Breaking News
light_mode
Trending Tags

KH R. As’ad Syamsul Arifin Mengawal Negara dari Tapal Kuda

  • account_circle admin
  • calendar_month Selasa, 14 Jun 2016
  • visibility 567
  • comment 1 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Munawir Aziz,Kiai Raden As’ad Syamsul Arifin lahir pada 1897 M/1315 H di Syi’ib Ali, Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. Ketika As’ad kecil lahir, oleh ayahnya, bayi mungil itu langsung dipeluk untuk dibawa menuju Ka’bah. Jarak sejauh 200 meter antara Syi’ib Ali dan Ka’bah tidak menjadi halangan untuk membawa bayi ini mendekat ke pusaran suci umat muslim. Raden Ibrahim kemudian membisikkan adzan dan memberi bayi itu nama As’ad.

Ketika berusia 13 tahun, As’ad kecil mondok di Banyuanyar di bawah asuhan Kiai Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid. Pada usia 16 tahun, As’ad dikirim ayahandanya mengaji ke Makkah, tanah suci di mana ia dilahirkan. Ia belajar di Madrasah Shaulatiyyah. Selain itu, ia juga berguru kepada Sayyid Abbas al-Maliki, Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Hasan Masyath, Syekh Bakir dan Syekh Syarif asy-Syinqithi. Ketika belajar di Makkah, As’ad bersama kawan-kawannya yang berasal dari Nusantara, di antaranya: KH. Zaini Mun’im, KH. Ahmad Thoha, KH. Baidhawi Banyuanyar Pameksaan, dan beberapa santri lainnya.

Pada tahun 1924, setelah bertahun-tahun belajar di Makkah, As’ad kembali ke kampung halaman. Ia merasa masih belum memiliki keilmuan yang cukup, meski keahlian ilmu agamanya sudah  tidak diragukan. Sebagaimana tradisi santri Nusantara, As’ad kemudian meneruskan langkahnya untuk melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiyyah) sebagai santri petualang ilmu, dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Kiai As’ad mengaji tabarukkan di beberapa pesantren di tanah Jawa dan Madura, antara lain: Pesantren Sidogiri Pasuruan (asuhan KH. Nawawi), pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo (asuhan KH. Khazin), Pesantren an-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, Pesantren Kademangan Bangkalan (KH. Muhammad Cholil) dan Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Pengalaman mengaji di Makkah dan beberapa pesantren di Jawa-Madura membuat karakter pribadi serta keilmuan Kiai As’ad menjadi mendalam. Akan tetapi, Pesantren Tebu Ireng lah yang paling membentuk kepribadian Kiai As’ad. Ketika menyebut Kiai Hasyim As’ari (1875-1947) dan Pesantren Tebu Ireng, Kiai As’ad menunjukkan ta’dzim yang sangat tinggi. Di bawah asuhan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai As’ad menemukan karakter, wawasan, perspektif hingga semangat perjuangan untuk kemerdekaan. Di Tebu Ireng, Kiai As’ad berkawan dengan  para santri pejuang, yang kelak menjadi garda depan Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya, yakni KH. Wahab Chasbullah (1888-1971), KH. Bisri Syansuri (1886-1980), KH. Abbas Buntet (1879-1946), KH. Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya.

Mediator Pendirian NUDalam proses pendirian Nahdlatul Ulama, peran Kiai As’ad Syamsul Arifin sangat besar. Hal ini, karena beliaulah yang menjadi mediator antara Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari dan Syaichona Chalil Bangkalan. Pada masa menjelang berdirinya NU, Kiai Chalil Bangkalan mengutus Kiai As’ad ke Tebu Ireng, untuk menemui Kiai Hasyim Asy’ari.

Pesan Syaichona Chalil kepada Kiai Hasyim Asy’ari berwujud perlambang-perlambang yang menggambarkan konteks dan filosofi di balik pentingnya kesatuan ulama. Kiai As’ad diutus oleh Syaichona Chalil untuk menyampaikan sebuah tasbih dan ucapan surat Thaha (17-23), yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnya—kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Kemudian, peristiwa ini terulang kembali, ketika Syaichona Chalil mengirim Kiai As’ad ke Tebu Ireng, untuk menyampaikan pesan berupa wirid “Ya Jabbar Ya Qahhar”. Pesan simbolik berupa tasbih, surah Thaha dan wirid-wirid tersebut, mengandung maksud bahwa Syaichona Chalil merestui pendirian Nahdlatul Ulama dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari menjadi pemimpin spritual ulama Nusantara. Peran penting Kiai As’ad, menjadikan beliau sering disebut sebagai mediator berdirinya Nahdlatul Ulama.

Kiai As’ad juga mengomando Laskar Sabilillah dan Hizbullah. Sosok Kiai As’ad sangat disegani oleh ketiga laskar di kawasan Tapal Kuda, yakni anggota Laskar Sabilillah, Hizbullah dan Pelopor. Kharisma Kiai As’ad menjadikan para kiai yang tergabung dalam barisan Laskar Sabilillah mendengarkan seluruh nasihat, wejangan dan komando Kiai As’ad.  Para santri dan pemuda yang tergabung dalam barisan Laskar Hizbullah juga setia pada strategi dan komando yang diberikan Kiai As’ad. Bahkan, para bandit yang bergerak dalam Barisan Laskar Pelopor juga sendika dawuh (tunduk) dengan perintah Kiai As’ad. Kombinasi ketiga laskar inilah yang menjadi senjata ampuh untuk melawan penjajah di kawasan Tapal Kuda.

Kiai As’ad bersama Kiai Abdus Shomad (sepupunya, pemimpin Seinin dan Keibodan), pada zaman Jepang, pernah mendapat kursus militer di Jember. Teknik dasar militer inilah yang menjadi pondasi strategi Kiai As’ad dan beberapa kiai lainnya, dalam menyusun rencana perjuangan militer yang dipadukan dengan kekuatan santri (Hasan, 2003: 82-84).

Berjuang Mengawal NegeriSosok Kiai As’ad Syamsul Arifin menjadi inspirasi bagi santri masa kini. Beliau memiliki keilmuan, kemampuan dan visi perjuangan yang lengkap. Kiai As’ad memiliki kedalaman ilmu agama yang tidak diragukan, mengusai ilmu militer dan bela diri, serta berhasil mengomando para bandit agar membantu perjuangan santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Syamsul A Hasan (2003), salah satu kecerdikan Kiai As’ad adalah kemampuannya dalam mengorganisir bajingan-bajingan, brandal dan jawara yang sebagian besar berasal dari kawasan Tapal Kuda. Para bandit dan jawara dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang dan Pasuruan dikumpulkan untuk diajak berjuang melawan penjajah Belanda. Barisan bandit ini, kemudian dihimpun sebagai dengan satu nama: “Pelopor”. Barisan Pelopor ini, sering berpakaian serba hitam, mulai dari baju, celana, hingga tutup kepala. Mereka menggunakan senjata celurit, rotan dan keris. Uniknya, para jawara yang berada di barisan Pelopor ini, tunduk dan setia pada komando Kiai As’ad Syamsul Arifin.

Kiai As’ad memerintahkan para pejuang Pelopor bagian logistik untuk mengirim pejuang yang berada di hutan. Pasukan Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pasukan lain berjuang dengan strategi gerilya. Mereka masuk gunung dan keluar gunung, untuk menyerang pasukan Belanda, lalu mengamankan diri. Mereka menggunakan taktik: “serang dan lari”! Strategi ini dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam pelbagai laskar, hingga Negara Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda, pada Desember 1949.

Kiai As’ad mengutus beberapa anggota pasukan Pelopor dan Sabilillah untuk mengambil senjata milik pasukan Belanda. Di kawasan Situbondo, tugas ini dikomando oleh Mawie dan Hamid, barisan Sabilillah. Menariknya, mereka merekrut para brandal yang siap berjuang untuk negara Indonesia. Pada malam hari, para brandal dan preman ini, mengambil senjata-senjata milik Belanda di beberapa Pabrik Gula (PG) kawasan Situbondo. Pada masa penjajahan, Pabrik Gula memegang peran vital sebagai lumbung ekonomi Belanda, hingga mendapat akses langsung ke birokrasi pusat. Di PG, para pekerja keamanan diberi fasilitas senjata. Setelah senjata terkumpul, kemudian dibagikan kepada anggota Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pejuang-pejuang lainnya.

Jaringan pejuang di kawasan Bondowoso dan Jember juga melakukan hal yang sama, merebut senjata dari pasukan Belanda. Para anggota Pelopor mengirim senjata ke markas pejuang Kiai As’ad, dengan melewati hutan belantara. Strategi ini, agar misi ini tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Setelah sampai di Sukorejo, senjata-senjata ini dikumpulkan, disimpan di bawah lumbung padi, dipendam di masjid, atau ditanam di kuburan (Hasan, 2003: 131-134).

Salah satu motivasi dan petuah penting Kiai As’ad tentang perjuangan adalah bagaimana niat menjadi utama: “Perang itu harus niat menegakkan agama dan ‘arebbuk negere (merebut negara), jangan hanya ‘arebbuk negere! Kalau hanya ‘arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!” (Rahman, 2015: 138).

Pemikiran, strategi dan teladan yang diwariskan oleh Kiai As’ad Syamsul Arifin harus menjadi semangat bagi santri masa kini. Apa yang bisa dipetik dari kisah Kiai As’ad? Bahwa santri harus tetap menjaga jalur pengetahuan (sanad) dengan para kiai, mendalami ilmu-ilmu agama yang menjadi benteng kokohnya Islam, merawat Nahdlatul Ulama, serta membela negeri ini kelompok yang ingin merusaknya. Semangat KH. Raden As’ad Syamsul Arifin dapat menjadi pedoman bagi santri untuk menjaga negeri, mengawal kesatuan bangsa ini[].

Munawir Aziz adalah periset Islam Nusantara, Wakil Sekretaris LTN PBNU]
Referensi:
Ahmad Sufiatur Rahman. KH. R. As’ad Syamsul Arifin, Ksatria Kuda Putih Pejuang Negeri. Solo: Tinta Medina. 2015.

 Syamsul A Hasan. Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat. Yogyakarta: PP Salafiyyah Syafi’yyah dan LKIS. 2003. 

M. Hasan Basri dan Chairul Anam. KH.R As’ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. Sahabat Ilmu. 1994.

KH. Abdul Aziz Masyhuri. 99 Kiai Kharismatik Indonesia: Riwayat, Perjuangan dan Doa. Yogyakarta: Kutub. 2008.

Penulis

Penulis Resmi AnsorPurworejo.Org

Komentar (1)

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perkuat Konsolidasi Organisasi, PC GP Ansor Purworejo Gelar Turba di PAC GP Ansor Kemiri

    Perkuat Konsolidasi Organisasi, PC GP Ansor Purworejo Gelar Turba di PAC GP Ansor Kemiri

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Akhmad Najeh
    • visibility 106
    • 2Komentar

    KEMIRI – Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda Ansor Purworejo menggelar kegiatan TURBA (Turun Bawah) sebagai bagian dari agenda konsolidasi organisasi. Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Gedung MWC NU Kemiri, Purworejo, Jumat (13/02/2026) malam. TURBA merupakan agenda strategis organisasi di mana pengurus tingkat cabang mengunjungi jajaran pengurus di tingkat bawah, baik Pimpinan Anak Cabang (PAC) maupun […]

  • GP Ansor Purworejo Tebar 1.934 Ikan, Tutup Rangkaian Harlah ke-92

    GP Ansor Purworejo Tebar 1.934 Ikan, Tutup Rangkaian Harlah ke-92

    • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
    • account_circle admin
    • visibility 154
    • 4Komentar

    Purworejo – Rangkaian peringatan Harlah ke-92 Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kabupaten Purworejo ditutup dengan kegiatan olahraga goes dan tebar benih ikan di Bendungan Kedung Putri, Loano, pada Jumat sore, (1/5/2026). Ketua GP Ansor Purworejo, H. M. Tashilul Manasik, menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya kegiatan yang dimulai dari Kota Purworejo hingga finish di Bendungan Kedung […]

  • 5 Pedoman Sukses Bagi Kader NU

    5 Pedoman Sukses Bagi Kader NU

    • calendar_month Minggu, 14 Jun 2020
    • account_circle admin
    • visibility 1.047
    • 0Komentar

    Oleh: KH. Ali Maksum Krapyak Bekal bagi pengurus dan warga NU dalam meraih sukses organisasi, Bekal itu adalah: 1. Ats-Tsiqatu bi Nahdlatul Ulama. Maksudnya, setiap warga NU harus yaqin dan percaya penuh terhadap NU sebagai satu-satunya tuntunan hidup yang benar. Sebagai satu keyaqinan yang timbul dari sikap batin, tentulah sekaligus menuntut adanya realisasi yg bersifat lahiriyah. Jadi bukan […]

  • KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

    KH Zainul Arifin Pohan: Panglima Santri, Bangsawan dari Barus

    • calendar_month Selasa, 12 Apr 2016
    • account_circle admin
    • visibility 616
    • 1Komentar

    Oleh Munawir Aziz Narasi perjuangan kemerdekaan Indonesia dipenuhi oleh penguasa dan jaringan militer yang melanggengkan heroisme. Sejarah perjuangan kaum santri tidak banyak tercatat, hanya sayup-sayup terdengar. Padahal, dari rahim pesantren, terdapat Laskar Hizbullah, Sabilillah dan segenap laskar pemuda santri yang berjuang untuk kemerdekaan. Gerak juang kaum santri terpinggirkan dari panggung sejarah perjuangan Indonesia. Bagaimana sejarahnya? […]

  • PAC GP Ansor Bagelen Gelar Ziarah Makam Aulia di Jawa Timur

    PAC GP Ansor Bagelen Gelar Ziarah Makam Aulia di Jawa Timur

    • calendar_month Senin, 7 Agt 2023
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Pada tanggal 4 hingga 6 Agustus 2023, Pengurus Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor (PAC GP Ansor) Bagelen menyelenggarakan kegiatan ziarah ke beberapa tempat makam Aulia di Jawa Timur. Kegiatan ini bertujuan untuk mempererat rasa kebersamaan dan meningkatkan spiritualitas anggota dalam mendekatkan diri kepada Tuhan serta mengenang jasa pahlawan dan tokoh agama di tempat-tempat bersejarah. Hari […]

  • Sholat Tanggal 10 Muharram

    Sholat Tanggal 10 Muharram

    • calendar_month Kamis, 27 Jul 2023
    • account_circle PAC Bagelen
    • visibility 76
    • 0Komentar

      Dianjurkan shalat dilakukan pada malam tgl 10 muharram (malam jumat depan ini), dimulai setelah isyak sampai subuh. Sumber: Kitab Ianah At Thalibin juz 2 hal 267. Sholat empat rakaat seperti shalat duhur, dengan duduk tahiyat akhir saja. Niat Shalat Sunnah Mutlaq: أُصَلِّي سُنَّةً للهِ تَعَالَى Ushalli sunnatan Lillahi ta’ala Setiap rakaat yg dibaca Fatihah […]

expand_less