“Berapa sih sebenarnya jumlah kader Ansor?”, pertanyaan seperti ini jamak ditanyakan oleh berbagai pihak dan tak pernah mampu kita jawab dengan lugas. Sebabnya, karena kita memang belum memiliki datanya secara pasti. Diakui atau tidak.

Menyusun database telah lama menjadi ‘angan-angan’ organisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama. Urusan kok nggak jadi-jadi, setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, jumlah jamaah NU yang sangat besar, kalau boleh bicara soal KARTANU saja, artinya yang sudah didata oleh NU telah menyentuh 100 juta orang dari 250 juta penduduk Indonesia. Belum lagi, anggota kulturalnya yang jauh lebih banyak. Dan yang Kedua, kader NU di daerah masih maju-mundur kalau berurusan dengan tekhnologi.

Bicara penyusunan database bukan sebatas mencari angka pasti berapa pendaftar KTA Ansor atau KTA NU seperti pertanyaan diatas. Jika hanya angka-angka, tak banyak berarti kecuali sebatas untuk urusan kontestasi ke kontestasi. Lebih daripada itu, menyusun database berarti membangun basis data untuk ‘modal’ menentukan ‘arah gerak’ organisasi. Urusannya bukan main-main.

Selama ini, organisasi-organisasi di lingkungan Nahdlatul Ulama memang cenderung ‘memilih rutinitas’ untuk jadi program utama. Pengajian rutin, selapanan rutin, mujahadah rutin, pengkaderan rutin dan seterusnya. Rutinnya sama sekali tidak buruk jika dimaknai sebagai ‘keistiqomahan’. Tapi jika yang dimaksud rutin adalah ide-ide yang sama, pola-pola yang sama, dan gerakan yang sama bisa jadi tidak akan selamanya baik. ‘Al Muchafadhotu ‘ala qodimis sholih, wal achdzu bil jadidil ashlah‘ adalah sebuah jembatan yang mampu membuat NU tidak tergerus zaman. Mempertahankan yang lama yang baik, dan mengambil yang baru yang lebih baik. Sudah semestinya keduanya dilaksanakan. Urusan menjaga tradisi mesti diimbangi dengan kemampuan mengikuti perkembangan zaman. Jangan dikit-dikit pesimis, toh kader NU sebenarnya juga tak melarat-melarat amat untuk mampu membeli android dan paketan, juga tak gaptek-gaptek amat untuk mengoperasikan sistem android maupun iphone. Ini kan juga bagian dari perkembangan zaman yang sudah para sahabat jalankan.

Pertanyaan saya sederhana, apakah perkembangan zaman yang sudah di tangan sahabat sekalian terseebut sudah di NU kan seperti raga jiwa dan batiniyah kita? Saya tak menyangsikan ke NU an sahabat-sahabat, hujan badai dan terjangan ombak tak akan mampu menghalangi kita dari acara-acara NU. Tapi ketika berbicara dunia tekhnologi, dunia digital, dunia internet dan kemajuan zaman, kenapa kanal-kanal facebook, twitter, instagram yang sebenarnya setiap hari sahabat sekalian pegang, sepi dari NU dan kalah jumlah dengan minhum yang hanya seukuran Jakarta jika dibanding Indonesia Raya?

Maka langkah pertama yang bisa sahabat lakukan adalah mulai meramaikan kanal-kanal Ansor yang kita miliki. Kita? Iya, sekali lagi ini milik kita bersama dan tanggung jawab para sahabat sekalian dari tingkat PC hingga Anak Ranting untuk membesarkannya. Follow, Like, ajak anak, ajak istri dan ajak sahabat yang lain untuk melakukannya. Sebar di grup-grup Kecamatan hingga ranting. Ramaikan bersama-sama. Jangan bilang tidak tahu karena sekarang juga saya kasih link-linknya.

Ini facebooknya: https://facebook.com/pcansorpurworejo
Ini instagramnya: https://instagram.com/ansorpurworejo
Ini twitternya: https://twitter.com/ansorpurworejo

Tidak sebatas syiar, kemajuan tekhnologi sebenarnya juga memberikan kesempatan kepada kita untuk menyusun database yang lebih baik, seperti yang sedari awal telah kita bahas. Mengapa perlu dilakukan penyusunan database? Ya, agar kita tahu betul potensi organisasi kita. Kasus sederhananya, karena Anda tidak tahu kalau sebagian besar anggota Anda adalah petani, maka sekonyong-konyong Ansor malah mengadakan seminar pertambangan. Kan jadi lucu.

Database yang baik akan sangat membantu dalam menentukan arah gerak organisasi kita kedepan. Mengelola 1000 kader berbeda dengan mengelola 500 kader. Mengelola 500 kader yang type nya A juga akan berbeda dengan yang typenya B. Dan itu lebih baik jika telah diketahui sejak awal. Sebab itu, database ini bukan urusan menghasilkan sesuatu untuk kepengurusan hari ini, tapi juga mengenai tapak demi tapak kepengurusan yang akan datang. Berapa rata-rata usia pengurus Ansor? Berapa jumlah kader Ansor yang sudah lulus PKL? Berapa kali ranting A telah melaksanakan PKD dan berapa sisa kadernya? Berapa kader Ansor yang petani? Berapa yang tentara? Berapa yang guru? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini akan bisa dijawab dan menjadi rumusan kebijakan jika PC mampu mengghimpun datanya dengan baik.

Melihat itu semua, kalau boleh menyederhanakan, ada dua tahap awal yang mesti segera dilaksanakan. Pimpinan Cabang menyusun pansus alias panitia khusus untuk membahas penyusunan sistem database yang mudah diakses dan dimengerti oleh kader di bawah. Yang kedua, kader Ansor PAC, Ranting hingga Anak Ranting harus mau lebih antusias lagi memanfaatkan tekhnologi untuk kemajuan organisasi. Semoga cita-cita kita ini dimudahkan. Aamiiin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here