Breaking News
light_mode
Trending Tags

Yai Abdullah Ubaid, Pemuda Istimewa

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 17 Jun 2020
  • visibility 1.044
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KH Abdullah Ubaid termasuk sosok yang telah menunjukkan keistimewaannya sejak muda. Sosok ulama yang satu ini digolongkan sebagai salah seorang tokoh pemuda yang mendahului zamannya. Keistimewaannya terlihat ketika menjadi satu-satunya mubaligh yang mendapat kesempatan mengisi pengajian rutin di NIROM, radio milik Pemerintah Hindia Belanda.

Abdullah Ubaid lahir di Kawatan V Surabaya, pada hari Jumat 4 Jumada al-Tsaniyah 1318 H/ 1899 M. Ia adalah anak kedua dari pasangan Muhammad Ali bin Kiai Muhyiddin (Surabaya) bin Raden Onggo Yogyakarta dengan Syafi’ah binti Kiai Yasin, Pasuruan.

Kiai Muhammad Ali, ayah dari Abdullah Ubaid, dikenal sebagai ualam ternama di Surabaya. Kiai Ali wafat ketika Abdullah Ubaid masih berumur sebelas tahun. Kemudian Abdullah Ubaid diasuh oleh KH M. Yasin, Pasuruan, sahabat karib ayahnya, ayah angkat yang kelak menjadi mertuanya.

Pendidikan formal pertama didapat dari Madrasah Al-Chairiyah. Setamat dari madrasah tersebut, Ubaid kembali ke Pasuruan belajar kitab pada ayah angkatnya. Kemudian pada usia 14 tahun ia dikirim ke Tebuireng, bersama dengan putra Kiai Yasin, Muhammad, untuk meneruskan pendidikan pada Hadhratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari. 

Di Tebuirenglah Abdullah Ubaid berteman akrab dengan Mahfudz Siddiq dari Jember, seorang pemuda yang kemudian hari dikenal sebagai penggerak NU lewat majalah dan organisasi kepemudaan.

Sekembalinya dari Tebuireng, tahun 1919 dia diangkat menjadi guru di Madrasah Nahdlatul Wathan dan juga diminta mengajar di Madrasah Al-Chairiyah, tempat belajar sebelumnya, yang bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Arab.

Abdullah Ubaid mampu memberikan kontribusi yang besar bagi kemajuan Nahdlatul Wathan, ketika ia berperan di dalamnya baik sebagai guru maupun sebagai penggeraknya yang dapat membuka cabang-cabang di beberapa kota di luar Surabaya.

Mendirikan Ansor

Nama-nama seperti Abdullah Ubaid, Mahfudz Siddiq, dan Thohir Bakri tak dapat dipisahkan dari pendirian Ansor. Organisasi tersebut semula bernama Syubbanul Wathan yang didirikan pada tahun 1924. Kemudian pada tahun 1932 berubah menjadi BANO (Barisan Ansor Nahdlatul Oelama), yang kemudian menjadi ANO (Ansor Nahdlatul Oelama), dan seterusnya GP( Gerakan Pemuda) Ansor, hingga sekarang.

Peran utama Ansor pada saat itu, yakni membangun dan membangkitkan semangat pemuda untuk bersama-sama dengan pemuda kekuatan bangsa lainnya, mempersatukan kekuatan pemuda untuk memperjuangkan hak-haknya yang terjajah di negerinya sendiri.

Ansor Nahdlatul Oelama (ANO), adalah nama atas saran KH. Abdul Wahab. Nama ini menurutnya diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad Saw. kepada penduduk Madinah (kaum Ansorin) yang telah berjasa dalam membela dan ikut serta dalam perjuangan dan menegakan agama kaum muhajirin (Islam). Pengorbanan lahir maupun batin, mereka tampil sebagai pejuang yang tangguh dalam membela dan membentengi perjuangan Islam.

Kaum Ansor, berarti kaum asli pribumi, yang tak boleh meninggalkan karakter dan tradisi-tradisi arifnya, tetapi juga harus mau merima yang baik dari luar, yaitu dari kaum muhajirin (Makkah). Diktum ini kemudian dikenal luas oleh Nahdliyin dengan al-muhafadzah ala qadim as-shalih wal-akhdzu bil jadid al-ashlah (menjaga tradisi yang baik, dan mengambil baru yang baik). 

Wafat dalam usia muda

Dalam kehidupan manusia, Ada orang yang hidupnya singkat, tapi penuh berkah dan manfaat. Adapula orang yang usianya panjang, tapi kurang bermanfaat. Abdullah Ubaid termasuk dalam kelompok yang pertama. Beliau meskipun diberi usia yang relatif singkat, namun mampu memanfaatkannya sebaik mungkin.

Kiai Abdullah Ubaid wafat dalam usia muda (39 tahun), beliau meninggalkan seorang istri dan tujuh putra-putrinya yang masih kecil-kecil. Anak bungsunya, Ali Ubaid, sewaktu ditinggal ayahnya, baru berusia 33 hari. Putra-putrinya yang masing-masing Nadzifah (meninggal ketika kecil), Anisah (meninggal menjelang nikah) Lutfi (meninggal ketika kecil), M. Yunus Ubaid (pensiunan perwira Angkatan Udara, tinggal di Singasari, Malang), KH Zakky Ubaid (Mustasyar NU Pasuruan), KH Shobih Ubaid (Jakarta), dan KH Ali Ubaid (Jakarta).

Sejak peristiwa terjatuh bersama motornya, usai mengikuti Muktamar NU ke-13 di Menes, Banten, Jawa Barat yang berlangsung 16 Juni 1938, kondisi kesehatan Kiai Abdullah terus menurun. 

Pada hari Kamis 20 Jumada al-Tsaniyah 1357 H bertepatan dengan 8 Agustus 1938, Kiai Abdullah Ubaid berpulang ke rahmatullah, hingga wafatnya, Abdullah Ubaid masih menjabat Voorzetter HBNO, Vice Voorzetter PBANO, A’wan Dakwah HBNO, Administrateur Majalah Berita Nahdlatul Oelama, dan masih banyak lagi jabatan lainnya. (Aji Najmudin, Sumber Saifudin Zuhri, Guruku orang-orang dari pesantren dan Saifullah Ma’shum, Karisma Ulama Kehidupan Ringkas 26 Tokoh NU)

Artikel asli: https://www.nu.or.id/post/read/42566/sepenggal-kisah-abdullah-ubaid

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 9 Tim Siap Ramaikan Liga Santri Zona Kedu

    9 Tim Siap Ramaikan Liga Santri Zona Kedu

    • calendar_month Minggu, 17 Sep 2017
    • account_circle admin
    • visibility 488
    • 1Komentar

    Sembilan tim siap ikut meramaikan kompetisi Liga Santri Nusantara (LSN) 2017 Region Jawa Tengah II Zona Kedu. Mereka akan memperebutkan satu tiket ke babak final Region Jateng II, di mana satu tiket sudah digenggam oleh pemenang dari Zona Soloraya, Walisongo FC. Penanggung jawab LSN Jateng II Zona Kedu Sholahuddin Al-Ahmadi menerangkan sembilan tim tersebut akan […]

  • Sambut Transformasi Menjadi UNU Jateng, IKA STAINU Purworejo Sukses Gelar Reorganisasi Lintas Generasi

    Sambut Transformasi Menjadi UNU Jateng, IKA STAINU Purworejo Sukses Gelar Reorganisasi Lintas Generasi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 460
    • 5Komentar

    PURWOREJO – Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Purworejo sukses menggelar agenda reorganisasi akbar pada Sabtu (16/05/2026). Bertempat di Auditorium STAINU Purworejo, momentum bersejarah ini dihadiri oleh jajaran alumni lintas generasi—mulai dari era kampus masih bernama Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTII), Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama (STITNU), hingga lulusan […]

  • Tazkiyatul Muthaminnah Nahkoda Baru Fatayat NU Jawa Tengah

    Tazkiyatul Muthaminnah Nahkoda Baru Fatayat NU Jawa Tengah

    • calendar_month Rabu, 9 Nov 2016
    • account_circle admin
    • visibility 426
    • 0Komentar

    Semarang, ansorpurworejo Pengurus Wilayah Fatayat NU Jawa Tengah mengadakan Konferensi Wilayah yang ke-13, Sabtu-Ahad (5-6/11) dengan mengusung tema “Implementasi Nilai-nilai Aswaja menuju Fatayat NU yang Bermartabat.” Agenda lima tahunan ini dihadiri oleh Ketua PWNU Jateng KH Abu Hafsin beserta perwakilan banom-banom NU Jateng diantaranya dari LP Ma’arif NU, LAZISNU, LKKNU, Muslimat NU, IPPNU dan lain-lain. […]

  • Dalam Semalam 2.781 Kader Baru Ansor Jateng Dibaiat, Purworejo diantaranya

    Dalam Semalam 2.781 Kader Baru Ansor Jateng Dibaiat, Purworejo diantaranya

    • calendar_month Selasa, 20 Mar 2018
    • account_circle admin
    • visibility 1.872
    • 0Komentar

    Kepengurusan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah, terbilang paling gencar melakukan rekrutmen anggota baru dan menggelar kaderisasi. Kegiatan berupa Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) maupun Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) untuk Banser. Ketua Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Tengah H Sholahuddin Aly atau Gus Sholah mengatakan, saat ini di Jateng kegiatan kaderisasi semakin deras. Makin banyak […]

  • KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

    KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

    • calendar_month Rabu, 1 Feb 2017
    • account_circle admin
    • visibility 656
    • 2Komentar

    KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo. […]

  • Ribuan Santri di Kecamatan Kemiri Ikuti Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2022

    Ribuan Santri di Kecamatan Kemiri Ikuti Upacara Peringatan Hari Santri Nasional 2022

    • calendar_month Sabtu, 22 Okt 2022
    • account_circle admin
    • visibility 289
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Gelar upacara Hari Santri Nasional 2022 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Kemiri gandeng Forkompimcam Camat Kemiri. kegiatan hari santri diikuti oleh 1000 santri se-kecamatan Kemiri beserta muspika kecamatan Kemiri. Sabtu (22/10/2022) Hadir pada kesempatan ini Camat Kemiri, Kapolsek Kemiri, Danramil Kemiri, PC Muhammadiyah Kemiri, Kepala KUA Kemiri, Kepala Sekolah Ma’arif Se […]

expand_less