Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Chudlori, Santri Kelana Pendiri API Tegalrejo

  • account_circle admin
  • calendar_month Rabu, 1 Feb 2017
  • visibility 623
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KH Chudlori lahir di Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah dari pasangan Muhammad Ikhsan dan Mujirah. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara. Muhammad Ikhsan adalah penghulu Tegalrejo pada masa penjajahan Belanda. Ayah Muhammad Ikhsan bernama Abdul Halim, juga penghulu zaman Belandayang sangat dihormati. Abdul Halim menangani urusan agama di Magelang meliputi kecamatan Candimulyo, Martoyudan, Mungkid, dan Tegalrejo.

Pada tahun 1923, seteleh menyelesaikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS), lembaga pendidikan setingkat Sekolah Dasar zaman Belanda, Chudlori kecil dikirim ayahnya ke pesantren Payaman yang diasuh KH Siroj. Ia menghabiskan 2 tahun di pesantren tersebut. Kemudian pindah ke pesantren Koripan di bawah asuhan Kiai Abdan. Tapi kemudian pindah lagi ke pesantren Kiai Rahmat di daerah Gragab hingga tahun 1928.

Kehausan akan ilmu agama, ia kemudian nyantri ke Tebuireng yang waktu itu diasuh Hadrotussyekh KH Hasyim Asy’ari. Di pesantren pendiri NU tersebut, ia mempelajari beragam kitab.

Saat di Tebuireng, ayah Chudlori mengirim uang sebanyak Rp. 750,- per bulan, tetapi ia hanya menghabiskan Rp.150,- dan mengembalikan sisanya. Chudlori hanya makan singkong dan minum air yang digunakan untuk merebus singkong tersebut. Dia melakukan ini dalam rangka riyadlah, amalan yang biasa dilakukan para santri.

Cerita lainnya tentang Chudlori, di kamarnya di Tebuireng, ia membuat kotak belajar khusus dari papan tipis dan menempatkan kotak tersebut diantara loteng dan atap. Kapan saja bila ingin menghafal atau memahami pelajarannya, Chudlori naik dan duduk di atas kotak sehingga bisa berkonsentrasi dengan baik. Kotak ini sempit, tidak nyaman dan berbahaya untuk duduk. Jadi dengan kedisiplinan dia dapat belajar setiap hari hingga tengah malam. Kapan saja tertidur sebelum tengah malam, dia menghukum dirinya sendiri dengan berpuasa pada hari berikutnya tanpa makan sahur

Kemudian pada tahun 1933, ia pindah lagi Bendo, Pare, Kediri, menjadi santri Kiai Chozin Muhajir. Di situ ia belajar fiqih dan tasawuf seperti kitab Ihya Ulumuddin karya Imam Ghazali. Empat tahun berikutnya, ia mengaji di pesantren Sedayu, belajar ilmu membaca Al-Qur’an selama 7 bulan. Pada tahun 1937, ia nyantri lagi ke Lasem, Jawa Tengah, yang diasuh KH Ma’shum dan KH Baidlowi.

Setelah menikahi putri KH Dalhar Watucongol, ia sempat mengajar di pesantren mertuanya tersebut. Namun mengajarkan ilmu agama di kampung halamannya adalah cita-citanya yang menggebu-gebu sehingga ia selalu melakukan mujahadah dan meminta petunjuk Allah Swt untuk niatnya itu.

Setelah mendapat petunjuk dan membicarakan kepada mertuanya, kemudian pada 15 September 1944 KH Chudlori pulang kampung dan mendirikan pesantren di Tegalrejo. Masyarakat desa itu, ketika ia mendirikan pesantren, terbelah menjadi yang pro dan kontra. Kalangan yang pro gembira karena ada anak kampungnya yang menyebarkan ajaran agama. Sebaliknya yang kontra, lebih karena antipati terhadap penyebaran Islam.

Sebagai kiai yang digembleng bertahun-tahun, Chudlori tetap tegar menghadapi kalangan yang kontra. Ia tetap menjalankan misinya mengembangkan syariat Islam.

Awalnya, Chudlori tak memberikan nama khusus pada pesantrennya, namun pada tahun 1947, atas saran teman-teman seperjuangannya, ia menamainya dengan Asrama Perguruan Islam (API). Nama itu merupakan hasil istikharahnya. Dengan nama itu, ia berharap santri-santrinya kelak akan jadi api penerang umat dalam kegelapan.

Pada tahun 1947, ketika Belanda melakukan Agresi Militer, Pesantren API menjadi benteng perjuangan mempertahankan kemerdekaan oleh para gerilyawan. Bahkan Chodlori yang kini sudah bergelar kiai, mengizinkan santrinya untuk turut berjuang. Aktivitas belajar-mengajar dihentikan untuk sementara waktu.

Karena perjuangan itu diketahui Belanda, pesantrennya kemudian dibakar habis. Santri, keluarga, dan Kiai Chudlori sendiri mengungsi dari satu desa ke desa lain. Kemudian di tahun 1949, ia kembali ke desanya dan mebangun kembali pesantren. Prmbangunan kali ini, dibantu warga masyarakat yang telah bersimpati pada perjuangannya. Santri pun bertambah banyak. Pada tahun 1977, ia memiliki sekitar 1500 santri. Di tahun tersebut, pesantren API sedang berkembang pesat, tapi di tahun itu pula Kiai Chudlori dipanggil yang Kuasa. (NU Online, Abdullah Alawi, dari berbagai sumber)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (2)

  • Binance创建账户

    Your point of view caught my eye and was very interesting. Thanks. I have a question for you.

    Balas22 Juni 2026 3:18 pm
  • binance Registrera

    Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.

    Balas5 Juni 2026 9:15 pm

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • SMK Ma’arif NU 1 Bener, Peringati Harlah Satu Abad NU Dengan Upacara Bendera

    SMK Ma’arif NU 1 Bener, Peringati Harlah Satu Abad NU Dengan Upacara Bendera

    • calendar_month Selasa, 7 Feb 2023
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 203
    • 0Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo – Selasa, 7 Februari 2023 berpusat di SMK Ma’arif NU 1 Bener MWC NU Bener Bersama DPAC FKDT Kecamatan Bener melaksanakan upacara bendera dalam rangka memperingati Harlah Satu Abad Nahdlatul Ulama. Upacara diikuti oleh siswa dan guru SMK Ma’arif NU 1 Bener, guru dan santri madrasah diniyah se-kecamatan Bener, tidak terkecuali pengurus MWC […]

  • Ngaji Kitab Risalah Aswaja Karya Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ary Bareng Rijaalul Ansor Pituruh

    Ngaji Kitab Risalah Aswaja Karya Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ary Bareng Rijaalul Ansor Pituruh

    • calendar_month Selasa, 27 Jun 2023
    • account_circle PAC Pituruh
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Pituruh, 14 Juni 2023 – Majlis Dzikir dan Solawat Rijaalul Ansor (MDS) dari PAC GP ANSOR Pituruh mengadakan kajian rutin pada tanggal 14 Juni 2023. Acara tersebut diadakan di gedung bersama MWC NU Kecamatan Pituruh. Kajian kali ini difokuskan pada kitab yang terkenal, yaitu “Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah” yang ditulis oleh ulama terkemuka, KH. Hasyim […]

  • Gus Mahfudz: GP Ansor Harus Menjadi Khodimul Ummah

    Gus Mahfudz: GP Ansor Harus Menjadi Khodimul Ummah

    • calendar_month Minggu, 28 Feb 2021
    • account_circle Hakim Wicaksono
    • visibility 1.231
    • 0Komentar

    Rapat Kerja Cabang PC GP Ansor Kabupaten Purworejo yang diselenggarakan pada Ahad (28/2) di Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin Kalimiru, Bayan dihadiri oleh Ketua Pimpinan Pusat Rijaalul Ansor KHR Mahfudz Chamid. Sebelum membuka acara raker dalam pidato singkatnya, KHR Mahfudz Chamid mengingatkan bahwa Ansor harus bisa menjaga perannya sebagai Khodimul Ummah. “Organisasi kalau sudah mempunyai kekuatan […]

  • PAC GP ANSOR Pituruh Ikut Berpatisipasi Dalam “Pituruh Ampuh Bersholawat” di Lapangan Desa Pituruh

    PAC GP ANSOR Pituruh Ikut Berpatisipasi Dalam “Pituruh Ampuh Bersholawat” di Lapangan Desa Pituruh

    • calendar_month Rabu, 7 Jun 2023
    • account_circle admin
    • visibility 84
    • 0Komentar

    PITURUH, ansorpurworejo.org – Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Pituruh bersama Organisasi Kepemudaan seperti Pemuda Pancasila, PSHT dan Karang Taruna menyelenggarakan acara Sholawatan Bersama yang berlangsung di Lapangan Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo, Senin (5/6) malam.  Kegiatan Sholawat bersama yang dikemas dalam acara Pituruh Ampuh Bersholawat ini menghadirkan beberapa Hababib, Ulama dan Umara’ setempat. […]

  • Hukum Berjualan Makanan di Siang Hari ketika Ramadan

    Hukum Berjualan Makanan di Siang Hari ketika Ramadan

    • calendar_month Sabtu, 11 Jun 2016
    • account_circle admin
    • visibility 385
    • 0Komentar

    Bulan Ramadan termasuk bulan yang mulia. Banyak peristiwa penting terjadi di bulan Ramadan, seperti turunnya Alquran, kemenangan umat Islam di perang Badar, dan lain sebagainya. Banyak hadis yang menyebutkan kemulian bulan Ramadan itu sendiri. Di antara keistimewaan puasa Ramadan tercatat dalam hadis di bawah ini: Diriwayatkan dari Abu Hurairah yang mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Setiap […]

  • Satkoryon Banser Kemiri, gelar kegiatan Selapanan Rutin Malam Kamis Kliwon

    Satkoryon Banser Kemiri, gelar kegiatan Selapanan Rutin Malam Kamis Kliwon

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2020
    • account_circle admin
    • visibility 141
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Satkoryon Banser Kemiri gelar kegiatan selapanan rutin malam kamis kliwon, dirumah sahabat Banser Syarifudin Desa Girijoyo, Rabu,26/08/2020. Hadir dalam kesempatan ini Pimpinan Anak Cabang, Anggota Ranting, Anggota Satkoryon Banser Kemiri. Sahabat Saiful A Ketua PAC Gp Ansor kemiri menyampaikan bahwa Barisan Ansor Serbaguna (Banser) ini merupakan badan otonom dari Gerakan Pemuda Ansor, […]

expand_less