Breaking News
light_mode
Trending Tags

Biografi KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 27 Apr 2021
  • visibility 1.123
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz lahir di Kota Kudus. Beliau merupakan anak ke tujuh dari delapan bersaudara. Beliau ditinggalkan ibundanya semenjak kecil tepatnya ketika berusia 8 tahun. Sepeninggal ibunya kiai Sya’roni di asuh oleh sang ayah. Namun masa ini pun tidak berlangsung lama. Karena menginjak usiannya yang ke 13 tahun, kiai Sya’roni ditinggal oleh ayahnya. Lengkap sudah duka kiai Sya’roni karena sejak saat itu ia menjadi anak yatim piatu.

Pada tahun 1962 KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz melepas masa lajangnya dengan menikahi seorang gadis bernama Afifah. Dari pernikahan itu beliau deianugerahi 8 anak putra, 2 anak laki-laki dan 6 anak perempuan.

PENDIDIKAN

Sejak kecil KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz dikenal sebagai anak yang gandrung mengkaji agama, mulai dari al-Qur’an sampai tauhid, fikih, tasawuf dan sebagainya. Terbukti, meskipun berasal dari keluarga dari ekonomi pas-pasan, beliau rajin mengikuti pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kota Kudus.

Sya’roni kecil termasuk anak yang cerdas. Pada usia 11 tahun berliau sudah hafal kitab Alfiyah Ibnu Malik bahkan hafal al-Quran. Dalam pendidikan formalnya beliau sempat mengenyam pendidikan di Madrasah Diniyah Mu’awanah di Madrasah Ma’ahid lama (pada masa KH. Muchit). Sedangkan pendidikan non formalnya, baliau banyak belajar dari satu tempat ke tempat lain.

Untuk belajar al-Qur’an utamanya Qira’ah al-Sab’ah berliau berguru kepada KH. Arwani Amin Kudus yang mengasuh Pondok Yanbu’ul Qur’an. Beliau juga sempat berguru kepada KH. Turaichan Adjhuri. Sedangkan guru-gurunya yang lain adalah KH. Turmudzi dan KH. Asnawi dan lain-lain.

Kiai Sya’roni banyak dikenal sebagai sosok yang menguasai ilmu agama secara interdisipliner. Beliau tidak hanya mahir dalam ilmu tafsir, tetapi juga dalam ushul al-fiqh, fikih, mantiq, balaghah dan sebagainya. Dalam hal al-Qur’an, baliau tidak hanya pandai membacanya namun juga pintar melagukannya bahkan beliau menjadi dewan Musabawah Tilawatil al-Qur’an (MTQ) tingkat nasional.

Setelah sekian lama belajar, KH. Sya’roni Ahmadi Al Hafidz mulai berdakwah di masyarakat dalam usianya yang sangat muda. Dalam melaksanakan dakwah Islamiyah ini, Kiai Sya’roni menggunakan dua model. Pertama yakni model dakwah di masjid-masjid atau di sebuah rumah warga yang dijadikan tempat untuk mengaji; kedua adalah pengajian umum atau tabligh akbar.

Metode pertama ini biasanya dipakai dan dikonsumsi oleh masyarakat sekitar tempat tinggalnya. Pengajian yang dilakukan sudah ditetapkan jadwalnya dan proses pengajarannya pun dilakukan secara berkesinambungan.

Sedang model kedua biasanya dipakai untuk berdakwah di luar daerah. Hal ini karena di samping masalah waktu yang tidak memungkinkan untuk berdakwah dengan model pertama juga terkadang karena permintaan dari penduduk setempat.

Dalam melakukan dakwah Islamiyah, sekitar tahun 1960 sampai 1970-an, Kiai Sya’roni dikenal sebagai tokoh yang sangat keras. Apalagi saat itu adalah masa-masa ideologi komunisme yang dilancarkan PKI.

Gaya yang “keras” ini selalu dipakai Kiai Sya’roni dalam berbagai kesempatan karena keadaan waktu itu mengandaikan demikian. Baik ketika khutbah maupun pengajian umum atau tabligh akbar beliau selalu tampil dengan mengambil hukum yang tegas ketika dihadapkan pada suatu permasalahan yang terjadi dalam masyarakat (waqi’iyyah). Konon gaya seperti ini sering dipakai KH. Turaikhan dalam berdakwah.

Namun sekitar periode 1980-an, kiai Sya’roni mulai banting setir. Gaya dakwah yang selama ini dilakukan dengan nada keras dirubah total dengan memakai gaya yang melunak. Perubahan gaya dalam berdakwah ini dilakukan dengan pendekatan komparatif yakni merujuk kepada pergeseran masyarakat dari waktu ke waktu serta logika kebutuhan masyarakat yang tiap saat berubah. Karena masyarakat dari waktu ke waktu berubah maka metode berdakwah pun mesti berubah

PERAN DI NAHDLATUL ULAMA

Dalam konteks kepartaian, pada 1955 Kiai Sya’roni merupakan sosok yang rajin berkampanye untuk Partai Ka’bah. Sampai dengan tahun 1970-an Kiai Sya’roni juga sering terlibat aktif dalam Partai NU sampai akhirnya NU mengambil keputusan kembali ke Khittah 1926 dalam Muktamar Situbondo. Dan beliau merupakan orang NU yang mendukung kembali khittah NU 1926.

Adapun pasca khittah NU kiai Sya’roni juga sempat terlibat di Partai persatuan Pembangunan (PPP). Namun beliau hanya bermain di belakang layar dan tidak berada di garis struktural kepartaian. Beliau cenderung mengambil posisi netral. Langkah ini menjadikan kiai Sya’roni mampu diterima oleh semua kalangan. Hubungan dengan pemerintah daerah yang waktu itu didominasi oleh Golkar tetap terjaga dengan baik. Ditambah lagi dengan pembawaan beliau yang lunak dan halus.

Baliau juga sangat menghindari kepentingan partai dalam setiap pengajian yang dilakukan. Kegiatan kultural Kiai Sya’roni tetap berjalan dengan baik. Bahkan beliau menjadi sosok yang disegani, baik oleh pemerintah daerah maupun kelompok-kelompok yang lain.

Selain itu, selama perjuangannya di Kudus, Kiai Sya’roni telah memberikan banyak hal. Tradisi santri yang sekarang ini lekat dengan masyarakat Kudus rasanya tak bisa dilepaskan dari jasa beliau. Pengajian rumahan atau di masjid-masjid seperti di Masjid Al Aqsha Menara Kudus masih rutin dijalankan.

Pengajian tersebut di antaranya adalah membaca al-Qur’an dan tafsir al-Qur’an. Adapun waktunya setelah Subuh. Dalam setiap pengajiannya, kiai Sya’roni juga mampu men-setting iklim toleransi antara beberapa kelompok yang ada, sebut saja kaum Nahdliyyin dan Muhammadiyah.

Dalam bidang pengembangan fisik, kiai Sya’roni banyak memberikan jasa dalam mengembangkan madrasah-madrasah di kota Kudus, seperti Madrasah Banat NU, Muallimat, Qudsiyyah, Tasywiq al-Thullab al-Salafiyah (TBS), dan Madrasah Diniyah Keradenan Kudus.

Kiai Sya’roni juga tercatat sebagai penasehat Rumah Sakit Islam YAKIS dan menjabat mustasyar NU cabang Kudus. Beliau juga mengisi pengajian rutin tiap ahad pagi di Masjid Jama’ah Haji Kudus (JKH).

KARYA-KARYA

Kiai Sya’roni merupakan sosok yang bukan hanya pandai membaca kitab dan berpidato, namun beliau juga tergolong produktif dalam berkarya. Tercatat beliau kerap menulis, mensyarah dan menterjemah beberapa kitab yang digunakan untuk mengajar. Kitab-kitab tersebut banyak dikonsumsi pleh madrasah-madrasah di kota Kudus. Adapun karya-karya tersebut adalah :

  1. Al-Faraid al-Saniyah. Kitab ini banyak mengupas tentang doktrin ahlusunnah wal jama’ah. Penyusunan kitab ini konon diilhami oleh kitab Bariqat al-Muhammadiyah ‘ala Tariqat al-Ahmadiyah milik KH. Muhammadun Pondowan, Tayu, Pati yang saat itu rajin berpidato dan mengisi pengajian untuk menolak gerakan Muhammadiyah di kota Kudus. Kiai Sya’roni menulis kitab ini selama kurang lebih dua tahun.
  2. Faidl al-Asany. Kitab ini terbagi ke dalam tiga juz dan banyak membahas tentang Qira’ah al-Sab’iyyah.
  3. Al-Tashrih al-Yasir fi ‘ilmi al-Tafsir. Kitab ini banyak mengupas tentang tafsir al-Qur’an mulai dari pembacaan, lafal-lafalnya, sanad, arti-arti yang berhubungan dengan hukum dan sebagainya. Kitab setebal 79 halaman ini ditulis pada tahun 1972 M/1392 H.
  4. Tarjamah Tarsil al-Turuqat. Kitab ini membahas ilmu manthiq.
  5. Tarjamah al-Ashriyyah. Kitab ini membahas ilmu Ushul al-Fiqh yang banyak mengupas tentang lafadz ‘amm dan khas, mujmal dan mubayyan, ijma, qiyas dan sebagainya. Kitab ini disusun pada hari ahad siang tanggal 29 Juni 1986 M/21 Syawal 1406 H.
  6. Qira’ah al-Ashriyyah. Kitab ini terdiri dari tiga juz. Penyusunan kitab ini dimaksudkan, sebagaimana penuturan Kiai Sya’roni, untuk memudahkan para santri atau para siswa dalam mempelajari kitab kuning.

source: Laduni.id

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ansor Peduli Bersama TRC NU Salurkan Bantuan Untuk Semeru

    Ansor Peduli Bersama TRC NU Salurkan Bantuan Untuk Semeru

    • calendar_month Kamis, 30 Des 2021
    • account_circle admin
    • visibility 419
    • 0Komentar

    Purworejo – Ansor Peduli yang terdiri dari Bidang Sosial PC GP Ansor dan Banser Tanggap Bencana (Bagana) menyalurkan bantuan untuk korban terdampak Semeru pada Hari Minggu (26/12) ke Posko Bencana Semeru di Kabupaten Lumajan, Jawa Timur. Sebelumnya, dalam seminggu terakhir PC GP Ansor melakukan konsolidasi penggalangan dana bersama dengan jajaran PAC melalui program ‘Kotak Untuk […]

  • Warnai Ekosistem Digital, PAC GP Ansor Purworejo Bentuk Komunitas Digital

    Warnai Ekosistem Digital, PAC GP Ansor Purworejo Bentuk Komunitas Digital

    • calendar_month Rabu, 9 Mar 2022
    • account_circle admin
    • visibility 370
    • 1Komentar

    PURWOREJO, – Ekosistem digital menjadi sebuah dunia baru yang perlu diwarnai oleh Ansor dalam rangka melaksanakan dan memperluaskan cakupan dakwah pemuda ahlus sunnah wal jamaah an-nahdliyyah khususnya di kecamatan Purworejo (9/3). Pesan disampaikan oleh Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Purworejo M Abdul Chamid pada rapat koordinasi Departemen Media IT, Seni Budaya dan […]

  • 3 Pesan Sahabat Haikal Untuk Ansor Banser

    3 Pesan Sahabat Haikal Untuk Ansor Banser

    • calendar_month Minggu, 29 Des 2019
    • account_circle admin
    • visibility 605
    • 0Komentar

    PAC Ansor Bener baru saja menyelenggarakan Konsolidasi Akbar dan Apel Siaga Bencana di Cacabankidul, Bener, Minggu,29/12/2019. Acara ini menghadirkan pemateri ke siap siagaan bencana dari BPBD Kabupaten Purworejo dan motivasi organisasi oleh Ketua PC Ansor Kabupaten Purworejo 2016 – 2019, Sahabat Haikal S.Pd.I. Dalam kesempatan tersebut Sahabat Haikal setidaknya menyampaikan 3 poin dasar yang harus […]

  • Lika-liku Berdirinya Muslimat NU

    Lika-liku Berdirinya Muslimat NU

    • calendar_month Selasa, 17 Mei 2016
    • account_circle admin
    • visibility 578
    • 1Komentar

    Ide kuat untuk mendirikan wadah khusus bagi perkumpulan perempuan Nahdlatul Ulama sebetulnya muncul sejak tahun 1938. Meskipun, peringatan hari lahir Muslimat Nahdlatul Ulama, yang menjadi produk final dari gagasan tersebut, dihitung sejak tahun 1946. Para perempuan NU melihat adanya kebutuhan untuk mendirikan organisasi tersendiri. Mereka yang sudah berperan di banyak sektor merasa belum terkonsolidasi dengan […]

  • Merti Desa Pangenrejo, Gus Ahil Ajak Warga Syukuri Nikmat dan Istiqomah Bersholawat

    Merti Desa Pangenrejo, Gus Ahil Ajak Warga Syukuri Nikmat dan Istiqomah Bersholawat

    • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
    • account_circle Akhmad Najeh
    • visibility 161
    • 6Komentar

    PURWOREJO – Ketua GP Ansor Kabupaten Purworejo, KH Tashilul Manasik atau Gus Ahil, menghadiri peringatan Merti Desa Pangenrejo yang digelar di lapangan Balai Desa Pangenrejo, Sabtu (17/01/2026). Acara diisi dengan sholawat bersama sebagai wujud syukur dan silaturahmi warga. Dalam tausiyahnya, Gus Ahil menekankan pentingnya mensyukuri nikmat Allah SWT. “Nikmat itu bermacam-macam, ada nikmat sehat dan […]

  • Toleransi dalam Perspektif Fikih

    Toleransi dalam Perspektif Fikih

    • calendar_month Sabtu, 24 Sep 2016
    • account_circle admin
    • visibility 452
    • 0Komentar

    Toleransi menjadi penting dideskripsikan guna mengawal kerukunan di tengah masyarakat majemuk seperti Indonesia. Indonesia adalah negara unik dan beda. Sebab Indonesia bukan negara sekuler dan bukan pula negara agama, tapi berlandaskan Pancasila.Sebuah konsep lain yang tetap berlandaskan agama berpadu dengan norma pribumi. Sebagai mayoritas, umat Muslim memiliki tanggung jawab memandu toleransi di negeri ini. Di […]

expand_less