RMI PCNU Purworejo Gelar Sarasehan “Revolusi Sampah Pesantren: Dari Masalah Jadi Berkah”
- account_circle Syukri Ab
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 18
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PURWOREJO – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (RMI PCNU) Kabupaten Purworejo menggelar kegiatan Sarasehan Pengurus Pondok Pesantren se-Kabupaten Purworejo pada Ahad (17/5/2026). Mengusung tema “Revolusi Sampah Pesantren: Dari Masalah Jadi Berkah”, kegiatan ini berlangsung di gedung SMK Nurussalaf yang berada di kompleks Ponpes Nurussalaf Kemiri, Purworejo.
Kegiatan strategis ini dihadiri oleh 61 perwakilan Pondok Pesantren NU se-Kabupaten Purworejo. RMI PCNU menghadirkan para pakar di bidangnya sebagai narasumber, yaitu perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup dan Perikanan (DLHP) Kabupaten Purworejo, Bu Suci Indriasari dan Pak Imam Fauzi, serta Direktur Krapyak Peduli Sampah (KPS) Yogyakarta, Andika Muhammad Nuur, S.Ak.
Sampah Pesantren Jadi PR Besar
Dalam sambutannya, Ketua RMI PCNU Purworejo, KHR. M Amir Kilal, S.Ag., mengungkapkan bahwa latar belakang pemilihan tema ini didasari atas keresahan para pengurus mengenai pengelolaan limbah di lingkungan pesantren.
”Ngobrol-ngobrol masalah sampah di pondok pesantren itu cukup menjadi PR besar bagi pesantren yang tentunya harus bisa segera ditangani dan ditanggulangi. Semoga dari kegiatan ini para pengurus tidak hanya paham teori saja, akan tetapi bisa dipraktikkan di pondok masing-masing,” ujar KHR. M Amir Kilal.
Apresiasi tinggi juga datang dari Ketua PCNU Kabupaten Purworejo, KH. M. Haekal, S.Pd.I. Ia menyebutkan bahwa volume sampah di Kabupaten Purworejo yang mencapai hampir 300 ton per hari menjadikan pesantren, sebagai bagian dari masyarakat, memiliki tanggung jawab besar untuk ikut mengatasinya.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada DLHP Purworejo dan Direktur Krapyak Peduli Sampah yang berkenan memberikan ilmu. Semoga ikhtiar kita bersama bisa mengelola sampah dengan baik,” tutur KH. M. Haekal.
Mendorong Konsep Eco-Pesantren dan Ekonomi Sirkular
Pada sesi materi pertama, Bu Suci Indriasari selaku perwakilan DLHP Purworejo memaparkan program “Eco-Pesantren”. Program ini mengintegrasikan wawasan konservasi lingkungan dengan nilai-nilai religi, berlandaskan prinsip I’malu fauqo ma’amilu (berusaha lebih dari rata-rata orang lain secara bersungguh-sungguh).
Secara praktik, pesantren didorong memilah sampah asrama. Sampah organik (55–70%) diarahkan untuk diolah menjadi pupuk, biogas, hingga budidaya maggot. Sementara sampah anorganik (30–45%) dikelola melalui Bank Sampah Asrama (BSA) agar bernilai ekonomi.
Sesi kedua diisi oleh Direktur Krapyak Peduli Sampah (KPS), Andika Muhammad Nuur, S.Ak., yang membagikan kisah sukses Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta. KPS berhasil menerapkan inovasi ekstrem dengan memilah sampah hingga 36 kategori—mengungguli negara maju seperti Jepang (23 jenis) dan Swedia (15 jenis).
Melalui slogan “Pilah, Olah, Berkah” di lahan mini seluas 90 meter persegi, KPS sukses memotong volume sampah harian dari 2 ton menjadi hanya 100 kilogram. Transformasi pola pikir ini juga mengubah beban biaya buang sampah swasta sebesar Rp30 juta per bulan menjadi sumber penghasilan yang pernah mencapai Rp20 juta per bulan melalui ekonomi sirkular bersama UMKM sekitar.
”Dulu kan sampah dianggap kotor, bau, enggak bisa diapa-apakan. Sekarang sampah itu investasi,” tegas Andika.
Percepatan Digitalisasi Lewat Portal Digdaya Pesantren NU
RMISetelah sesi tanya jawab mengenai pengelolaan sampah selesai, acara dilanjutkan dengan sosialisasi program “Digdaya Pesantren X Portal Pesantren NU” yang diinisiasi oleh PBNU.
Sekretaris RMI PCNU Purworejo, Muhammad Syukri Abadi, menjelaskan bahwa program digitalisasi ini hadir untuk menjawab persoalan klasik terkait pendataan pesantren NU yang selama ini dinilai belum rapi dan kurang memberikan nilai tambah bagi pesantren itu sendiri.
Melalui platform Digdaya Pesantren, setiap pesantren NU nantinya akan divalidasi dan dipromosikan secara profesional melalui halaman profil resmi di laman resmi https://pesantren.nu.id/. Sistemnya dirancang inovatif mirip dengan platform pemesanan akomodasi online (seperti Traveloka), lengkap dengan informasi lokasi, keunggulan, hingga tombol aksi pendaftaran santri baru.
”Masalah intinya adalah pesantren sudah didata, tapi belum diberi nilai tambah. Ini bukan sekadar pendataan pesantren, tapi cara agar pesantren NU lebih terlihat, lebih terhubung, dan lebih berdaya di era digital,” pungkas Syukri menutup kegiatan sarasehan tersebut.
- Penulis: Syukri Ab

Saat ini belum ada komentar