Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Ma’ruf Amin, Sosok Ahli Fiqih Terampil

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 3 Feb 2017
  • visibility 460
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Langkah kakinya pendek-pendek. Tatapan matanya sering ke arah depan. Jarang menunduk dan menengadah. Selalu tampak tersenyum. Egaliter dan dialogis. Tak menonjolkan diri sebagai tokoh penting di organisasi massa Islam terbesar negeri ini. Itulah KH Ma’ruf Amin.

Kiai Ma’ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma’ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.

Namun, dalam konteks NU, tak seperti para Rais Aam PBNU sebelum-sebelumnya yang semuanya tinggal di daerah, Kiai Ma’ruf tinggal di jantung ibu kota negara, Jakarta. Karena itu, ia mudah diakses oleh media. Ia bisa diwawancara kapan saja. Terlebih beliau ngantor hampir tiap hari; Senin-Selasa di Kantor MUI, Rabu-Kamis di kantor PBNU.

Penting diketahui, Kiai Ma’ruf ini bukan tipe kiai yang suka berdiri di belakang sebagai penjaga gawang. Jika diperlukan, beliau tak ragu maju ke depan, memimpin “serangan”. Ini karena beliau mengerti arah mata angin. Hampir separuh usianya memang dihabiskan di dunia politik. Pernah menjadi anggota lembaga legislatif, dari tingkat bawah hingga pusat.

Aktivitasnya di ranah politik praktis ini yang menyebabkan sebagian orang lupa bahwa Kiai Ma’ruf adalah seorang ahli fikih yang terampil. Para pelajar Islam belakangan tampaknya jarang mendengar noktah-noktah pemikiran keislamannya yang brilian. Padahal, hemat penulis, jika mau ditelusuri jejak akademiknya, Kiai Ma’ruf ini memiliki peran cukup signifikan dalam meletakkan fondasi pembaharuan pemikiran Islam terutama dalam NU.

Dulu ketika NU diserang sebagai organisasi tempat berhimpunnya para muqallid, Kiai Ma’ruf bersama para koleganya seperti Kiai Sahal, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Imron Hamzah, dan Kiai Wahid Zaini membuat sejumlah terobosan penting. Salah satunya adalah dibukanya pintu istinbath dan ilhaq dalam tubuh NU. Ini sudah dikukuhkan dalam keputusan Munas NU di Lampung, 21-25 Januari 1992.

Saat itu resistensi dari sejumlah kiai bermunculan. Menurut para kiai yang kontra, kerja istinbath dan ilhaq itu adalah kerja akademik para mujtahid seperti para imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad ibn Hanbal) atau sekurangnya para ulama madzhab setingkat Imam Nawawi dan Imam Rofi’i. Dan menurut mereka, di NU hingga sekarang tak ada kiai yang memenuhi kualifikasi sebagai mujtahid. Karena itu, tawaran istinbath dan ilhaq itu tak relevan bagi NU.

Penolakan itu terus menggema, dari dulu bahkan hingga sekarang. Tapi tak ada langkah mundur dari Kiai Ma’ruf dkk. Sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian. Hingga pidatonya dalam harlah NU ke 91 kemarin, Kiai Ma’ruf masih menegaskan posisi akademik yang sama, yaitu penampikannya pada tekstualisme dan kejumudan dalam berpikir.

Mengutip Imam al-Qarafi, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa stagnan pada bunyi-harafiah teks Islam tidak memadai untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan hari ini. Al-Qarafi berkata, al-jumud ‘alal manqulat dhalalun fi al din. Lebih bermasalah lagi, demikian Kiai Ma’ruf, adalah tekstualisme dalam memahami teks-teks keagamaan seperti dalam Kitab Kuning.

Sejak awal 90-an hingga sekarang, Kiai Ma’ruf istiqomah berkampanye tentang pentingnya memahami kitab kuning secara kontekstual, yaitu usaha untuk memahami teks kitab kuning lengkap dengan memahami konteks ketika teks itu disusun oleh pengarangnya.

Tak hanya itu. Seperti umumnya para pembaharu Islam lain, Kiai Ma’ruf pun mengusung ide kemaslahatan. Sebuah adagium yang potensial menghambat pendaratan kemaslahatan dan menahan laju dinamisasi pemikiran Islam secara umum coba dimodifikasi oleh Kiai Ma’ruf. Adagium itu di antaranya berbunyi, al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Kaidah ini sesungguhnya menuntut adanya keseimbangan antara merawat tradisi dan upaya inovasi. Namun, dalam implementasinya, bobot merawat tradisi lebih besar sehingga porsi untuk melakukan inovasi pemikiran kurang memadai.

Dari segi substansi, kaidah itu tentu tak bermasalah. Bahkan sangat baik. Namun, menurut Kiai Ma’ruf, kaidah itu perlu dilengkapi. Kiai Ma’ruf menawarkan modifikasi kaidah itu demikian, al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah.

Poinnya, menurut Kiai Ma’ruf, kemaslahatan itu harus selalu ditinjau ulang. Sebab, “boleh jadi sesuatu dipandang maslahat hari ini, dua tiga tahun lagi sudah tidak maslahat lagi”, tandas Kiai Ma’ruf. Karena itu, penelusuran pada ditemukannya puncak kemaslahatan adalah kerja akademik yang perlu terus menerus dilakukan.

Tapi, sebagaimana para pemikir Islam lain, Kiai Ma’ruf tak membuka aktivitas istinbath pada ranah ibadah. Urusan ibadah, beliau pasrah. Sementara di ranah mu’amalah termasuk siyasah, Kiai Ma’ruf terus melakukan eksplorasi dan inovasi-inovasi pemikiran. Semoga sehat selalu, Kiai.

KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fatayat NU Purworejo Rayakan Harlah ke-76, Momentum Refleksi dan Penguatan Peran Perempuan Muda NU

    Fatayat NU Purworejo Rayakan Harlah ke-76, Momentum Refleksi dan Penguatan Peran Perempuan Muda NU

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 246
    • 2Komentar

    Fatayat NU Purworejo memperingati Harlah ke-76 dengan tema “Berdaya, Berdampak, dan Mendunia”, penuh refleksi, kebersamaan, dan semangat memperkuat peran perempuan muda NU.

  • Kolaborasi Ansor–Kibou Hikari, Kader Purworejo Didorong Masuk Dunia Kerja Profesional Jepang

    Kolaborasi Ansor–Kibou Hikari, Kader Purworejo Didorong Masuk Dunia Kerja Profesional Jepang

    • calendar_month Minggu, 3 Mei 2026
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 280
    • 3Komentar

    Purwodadi, — Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (PC GP) Ansor Kabupaten Purworejo menjalin kerja sama strategis di bidang pendidikan bahasa dan budaya Jepang dengan LPK Kibou Hikari Purworejo. Kegiatan ini dilaksanakan pada Ahad (3/5/2026) di Kantor LPK Kibou Hikari, Dusun Geparang, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Kerja sama ini bertujuan membuka akses kader Ansor untuk […]

  • 5 Pedoman Sukses Bagi Kader NU

    5 Pedoman Sukses Bagi Kader NU

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 1.047
    • 0Komentar

    Oleh: KH. Ali Maksum Krapyak Bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi, Bekal itu adalah: 1. Ats-Tsiqatu bi Nahdlatul Ulama. Maksudnya, setiap warga NU harus yaqin dan percaya penuh terhadap NU sebagai satu-satunya tuntunan hidup yang benar. Sebagai satu keyaqinan yang timbul dari sikap batin, tentulah sekaligus menuntut adanya realisasi yg bersifat lahiriyah. Jadi bukan […]

  • Gus Ahil: Gus Menteri Memikirkan Kesehatan dan Keselamatan Masyarakat Indonesia

    Gus Ahil: Gus Menteri Memikirkan Kesehatan dan Keselamatan Masyarakat Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 5 Jun 2021
    • account_circle Surato
    • visibility 1.140
    • 0Komentar

    Keputusan Kementerian Agama Republik Indonesia yang membatalkan keberangkatan jamaah haji Indonesia pada tahun ini menimbulkan polemik. Siaran pers yang dilakukan oleh Menteri Agama, H Yaqut Cholil Qoumas tersebut langsung mendapatakan banyak pendapat baik yang pro maupun kontra. Seperti telah diberitakan sebelumnya, pembatalan ini disebabkan karena masih dalam kondisi pandemi covid-19 dan pemerintah Arab Saudi belum […]

  • GP Ansor Purworejo Tebar 1.934 Ikan, Tutup Rangkaian Harlah ke-92

    GP Ansor Purworejo Tebar 1.934 Ikan, Tutup Rangkaian Harlah ke-92

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 154
    • 4Komentar

    Purworejo – Rangkaian peringatan Harlah ke-92 Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Purworejo ditutup dengan kegiatan olahraga goes dan tebar benih ikan di Bendungan Kedung Putri, Loano, pada Jumat sore, (1/5/2026). Ketua GP Ansor Purworejo, H. M. Tashilul Manasik, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan yang dimulai dari Kota Purworejo hingga finish di Bendungan Kedung […]

  • Peringatan HARLAH NU di Gedung MWC NU Kecamatan Bagelen Meriah dan Penuh Khidmat

    Peringatan HARLAH NU di Gedung MWC NU Kecamatan Bagelen Meriah dan Penuh Khidmat

    • calendar_month Kamis, 13 Feb 2025
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Bagelen, 29 Januari 2025 – Peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama (HARLA NU) yang digelar di Gedung Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Kecamatan Bagelen berlangsung dengan khidmat dan penuh semangat. Acara ini dihadiri oleh seluruh Badan Otonom (BANOM) NU se-Kecamatan Bagelen, menunjukkan kekompakan dan soliditas warga Nahdliyin dalam merayakan hari bersejarah bagi organisasi Islam […]

expand_less