Puji syukur kami panjatkan kehadirat Alloh swt yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada kita. Sholawat dan salam selalu kita sanjungkan kehadirat Kanjeng Nabi Muhammad saw, keluarganya, sahabatnya, dan semua pengikutnya sampai hari akhir nanti.

Bermula dari syawalan online pada hari Sabtu tgl 30 Mei 2020, lahirlah tiga ide pokok. Salah satunya adalah menyusun protokol pencegahan Covid-19 untuk pesantren sebagai bentuk ekspresi kecintaan dan kepedulian terhadap pesantren, yang telah memberikan kontribusi besar dalam pencerdasan kehidupan bangsa dan pencerahan spiritual bangsa.

Pada saat syawalan, belum banyak draft protokol yang ditujukan secara khusus untuk pesantren. Jika pun ada, maka masih bersifat general dan belum memberikan berbagai opsi-opsi yang memudahkan pesantren, seperti alterntaif terhadap rapid test
maupun PCR. Sementara, dalam rilis RMI bertanggal 22 Mei 2020, ditegaskan di situ komitmen kuat PP RMI agar pesantren tidak menjadi cluster baru penularan Covid-19, selain tentu saja komitmen nyata pesantren dalam pencegahan maupun mitigasi dampak Covid-19.

Atas dasar itu, kemudian dibentuk satu task force yang diberi amanah untuk menyusun protokol tersebut. Di tengah proses brainstorming tersebut, kami juga mendapatkan banyak bahan share dari berbagai WhatsApp Group maupun sumber lain yang kami jadikan bahan referensi. Salah satunya adalah draft yang berjudul “Panduan Covid untuk Pondok Pesantren” yang disusun oleh Persatuan Dokter NU (PDNU). Draft ini menjadi bahan yang kami olah, lengkapi, dan sempurnakan. Selain itu, rilis pers dari PP RMI, presentasi dari Ditpontren Kemenag, juga kami acu. Tentu saja, berbagai referensi
akademik yang bisa dipertanggungjawabkan juga menjadi pijakan utama.

Alhamdulillah, draft protokol pencegahan ini akhirnya jadi. Protokol ini dapat menjadi panduan untuk tiga hal:

1) pemulangan atau kembalinya para santri dari rumah ke pesantren;
2) proses dan masa karantina;
3) kehidupan keseharian pasca-karantina sebelum Covid-19 benar-benar reda.

Semua ini merupakan bagian dari ikhtiar lahir yang harus kita lakukan untuk mencegah kerusakan, mafsadah, kehancuran kita, yang bisa berujung kematian, bahkan al-maut al-‘am (kematian massif). Di samping tentu saja ikhtiar bathin yang tidak kalah pentingnya, seperti memperbanyak istighfar, sholawat, membersihkan hati, doa, meninggalkan permusuhan dan perselisihan, dan perbuatan yang tidak bermakna. Kita percaya bahwa setiap penyakit selalu ada obatnya (kullu da-in dawa-un). Tugas kita adalah mendiagnosis sumber penyakit dan menemukan obatnya.

Setelah ikhtiar lahir dan bathin sudah kita laksanakan secara maksimal, maka semuanya kita kembalikan pada Alloh swt. Tawakal. Pasrah. Sebagaimana dawuh Ibnu Hajar Al-‘asqolany:

وأن يكون عارفا أنه إن وقع له فهو بتقدير هللا و إن رصف عنه فهو بتقدير هللا

Kita sadari, bahwa jika pada akhirnya kita terkena wabah pandemik, maka itu karena memang sudah menjadi taqdir Alloh swt. Begitu juga, jika kita selamat, maka itu juga semata karena sudah menjadi taqdir Alloh swt.

Draft ini berangkat dari asumsi umum pesantren. Oleh karena itu, dimungkinkan dimodifikasi dalam pelaksanaan baik ke standar yang lebih ketat maupun lebih moderat, sesuai situasi dan kondisi, namun tetap memperhatikan subtansi pokok protokol pencegahan. Akhir kata, tiada gading yang tak retak, draft ini terbuka untuk dikoreksi dan diperbaiki. Kami hanya berharap draft ini bermanfaat bagi pesantren. Wallohu a’lam bis-showwab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here