Breaking News
light_mode
Trending Tags

Lika-liku Berdirinya Muslimat NU

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
  • visibility 595
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ide kuat untuk mendirikan wadah khusus bagi perkumpulan perempuan Nahdlatul Ulama sebetulnya muncul sejak tahun 1938. Meskipun, peringatan hari lahir Muslimat Nahdlatul Ulama, yang menjadi produk final dari gagasan tersebut, dihitung sejak tahun 1946. Para perempuan NU melihat adanya kebutuhan untuk mendirikan organisasi tersendiri. Mereka yang sudah berperan di banyak sektor merasa belum terkonsolidasi dengan maksimal karena belum ada wadah formal yang menggerakkannya.

Lebih luas lagi, para perempuan NU merasakan organisasi khusus penting didirikan bukan semata karena tuntutan sejarah perjuangan kemerdekaan tetapi juga didorong oleh keprihatinan yang mendalam atas keadaan, sikap, pandangan, dan perlakuan yang kurang adil terhadap perempuan.

Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, 1938 menjadi momen awal gagasan mendirikan organisasi perempuan NU itu muncul. Dua tokoh, yakni Ny R Djuaesih dan Ny Siti Sarah tampil sebagai pembicara di forum tersebut mewakili jamaah perempuan. Ny R Djuaesih secara tegas dan lantang menyampaikan urgensi kebangkitan perempuan dalam kancah organisasi sebagaimana kaum laki-laki. Ia menjadi prempuan pertama yang naik mimbar dalam forum resmi organisasi NU. Secara internal, di NU ketika itu juga belum tersedia ruang yang luas bagi jamaah perempuan untuk bersuara dan berpartisipasi dalam penentuan kebijakan. Ide itu pun disambut dengan perdebatan sengit di kalangan peserta Muktamar.

Setahun kemudian, tepatnya pada Muktamar NU ke-14 di Magelang, saat Ny Djuaesih mendapat tugas memimpin rapat khusus wanita oleh RH Muchtar (utusan NU Banyumas) yang waktu itu dihadiri perwakilan dari daerah-daerah di Jawa Tengah dan Jawa Barat, seperti Muntilan, Sukoharjo, Kroya, Wonosobo, Surakarta, Magelang, Parakan, Purworejo, dan Bandung. Forum menghasilkan rumusan pentingnya peranan wanita NU dalam organisasi NU, masyarakat, pendidikan, dan dakwah.

Rumusan tentang pentingnya peranan wanita NU dalam organisasi kian menemukan sosok formalnya ketika berlangsung Muktamar NU ke-15 di Surabaya tahun 1940, yakni dengan diterimanya rumusan tersebut lengkap dengan anggaran dasar dan pengurus besarnya. Hanya saja, kala itu Muktamar belum mau memberikan pengakuan secara resmi.

Akhirnya pada tanggal 29 Maret 1946, bertepatan tanggal 26 Rabiul Akhir 1365 H, keinginan jamaah wanita NU untuk berorganisasi diterima secara bulat oleh para utusan Muktamar NU ke-16 di Purwokerto. Hasilnya, dibentuklah lembaga organik bidang wanita dengan nama Nahdlatoel Oelama Moeslimat (NOM) yang kelak lebih populer disebut Muslimat NU. Hari inilah yang di kemudian hari diperingati sebagai hari lahir Muslimat NU sampai sekarang. Pendirian lembaga ini dinilai relevan dengan kebutuhan sejarah. Pandangan ini hanya dimiliki sebagian kecil ulama NU, di antaranya KH Mohammad Dahlan, KH Abdul Wahab Chasbullah, dan KH Saifuddin Zuhri.

Dalam perjalanannya, melalui Muslimat NU para perempuan NU mulai menapaki perjuangan yang lebih mantap dan percaya diri. NU sebagai organisasi induknya tetap menjadi garis ideologi dan perjuangan yang tak boleh dilanggar. Dalam kiprahnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, NOM menjadi kekuatan baru yang penting, khususnya dalam isu-isu keperempuanan. Atas dasar prestasi dan kiprahnya yang demikian, Muktamar NU ke-19 di Palembang pada tahun 1952, Muslimat NU memperoleh hak otonomi. Muktamirin sepakat memberikan keleluasaan bagi Muslimat NU dalam mengatur rumah tangganya sendiri serta memberikan kesempatan untuk mengembangkan kreativitasnya di medan pengabdian. Sejak menjadi badan otonom NU, Muslimat lebih bebas bergerak dalam memperjuangkan hak-hak wanita dan cita-cita nasional secara mandiri.

Dalam perjalanannya, Muslimat NU bergabung bersama elemen perjuangan wanita lainnya, utamanya yang tergabung dalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani), sebuah federasi organisasi wanita tingkat nasional. Di Kowani, Muslimat NU menduduki posisi penting. Beberapa tokoh Muslimat NU ditunjuk menjadi salah satu ketua, seperti Ny Machmudah Mawardi (1956-1965), Ny HSA Wahid Hasyim (1966-1968), Ny Asmah Syachruni (1968-1973), Dra Farida Purnomo (1978-1981), dan Ny Aisyah Hamid Baidlowi (1995-1998). (Mahbib)

Diolah dari buku “50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa”, 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Berkas Pendampingan Lokal Desa 2015

    Berkas Pendampingan Lokal Desa 2015

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Download

  • Posko Mudik, Partisipasi dalam Padatnya Kegiatan Ansor – Banser Purworejo

    Posko Mudik, Partisipasi dalam Padatnya Kegiatan Ansor – Banser Purworejo

    • calendar_month Selasa, 5 Jul 2016
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

    Jalur Selatan Jawa Tengah yang melalui wilayah Purworejo adalah salah satu jalur mudik utama pada setiap musim Lebaran. Fakta inilah yang melatar belakangi dibukanya posko mudik oleh Ansor – Banser Purworejo setiap tahunnya termasuk pada musim lebaran tahun 2016 M / 1437 H ini. Pada tahun ini posko mudik Ansor – Banser Purworejo dibuka di […]

  • Sepenggal Cerita Dibalik Nama GP Ansor

    Sepenggal Cerita Dibalik Nama GP Ansor

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 817
    • 1Komentar

    Kelahiran Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) diwarnai oleh semangat perjuangan, nasionalisme, pembebasan, dan epos kepahlawanan. GP Ansor terlahir dalam suasana keterpaduan antara kepeloporan pemuda pra dan pasca Sumpah Pemuda, semangat kebangsaan, kerakyatan, dan sekaligus spirit keagamaan. Karenanya, kisah Nahdlatul Wathan, Taswirul Afkar, Syubbanul Wathan, Persatuan Pemuda NU, ANO, Laskar Hizbullah, Barisan Kepanduan Ansor, dan Banser […]

  • GP Ansor Terima Penghargaan Organisasi Lintas Iman dari KWI

    GP Ansor Terima Penghargaan Organisasi Lintas Iman dari KWI

    • calendar_month Kamis, 27 Feb 2025
    • account_circle admin
    • visibility 97
    • 1Komentar

    Jakarta – Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Christophorus Tri Harsono, secara langsung memberikan penghargaan kepada tujuh tokoh muda yang menjabat sebagai ketua umum organisasi pemuda lintas iman. Acara ini berlangsung di Aula KWI, Menteng, Jakarta Pusat, pada Selasa malam, 25 Februari 2025. Para penerima penghargaan tersebut adalah Addin Jauharudin […]

  • Bincang Sekitar Hukum Haid Bersama MDS Rijalul Ansor Pituruh

    Bincang Sekitar Hukum Haid Bersama MDS Rijalul Ansor Pituruh

    • calendar_month Kamis, 25 Jan 2024
    • account_circle PAC Pituruh
    • visibility 106
    • 2Komentar

    Pada malam Kamis yang penuh berkah, Pengurus Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Pituruh kembali menggelar Majlis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor. Kali ini, kegiatan rutin tersebut diselenggarakan di rumah sahabat Sekretaris Fatkhan Anis, menciptakan atmosfer keagamaan dan kebersamaan yang hangat. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua PAC GP Ansor Pituruh, Sahabat Malik Khairul […]

  • Sahabat Miftahuzaman: Islam Masuk Ke Indonesia Melalui Pendekatan Budaya

    Sahabat Miftahuzaman: Islam Masuk Ke Indonesia Melalui Pendekatan Budaya

    • calendar_month Selasa, 23 Nov 2021
    • account_circle Muhammad Hidayatullah
    • visibility 481
    • 0Komentar

    Departemen Seni Budaya PC GP Ansor Kabupaten Purworejo bersama dengan Tim Media Ansor se Kabupaten Purworejo melakukan kunjungan edukasi ke Museum Tosan Aji Kabupaten Purworejo pada Minggi (21/11). Wakil Ketua PC GP Ansor Bidang Seni Budaya, Sahabat Miftahuzzaman menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini bertujuan untuk mendekatkan generasi milenial dengan sejarah bangsanya. “Penting bagi kita untuk […]

expand_less