (9)  ranting desa se-kecamatan Gebang. Acara di halaman mushola Al Iman dukuh Siwinong Desa Penungkulan Gebang. Adapun pengurus ranting yang dilantik diantaranya dari desa Kemiri, Pakem, Gebang, Gintungan, Mlaran, Seren, Redin, Sidoleren, Winong lor Kec. Gebang. Ahad(5/02/2017) Dalam acara tersebut  sekaligus pengajian rutinan warga Nahdliyin tingkat […]

expand_less