Prototype Kader Andalan
- account_circle admin
- calendar_month Jumat, 17 Mei 2024
- visibility 5
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banyak orang yang galau tentang peran apa yang bisa Ia berikan kepada masyarakat. Sementara mengajak masyarakat untuk berbuat kebaikan atau membuat perubahan yang besar tidak semudah kata-kata bijak itu sendiri. Faktanya omongan-omongan kita, mau sebenar apapun dan mau sebaik apapun belum tentu didengarkan orang lain, apalagi orang lain mau melakukan suatu tindakan yang sesuai dengan keinginan kita.
Patuh pada perkataan orang lain memang bukan suatu hal yang datang tiba-tiba. Ada beberapa hal mengaruhi. Contoh yang paling sederhana adalah jabatan. Seseorang yang memiliki jabatan cenderung memiliki kekuatan untuk menggerakkan orang. Selain itu, dalam tatanan masyarakat kita pencapaian dalam bentuk gelar dan lain sebagainya masih dianggap sebagai legitimasi dari kecerdasan seseorang. Bahwa yang berbicara hukum adalah mereka-mereka yang sudah sarjana hukum. Bahwa mereka yang pantas bersuara untuk kebaikan negara adalah mereka mereka yang duduk di kursi eksekutif. Sedangkan kita yang hari ini cacat akademis misalnya, mau sepandai apapun atau mau sebaik apapun omongan kita cenderung kurang didengarkan.
Sebab struktur masyarakat yang seperti itu menyebabkan pandangan terhadap kader yang terbaik dan ideal tidak jauh-jauh dari seberapa jauh titik capaian pada jabatan tertentu. Dalam lingkup internal, menjadi ketua organisasi misalnya. Atau dalam lingkup eksternal menjadi Menteri adalah contoh yang paling gamblang. Selain itu kader terbaik juga cenderung dilihat dari mereka yang berhasil mengkombinasikan berbagai gelar gelar kesarjanaan dan kedoktoran diantara nama-namanya. Tapi apakah benardemikian sahabat-sahanat?
Kita perlu berpikir kritis, bahwa sebenarnya capaian-capaian itu tidak berhenti kepada pencapaian gelar akademik, tidak berhenti juga kepada pencapaian jabatan politik, dan tidak berhenti kepada pengakuan-pengakuan elit, tapi lebih kepada perubahan apa yang bisa diberikan kepada lingkungan, kepada masyarakat, dan lebih khusus kepada organisasi. Sebesar apapun pengaruhnya atau setinggi apapun jabatannya jika tak mampu membuat perubahan tidak akan ada artinya. Sekolah tinggi-tinggi tidak ada salahnya, menempuh karir politik sampai ujung dunia tidak diharamkan, akan tetapi jika tidak mampu membuat perubahan tifak akan ada artinya sama sekali.
Sebaliknya kader-kader organisasi yang bertahan hidup di tengah-tengah masyarakat tanpa memiliki gelar gelar kesarjanaan dan kedoktoran, tanpa memiliki jabatan struktur di pemerintahan ataupun jabatan-jabatan politik lain selama ia bisa memberikan perubahan meskipun kecil dan sesuai kapasitasnya maka ia adalah kader yang bercahaya. Sebab tidak ada perubahan besar tanpa dimulai dari perubahan-perubahan kecil.
Tapi jika anda anda mampu membuat perubahan besar ari jabatan-jabatan yang sudah besar atau dari titel-titel yang berjajar-jajar maka adalah maka sahabat adalah faktor yang luar biasa dan kader-kader seperti ini selain menjadi prototipe ideal untuk organisasi pastilah juga menjadi kader-kader yang diperebutkan oleh calon mertua di seluruh Nusantara.

Saat ini belum ada komentar