Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Ma’ruf Amin, Sosok Ahli Fiqih Terampil

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 3 Feb 2017
  • visibility 381
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Langkah kakinya pendek-pendek. Tatapan matanya sering ke arah depan. Jarang menunduk dan menengadah. Selalu tampak tersenyum. Egaliter dan dialogis. Tak menonjolkan diri sebagai tokoh penting di organisasi massa Islam terbesar negeri ini. Itulah KH Ma’ruf Amin.

Kiai Ma’ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma’ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.

Namun, dalam konteks NU, tak seperti para Rais Aam PBNU sebelum-sebelumnya yang semuanya tinggal di daerah, Kiai Ma’ruf tinggal di jantung ibu kota negara, Jakarta. Karena itu, ia mudah diakses oleh media. Ia bisa diwawancara kapan saja. Terlebih beliau ngantor hampir tiap hari; Senin-Selasa di Kantor MUI, Rabu-Kamis di kantor PBNU.

Penting diketahui, Kiai Ma’ruf ini bukan tipe kiai yang suka berdiri di belakang sebagai penjaga gawang. Jika diperlukan, beliau tak ragu maju ke depan, memimpin “serangan”. Ini karena beliau mengerti arah mata angin. Hampir separuh usianya memang dihabiskan di dunia politik. Pernah menjadi anggota lembaga legislatif, dari tingkat bawah hingga pusat.

Aktivitasnya di ranah politik praktis ini yang menyebabkan sebagian orang lupa bahwa Kiai Ma’ruf adalah seorang ahli fikih yang terampil. Para pelajar Islam belakangan tampaknya jarang mendengar noktah-noktah pemikiran keislamannya yang brilian. Padahal, hemat penulis, jika mau ditelusuri jejak akademiknya, Kiai Ma’ruf ini memiliki peran cukup signifikan dalam meletakkan fondasi pembaharuan pemikiran Islam terutama dalam NU.

Dulu ketika NU diserang sebagai organisasi tempat berhimpunnya para muqallid, Kiai Ma’ruf bersama para koleganya seperti Kiai Sahal, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Imron Hamzah, dan Kiai Wahid Zaini membuat sejumlah terobosan penting. Salah satunya adalah dibukanya pintu istinbath dan ilhaq dalam tubuh NU. Ini sudah dikukuhkan dalam keputusan Munas NU di Lampung, 21-25 Januari 1992.

Saat itu resistensi dari sejumlah kiai bermunculan. Menurut para kiai yang kontra, kerja istinbath dan ilhaq itu adalah kerja akademik para mujtahid seperti para imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad ibn Hanbal) atau sekurangnya para ulama madzhab setingkat Imam Nawawi dan Imam Rofi’i. Dan menurut mereka, di NU hingga sekarang tak ada kiai yang memenuhi kualifikasi sebagai mujtahid. Karena itu, tawaran istinbath dan ilhaq itu tak relevan bagi NU.

Penolakan itu terus menggema, dari dulu bahkan hingga sekarang. Tapi tak ada langkah mundur dari Kiai Ma’ruf dkk. Sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian. Hingga pidatonya dalam harlah NU ke 91 kemarin, Kiai Ma’ruf masih menegaskan posisi akademik yang sama, yaitu penampikannya pada tekstualisme dan kejumudan dalam berpikir.

Mengutip Imam al-Qarafi, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa stagnan pada bunyi-harafiah teks Islam tidak memadai untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan hari ini. Al-Qarafi berkata, al-jumud ‘alal manqulat dhalalun fi al din. Lebih bermasalah lagi, demikian Kiai Ma’ruf, adalah tekstualisme dalam memahami teks-teks keagamaan seperti dalam Kitab Kuning.

Sejak awal 90-an hingga sekarang, Kiai Ma’ruf istiqomah berkampanye tentang pentingnya memahami kitab kuning secara kontekstual, yaitu usaha untuk memahami teks kitab kuning lengkap dengan memahami konteks ketika teks itu disusun oleh pengarangnya.

Tak hanya itu. Seperti umumnya para pembaharu Islam lain, Kiai Ma’ruf pun mengusung ide kemaslahatan. Sebuah adagium yang potensial menghambat pendaratan kemaslahatan dan menahan laju dinamisasi pemikiran Islam secara umum coba dimodifikasi oleh Kiai Ma’ruf. Adagium itu di antaranya berbunyi, al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Kaidah ini sesungguhnya menuntut adanya keseimbangan antara merawat tradisi dan upaya inovasi. Namun, dalam implementasinya, bobot merawat tradisi lebih besar sehingga porsi untuk melakukan inovasi pemikiran kurang memadai.

Dari segi substansi, kaidah itu tentu tak bermasalah. Bahkan sangat baik. Namun, menurut Kiai Ma’ruf, kaidah itu perlu dilengkapi. Kiai Ma’ruf menawarkan modifikasi kaidah itu demikian, al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah.

Poinnya, menurut Kiai Ma’ruf, kemaslahatan itu harus selalu ditinjau ulang. Sebab, “boleh jadi sesuatu dipandang maslahat hari ini, dua tiga tahun lagi sudah tidak maslahat lagi”, tandas Kiai Ma’ruf. Karena itu, penelusuran pada ditemukannya puncak kemaslahatan adalah kerja akademik yang perlu terus menerus dilakukan.

Tapi, sebagaimana para pemikir Islam lain, Kiai Ma’ruf tak membuka aktivitas istinbath pada ranah ibadah. Urusan ibadah, beliau pasrah. Sementara di ranah mu’amalah termasuk siyasah, Kiai Ma’ruf terus melakukan eksplorasi dan inovasi-inovasi pemikiran. Semoga sehat selalu, Kiai.

KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ranting Ansor Dadirejo Adakan Panen Raya Untuk Wujudkan Kemandirian Ekonomi

    Ranting Ansor Dadirejo Adakan Panen Raya Untuk Wujudkan Kemandirian Ekonomi

    • calendar_month Minggu, 14 Mar 2021
    • account_circle Muhamad Ansori
    • visibility 1.211
    • 0Komentar

    Ranting Ansor Desa Dadirejo, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo mengadakan panen raya pada Hari Minggu (14/3) di areal persawahan Desa Dadirejo. Lahan sawah yang diolah kader Ansor Banser ini disewa dari Pemerintah Desa Dadirejo. Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Bagelen, sahabat Khanifudin Muhammad Diyanto menuturkan bahwa kegiatan seperti ini termasuk kegiatan pemberdayaan kader di bidang ekonomi. […]

  • Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi

    Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi

    • calendar_month Kamis, 19 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 521
    • 0Komentar

    Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan Kementerian Desan dan Transmigrasi Republik Indonesia (RI) menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental Spiritual bagi Daiyah di Daerah Transmigrasi di Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat  (BBPLM) Jakarta Timur, Selasa (17/10) lalu. Kegiatan ini dilaksanakn selama empat hari (16-20/10) dan diikuti 30 peserta terdiri atas […]

  • Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ANSOR dan Diklatsar Banser di lapangan Desa Tursino

    Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ANSOR dan Diklatsar Banser di lapangan Desa Tursino

    • calendar_month Senin, 2 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 713
    • 0Komentar

    Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) ANSOR dan Diklatsar Banser di lapangan Desa Tursino, Kecamatan Kutoarjo diikuti oleh ratusan pemuda dari Zona III mencakup Kecamatan Kutoarjo, Bayan, Grabag dan Butuh. Muslihuddin sebagai ketua panitia menegaskan kegiatan ini dilaksanakan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Purworejo untuk mencetak kader muda NU yang mandiri, dinamis, serta mampu berjuang di tengah […]

  • Sambut Ramadhan, MWC NU Purworejo adakan Ziarah Ulama, Habaib dan Aulia

    Sambut Ramadhan, MWC NU Purworejo adakan Ziarah Ulama, Habaib dan Aulia

    • calendar_month Sabtu, 3 Apr 2021
    • account_circle admin
    • visibility 911
    • 1Komentar

    PURWOREJO. ansorpurworejo.org – Bulan suci Ramadhan tinggal beberapa hari lagi, biasanya umat muslim akan berbondong-bondong untuk melaksanakan ziarah kubur baik ke makam Aulia’ maupun ke makam keluarga sebelum bulan Ramadhan. Salah satu hikmah berziarah kubur adalah untuk mengingatkan kita akan kehidupan akhirat yakni sebuah fase masa depan yang keabadiannya kekal. Ziarah ini dilaksakan pada Sabtu, […]

  • IPPNU Gelar Pelatihan Wirausaha untuk Kader, Guna Cetak Wirausahawan Muda

    IPPNU Gelar Pelatihan Wirausaha untuk Kader, Guna Cetak Wirausahawan Muda

    • calendar_month Senin, 22 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 566
    • 0Komentar

    PURWOREJO, – Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PC IPPNU) Kabupaten Purworejo berkomitmen untuk mencetak wirausahawan muda. Upaya tersebut dilakukan dengan menggelar pelatihan kewirausahawan dengan tema Kreatifitas Pelajar Putri Mencetak Perempuan Mandiri dan Berdikari, Minggu (21/3) di Gedung KNPI Purworejo. Ketua PC IPPNU, Ririn Yunitasari SE mengatakan bahwa meski masih dalam masa pandemi, namun kegiatan […]

  • Rakernas LBH Ansor: Tegakkan Yang Adil Untuk Semua

    Rakernas LBH Ansor: Tegakkan Yang Adil Untuk Semua

    • calendar_month Jumat, 26 Feb 2021
    • account_circle admin
    • visibility 660
    • 1Komentar

    Rakernas PP LBH Ansor yang diselenggarakan mulai hari ini, Jum’at (26/2) di Quest Hotel, Semarang, mengangkat tema “Tegakkan Yang Adil Untuk Semua”. Menurut ketua PP LBH Ansor Abdul Qodir, S.H., M.A, tema ini merupakan semangat LBH Ansor agar bisa bermanfaat seluas-luasnya dan bisa memberikan pendampingan hukum secara gratis ke semua orang. “Tema rakernas kali ini, […]

expand_less