Breaking News
light_mode
Trending Tags

Lika-liku Berdirinya Muslimat NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
  • visibility 590
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ide kuat untuk mendirikan wadah khusus bagi perkumpulan perempuan Nahdlatul Ulama sebetulnya muncul sejak tahun 1938. Meskipun, peringatan hari lahir Muslimat Nahdlatul Ulama, yang menjadi produk final dari gagasan tersebut, dihitung sejak tahun 1946. Para perempuan NU melihat adanya kebutuhan untuk mendirikan organisasi tersendiri. Mereka yang sudah berperan di banyak sektor merasa belum terkonsolidasi dengan maksimal karena belum ada wadah formal yang menggerakkannya.

Lebih luas lagi, para perempuan NU merasakan organisasi khusus penting didirikan bukan semata karena tuntutan sejarah perjuangan kemerdekaan tetapi juga didorong oleh keprihatinan yang mendalam atas keadaan, sikap, pandangan, dan perlakuan yang kurang adil terhadap perempuan.

Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, 1938 menjadi momen awal gagasan mendirikan organisasi perempuan NU itu muncul. Dua tokoh, yakni Ny R Djuaesih dan Ny Siti Sarah tampil sebagai pembicara di forum tersebut mewakili jamaah perempuan. Ny R Djuaesih secara tegas dan lantang menyampaikan urgensi kebangkitan perempuan dalam kancah organisasi sebagaimana kaum laki-laki. Ia menjadi prempuan pertama yang naik mimbar dalam forum resmi organisasi NU. Secara internal, di NU ketika itu juga belum tersedia ruang yang luas bagi jamaah perempuan untuk bersuara dan berpartisipasi dalam penentuan kebijakan. Ide itu pun disambut dengan perdebatan sengit di kalangan peserta Muktamar.

Setahun kemudian, tepatnya pada Muktamar NU ke-14 di Magelang, saat Ny Djuaesih mendapat tugas memimpin rapat khusus wanita oleh RH Muchtar (utusan NU Banyumas) yang waktu itu dihadiri perwakilan dari daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat, seperti Muntilan, Sukoharjo, Kroya, Wonosobo, Surakarta, Magelang, Parakan, Purworejo, dan Bandung. Forum menghasilkan rumusan pentingnya peranan wanita NU dalam organisasi NU, masyarakat, pendidikan, dan dakwah.

Rumusan tentang pentingnya peranan wanita NU dalam organisasi kian menemukan sosok formalnya ketika berlangsung Muktamar NU ke-15 di Surabaya tahun 1940, yakni dengan diterimanya rumusan tersebut lengkap dengan anggaran dasar dan pengurus besarnya. Hanya saja, kala itu Muktamar belum mau memberikan pengakuan secara resmi.

Akhirnya pada tanggal 29 Maret 1946, bertepatan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H, keinginan jamaah wanita NU untuk berorganisasi diterima secara bulat oleh para utusan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto. Hasilnya, dibentuklah lembaga organik bidang wanita dengan nama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM) yang kelak lebih populer disebut Muslimat NU. Hari inilah yang di kemudian hari diperingati sebagai hari lahir Muslimat NU sampai sekarang. Pendirian lembaga ini dinilai relevan dengan kebutuhan sejarah. Pandangan ini hanya dimiliki sebagian kecil ulama NU, di antaranya KH Mohammad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Saifuddin Zuhri.

Dalam perjalanannya, melalui Muslimat NU para perempuan NU mulai menapaki perjuangan yang lebih mantap dan percaya diri. NU sebagai organisasi induknya tetap menjadi garis ideologi dan perjuangan yang tak boleh dilanggar. Dalam kiprahnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, NOM menjadi kekuatan baru yang penting, khususnya dalam isu-isu keperempuanan. Atas dasar prestasi dan kiprahnya yang demikian, Muktamar NU ke-19 di Palembang pada tahun 1952, Muslimat NU memperoleh hak otonomi. Muktamirin sepakat memberikan keleluasaan bagi Muslimat NU dalam mengatur rumah tangganya sendiri serta memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya di medan pengabdian. Sejak menjadi badan otonom NU, Muslimat lebih bebas bergerak dalam memperjuangkan hak-hak wanita dan cita-cita nasional secara mandiri.

Dalam perjalanannya, Muslimat NU bergabung bersama elemen perjuangan wanita lainnya, utamanya yang tergabung dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani), sebuah federasi organisasi wanita tingkat nasional. Di Kowani, Muslimat NU menduduki posisi penting. Beberapa tokoh Muslimat NU ditunjuk menjadi salah satu ketua, seperti Ny Machmudah Mawardi (1956-1965), Ny HSA Wahid Hasyim (1966-1968), Ny Asmah Syachruni (1968-1973), Dra Farida Purnomo (1978-1981), dan Ny Aisyah Hamid Baidlowi (1995-1998). (Mahbib)

Diolah dari buku “50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa”, 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hari Ini 1 Juni, 16.000 Perseonel Pasukan Banser Ikuti Apel Kesetiaan Pancasila

    Hari Ini 1 Juni, 16.000 Perseonel Pasukan Banser Ikuti Apel Kesetiaan Pancasila

    • calendar_month Rabu, 1 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 405
    • 0Komentar

    Semarang, ansorjateng.net Tak kurang dari 16.000 personel pasukan Barisan Ansor Serba Guna (Banser) melakukan Apel Kesetiaan Pancasila 1 Juni (hari ini) serentak di seluruh Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Ketua PW Ansor Jawa Tengah, Ikhwanuddin, mengatakan acara apel digelar dan diselenggarakan oleh masing-masing Pengurus Cabang Ansor. Baik diselenggarakan mandiri oleh Ansor-Banser atau diselenggarakan bersama Pemerintah daerah […]

  • 3 Pesan Sahabat Haikal Untuk Ansor Banser

    3 Pesan Sahabat Haikal Untuk Ansor Banser

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 611
    • 0Komentar

    PAC Ansor Bener baru saja menyelenggarakan Konsolidasi Akbar dan Apel Siaga Bencana di Cacabankidul, Bener, Minggu,29/12/2019. Acara ini menghadirkan pemateri ke siap siagaan bencana dari BPBD Kabupaten Purworejo dan motivasi organisasi oleh Ketua PC Ansor Kabupaten Purworejo 2016 – 2019, Sahabat Haikal S.Pd.I. Dalam kesempatan tersebut Sahabat Haikal setidaknya menyampaikan 3 poin dasar yang harus […]

  • SMK Ma’arif NU 1 Bener Melaksanakan Lounching Kelas Jepang

    SMK Ma’arif NU 1 Bener Melaksanakan Lounching Kelas Jepang

    • calendar_month Selasa, 31 Jan 2023
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 342
    • 0Komentar

    BENER, ansorpurworejo.org – Pada Sabtu, 28 Januari 2023, SMK Ma’arif NU 1 Bener melaksanakan lounching Kelas Jepang yang bertempat di Tandem Resto Desa Kaliurip Kecamatan Bener. Acara yang menghadirkan Kepala Dinas Perindustrian, tenaga kerja dan transmigrasi Kabupaten Purworejo itu berlangsung sangat meriah. Dikemas dengan gambaran masadepan suasana Jepang namun juga tidak meninggalkan karakter agama dan […]

  • Cek Fakta: Tidak Benar Artikel Berjudul Jual Miras Hukumnya Boleh untuk Membantu Kas Negara

    Cek Fakta: Tidak Benar Artikel Berjudul Jual Miras Hukumnya Boleh untuk Membantu Kas Negara

    • calendar_month Senin, 1 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 1.682
    • 3Komentar

    Ditengah polemik soal Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 10 Tahun 2021 tentang Bidang Usaha Penanaman Modal, beredar pesan berantai yang cukup meresahkan di grup-grup whatsapp berupa tangkapan layar artikel berjudul: Jual Miras Boleh Untuk Membantu Kas Negara dengan gambar utama wakil presiden K.H. Ma’ruf Amin. Tangkapan layar dengan judul “Jual Minuman Keras Hukumnya Boleh Untuk Membantu Kas Negara” tersebut dimuat […]

  • Silaturahim Halal Bihalal dan Rakerancab II PAC GP Ansor Purworejo

    Silaturahim Halal Bihalal dan Rakerancab II PAC GP Ansor Purworejo

    • calendar_month Senin, 15 Mei 2023
    • account_circle admin
    • visibility 249
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Purworejo menggelar Halal Bihalal dan Rakerancab (Rapat Kerja Cabang) Ke-2 sesuai dengan masa khidmah 2021/2023 yang bertempat di Gedung Olahraga Pemdes Wonotulus Kecamatan Purworejo, pada Minggu, 14/05/2023 pukul 09.20 WIB. Hadir pada acara ini KH Khabib Anwar selaku Ketua PC GP Ansor Purworejo, Zaenal Arifin, […]

  • Al-Syami Kecam Tindakan Repressif Assad

    Al-Syami Kecam Tindakan Repressif Assad

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
    • account_circle admin
    • visibility 413
    • 1Komentar

    Jakarta, NU Online Ikatan Alumni Suriah (Syam) Indonesia (Al-Syami) mengimbau umat Islam senantiasa melihat konflik di Suriah secara objektif dan tidak terjebak pada subjektivitas kelompok agama atau pendukung pemerintahan Suriah. “Dunia Islam hendaknya melihat kerangka konflik dengan obyektivitas persatuan umat muslim, bukan kepentingan suatu negara tertentu, sekte, atau golongan,” ujar M. Najih Arromadloni, Sekretaris al-Syami, […]

expand_less