Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bagaimana Membangkitkan Peradaban Islam?

  • account_circle admin
  • calendar_month Sabtu, 27 Agt 2016
  • visibility 516
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Islam tidak sekedar agama hukum (din as-syari’ah), namun juga agama peradaban dan pengetahuan. Sebagai agama peradaban, tradisi Islam dalam sejarah panjangnya, selama sekitar 14 abad, menjadi bagian penting dalam peradaban dunia. Jejak peradaban ini masih monumental, dari kawasan Timur Tengah, Andalusia, Ottoman, Asia, hingga Nusantara. Sebagai agama pengetahuan, Islam juga menghasilkan produk intelektual pada tiap zamannya. Tradisi intelektual ulama Andalusia, menjadi penanda penting berkembangnya sains dalam khazanah Islam. 

Lalu, bagaimana peradaban dan pengetahuan Islam masa kini? Ali A. Allawi gelisah melihat perkembangan Islam dewasa ini, pada era teknologi dan masyarakat modern, yang hanya menampilkan sengketa, perang dan pertaruhan politik. Kajian-kajian tentang Islam, lebih banyak disesaki oleh wacana Islam politik, sesuatu yang kemudian meminggirkan khazanah pengetahuan dalam agama ini. 

Dalam buku ini, Allawi terfokus untuk berusaha menemukan akar-akar yang lebih mendalam dari krisis Dunia Islam. Allawi juga menggali jawaban tentang ketidaksesuaian Islam dengan dunia modern, apakah intrinsik pada agama atau karena faktor-faktor yang lain, termasuk di dalamnya merosotnya kekuatan-kekuatan hakiki dan jati dirinya. 

Allawi berusaha menjawab tiga persoalan mendasar; pertama. Masih bisakah kita berbicara tentang satu peradaban Islam, ataukah Islam terpecah dalam satu kesatuan etnis, budaya, dan nasional dengan ikatan longgar satu sama lain? Kedua, apakah peradaban Islam bisa berulang kembali, ataukah telah hilang ditelan zaman? Ketiga, apakah syarat-syarat yang memungkinkan peradaban Islam lahir kembali di dunia? Dalam rangkaian utuhnya, Allawi berusaha memberikan argumentasi, apakah sebuah masyarakat modern dengan segenap kompleksitasnya dengan ketegangan dan sengketa, dapat dibangun berdasar visi ketuhanan? (hal. 18-19). 

Secara jernih, setelah melacak akar peradaban dan pengetahuan Islam, Allawi memuji lahirnya tokoh-tokoh Muslim yang menjembatani pengetahuan agama dan sains. Ali A. Allawi mengungkapkan tentang pentingnya pencerahan pengetahuan, seperti pada sosok Sayyed Hosein Nasr. Kisah hidup Sayyed Hosein Nasr menjadi contoh penting yang disajikan Allawi sebagai gambaran pencerahan pengetahuan, dalam tradisi intelektual Islam modern. Nasr terlahir di Iran pada 1933, dalam tradisi intelektual dan keluarga dokter terkemuka. Nasr mempelajari fisika di MIT, hingga kemudian menyelesaikan Ph.D dari Harvard pada 1958, dengan karya riset bidang sejarah Islam. 

Nasr kembali ke Iran, menjadi seorang cendekiawan terkemuka dan tokoh pendidikan yang penting di negeri itu. Pascarevolusi Iran, 1978-1979, Nasr meninggalkan Iran dan tergabung dengan George Washington University. Ia terinspirasi oleh kelompok ‘tradisionalis’, sekelompok cendekiawan Eropa yang umumnya telah masuk Islam. Kelompok ini menggali inspirasi dari pemikir Perancis, Rene Guenon. Selain itu, ahli metafisika Fritjhof Schuon, Titus Burckhardt (sejarawan seni), Martin Lings (cendekiawan dan kurator museum) juga termasuk dalam kelompok ini. 

Dalam pandangan kaum tradisionalis, kelanjutan berbagai tradisi keagamaan yang autentik merupakan satu-satunya cara bagi manusia untuk menghubungkan diri dengan agama primordian. Kelompok ini, mendukung gagasan filsafat perenial, yang berusaha menemukan kesatuan keilahian dari seluruh agama pada dimensi terdalam yang esoterik (hal. 371). 
Perlawanan Sufistik  

Dalam khazanah Islam, kelompok tarekat dan jaringan ulama sufi, memiliki peran signifikan untuk menggerakkan pendukungnya, yang pada akhirnya mempengaruhi wajah zaman. Kelompok sufistik ini, seringkali dipandang sebelah mata dalam kajian intelektual peneliti dari berbagai universitas. Hali ini, lebih karena kurangnya pemahaman dan sempitnya wawasan dalam memahami fenomena jaringan tarekat. Padahal, gerakan sufistik  berpengaruh pada ruang geografis dan historis. 

Gerakan-gerakan revivalis (kebangkitan) Islam mendahului kedatangan orang-orang Eropa. Pada abad 18, terjadi peningkatan signifikan jumlah gerakan reformasi dan kebangkitan yang memperjuangkan pemurnian kehidupan dan masyarakat Islam. Fenomena ini, sejalan dengan surutnya jaringan kekuasaan tiga kerajaan besar Islam pada masa itu. 

“Para pemimpin berbagai gerakan ini umumnya berasal dari barisan ulama dan para sufi. Para ulama tercengang oleh longgarnya standar agama dan toleransi terhadap praktik-praktik yang perlu dipertanyakan, bahkan menyerupai kemusyrikan, yang semakin menjangkiti Islam populer,” tulis Alawi (hal. 76). 

Di kerajaan multietnis di Mughal, yang mayoritas populasinya pemeluk Hindu. Pada masa Raja Aurangzeb, raja terakhir di Mughal, ia berusaha menuntaskan kebijakan akomodasi religius dan mengusahakan pemberlakuan identitas Islam. Sebelumnya, kebijakan kerajaan sangat akomodatif terhadap sinkretisme, bahkan pada beberapa kisah sangat dianjurkan oleh kerajaan. Usaha Aurangzeb menemukan titik akhir, dengan berakhir pula masa kekuasaannya di Mughal. Para ulama bangkit untuk mengokohkan misi Aurangzeb, menguatkan identitas Islam di negeri yang longgar terhadap identitas keagamannya. Syah Waliyullah Dahlawi (1703-1762), yang terlahir di Uttar Pradesh, India belajar tekun di Makkah dan Madinah selama 12 tahun. 

Para ulama di berbagai kawasan melakukan gerakan revivalis, untuk membangkitkan kembali gairah keislaman. Pada abad 18 dan 19, juga muncul gerakan Sufi Naqsyabandiyah, yang mengusahakan pemurnian sufi dari praktik-praktik serta penambahan-penambahan yang tidak diterima oleh para ulama ortodoks. 

Perlawanan anti-Belanda di Aceh pada abad 19, juga melibatkan jaringan tarekat Naqsyabandiyah, yang juga terjadi di kawasan Kaukasus. Pemberontakan melawan Rusia oleh Imam Mansur pada 1785-1791, dan kemudian diteruskan Imam Syamil, menggunakan jaringan tarekat Naqsyabandiyah. Kemudian, tarekat Sanusiyah yang didirikan oleh Muhammad Ali al-Sanusi (1787-1895), menjadi referensi penting bagaimana gerakan tarekat menjadi motor penggerak perlawanan terhadap rezim kolonial. Al-Sanusi membangun beberapa pondok sufi (zawiyah) di kawasan Gurun Libia, sebagai benteng pertahanan sekaligus pusat perlawanan terhadap serbuan Prancis dan Italia ke Sahara (hal. 78). 

Dalam buku ini, Allawi mengkaji tentang bagaimana Islam bangkit di tengah krisis peradaban. Allawi melihat, bahwa agama memiliki karakteristik masing-masing. Menurut Allawi, agama dalam beragam cara, menilai individu dan kolektifitas. Agama Buddha merupakan jalan soliter menuju pencerahan dan kesempurnaan. Agama Yahudi memperlihatkan kolektivitas, baik ruhaniah maupun duniawiyah. Refomasi Protestan mengenai kemungkinan individu, melalui kesalehan dan ibadah individual, untuk mencapai keselamatan (hal. 25). 

Dalam buku ini, Allawi menggarisbawahi pentingnya kebangkitan Islam sebagai agama pengetahuan dan peradaban, bukan sekedar sebagai agama politik dan hukum. 

Info Buku
Penulis : Ali A. Alawi 
Judul Buku : Krisis Peradaban Islam: Antara Kebangkitan dan Kebutuhan Total 
Penerbit : Mizan, November 2015 
ISBN : 978-979-433-899-5 

Peresensi
Munawir Aziz
Pergiat di GusDurian dan Gerakan Islam Cinta

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara

    Meneguhkan Percaturan Politik Nusantara

    • calendar_month Kamis, 5 Nov 2015
    • account_circle admin
    • visibility 531
    • 0Komentar

    Politik hanyalah alat bukan tujuan. Kaidah ini yang dijadikan tongkat oleh Kiai Wahab Chasbullah dalam meneguhkan percaturan politik bangsa kita pada tahun 1914-an hingga 1970-an. Masa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia. Dengan gigih ia menghadapi pancaroba politik yang penuh tantangan dan tekanan. Haluan politisi yang lahir dari rahim pesantren ini untuk kemaslahatan rakyat (mashâlihur ra’iyah) bukan […]

  • Pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Purworejo Masa Khidmat 2025–2030 “Menguatkan Khidmat Jam’iyyah, Mewujudkan Kemandirian Berjamaah”

    Pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Purworejo Masa Khidmat 2025–2030 “Menguatkan Khidmat Jam’iyyah, Mewujudkan Kemandirian Berjamaah”

    • calendar_month Minggu, 11 Mei 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 293
    • 3Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.org — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo masa khidmat 2025–2030 resmi dilantik dalam prosesi yang berlangsung khidmat di Pendapa Agung Kabupaten Purworejo, Minggu (11/5/2025). Dalam pelantikan tersebut, KH R Dawud Maskuri dikukuhkan sebagai Rais Syuriah dan KH Muhammad Haekal sebagai Ketua Tanfidziyah. Acara pelantikan dilanjutkan dengan pelantikan lembaga-lembaga dan badan khusus di […]

  • KAROMAH SYAKIHONA KHOLIL BANGKALAN

    KAROMAH SYAKIHONA KHOLIL BANGKALAN

    • calendar_month Selasa, 3 Sep 2024
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 59
    • 1Komentar

    Pada suatu hari, Kyai Kholil sedang melihat masjid yang sedang dibangun oleh menantu beliau yaitu Kyai Muntaha. Ketika melihat arah kiblat pada masjid tersebut, Kyai Kholil menegur sang menantu yang alim itu untuk membetulkan arah kiblat masjid yang sedang dibangunnya itu. Sebagai org yg alim, Kyai Muntaha mempunyai alasan dalam menentukan arah kiblat tersebut, beberapa […]

  • Muhasabah, From Zero To Hero

    Muhasabah, From Zero To Hero

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
    • account_circle Masagoez
    • visibility 639
    • 2Komentar

    Setiap pergantian tahun merupakan momentum bagi setiap orang untuk melakukan muhasabah (mawas diri) terhadap perjalanan hidup yang dilalui selama setahun. Apakah yang telah kita lakukan dari detik ke menit , menit ke jam, jam ke hari, hari ke pekan dan pekan ke bulan? Perbandingan bagi seorang pedagang tentu akan dihitung untung ruginya barang yang telah […]

  • MWC NU Bruno Resmikan Selapanan Gabungan NU dan Banom di Puncak Harlah 1 Abad NU

    MWC NU Bruno Resmikan Selapanan Gabungan NU dan Banom di Puncak Harlah 1 Abad NU

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 140
    • 4Komentar

    MWC NU Bruno gelar slapanan gabungan NU dan banom bertepatan Harlah 1 abad NU, perkuat sinergi organisasi dan arah pergerakan ke depan.

  • Tata Cara Sholat Tasbih

    Tata Cara Sholat Tasbih

    • calendar_month Minggu, 28 Mar 2021
    • account_circle admin
    • visibility 6.316
    • 0Komentar

    Salah satu shalat sunnah yang dianjurkan oleh para ulama kita adalah shalat tasbih. Dinamakan demikian karena di dalam shalat tersebut banyak dibaca tasbih. Sebagian masyarakat muslim di Indonsia menjadikan shalat tasbih sebagai sarana untuk mendapatkan lailatul qadr di bulan Ramadhan. Untuk menjaring malam yang sangat mulia ini mereka melakukan shalat malam secara berjamaah di sepuluh […]

expand_less