Breaking News
light_mode
Trending Tags

Biografi KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 27 Apr 2021
  • visibility 1.116
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz lahir di Kota Kudus. Beliau merupakan anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Beliau ditinggalkan ibundanya semenjak kecil tepatnya ketika berusia 8 tahun. Sepeninggal ibunya kiai Sya’roni di asuh oleh sang ayah. Namun masa ini pun tidak berlangsung lama. Karena menginjak usiannya yang ke 13 tahun, kiai Sya’roni ditinggal oleh ayahnya. Lengkap sudah duka kiai Sya’roni karena sejak saat itu ia menjadi anak yatim piatu.

Pada tahun 1962 KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis bernama Afifah. Dari pernikahan itu beliau deianugerahi 8 anak putra, 2 anak laki-laki dan 6 anak perempuan.

PENDIDIKAN

Sejak kecil KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz dikenal sebagai anak yang gandrung mengkaji agama, mulai dari al-Qur’an sampai tauhid, fikih, tasawuf dan sebagainya. Terbukti, meskipun berasal dari keluarga dari ekonomi pas-pasan, beliau rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kota Kudus.

Sya’roni kecil termasuk anak yang cerdas. Pada usia 11 tahun berliau sudah hafal kitab Alfiyah Ibnu Malik bahkan hafal al-Quran. Dalam pendidikan formalnya beliau sempat mengenyam pendidikan di Madrasah Diniyah Mu’awanah di Madrasah Ma’ahid lama (pada masa KH. Muchit). Sedangkan pendidikan non formalnya, baliau banyak belajar dari satu tempat ke tempat lain.

Untuk belajar al-Qur’an utamanya Qira’ah al-Sab’ah berliau berguru kepada KH. Arwani Amin Kudus yang mengasuh Pondok Yanbu’ul Qur’an. Beliau juga sempat berguru kepada KH. Turaichan Adjhuri. Sedangkan guru-gurunya yang lain adalah KH. Turmudzi dan KH. Asnawi dan lain-lain.

Kiai Sya’roni banyak dikenal sebagai sosok yang menguasai ilmu agama secara interdisipliner. Beliau tidak hanya mahir dalam ilmu tafsir, tetapi juga dalam ushul al-fiqh, fikih, mantiq, balaghah dan sebagainya. Dalam hal al-Qur’an, baliau tidak hanya pandai membacanya namun juga pintar melagukannya bahkan beliau menjadi dewan Musabawah Tilawatil al-Qur’an (MTQ) tingkat nasional.

Setelah sekian lama belajar, KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz mulai berdakwah di masyarakat dalam usianya yang sangat muda. Dalam melaksanakan dakwah Islamiyah ini, Kiai Sya’roni menggunakan dua model. Pertama yakni model dakwah di masjid-masjid atau di sebuah rumah warga yang dijadikan tempat untuk mengaji; kedua adalah pengajian umum atau tabligh akbar.

Metode pertama ini biasanya dipakai dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Pengajian yang dilakukan sudah ditetapkan jadwalnya dan proses pengajarannya pun dilakukan secara berkesinambungan.

Sedang model kedua biasanya dipakai untuk berdakwah di luar daerah. Hal ini karena di samping masalah waktu yang tidak memungkinkan untuk berdakwah dengan model pertama juga terkadang karena permintaan dari penduduk setempat.

Dalam melakukan dakwah Islamiyah, sekitar tahun 1960 sampai 1970-an, Kiai Sya’roni dikenal sebagai tokoh yang sangat keras. Apalagi saat itu adalah masa-masa ideologi komunisme yang dilancarkan PKI.

Gaya yang “keras” ini selalu dipakai Kiai Sya’roni dalam berbagai kesempatan karena keadaan waktu itu mengandaikan demikian. Baik ketika khutbah maupun pengajian umum atau tabligh akbar beliau selalu tampil dengan mengambil hukum yang tegas ketika dihadapkan pada suatu permasalahan yang terjadi dalam masyarakat (waqi’iyyah). Konon gaya seperti ini sering dipakai KH. Turaikhan dalam berdakwah.

Namun sekitar periode 1980-an, kiai Sya’roni mulai banting setir. Gaya dakwah yang selama ini dilakukan dengan nada keras dirubah total dengan memakai gaya yang melunak. Perubahan gaya dalam berdakwah ini dilakukan dengan pendekatan komparatif yakni merujuk kepada pergeseran masyarakat dari waktu ke waktu serta logika kebutuhan masyarakat yang tiap saat berubah. Karena masyarakat dari waktu ke waktu berubah maka metode berdakwah pun mesti berubah

PERAN DI NAHDLATUL ULAMA

Dalam konteks kepartaian, pada 1955 Kiai Sya’roni merupakan sosok yang rajin berkampanye untuk Partai Ka’bah. Sampai dengan tahun 1970-an Kiai Sya’roni juga sering terlibat aktif dalam Partai NU sampai akhirnya NU mengambil keputusan kembali ke Khittah 1926 dalam Muktamar Situbondo. Dan beliau merupakan orang NU yang mendukung kembali khittah NU 1926.

Adapun pasca khittah NU kiai Sya’roni juga sempat terlibat di Partai persatuan Pembangunan (PPP). Namun beliau hanya bermain di belakang layar dan tidak berada di garis struktural kepartaian. Beliau cenderung mengambil posisi netral. Langkah ini menjadikan kiai Sya’roni mampu diterima oleh semua kalangan. Hubungan dengan pemerintah daerah yang waktu itu didominasi oleh Golkar tetap terjaga dengan baik. Ditambah lagi dengan pembawaan beliau yang lunak dan halus.

Baliau juga sangat menghindari kepentingan partai dalam setiap pengajian yang dilakukan. Kegiatan kultural Kiai Sya’roni tetap berjalan dengan baik. Bahkan beliau menjadi sosok yang disegani, baik oleh pemerintah daerah maupun kelompok-kelompok yang lain.

Selain itu, selama perjuangannya di Kudus, Kiai Sya’roni telah memberikan banyak hal. Tradisi santri yang sekarang ini lekat dengan masyarakat Kudus rasanya tak bisa dilepaskan dari jasa beliau. Pengajian rumahan atau di masjid-masjid seperti di Masjid Al Aqsha Menara Kudus masih rutin dijalankan.

Pengajian tersebut di antaranya adalah membaca al-Qur’an dan tafsir al-Qur’an. Adapun waktunya setelah Subuh. Dalam setiap pengajiannya, kiai Sya’roni juga mampu men-setting iklim toleransi antara beberapa kelompok yang ada, sebut saja kaum Nahdliyyin dan Muhammadiyah.

Dalam bidang pengembangan fisik, kiai Sya’roni banyak memberikan jasa dalam mengembangkan madrasah-madrasah di kota Kudus, seperti Madrasah Banat NU, Muallimat, Qudsiyyah, Tasywiq al-Thullab al-Salafiyah (TBS), dan Madrasah Diniyah Keradenan Kudus.

Kiai Sya’roni juga tercatat sebagai penasehat Rumah Sakit Islam YAKIS dan menjabat mustasyar NU cabang Kudus. Beliau juga mengisi pengajian rutin tiap ahad pagi di Masjid Jama’ah Haji Kudus (JKH).

KARYA-KARYA

Kiai Sya’roni merupakan sosok yang bukan hanya pandai membaca kitab dan berpidato, namun beliau juga tergolong produktif dalam berkarya. Tercatat beliau kerap menulis, mensyarah dan menterjemah beberapa kitab yang digunakan untuk mengajar. Kitab-kitab tersebut banyak dikonsumsi pleh madrasah-madrasah di kota Kudus. Adapun karya-karya tersebut adalah :

  1. Al-Faraid al-Saniyah. Kitab ini banyak mengupas tentang doktrin ahlusunnah wal jama’ah. Penyusunan kitab ini konon diilhami oleh kitab Bariqat al-Muhammadiyah ‘ala Tariqat al-Ahmadiyah milik KH. Muhammadun Pondowan, Tayu, Pati yang saat itu rajin berpidato dan mengisi pengajian untuk menolak gerakan Muhammadiyah di kota Kudus. Kiai Sya’roni menulis kitab ini selama kurang lebih dua tahun.
  2. Faidl al-Asany. Kitab ini terbagi ke dalam tiga juz dan banyak membahas tentang Qira’ah al-Sab’iyyah.
  3. Al-Tashrih al-Yasir fi ‘ilmi al-Tafsir. Kitab ini banyak mengupas tentang tafsir al-Qur’an mulai dari pembacaan, lafal-lafalnya, sanad, arti-arti yang berhubungan dengan hukum dan sebagainya. Kitab setebal 79 halaman ini ditulis pada tahun 1972 M/1392 H.
  4. Tarjamah Tarsil al-Turuqat. Kitab ini membahas ilmu manthiq.
  5. Tarjamah al-Ashriyyah. Kitab ini membahas ilmu Ushul al-Fiqh yang banyak mengupas tentang lafadz ‘amm dan khas, mujmal dan mubayyan, ijma, qiyas dan sebagainya. Kitab ini disusun pada hari ahad siang tanggal 29 Juni 1986 M/21 Syawal 1406 H.
  6. Qira’ah al-Ashriyyah. Kitab ini terdiri dari tiga juz. Penyusunan kitab ini dimaksudkan, sebagaimana penuturan Kiai Sya’roni, untuk memudahkan para santri atau para siswa dalam mempelajari kitab kuning.

source: Laduni.id

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kyai Akhmad Burhani : Ansor Bayan Siap Giatkan Kaderisasi Secara Maksimal

    Kyai Akhmad Burhani : Ansor Bayan Siap Giatkan Kaderisasi Secara Maksimal

    • calendar_month Senin, 10 Jan 2022
    • account_circle admin
    • visibility 347
    • 0Komentar

    BAYAN, ansorpurworejo/org – Puluhan kader muda NU mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang diselenggarakan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Bayan selama tiga hari 7-9 januari 2022, yang bertempat di Ponpes Roudhotut Tholibin Desa Ketiwijayan, Bayan, Purworejo. K. Akhmad Burhani S.Sy, ketua PAC GP Ansor Kecamatan Bayan menyampaikan bahwa antusias kader muda NU […]

  • Desa Seren Tebar Benih Ikan 10.000 ekor dikali

    Desa Seren Tebar Benih Ikan 10.000 ekor dikali

    • calendar_month Selasa, 26 Okt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 398
    • 1Komentar

    GEBANG. ansorpurworejo.org – Dalam rangka mempPeringati Hari Santri Nasional (HSN) kegiatan yang diselenggarakan oleh GP Ansor Ranting desa Seren bersama Santri TPQ & asatidz se desa Seren yang berjumlah 450 santri dari jumlah TPQ 15 tempat, Minggu, 24/10/2021. Dalam rangka memperingati hari santri tahun 2021 ansor ranting desa seren mengadakan Sepeda Santai, Lomba santri dan […]

  • Fatayat NU Purworejo Gelar Sekolah Kader

    Fatayat NU Purworejo Gelar Sekolah Kader

    • calendar_month Senin, 22 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 629
    • 2Komentar

    PURWOREJO – Pimpinan Cabang Fatayat NU Kabupaten Purworejo menggelar Sekolah Kader, Minggu (21/3). Kegiatan yang digelar di Gedung NU tersebut digelar sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas serta kualitas sumber daya kader-kader Fatayat NU sebagai aktivis perempuan mulai dari pengurus tingkat cabang hingga anak cabang. Ketua PC Fatayat NU, Rr Nurul Qomariyah SSos mengungkapkan, sekolah kader […]

  • Selapanan NU Ranting Kaliwungu: Jelaskan Barokahnya Berkhidmah dan Membaca Sholawat

    Selapanan NU Ranting Kaliwungu: Jelaskan Barokahnya Berkhidmah dan Membaca Sholawat

    • calendar_month Minggu, 9 Jul 2023
    • account_circle PAC Bruno
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Purworejo, 9 Juli 2023 – Pengajian rutin selapanan Nahdlatul Ulama (NU) Ranting Kaliwungu kembali digelar dengan semarak di Desa Kaliwungu, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Acara yang dihadiri oleh kepengurusan NU Ranting Kaliwungu dan berbagai banom (badan otonom) NU seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, dan IPPNU ini menjadi momen yang penuh berkah bagi seluruh peserta. Penceramah […]

  • Ansor Purworejo Sampaikan Ancaman dan Potensi Kehadiran PSDKU UNY

    Ansor Purworejo Sampaikan Ancaman dan Potensi Kehadiran PSDKU UNY

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 322
    • 0Komentar

    Purworejo, Sabtu, 16 Mei 2026 – Wacana pembukaan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Kabupaten Purworejo memantik diskusi yang hidup dan dinamis. Sebuah Focus Group Discussion (FGD) digelar PCNU Purworejo di Kampus IAIAN Purworejo, menghadirkan beragam elemen Nahdlatul Ulama (NU) Purworejo seperti Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), Lembaga […]

  • Generasi Muda NU Purworejo Dilatih Menulis Kebaikan di Workshop NU Online

    Generasi Muda NU Purworejo Dilatih Menulis Kebaikan di Workshop NU Online

    • calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Dalam upaya meningkatkan kapasitas kader di bidang jurnalistik, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Purworejo mengirimkan tiga kader mudanya untuk mengikuti Workshop Jurnalistik Filantropi yang diselenggarakan oleh NU Online Jawa Tengah. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat hingga Ahad, 23–25 Mei 2025, bertempat di Pesantren Miftahul Huda, Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Workshop bertajuk “Menulis Kebaikan, Menyuarakan Kepedulian” […]

expand_less