Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 1 Feb 2017
  • visibility 622
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo.

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Ia menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke pesantren Koripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Tapi kemudian pindah lagi ke pesantren Kiai Rahmat di daerah Gragab hingga tahun 1928.

Kehausan akan ilmu agama, ia kemudian nyantri ke Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di pesantren pendiri NU tersebut, ia mempelajari beragam kitab.

Saat di Tebuireng, ayah Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi ia hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri.

Cerita lainnya tentang Chudlori, di kamarnya di Tebuireng, ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur

Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Di situ ia belajar fiqih dan tasawuf seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu, belajar ilmu membaca Al-Qur’an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, ia nyantri lagi ke Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Ma’shum dan KH Baidlowi.

Setelah menikahi putri KH Dalhar Watucongol, ia sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halamannya adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga ia selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah Swt untuk niatnya itu.

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakan kepada mertuanya, kemudian pada 15 September 1944 KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Masyarakat desa itu, ketika ia mendirikan pesantren, terbelah menjadi yang pro dan kontra. Kalangan yang pro gembira karena ada anak kampungnya yang menyebarkan ajaran agama. Sebaliknya yang kontra, lebih karena antipati terhadap penyebaran Islam.

Sebagai kiai yang digembleng bertahun-tahun, Chudlori tetap tegar menghadapi kalangan yang kontra. Ia tetap menjalankan misinya mengembangkan syariat Islam.

Awalnya, Chudlori tak memberikan nama khusus pada pesantrennya, namun pada tahun 1947, atas saran teman-teman seperjuangannya, ia menamainya dengan Asrama Perguruan Islam (API). Nama itu merupakan hasil istikharahnya. Dengan nama itu, ia berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chodlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang. Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu.

Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan mebangun kembali pesantren. Prmbangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa. (NU Online, Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (2)

  • Binance创建账户

    Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.

    Balas22 Juni 2026 3:18 pm
  • binance Registrera

    Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.

    Balas5 Juni 2026 9:15 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 11 Tokoh di Kecamatan Purworejo terima NU Award dari MWCNU Purworejo

    11 Tokoh di Kecamatan Purworejo terima NU Award dari MWCNU Purworejo

    • calendar_month Kamis, 16 Feb 2023
    • account_circle H.M. Haekal
    • visibility 457
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Kota Purworejo telah terbukti melahirkan tokoh agama , kemanusiaan dan pejuang yang menjadi suri tauladan , khususnya yang berjuang di Nahdhatul Ulama , bangsa dan negara. Hal itu tercermin dalam penelusuran sejarah yang di lakukan oleh panitia satu abad NU MWCNU Purworejo. Dari sekian banyak tokoh NU dan Badan Otonom NU diwilayah […]

  • GP Ansor Purworejo dan KPU Gelar Seminar untuk Pemilih Muda Menuju Pemilukada Serentak 2024

    GP Ansor Purworejo dan KPU Gelar Seminar untuk Pemilih Muda Menuju Pemilukada Serentak 2024

    • calendar_month Rabu, 24 Jul 2024
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 128
    • 0Komentar

    Purworejo, Ansorpurworejo.org – Menjelang Pemilukada serentak 2024, Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Purworejo bekerja sama dengan Komisi Pemilihan Umum (KPU) Purworejo mengadakan seminar kepemiluan bertema “Pemilih Muda yang Cerdas dan Berkualitas Tidak Golput”. Acara ini berlangsung di Aula PCNU Purworejo pada malam 22 Juli 2024 dan dihadiri oleh para Ketua, Sekretaris, dan Kasatkoryon Banser PAC […]

  • Sejumlah Langkah GP Ansor Mandirikan Organisasi

    Sejumlah Langkah GP Ansor Mandirikan Organisasi

    • calendar_month Senin, 18 Jul 2016
    • account_circle admin
    • visibility 470
    • 0Komentar

    Di tengah perubahan dan tantangan kemajuan teknologi informasi, GP Ansor sebagai organisasi masa depan NU sekaligus NU masa depan, dituntut terus melakukan upaya untuk meningkatkan kemandirian organisasi sebagai visi besar. Berikut wawancara NU Online dengan Ketua Umum PP GP Ansor, H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Tutut) di Rembang, Jawa Tengah. Kenapa harus masuk Ansor, terutama […]

  • Pria Sangar Bertato itu Bukan Preman

    Pria Sangar Bertato itu Bukan Preman

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Ahmad Naufa
    • visibility 1.510
    • 1Komentar

    Pria tinggi berbadan kekar itu menuju kami. Dengan wajah yang sangar, namun masih memiliki sedikit keramahan. Ia menyalami. Di pergelangan tangannya yang berotot, tampak jelas tato besar yang sulit dihapus. *** Di zaman kecil dulu, jika melihat pemandangan seperti ini, saya tidak butuh narasi banyak untuk langsung menjustifikasinya sebagai orang yang tak terhormat: preman. Tapi […]

  • KH Achmad Abdulchaq: Sabilul Muttaqin Pondoknya Ansor-Banser

    KH Achmad Abdulchaq: Sabilul Muttaqin Pondoknya Ansor-Banser

    • calendar_month Minggu, 28 Feb 2021
    • account_circle Surato
    • visibility 1.000
    • 0Komentar

    PC GP Ansor Kabupaten Purworejo mengadakan Rapat Kerja Tahunan pada Ahad (28/2) di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Kalimiru, Bayan, Purworejo. Pondok Pesantren ini diasuh oleh KH Achmad Abdulchaq. Dalam penutupan Rapat Kerja Cabang KH Achmad Abdulchaq menyatakan rasa bangganya terhadap kader GP Ansor yang memiliki loyalitas dan semangat luar biasa dalam berorganisasi. “Saya mengucapkan terima […]

  • Selapanan Ranting NU Tegalsari Kenalkan Keistimewaan Nama Dusun Kalianggrung

    Selapanan Ranting NU Tegalsari Kenalkan Keistimewaan Nama Dusun Kalianggrung

    • calendar_month Selasa, 27 Jun 2023
    • account_circle PAC Bruno
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Pada hari Selasa Wage, tepatnya tanggal 27 Juni 2023, acara Selapanan Ranting NU Desa Tegalsari sukses digelar di Dusun Kalianggrung, yang berlokasi di Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo. Acara yang dimulai pukul 8.00 pagi ini dihadiri oleh Jamaah NU Desa Tegalsari dan dipandu oleh Ky. Abdul Chamid M.Pd, ketua NU Ranting Tegalsari. Dalam tema ceramahnya, Ky. […]

expand_less