Ansor Purworejo Sampaikan Ancaman dan Potensi Kehadiran PSDKU UNY
- account_circle admin
- calendar_month 2 jam yang lalu
- visibility 38
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Purworejo, Sabtu, 16 Mei 2026 – Wacana pembukaan Program Studi di Luar Kampus Utama (PSDKU) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Kabupaten Purworejo memantik diskusi yang hidup dan dinamis. Sebuah Focus Group Discussion (FGD) digelar PCNU Purworejo di Kampus IAIAN Purworejo, menghadirkan beragam elemen Nahdlatul Ulama (NU) Purworejo seperti Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPTNU), Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif, Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU), Lakpesdam, serta organisasi badan otonom seperti ANSOR, IPNU, IPPNU PMII, Fatayat, dan Muslimat. Acara ini menjadi wadah strategis untuk menyaring aspirasi dan kekhawatiran, sekaligus menggali potensi baru bagi masa depan pendidikan dan ekonomi lokal.
Muhammad Hidayatullah, Sekretaris Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Purworejo, menyoroti pentingnya kajian mendalam terhadap rencana ekspansi ini. Ia menekankan bahwa setiap langkah pendirian PSDKU oleh kampus skala nasional harus dibarengi analisis cermat agar manfaat yang diraih tidak justru kalah banyak dari potensi mudarat yang ditimbulkan.
“Menurut penelitian, mahasiswa memilih kampus masih didominasi oleh alasan jarak dan biaya hidup, yang mana itu menjadi keunggulan tersendiri kampus swasta. Apabila kampus skala Nasional mendirikan PSDKU, tentu akan sangat berpengaruh pada lanskap pendidikan di Purworejo,” ujar Hidayatullah.
Lebih lanjut, Hidayatullah menyoroti ketimpangan jumlah mahasiswa antara Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang didukung dengan peningkatan alokasi mahasiswa PTN secara signifikan. Ia menegaskan bahwa pihaknya bukan menolak keberadaan UNY di Purworejo, namun sangat berharap adanya dialog substantif terlebih dahulu antara pemerintah daerah dengan berbagai pihak yang selama ini telah berjuang memajukan pendidikan di Purworejo. Langkah ini dianggap krusial untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang harmonis dan berkelanjutan.
”Namun, saya berharap PTS di Purworejo tetap fokus pada rekrutmen mahasiswa baru karena PSDKU ini masih wacana dan kita belum dengar konsep juga pertimbangan-pertimbangan dari pemerintah daerah. Ini yang sebenarnya kita tunggu”, tambah Hidayat.
Membangkitkan Marwah WR Supratman
Di tengah catatan tersebut, Wakil Ketua PC GP Ansor bidang Litbang Sumber Daya Manusia (SDM), Lukman Khakim, melihat peluang dari adanya PSDKU UNY di Purworejo. Ia melihat potensi kebangkitan Purworejo sebagai Kota Musik WR Soepratman. Namun ia menekankan bahwa kehadiran UNY tidak boleh menciptakan kanibalisme pasar, melainkan harus didasari prinsip win-win solution yang selaras dengan potensi, histori, dan peluang masa depan Purworejo.
Khakim secara strategis mengusulkan agar UNY membuka Fakultas Musik di Purworejo. Menurutnya, kehadiran fakultas musik dapat menghidupkan marwah Wage Rudolf Soepratman, maestro musik kelahiran Purworejo.
“Fakultas Musik UNY akan menjadi monumen hidup yang membawa nama Purworejo ke kancah nasional mengikuti jejak beliau,” jelas Khakim.
Kedua, peluang pasar sangat terbuka lebar karena kampus negeri dengan fakultas atau jurusan musik formal masih sangat terbatas di Indonesia. Langkah ini akan langsung mengangkat Purworejo ke peta elite pendidikan musik nasional tanpa harus mematikan pangsa pasar kampus swasta lokal yang umumnya bergerak di ilmu sosial, teknik, atau keguruan umum.
Ketiga, Fakultas Musik berpotensi menjadi pemantik multiplier effect ekonomi daerah. Ia mencontohkan event-event internasional di daerah sekitar seperti Prambanan Jazz, Ngayogjazz, atau Solo International Performing Arts (SIPA) yang mampu memutar miliaran hingga puluhan miliar rupiah.
“Untuk membuat event skala internasional yang konsisten, kita butuh suplai SDM kreator, kurator, promotor, dan musisi akademik. Kampus UNY Purworejo-lah yang bertugas menyuplai ekosistem ini,” terang Khakim.
Usulan ini diharapkan dapat meredam resistensi kampus lokal sekaligus merebranding Purworejo dari citra ‘Kota Pensiun’ menjadi ‘Kota Musik dan Kreativitas’, mendorongnya sebagai lokomotif industri dan peradaban.
Ketua PCNU Purworejo, HM Haekal, menutup rangkaian diskusi dengan menegaskan komitmen organisasi dalam mengawal isu krusial ini. “Sebagai wujud kepedulian terhadap pendidikan di Purworejo, semua masukan dan aspirasi yang muncul hari ini akan kami tampung terlebih dahulu,” ujar Haekal. Ia menambahkan bahwa seluruh poin pembahasan, baik yang menyuarakan kekhawatiran maupun melihat peluang yang ada, akan menjadi bahan kajian mendalam untuk kemudian didialogkan dengan pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah daerah dan manajemen UNY, guna mencari formulasi terbaik bagi kemajuan pendidikan Purworejo. Diskusi ini menandai babak awal dari upaya kolektif untuk memastikan bahwa setiap kebijakan pendidikan yang diambil di Purworejo benar-benar berpihak pada kemajuan masyarakat secara holistik dan berkelanjutan.

Saat ini belum ada komentar