Breaking News
light_mode
Trending Tags

Penyebaran Hoax adalah Sebuah Kekejian

  • account_circle admin
  • calendar_month Senin, 26 Des 2016
  • visibility 406
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pati,
Di era digital seperti saat ini arus informasi dinilai menjadi begitu mudah didapatkan. Hanya saja ironisnya tidak semua informasi tersebut bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan berita sesungguhnya dan berita hoax atau bohong itu semakin sulit untuk dibedakan.

Anis Sholeh Baasyin, saat membuka Suluk Maleman pada Sabtu (24/12) kemarin bahkan menyebut perilaku penyebar hoax itu adalah sesuatu yang keji. Dirinya menilai hoax adalah bagian dari fitnah.

Berita bohong itu berdampak begitu besar. Mampu memalsukan realitas dan memalsukan kesadaran. Salah satu yang mengacaukan bangsa ini dianggapnya berasal dari berita hoax tersebut.

“Di situlah kita harus mencari titik tengah. Harus ada kesadaran dan keadilan dalam melihat sesuatu. Jangan sampai dengan salah melihat kita justru berbuat ketidak-adilan,” ujarnya pada acara yang digelar di Rumah Adab Indonesia, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu.

Dirinya juga mengingatkan, untuk dapat bersikap adil pertama-tama orang harus berhati-hati dalam membuat penilaian. Termasuk adil dalam mengumpulkan segala perspektif. Dan jika dirasa tidak bisa adil maka sebaiknya menutup mulut atau tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Sebenarnya saat ini pun tidak ada masalah yang serius terkait toleransi antaragama. Yang ada hanya orang yang sengaja membesar-besarkan permasalahan di media sosial,” terangnya.

Saling Memahami

Bagi Anis, salah satu kunci solusi dalam menghadapi kondisi seperti saat ini adalah dengan menumbuh-kembangkan sikap saling memahami, sikap ta’aruf yang tidak sekedar saling mengenal di lapis permukaan, tapi harus menukik ke kedalaman. Jika itu bisa dilakukan, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi mercusuar kemajuan dunia.

“Kalau orang Islam dengan orang Islam saja tidak bisa saling memahami, lantas bagaimana dengan golongan atau penganut agama lain?” demikian ujarnya.

Dirinya juga menegaskan, jika seseorang ingin menilai orang atau sebuah gejala atau suatu peristiwa, seharusnya orang tersebut harus sudah bisa merdeka dari daya tarik kepentingan-kepentingan dirinya sendiri, baik yang disadari atau tidak.

Menurut Anis, hanya dengan cara itu, baik sebagai individu maupun sebagai ummat, kaum muslimin mampu menjadi wasit yang adil bagi seluruh manusia.

“Rasulullah adalah teladannya. Bayangkan saja jika Rasul punya kebencian, pasti hanya memiliki sedikit sekali pengikut. Karena hampir semua sahabat Nabi, awalnya adalah sekaligus orang atau pihak yang pernah memusuhi bahkan berencana membunuhnya,” tambahnya.

Gus Nuril Arifin yang turut hadir dalam ngaji ngAllah bertajuk “Tengah Tegak Lurus Langit” itu juga mengingatkan agar jangan mudah berbicara sesuatu jika ternyata masih ada kepentingan diri. Dirinya mengingatkan agar jangan sampai bergerak lantaran dituntun oleh nafsu, karena hal tersebut bukannya akan menurai masalah tapi justru akan merumitkannya.

“Sebagai orang yang lahir di Indonesia, kita juga harus bersikap tanpa dipengaruhi orang lain. Harus adil. Saya orang Islam, saya orang Jawa dan saya juga orang Indonesia. Kalau yang Hindu seperti India, yang Budha seperti Cina, yang Kristen seperti barat, dan yang Islam seperti Arab; lalu yang seperti Indonesia yang mana? Yang seperti Jawa yang mana?,” tambahnya.

Hal itulah yang dikatakannya menjadikan masalah di bangsa ini. Menurutnya saat ini orang beragama hanya dilihat dari pakaiannya saja. Orang mengganggap atribut begitu mewakili keimanan seseorang.

“Coba kalau diingat sejak kapan kupluk atau peci itu beragama? Seharusnya kita bangga menjadi Indonesia. Tidak kebarat-baratan dan tidak ke arab-araban,” ujarnya.

Padahal kalau disadari banyak pula orang Indonesia yang menjadi tokoh agama di Mekkah dan Madinah. Orang-orang barat juga begitu serius belajar kebudayaan di Jawa. Hal itulah yang membuatnya menyayangkan orang Jawa yang justru kehilangan kejawaannya, orang Indonesia kehilangan keindonesiaannya.

“Saat ini banyak yang terjebak dalam agama formal, sehingga yang dibicarakan hanya sebatas fiqih saja,” tambahnya.

KH Abdullah Umar Fayumi atau yang biasa di sapa Gus Umar menambahkan dalam Jawa sebenarnya terdapat ajaran luhur. Orang biasa menyebutkan otak atik gatuk. Meski seperti bermain-main, kalau dilihat dengan lebih dalam hal tersebut sebenarnya bisa menjadi panduan yang baik.

“Dalam ajaran itu kita diajarkan untuk menggunakan otak dan ati (hati) hingga akhirnya gathuk (sesuai),” demikian ujarnya

Dirinya juga menyebutkan bahwa dalam diri manusia ada pancaran cahaya-cahaya Allah. Sehingga dengan mengenali diri maka bisa menjadi langkah untuk mengenali Tuhannya.

“Hidup yang baik adalah yang mengalir bagaikan gelombang. Bisa mengalir masuk kemana-mana,” tuturnya.

Selain Gus Nuril dan Gus Umar, dalam pagelaran Suluk Maleman yang jatuh tepat di perjalanannya yang ke lima tahun itu juga turut menghadirkan Kiai Budi Harjono dan juga Dalang Sigit Ariyanto dari Rembang.

Begitu hangatnya diskusi itu membuat acara itu baru dirampungkan pada Ahad (25/12) sekitar pukul 02.30 kemarin. Pagelaran musik dari Sampak GusUran membuat dialog itu kian mencairkan situasi dialog yang dihadiri ratusan orang itu. Bahkan meski sempat diguyur hujan namun tidak sampai menyurutkan minat peserta. (Red: Mahbib)
Penyebaran Hoax adalah Sebuah Kekejian
Pati, NU Online
Di era digital seperti saat ini arus informasi dinilai menjadi begitu mudah didapatkan. Hanya saja ironisnya tidak semua informasi tersebut bisa dipercaya kebenarannya. Bahkan berita sesungguhnya dan berita hoax atau bohong itu semakin sulit untuk dibedakan.

Anis Sholeh Baasyin, saat membuka Suluk Maleman pada Sabtu (24/12) kemarin bahkan menyebut perilaku penyebar hoax itu adalah sesuatu yang keji. Dirinya menilai hoax adalah bagian dari fitnah.

Berita bohong itu berdampak begitu besar. Mampu memalsukan realitas dan memalsukan kesadaran. Salah satu yang mengacaukan bangsa ini dianggapnya berasal dari berita hoax tersebut.

“Di situlah kita harus mencari titik tengah. Harus ada kesadaran dan keadilan dalam melihat sesuatu. Jangan sampai dengan salah melihat kita justru berbuat ketidak-adilan,” ujarnya pada acara yang digelar di Rumah Adab Indonesia, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, itu.

Dirinya juga mengingatkan, untuk dapat bersikap adil pertama-tama orang harus berhati-hati dalam membuat penilaian. Termasuk adil dalam mengumpulkan segala perspektif. Dan jika dirasa tidak bisa adil maka sebaiknya menutup mulut atau tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

“Sebenarnya saat ini pun tidak ada masalah yang serius terkait toleransi antaragama. Yang ada hanya orang yang sengaja membesar-besarkan permasalahan di media sosial,” terangnya.

Saling Memahami

Bagi Anis, salah satu kunci solusi dalam menghadapi kondisi seperti saat ini adalah dengan menumbuh-kembangkan sikap saling memahami, sikap ta’aruf yang tidak sekedar saling mengenal di lapis permukaan, tapi harus menukik ke kedalaman. Jika itu bisa dilakukan, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi mercusuar kemajuan dunia.

“Kalau orang Islam dengan orang Islam saja tidak bisa saling memahami, lantas bagaimana dengan golongan atau penganut agama lain?” demikian ujarnya.

Dirinya juga menegaskan, jika seseorang ingin menilai orang atau sebuah gejala atau suatu peristiwa, seharusnya orang tersebut harus sudah bisa merdeka dari daya tarik kepentingan-kepentingan dirinya sendiri, baik yang disadari atau tidak.

Menurut Anis, hanya dengan cara itu, baik sebagai individu maupun sebagai ummat, kaum muslimin mampu menjadi wasit yang adil bagi seluruh manusia.

“Rasulullah adalah teladannya. Bayangkan saja jika Rasul punya kebencian, pasti hanya memiliki sedikit sekali pengikut. Karena hampir semua sahabat Nabi, awalnya adalah sekaligus orang atau pihak yang pernah memusuhi bahkan berencana membunuhnya,” tambahnya.

Gus Nuril Arifin yang turut hadir dalam ngaji ngAllah bertajuk “Tengah Tegak Lurus Langit” itu juga mengingatkan agar jangan mudah berbicara sesuatu jika ternyata masih ada kepentingan diri. Dirinya mengingatkan agar jangan sampai bergerak lantaran dituntun oleh nafsu, karena hal tersebut bukannya akan menurai masalah tapi justru akan merumitkannya.

“Sebagai orang yang lahir di Indonesia, kita juga harus bersikap tanpa dipengaruhi orang lain. Harus adil. Saya orang Islam, saya orang Jawa dan saya juga orang Indonesia. Kalau yang Hindu seperti India, yang Budha seperti Cina, yang Kristen seperti barat, dan yang Islam seperti Arab; lalu yang seperti Indonesia yang mana? Yang seperti Jawa yang mana?,” tambahnya.

Hal itulah yang dikatakannya menjadikan masalah di bangsa ini. Menurutnya saat ini orang beragama hanya dilihat dari pakaiannya saja. Orang mengganggap atribut begitu mewakili keimanan seseorang.

“Coba kalau diingat sejak kapan kupluk atau peci itu beragama? Seharusnya kita bangga menjadi Indonesia. Tidak kebarat-baratan dan tidak ke arab-araban,” ujarnya.

Padahal kalau disadari banyak pula orang Indonesia yang menjadi tokoh agama di Mekkah dan Madinah. Orang-orang barat juga begitu serius belajar kebudayaan di Jawa. Hal itulah yang membuatnya menyayangkan orang Jawa yang justru kehilangan kejawaannya, orang Indonesia kehilangan keindonesiaannya.

“Saat ini banyak yang terjebak dalam agama formal, sehingga yang dibicarakan hanya sebatas fiqih saja,” tambahnya.

KH Abdullah Umar Fayumi atau yang biasa di sapa Gus Umar menambahkan dalam Jawa sebenarnya terdapat ajaran luhur. Orang biasa menyebutkan otak atik gatuk. Meski seperti bermain-main, kalau dilihat dengan lebih dalam hal tersebut sebenarnya bisa menjadi panduan yang baik.

“Dalam ajaran itu kita diajarkan untuk menggunakan otak dan ati (hati) hingga akhirnya gathuk (sesuai),” demikian ujarnya

Dirinya juga menyebutkan bahwa dalam diri manusia ada pancaran cahaya-cahaya Allah. Sehingga dengan mengenali diri maka bisa menjadi langkah untuk mengenali Tuhannya.

“Hidup yang baik adalah yang mengalir bagaikan gelombang. Bisa mengalir masuk kemana-mana,” tuturnya.

Selain Gus Nuril dan Gus Umar, dalam pagelaran Suluk Maleman yang jatuh tepat di perjalanannya yang ke lima tahun itu juga turut menghadirkan Kiai Budi Harjono dan juga Dalang Sigit Ariyanto dari Rembang.

Begitu hangatnya diskusi itu membuat acara itu baru dirampungkan pada Ahad (25/12) sekitar pukul 02.30 kemarin. Pagelaran musik dari Sampak GusUran membuat dialog itu kian mencairkan situasi dialog yang dihadiri ratusan orang itu. Bahkan meski sempat diguyur hujan namun tidak sampai menyurutkan minat peserta. (NUOnline, Mahbib)

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lazisnu Purworejo Bangkit Bersama Petani Berbagi Sayuran Guna Makmurkan Masyarakat

    Lazisnu Purworejo Bangkit Bersama Petani Berbagi Sayuran Guna Makmurkan Masyarakat

    • calendar_month Rabu, 26 Mei 2021
    • account_circle Alfin Zidni
    • visibility 637
    • 0Komentar

    Purworejo, ansorepurworejo.org – PC NU Purworejo melalui Nucare- Lazisnu menyelangarakan bagi – bagi sayuran gratis kerjasama dengan petani sayuran jalur Ketembes Wonosobo, kegiatan tersebut dilaksanakan didua tempat di Desa Lugosobo, Gebang dan Desa Wero Ngombol Purworejo. Selasa, 25/05/2021. Menurut manajer bidang pentasyarufan dan Pendayagunaan Lazisnu Purworejo Miftahudin menyampaikan kegiatan tersebut sebagai upaya lazisnu mendorong peningkatan […]

  • Ranting GP Ansor Winong Gelar Ngaji Malam Mingguan

    Ranting GP Ansor Winong Gelar Ngaji Malam Mingguan

    • calendar_month Senin, 17 Mei 2021
    • account_circle admin
    • visibility 519
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Ranting GP Ansor Winong selenggarakan Ngaji Mingguan. Ngaji mingguan ini merupakan wujud kebersamaan antar anggota. Selain itu juga, untuk membangun komunikasi antar anggota. Kegiatan ini diselenggarakan di Kediaman Sahabat Nadhif Desa Winong, Jum’at (03/09/2021) Hadir pada kesempatan ini, Ketua Ranting GP Ansor Desa Winong, Penasehat Ranting Winong, dan Anggota Ranting GP Ansor […]

  • PELANTIKAN PIMPINAN RANTING GP ANSOR DESA DADIREJO, KECAMATAN BAGELEN

    PELANTIKAN PIMPINAN RANTING GP ANSOR DESA DADIREJO, KECAMATAN BAGELEN

    • calendar_month Rabu, 25 Sep 2024
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 72
    • 3Komentar

    Pada malam yang penuh berkah, 14 September 2024, Masjid Mujahidin di Desa Dadirejo menjadi saksi sejarah. Ranting GP Ansor Desa Dadirejo resmi dilantik dalam sebuah acara yang khidmat dan meriah. Acara dimulai pukul 20.00, dihadiri oleh para tokoh masyarakat, anggota GP Ansor, serta warga desa yang antusias. Dengan suasana yang hangat, pengurus lama menyerahkan tugas […]

  • MTs Ma’arif NU 02 Bruno Gelar Akhirussanah, Tegaskan Komitmen Pendidikan Berbasis Nilai dan Inovasi

    MTs Ma’arif NU 02 Bruno Gelar Akhirussanah, Tegaskan Komitmen Pendidikan Berbasis Nilai dan Inovasi

    • calendar_month Minggu, 1 Jun 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Balai Desa Tegalsari menjadi saksi kebahagiaan dan haru dalam acara Akhirussanah dan Pelepasan Siswa Kelas IX MTs Ma’arif NU 02 Bruno. Kegiatan ini menjadi penanda berakhirnya masa belajar para siswa di jenjang MTs dan menjadi momentum apresiasi atas prestasi serta perjalanan mereka selama tiga tahun terakhir. Rangkaian acara dimulai dengan Khotmil Kutub oleh siswa kelas […]

  • Sambut Transformasi Menjadi UNU Jateng, IKA STAINU Purworejo Sukses Gelar Reorganisasi Lintas Generasi

    Sambut Transformasi Menjadi UNU Jateng, IKA STAINU Purworejo Sukses Gelar Reorganisasi Lintas Generasi

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 443
    • 5Komentar

    PURWOREJO – Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Purworejo sukses menggelar agenda reorganisasi akbar pada Sabtu (16/05/2026). Bertempat di Auditorium STAINU Purworejo, momentum bersejarah ini dihadiri oleh jajaran alumni lintas generasi—mulai dari era kampus masih bernama Perguruan Tinggi Islam Indonesia (PTII), Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Nahdlatul Ulama (STITNU), hingga lulusan […]

  • Ansor Banser Bener Turun Ke Lapangan Lakukan Aksi Sosial

    Ansor Banser Bener Turun Ke Lapangan Lakukan Aksi Sosial

    • calendar_month Kamis, 10 Des 2020
    • account_circle admin
    • visibility 514
    • 0Komentar

    Bener 06/12/2020 .Sebagai rasa bentuk kepedulian meringankan sesama warga, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Bener, membantu warganya yang tertimpa musibah kebakaran beberapa hari lalu. Inilah salah satu bentuk nyata komitmen kami dalam peduli kemanusiaan. Demikian disampaikan Ketua PLH Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Bener Ahmad Aziz.Arifin Zuhri selaku Wakasatkoryon Banser Bener […]

expand_less