Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH Ma’ruf Amin, Sosok Ahli Fiqih Terampil

  • account_circle admin
  • calendar_month Jumat, 3 Feb 2017
  • visibility 429
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Langkah kakinya pendek-pendek. Tatapan matanya sering ke arah depan. Jarang menunduk dan menengadah. Selalu tampak tersenyum. Egaliter dan dialogis. Tak menonjolkan diri sebagai tokoh penting di organisasi massa Islam terbesar negeri ini. Itulah KH Ma’ruf Amin.

Kiai Ma’ruf adalah Rais Am PBNU periode 2015-2020 sekaligus Ketua Umum MUI periode 2015-2020. Dua posisi puncak yang dijabat secara sekaligus ini jarang dimiliki banyak orang. Ulama yang mendapatkan posisi yang sama sebelum Kiai Ma’ruf adalah KH MA Sahal Mahfudh, rahimahu Allah.

Namun, dalam konteks NU, tak seperti para Rais Aam PBNU sebelum-sebelumnya yang semuanya tinggal di daerah, Kiai Ma’ruf tinggal di jantung ibu kota negara, Jakarta. Karena itu, ia mudah diakses oleh media. Ia bisa diwawancara kapan saja. Terlebih beliau ngantor hampir tiap hari; Senin-Selasa di Kantor MUI, Rabu-Kamis di kantor PBNU.

Penting diketahui, Kiai Ma’ruf ini bukan tipe kiai yang suka berdiri di belakang sebagai penjaga gawang. Jika diperlukan, beliau tak ragu maju ke depan, memimpin “serangan”. Ini karena beliau mengerti arah mata angin. Hampir separuh usianya memang dihabiskan di dunia politik. Pernah menjadi anggota lembaga legislatif, dari tingkat bawah hingga pusat.

Aktivitasnya di ranah politik praktis ini yang menyebabkan sebagian orang lupa bahwa Kiai Ma’ruf adalah seorang ahli fikih yang terampil. Para pelajar Islam belakangan tampaknya jarang mendengar noktah-noktah pemikiran keislamannya yang brilian. Padahal, hemat penulis, jika mau ditelusuri jejak akademiknya, Kiai Ma’ruf ini memiliki peran cukup signifikan dalam meletakkan fondasi pembaharuan pemikiran Islam terutama dalam NU.

Dulu ketika NU diserang sebagai organisasi tempat berhimpunnya para muqallid, Kiai Ma’ruf bersama para koleganya seperti Kiai Sahal, Gus Dur, Gus Mus, Kiai Maimoen Zubair, Kiai Imron Hamzah, dan Kiai Wahid Zaini membuat sejumlah terobosan penting. Salah satunya adalah dibukanya pintu istinbath dan ilhaq dalam tubuh NU. Ini sudah dikukuhkan dalam keputusan Munas NU di Lampung, 21-25 Januari 1992.

Saat itu resistensi dari sejumlah kiai bermunculan. Menurut para kiai yang kontra, kerja istinbath dan ilhaq itu adalah kerja akademik para mujtahid seperti para imam madzhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad ibn Hanbal) atau sekurangnya para ulama madzhab setingkat Imam Nawawi dan Imam Rofi’i. Dan menurut mereka, di NU hingga sekarang tak ada kiai yang memenuhi kualifikasi sebagai mujtahid. Karena itu, tawaran istinbath dan ilhaq itu tak relevan bagi NU.

Penolakan itu terus menggema, dari dulu bahkan hingga sekarang. Tapi tak ada langkah mundur dari Kiai Ma’ruf dkk. Sekali layar terkembang, pantang surut ke tepian. Hingga pidatonya dalam harlah NU ke 91 kemarin, Kiai Ma’ruf masih menegaskan posisi akademik yang sama, yaitu penampikannya pada tekstualisme dan kejumudan dalam berpikir.

Mengutip Imam al-Qarafi, Kiai Ma’ruf menegaskan bahwa stagnan pada bunyi-harafiah teks Islam tidak memadai untuk menjawab persoalan-persoalan keumatan dan kebangsaan hari ini. Al-Qarafi berkata, al-jumud ‘alal manqulat dhalalun fi al din. Lebih bermasalah lagi, demikian Kiai Ma’ruf, adalah tekstualisme dalam memahami teks-teks keagamaan seperti dalam Kitab Kuning.

Sejak awal 90-an hingga sekarang, Kiai Ma’ruf istiqomah berkampanye tentang pentingnya memahami kitab kuning secara kontekstual, yaitu usaha untuk memahami teks kitab kuning lengkap dengan memahami konteks ketika teks itu disusun oleh pengarangnya.

Tak hanya itu. Seperti umumnya para pembaharu Islam lain, Kiai Ma’ruf pun mengusung ide kemaslahatan. Sebuah adagium yang potensial menghambat pendaratan kemaslahatan dan menahan laju dinamisasi pemikiran Islam secara umum coba dimodifikasi oleh Kiai Ma’ruf. Adagium itu di antaranya berbunyi, al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara yang lama yang masih baik dan mengambil yang baru yang lebih baik).

Kaidah ini sesungguhnya menuntut adanya keseimbangan antara merawat tradisi dan upaya inovasi. Namun, dalam implementasinya, bobot merawat tradisi lebih besar sehingga porsi untuk melakukan inovasi pemikiran kurang memadai.

Dari segi substansi, kaidah itu tentu tak bermasalah. Bahkan sangat baik. Namun, menurut Kiai Ma’ruf, kaidah itu perlu dilengkapi. Kiai Ma’ruf menawarkan modifikasi kaidah itu demikian, al-muhafadhah ‘alal qadim al-shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah wal ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah.

Poinnya, menurut Kiai Ma’ruf, kemaslahatan itu harus selalu ditinjau ulang. Sebab, “boleh jadi sesuatu dipandang maslahat hari ini, dua tiga tahun lagi sudah tidak maslahat lagi”, tandas Kiai Ma’ruf. Karena itu, penelusuran pada ditemukannya puncak kemaslahatan adalah kerja akademik yang perlu terus menerus dilakukan.

Tapi, sebagaimana para pemikir Islam lain, Kiai Ma’ruf tak membuka aktivitas istinbath pada ranah ibadah. Urusan ibadah, beliau pasrah. Sementara di ranah mu’amalah termasuk siyasah, Kiai Ma’ruf terus melakukan eksplorasi dan inovasi-inovasi pemikiran. Semoga sehat selalu, Kiai.

KH Abdul Moqsith Ghazali, Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU.

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gerakan Nahdliyin Tanam Pohon, PCNU Purworejo Teguhkan Asuh Bumi Menuju Abad Kedua NU

    Gerakan Nahdliyin Tanam Pohon, PCNU Purworejo Teguhkan Asuh Bumi Menuju Abad Kedua NU

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle admin
    • visibility 122
    • 1Komentar

    Purworejo – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Purworejo menggelar Gerakan Nahdliyin Tanam Pohon sebagai wujud nyata kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, Jumat (9/1/2026). Kegiatan yang berlangsung di kawasan Taman Sidandang, Kaligesing, ini menjadi bagian dari rangkaian menyambut Abad Kedua Nahdlatul Ulama. Kegiatan dimulai sejak pagi hari dengan penanaman berbagai jenis pohon yang memiliki nilai ekologis […]

  • Muhasabah, From Zero To Hero

    Muhasabah, From Zero To Hero

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
    • account_circle Masagoez
    • visibility 593
    • 1Komentar

    Setiap pergantian tahun merupakan momentum bagi setiap orang untuk melakukan muhasabah (mawas diri) terhadap perjalanan hidup yang dilalui selama setahun. Apakah yang telah kita lakukan dari detik ke menit , menit ke jam, jam ke hari, hari ke pekan dan pekan ke bulan? Perbandingan bagi seorang pedagang tentu akan dihitung untung ruginya barang yang telah […]

  • Gus Aun: Empat Karakter Yang harus Dimiliki GP Ansor

    Gus Aun: Empat Karakter Yang harus Dimiliki GP Ansor

    • calendar_month Senin, 24 Feb 2020
    • account_circle H.M. Haekal
    • visibility 838
    • 2Komentar

    Saat Acara Pelantikan dan Rapat Kerja Cabang I PC GP Ansor Purworejo masa khidmah 2019 – 2023 di Gedung NU Center Purworejo , Sahabat H Aunullaah A’la Habib Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat GP Ansor yang hadir mewakili Ketua Umum PP GP Ansor Sahabat H Yaqut Cholil Qoumas dalam sambutanya dihadapan Pengurus PC GP Ansor Purworejo […]

  • MWC NU Bruno Memulai Pembangunan Gedung NU Centre dengan Selamatan dan Peletakan Batu Pertama

    MWC NU Bruno Memulai Pembangunan Gedung NU Centre dengan Selamatan dan Peletakan Batu Pertama

    • calendar_month Kamis, 29 Jun 2023
    • account_circle PAC Bruno
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Bruno, 29 Juni 2023 – Tahapan pembangunan Gedung NU Centre di Kecamatan Bruno akhirnya dimulai hari ini, Kamis, 29 Juni 2023. Acara kick-off ditandai dengan upacara selamatan dan peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Pengurus MWC NU Bruno. Upacara ini menjadi momen bersejarah bagi Komunitas Nahdlatul Ulama di Kecamatan yang dijuluki lantai duanya Purworejo ini. […]

  • Ranting Nahdlatul Ulama Bedono Pageron Bersama GP Ansor dan Masyarakat Santuni Anak Yatim Piatu pada 10 Muharram

    Ranting Nahdlatul Ulama Bedono Pageron Bersama GP Ansor dan Masyarakat Santuni Anak Yatim Piatu pada 10 Muharram

    • calendar_month Kamis, 19 Agt 2021
    • account_circle admin
    • visibility 644
    • 0Komentar

    KEMIRI, ansorpurworejo.org – Tradisi 10 Muharram merupakan tradisi rutin yang dilaksanakan oleh Ranting Nahdlatul ulama Bedono Pageron Bersama Muslimat, Fatayat, GP Ansor, Banser, IPNU IPPNU l, Warga Masyarakat dengan menyantuni anak yatim dan piatu. Karena pada 10 Muharram banyak sekali keistimewaan yang diberikan oleh Allah SWT untuk memulyakan anak yatim. Di antaranya adalah pelipat gandaan […]

  • Semarak Jelang Harlah ke-79, PC Muslimat NU Purworejo Gelar Aneka Lomba Edukatif, Meriahkan Semangat Perjuangan Perempuan Nahdliyyin

    Semarak Jelang Harlah ke-79, PC Muslimat NU Purworejo Gelar Aneka Lomba Edukatif, Meriahkan Semangat Perjuangan Perempuan Nahdliyyin

    • calendar_month Jumat, 11 Jul 2025
    • account_circle Achmad Luthfi Khakim
    • visibility 104
    • 2Komentar

    PURWOREJO, ansorpurworejo.org – Menjelang peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-79 Muslimat Nahdlatul Ulama, Pimpinan Cabang (PC) Muslimat NU Kabupaten Purworejo menggelar serangkaian kegiatan yang bertujuan tidak hanya untuk merayakan usia organisasi, namun juga menumbuhkan semangat kebersamaan, kemandirian, serta kreativitas di kalangan anggotanya. Puncak harlah sendiri dijadwalkan akan berlangsung pada Sabtu, 20 Juli 2025 di Alun-Alun Purworejo. […]

expand_less