Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 1 Feb 2017
  • visibility 658
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo.

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Ia menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke pesantren Koripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Tapi kemudian pindah lagi ke pesantren Kiai Rahmat di daerah Gragab hingga tahun 1928.

Kehausan akan ilmu agama, ia kemudian nyantri ke Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di pesantren pendiri NU tersebut, ia mempelajari beragam kitab.

Saat di Tebuireng, ayah Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi ia hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri.

Cerita lainnya tentang Chudlori, di kamarnya di Tebuireng, ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur

Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Di situ ia belajar fiqih dan tasawuf seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu, belajar ilmu membaca Al-Qur’an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, ia nyantri lagi ke Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Ma’shum dan KH Baidlowi.

Setelah menikahi putri KH Dalhar Watucongol, ia sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halamannya adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga ia selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah Swt untuk niatnya itu.

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakan kepada mertuanya, kemudian pada 15 September 1944 KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Masyarakat desa itu, ketika ia mendirikan pesantren, terbelah menjadi yang pro dan kontra. Kalangan yang pro gembira karena ada anak kampungnya yang menyebarkan ajaran agama. Sebaliknya yang kontra, lebih karena antipati terhadap penyebaran Islam.

Sebagai kiai yang digembleng bertahun-tahun, Chudlori tetap tegar menghadapi kalangan yang kontra. Ia tetap menjalankan misinya mengembangkan syariat Islam.

Awalnya, Chudlori tak memberikan nama khusus pada pesantrennya, namun pada tahun 1947, atas saran teman-teman seperjuangannya, ia menamainya dengan Asrama Perguruan Islam (API). Nama itu merupakan hasil istikharahnya. Dengan nama itu, ia berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chodlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang. Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu.

Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan mebangun kembali pesantren. Prmbangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa. (NU Online, Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (2)

  • Binance创建账户

    Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.

    Balas22 Juni 2026 3:18 pm
  • binance Registrera

    Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.

    Balas5 Juni 2026 9:15 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sambut HUT RI Ke 75 Kaderisasi PC GP Ansor Gelar Gowes Bareng dan Rakord Pengkaderan

    Sambut HUT RI Ke 75 Kaderisasi PC GP Ansor Gelar Gowes Bareng dan Rakord Pengkaderan

    • calendar_month Minggu, 16 Agt 2020
    • account_circle admin
    • visibility 842
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Sabtu 15 Agustus 2020 Departemen Kaderisasi PC GP Ansor menggelar Acara Gowes Bareng dan Rapat Koordinasi Pengkaderan. Tepat pukul 15.30 peserta mulai mengayuh sepeda didahului pembukaan dan doa oleh H. M. Haekal salah satu Korwil PW GP Ansor Jawa Tengah dihalaman Ponpes Alfahham Baledono dan Finish di Mushola Siwinong Penungkulan Gebang sejauh […]

  • What Makes Modern Online Casinos So Popular

    What Makes Modern Online Casinos So Popular

    • calendar_month Senin, 19 Okt 2026
    • account_circle PAC Loano
    • visibility 10
    • 0Komentar

    What Makes Modern Online Casinos So Popular Online casino sites have become one of the most vibrant corners of the digital home entertainment globe. Their…

  • Kasepuhan PRNU Mranti Memfragmenkan Pancasila dari Masa ke Masa

    Kasepuhan PRNU Mranti Memfragmenkan Pancasila dari Masa ke Masa

    • calendar_month Selasa, 7 Feb 2023
    • account_circle admin
    • visibility 323
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Lomba Dekorasi Visual dan Fragmen dalam rangka menyambut Satu Abad NU yang diselenggarakan oleh MWCNU Purworejo berjalan sejak 28 Januari 2023 sampai hari ini, Senin 6 Februari 2023 bertepatan di TPQ Baitul Abidin Pengurus Ranting NU Mranti Purworejo. Rangkaian acara dibuka dengan hangat oleh Pak H. Riyanto selaku Master of Ceremony sekaligus […]

  • LAKUT 2026 di Purworejo Resmi Dibuka, Ukir Sejarah Baru Kaderisasi IPNU-IPPNU

    LAKUT 2026 di Purworejo Resmi Dibuka, Ukir Sejarah Baru Kaderisasi IPNU-IPPNU

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 158
    • 7Komentar

    PURWOREJO – Sejarah baru kaderisasi pelajar Nahdlatul Ulama di Kabupaten Purworejo resmi tercatat. Kamis (15/01/2026), Pimpinan Cabang (PC) IPNU-IPPNU Purworejo menggelar Latihan Kader Utama (LAKUT) perdana di Yayasan Khasanah Nusantara, Kecamatan Bayan, Purworejo. Opening ceremony dihadiri puluhan peserta dan tamu undangan. Ketua PC IPPNU Purworejo, Debi Saktiyani, dalam sambutannya menegaskan bahwa LAKUT kali ini merupakan […]

  • PAC Ansor Gebang Gelar Muskerancab Perdana di Purworejo, Luncurkan Jersey Sarat Makna dan Semangat Pemuda

    PAC Ansor Gebang Gelar Muskerancab Perdana di Purworejo, Luncurkan Jersey Sarat Makna dan Semangat Pemuda

    • calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
    • account_circle admin
    • visibility 231
    • 2Komentar

    Gebang – Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Gebang menggelar Musyawarah Kerja Anak Cabang (Muskerancab) di Desa Redin yang diikuti oleh perwakilan Ranting Ansor dari 25 desa dan kelurahan se-Kecamatan Gebang. Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pengurus serta dewan penasehat dalam suasana penuh semangat kebersamaan. Muskerancab ini menjadi momen penting dalam merumuskan dan menetapkan arah […]

  • Di rumah mengajarlah!

    Di rumah mengajarlah!

    • calendar_month Jumat, 7 Jul 2023
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 79
    • 1Komentar

    Di rumah mengajarlah! Apa yg dibutuhkan masyarakat kalian kaji. Ilmu itu meskipun dibagikan tidak habis, tidak seperti uang. Jika kalian mau mengamalkn ilmu, niscaya akan diberi kefahaman ilmu2 yg lain. Kalian sebarkan ilmu. Masyarakat itu menunggu kalian. Dirumah jgn malas2an Dawuh Almukarom Murobi ruhiy KH. M Anwar Manshur Lirboyo yang selalu beliau tancapkan kepada santri-santrinya, […]

expand_less