Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut) pernah berpesan akan 4 hal karakter yang harus dimiliki Banser. Hal ini Gus Yaqut sampaikan ketika menjadi inspektur Apel Kebangsaan bertema “Merawat Tradisi, Mengawal NKRI, Menyejahterakan Negeri” yang digelar GP Ansor Magetan, Jawa Timur, Ahad (14/1) di alun-alun Magetan.

Gus Yaqut mengapresiapi kegiatan apel kebangsaan yang diikuti sebanyak 4.444 anggota Banser ini. Ia menyampaikan empat pesan khusus kepada seluruh Banser NU di Indonesia. 

“Sahabat Banser adalah kader inti dari Gerakan Pemuda Ansor. Namanya gerakan pemuda. Pemuda pasti bersemangat, pasti enerjik. Yang namanya pemuda, pasti tidak kenal lelah, bukan urusan umur, tapi karakter kepemudaan yang harus dimiliki,” katanya.

Kedua, lanjutnya, adalah karakter keislaman. Banser harus memiliki jiwa keislaman yang kuat. Yakni keislaman yang diwariskan oleh pendahulu yang terkenal moderat dan santun.

“Keislaman apa itu? Keislaman ala Ahlussunah wal-Jama’ah An-Nahdliyah. Islam yang diajarkan oleh para kiai kita. Islam yang santun, ramah, Islam yang tidak memaksakan kehendak, Islam yang tidak memaksakan keinginannya, Islam yang tidak sedikit-sedikit mengatakan bahwa yang tidak seperti kita itu bukan Muslim,” tuturnya.

Ia mengatakan, di luar sana sekarang banyak orang yang mengaku paling islami. Mereka membungkus Islam dengan bungkus yang sedemikian menarik. Namun semua itu jauh dari nilai keislaman yang sesungguhnya.

“Yang ketiga yaitu karakyatan. Banser dan Ansor adalah bagian dari rakyat Indonesia yang jumlahnya lebih dua ratus lima puluh juta,” imbuhnya.

Putera KH Cholil Bisri Rembang ini melanjutkan, apabila ada saudara kita yang mengalami kesulitan dan kesusahan, maka itu menjadi bagian kesusahan dan kesulitan Banser.

“Sebagaimana jika ada saudara-saudara kita sesama bangsa Indonesia yang mengalami gangguan. Yang diganggu oleh kelompok lain karena mungkin beda agama, atau kepercayaan. Maka kita sebagai kader Banser dan Ansor harus berada di garis terdepan untuk melindungi saudara-saudara kita,” katanya.

Karakter terakhir, atau yang keempat adalah karakter kebangsaan.  Indonesia bisa berdiri tegak hingga saat ini karena keberagamannya. Banser harus melawan kelompok-kelompok yang berusaha mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain.

“Jika ada kelompok  yang ingin mengganti negara yang dulu didirikan oleh pendiri Nahdlatul Ulama. Maka tidak ada kata lain kecuali satu kata, lawan! ” tegasnya disambut kepalan tangan ribuan Banser.

Apel Kebangsaan diwarnai dengan berbagai atraksi kanuragan dan bela diri, pembentangan bendera Indonesia dan bendera NU raksasa, hingga pembacaan Shalawat Nariyah sebanyak 4.444 kali.

Diolah dari NU Online

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here