Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 1 Feb 2017
  • visibility 599
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo.

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Ia menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke pesantren Koripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Tapi kemudian pindah lagi ke pesantren Kiai Rahmat di daerah Gragab hingga tahun 1928.

Kehausan akan ilmu agama, ia kemudian nyantri ke Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di pesantren pendiri NU tersebut, ia mempelajari beragam kitab.

Saat di Tebuireng, ayah Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi ia hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri.

Cerita lainnya tentang Chudlori, di kamarnya di Tebuireng, ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur

Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Di situ ia belajar fiqih dan tasawuf seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu, belajar ilmu membaca Al-Qur’an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, ia nyantri lagi ke Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Ma’shum dan KH Baidlowi.

Setelah menikahi putri KH Dalhar Watucongol, ia sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halamannya adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga ia selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah Swt untuk niatnya itu.

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakan kepada mertuanya, kemudian pada 15 September 1944 KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Masyarakat desa itu, ketika ia mendirikan pesantren, terbelah menjadi yang pro dan kontra. Kalangan yang pro gembira karena ada anak kampungnya yang menyebarkan ajaran agama. Sebaliknya yang kontra, lebih karena antipati terhadap penyebaran Islam.

Sebagai kiai yang digembleng bertahun-tahun, Chudlori tetap tegar menghadapi kalangan yang kontra. Ia tetap menjalankan misinya mengembangkan syariat Islam.

Awalnya, Chudlori tak memberikan nama khusus pada pesantrennya, namun pada tahun 1947, atas saran teman-teman seperjuangannya, ia menamainya dengan Asrama Perguruan Islam (API). Nama itu merupakan hasil istikharahnya. Dengan nama itu, ia berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chodlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang. Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu.

Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan mebangun kembali pesantren. Prmbangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa. (NU Online, Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (2)

  • Binance创建账户

    Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.

    Balas22 Juni 2026 3:18 pm
  • binance Registrera

    Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.

    Balas5 Juni 2026 9:15 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Amaliah Sejak Lahir Hingga Meninggalnya Muslim di Tanah Air

    Amaliah Sejak Lahir Hingga Meninggalnya Muslim di Tanah Air

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2015
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Bermula dari hajatan dan kemudian berakhir dengan hajatan. Begitulah perjalanan seorang Muslim di Tanah Air. Bahkan, sebelum dia lahir pun sudah ada hajatan, yaitu apa yang disebut dengan Mapati (ketika usia kandungan empat bulan) atau Mitoni (ketika usia kandungan tujuh bulan). Begitu juga ketika meninggal, penuh dengan hajatan seperti prosesi kematian dan penguburan. Setelah bersangkutan […]

  • Peluncuran Website 16 PAC GP Ansor: Menghubungkan dan Membangun Konektivitas Generasi Muda

    Peluncuran Website 16 PAC GP Ansor: Menghubungkan dan Membangun Konektivitas Generasi Muda

    • calendar_month Senin, 26 Jun 2023
    • account_circle PAC Butuh
    • visibility 20
    • 0Komentar

    *Purworejo, 25 Juni 2023* – Suasana penuh semangat dan haru terasa di Gedung NU Kabupaten Purworejo pada hari Sabtu, tanggal 25 Juni 2023, pukul 14.00 WIB. Acara peluncuran website 16 PAC GP Ansor di Kabupaten Purworejo telah berhasil digelar dengan sukses. Acara ini dipimpin oleh Ketua PC GP Ansor Purworejo, KH. Khabib Anwar, yang memberikan […]

  • Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi

    Fatayat NU Gelar Peningkatan Kapasitas Daiyah di Daerah Transmigrasi

    • calendar_month Kamis, 19 Okt 2017
    • account_circle admin
    • visibility 552
    • 0Komentar

    Pimpinan Pusat (PP) Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) bekerja sama dengan Kementerian Desan dan Transmigrasi Republik Indonesia (RI) menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis Peningkatan Kapasitas Mental Spiritual bagi Daiyah di Daerah Transmigrasi di Balai Besar Pengembangan Latihan Masyarakat  (BBPLM) Jakarta Timur, Selasa (17/10) lalu. Kegiatan ini dilaksanakn selama empat hari (16-20/10) dan diikuti 30 peserta terdiri atas […]

  • Demi Cinta Nabi dengan Sholawat

    Demi Cinta Nabi dengan Sholawat

    • calendar_month Minggu, 25 Des 2016
    • account_circle admin
    • visibility 401
    • 0Komentar

    Purworejo, ansorpurworejo.org Membaca sholawat nabi sudah disyariatkan dalam Al qur’an bahwasanya Allah dan malaikat membaca sholawat kepada nabi Muhammad SAW. Serupa yang dilakukan oleh para penabuh terbang Nurul Barokah dari desa Sambeng kecamatan Bayan kabupaten Purworejo yang mengiringi bacaan sholawat al barjanji di musholla Al Muttaqin desa Pucang agung dalam acara pawai kuda (arak arakan) […]

  • Buku Saku – Amaliah NU Dan Dalilnya

    Buku Saku – Amaliah NU Dan Dalilnya

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 1.116
    • 0Komentar

    Satu lagi buku perihal Hujjah Amaliyah Nahdliyiah muncul dan beredar untuk umat yang memerlukannya. Kalau dikumpulkan dan dihitung, selama kurun waktu tidak sampai 10 tahun terakhir, telah ditulis dan terbit hampir seratusan buku sejenis, dengan judul dan penulis yang berbeda-beda Rasanya buku seperti ini tidak akan muncul kalau tidak ada orang ahli jidal yang menggugat-gugat […]

  • KH R. As’ad Syamsul Arifin Mengawal Negara dari Tapal Kuda

    KH R. As’ad Syamsul Arifin Mengawal Negara dari Tapal Kuda

    • calendar_month Selasa, 14 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 502
    • 0Komentar

    Oleh: Munawir Aziz,Kiai Raden As’ad Syamsul Arifin lahir pada 1897 M/1315 H di Syi’ib Ali, Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. Ketika As’ad kecil lahir, oleh ayahnya, bayi mungil itu langsung dipeluk untuk dibawa menuju Ka’bah. Jarak sejauh 200 meter antara Syi’ib Ali dan Ka’bah tidak menjadi halangan untuk membawa bayi ini mendekat […]

expand_less