NU itu mengurusi banyak hal tapi kadang kala masih saja ada yang merasa inferior dengan organisasi ini. Hal ini disampaikan Ketua PBNU K.H. Dr. Marsudi Syuhud saat menghadiri acara Pelantikan dan Muskercab, Ahad 19 Januari 2020 di Komplek Pondok Pesantren Nuril Anwar, Maron, Loano, Purworejo.

“Coba bayangkan, sebelum lahir masih di kandungan kyai NU sudah diundang untuk mendoakan. Begitu lahir, diundang lagi untuk mendoakan. Memberi nama hingga sunatan ngundang kyai NU lagi

Bahkan nanti hingga menikah kyai NU lagi yang ngurusi, seterusnya sampai punya anak lagi bahkan sampai mati kyai NU terus diminta untuk mendoakan”, terang kyai Marsudi.

Meski begitu, menurut Kyai Marsudi, kurang sadarnya kyai-kyai NU untuk membahas NU di majelis-majelis menyebabkan kehadiran NU tidak dirasakan masyarakat.

“Makanya tambahi jangan cuma melaksanakan ritual kebiasaan saja. Yang sudah ada maulid ngomong juga tentang NU, di majelis-majelis ngomong juga tentang NU

Ustadz sekatang jadi pengurus NU, maulid gak cerita tentang NU, nyisipin kata NU saja gk bunyi. Coba bayangkan kalau serempak kita sampaikan perjuangan NU kepada masyarakat. InsyaAlloh mereka akan semakin paham dan cinta dengan NU”, pesan Kyai Marsudi.

Dalam kesempatan yang sama Kyai Marsudi juga mendorong para kader NU untuk bisa mensukseskan Gerakan Koin Muktamar demi menunjang kemandirian organisasi.

“Dari kita, oleh kita dan untuk kita semua.”, terang beliau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here